TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
CIE CIEEE YANG KANGEEEN! #1


__ADS_3

Luna masih memikirkan soal Damar. Seharusnya hari ini dia dibebaskan. Luna ingin menemani Damar sampai di rumahnya. Dia sudah rapi dari pagi dan siap untuk berangkat untuk menjemputnya.


"Kapan Tuan Damar dibebaskan, Ran?" tanya Luna lewat hapenya. Dia gak sabar ingin segera menemui kekasih hatinya.


"Bukankah dari kemarin Tuan Damar sudah keluar, nona. Saya dengar langsung ke rumah Nona Luna!"


Deg! Luna sangat terkejut mendengar jawaban Rani.


"Kapan keluarnya?"


"Kayaknya sore deh, non!"


Sore? Itu berarti saat Jion mengantarnya pulang. Apa Damar melihatnya dengan dia? Apa Damar marah sampai gak mengabarinya kalau sudah keluar dari penjara?


Hadeh! Dasar Luna. Kenapa juga mau diajak jalan sama Jion!


"Lalu, dimana Damar sekarang? Apa ada dikantor?"


"Pagi ini Tuan Damar belum masuk kerja, nona. Gak tahu kalau siang nanti. Banyak pekerjaan yang sudah menunggunya!"


"Ya, sudah. Aku akan ke rumahnya aja!"


Luna segera meraih tasnya dan ingin menemui Damar secepatnya. Dia memesan ojek online agar cepat sampai.


"Mau kemana, Lun. Sarapan dulu!" teriak Mamah Luna dari dapur.


"Nanti aja, mah!" sahut Luna sambil berlari keluar. Ojek online yang dipesannya sudah sampai.


Gak lama kemudian, Luna sudah sampai di rumah Damar. Penjaga rumah mengenalinya dan mempersilahkan Luna masuk.


"Tuan Damar di mana, bik?" tanya Luna penuh kecemasan.


"Masih di kamar, nyonya muda. Kayaknya masih tidur," jawab Bik Parti, orang biasa menjaga rumah.


"Ya, sudah. Apa aku boleh menemuinya?" tanya Luna lagi yang meminta izin kepada Bik Parti.


"Silakan nyonya, apa perlu saya antarkan?"


"Gak usah! Aku bisa kesana sendiri, kok!"

__ADS_1


Luna langsung berjalan menuju ke kamar Damar. Hatinya sangat resah. Apa Damar memikirkan hal jelek soal dirinya? Aakh! Kenapa juga kemarin ada Jion segala.


Pintu kamar Damar masih tertutup. Apa dikunci, ya? Perlahan Luna mendorong pintu kamar Damar. Di dalam ruangan tidak begitu terang. Hanya ada lampu kecil di atas meja.


Luna terus melangkah dan menutup pintunya dengan sangat pelan. Dia gak mau sampai Damar terbangun. Luna hanya ingin melihatnya saja. Itu sudah cukup membuat hatinya tenang.


Terlihat Damar tengah terbaring dengan mata masih terpejam. Kelihatannya sangat pulas. Luna gak tega membangunkannya. Dia hanya ingin melihat wajah Damar lebih jelas. Wajah yang sangat dirindukannya selama ini.


Deg, deg ....


Jantung Luna berdegup kencang. Dia menutupi dadanya dengan telapak tangan agar suaranya berhenti. Namun, malah semakin kecang.


Luna membungkuk agar bisa melihat wajah kekasihnya itu lebih jelas. Wajahnya masih tampan meski sedikit kurus. Perlahan, Luna mengusap pipi Damar padahal dia ingin sekali menciumnya. Dasar Luna! Otak mesumnya masih aja ada padahal kondisi Damar sangat memprihatinkan.


Tiba-tiba, Damar bergerak. Dia membalikan badan membelakangi Luna. Spontan Luna kaget bahkan sampai jatuh duduk. Dia pun langsung berdiri. Hatinya sudah tenang melihat wajah Damar meski cuma sebentar.


