TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
KERAGUAN #3


__ADS_3

Luna merasa tenang karena sudah menandatangani kontrak dengan berusahaan Best Denim. Dalam waktu satu minggu, perusahaannya harus memenuhi pesanan pakaian dan jeans yang akan di ekspor ke luar negeri meski dengan merk orang lain.


"Maaf, Lun. Aku baru saja mendapat kabar. Ternyata model pria yang akan dipakai adalah Jion! Maaf, aku tidak menanyakannya terlebih dahulu!" bisik Sarah setelah acara menandatanganan kontrak selesai.


"Apa? Jion? Kenapa baru tahu sekarang?" tanya Luna yang kurang suka dengan kabar itu.


"Aku memang salah, Lun. Aku kira modelnya dari luar negeri!" jawab Sarah yang sangat bersalah dengan berita itu.


"Lalu, siapa yang akan bertanggung jawab dengan para model? Bukan kita, kan?"


"Aku akan membicarakan lagi dengan mereka. Seharusnya soal model diluar tanggung jawab kita!"


"Aku gak suka kalau harus ada Jion, kak! Carilah model lain asal jangan laki-laki bajingan itu!" Luna gak bisa bohong kalau soal Jion. Hatinya masih saja menyimpan amarah kepadanya.


"Iya, Lun. Aku akan membicarakan lagi dengan mereka!"


Ternyata, Luna belum bisa bernapas lega apalagi pakai ada Jion segala. Luna sudah berdoa agar, laki-laki itu gak muncul di hadapannya. Ternyata, mereka akan bertemu setiap hari.


Luna memilih keluar ruangan dan mencari udara segar. Hatinya masih saja bergemuruh apalagi bayangan Jion muncul di pelupuk matanya.


"Apa kabar, Nona Luna?"


Luna tertegun. Dia mendengar suara yang paling dibencinya. Luna segera membalikan badan. Ternyata yang ada di dalam pikirannya benar. Suara itu adalah suara Jion!

__ADS_1


"Kamu?!"


Jion tersenyum licik. Dia lebih mirip serigala daripada seorang model.


"Kenapa kamu terkejut seperti itu? Seharusnya kamu tahu kalau aku akan hadir di dalam acara ini. Hanya saja aku sedikit telat karena ada kesibukan. Biasa, soal konserku minggu depan!" jelas Jion. Sebenarnya, dia telat karena seorang penggemar yang memaksanya untuk makan bersama.


"Aku tahu kalau kamu baru saja menghabiskan waktu dengan penggemar kamu. Lagipula aku baru tahu kalau kamu yang jadi model. Masih banyak model yang masih muda. Kenapa juga mereka memilih kamu?" ujar Luna sedikit menyindir.


Jion malah tertawa mendengar ucapan Luna, "tentu aja mereka memilihku! Auraku tetap bersinar meski sedikit menua!"


Kali ini, Luna yang tertawa. Jion malah kebingungan.


"Apa ada yang lucu dengan ucapanku?" tanya Jion.


"Maksud kamu apa?"


"Itulah, kalau wajah tua masih merasa muda!"


Eeh! Jion baru sadar kalau sudah menyebut dirinya tua.


"Sudahlah! Yang penting aku masih tampan dibandingkan yang lain!" ungkap Jion yang masih menyombongkan dirinya sendiri.


"Tampan apaan? Lihat aja, wajahmu itu ada kerutnya!" ucap Luna lagi seraya berjalan kembali ke dalam ruangan.

__ADS_1


Jion masih berdiri pada tempatnya. Dia gelisah setelah mendengar ucapan Luna dan mulai mencari kaca untuk bercermin. Jion mencari kerutan di wajahnya yang dikatakan Luna. Namun, wajahnya masih glowing seperti biasa. Sepertinya Luna sudah mengerjainya!


Acara kembali dimulai. Tapi, Luna memilih untuk pulang duluan. Dia sudah menyerahkan sisa acaranya kepada Sarah. Luna jadi gak mood setelah Jion muncul.


Damar sangat mengkhawatirkan Luna. Apalagi perusahaan yang akan bekerjasama dengannya gak jelas. Sepertinya ada pihak lain yang sudah memberikan info yang salah kepada Luna.


Sayangnya, Damar gak bisa pulang dalam waktu tiga hari ini. Pekerjaannya masih banyak karena mewakili beberapa perusahaan. Kadang Damar merasa lelah, namun itulah tanggung jawab sebagai pewaris Grup Santika.


"Bagaimana? Sudah ada kabar soal perusahaan Best Denim?" Damar langsung menanyakan soal perusahaan itu setelah kembali ke hotel tempatnya menginap. Dia masih saja cemas.


Rani, asisten pribadinya juga ikut masuk ke dalam kamar Damar. Mereka sudah biasa bekerja di dalam hotel jika berada di luar negeri. Rani cukup cantik dan pandai. Usia mereka hampir sepantaran. Kadang, orang-orang menyangka mereka sebagai sepasang kekasih.


"Kata Pak Denny, di luar negeri rating perusahaan itu kurang bagus. Katanya sering menipu perusahaan lain, tapi itu hanya sekedar gosip. Tidak ada yang mempunyai bukti untuk melaporkannya ke polisi, pak," jelas Rani. Dia sudah berusaha keras untuk mendapatkan bukti itu namun gak ada hasilnya.


"Aku harap bisa mendapatkan bukti itu secepatnya karena besok kita akan pulang!" ucap Damar tegas


"Baik, pak. Maaf, apa bapak mau makan disini atau memesan makanan diluar?" tanya Rani yang selalu memikirkan atasannya itu.


"Aku makan disini aja. Kamu istirahatlah. Pakai aja kartuku jika kamu mau belanja!" Damar mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. Dia tahu Rani sudah bekerja keras dan berhak mendapatkan reward lebih.


"Tidak usah, pak. Saya ...." Sekali lagi Rani menolak kebaikan Damar. Tapi Damar tetap memperlakukannya dengan sangat baik. Akhirnya, Rani menerima kebaikan itu.


Sebenarnya, ada hal lain yang ditakutkan Rani. Dia hanya gak mau sampai baper dengan semua perhatian Damar dan hatinya berharap lebih.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2