Luna akan membiarkan Damar tidur lebih lama. Di dalam sel tahanan pasti gak bisa tidur. Luna juga pernah merasakannya. Dia pun membalikan badan dan akan melangkah keluar.


Tiba-tiba tangannya tersangkut sesuatu. Luna kembali menoleh. Ternyata Damar yang sudah menarik tangannya. Dia sudah menghadap ke arah Luna lagi.


"Mau kemana?" tanya Damar tanpa membuka mata.


"Aku memang masih ngantuk. Temani aku tidur sebentar!" ucap Damar seraya menarik tangan Luna cukup kencang.


Luna tersentak kaget dan tubuhnya langsung limbung ke atas kasur. Untung aja gak sampai meninpa Damar. Jelas aja Luna jadi salah tingkah. Dia berniat untuk kembali berdiri tapi tangan Damar malah memeluk tubuhnya.


"Damar! Jangan begini. Nanti ada yang melihat!" ujar Luna sambil menyingkirkan tangan Damar dari tubuhnya.


"Siapa? Gak ada yang berani masuk ke dalam kamarku. Cuma kamu yang melakukannya. Jadi kamu harus bertanggung jawab!" ucap Damar lagi masih dengan mata yang terpejam.


Akhirnya Luna mengalah. Dia juga yang salah karena masuk ke kamar Damar.


"Kenapa gak bilang kalau kamu sudah pulang? Sekarang aku baru mau ke kantor polisi untuk menjemputmu!" ucap Luna yang masih kesal.


"Salahmu sendiri! Aku ke rumahmu dan kamu malah asyik-asyikan sama Jion!"


Benar dugaan Luna! Damar sempat melihatnya bersama Jion.


"Jion memaksa untuk mengantarku pulang dari butik. Lagian dia juga gak mampir, kok!"

__ADS_1


Damar diam saja. Mungkin dia terlelap lagi. Luna gak terbiasa berada di atas tempat tidur Damar. Perlahan Luna memindahkan tangan Damar.


"Diamlah! Ini adalah hukumanmu!" ucap Damar yang ternyata gak tidur lagi.


"Aku mau ke dapur dan bikin sarapan. Aku lapar!" ucap Luna mencari alasan.


"Sudahlah! Sudah ada yang melakukannya. Tugas kamu hanya selalu menemaniku. Aku kangeeen!"


Cie, cieee, ternyata Damar yang lagi kangen berat. Semalaman dia memang memikirkan Luna dan sangat ingin menghubunginya namun ditahannya sekuat tenaga.


"Salah kamu juga lah! Kenapa gak telpon aku. Padahal aku memikirkan kamu terus. Kalau tahu kamu sudah pulang aku juga pasti datang!" gerutu Luna yang gak mau disalahkan.


"Iya-iya. Tapi aku tahu kamu pasti datang. Jadi, biarkan aku melepaskan kerinduan dengan memelukmu seharian!"


"Apa? Seharian? Aku bisa mati kelaparan kalau begitu. Ayolah, perutku sudah keroncongan. Tadi aku gak sempat sarapan," rengek Luna dengan sedikit drama.


Gak ada jawaban. Apa Damar kembali tidur?


Kruuuk, kruuuk ....


Tiba-tiba terdengar suara aneh. Luna terdiam. Suara itu bukan dari perutnya. Berarti ....


"Suara itu dari perutmu kan? Apa semalam kamu gak makan?"


Damar membuka mata dan menatap Luna lekat.


"Semalam aku memikirkan kamu jadi lupa makan!" jawab Damar dengan muka memelas.


Padahal Damar gak tidur karena bekerja sampai larut malam. Hampir dua minggu dia di dalam penjara sehingga banyak pekerjaan yang menumpuk.


"Ya, sudah. Ayo sarapan. Sikat gigimu dulu, sana!"


Luna segera bangkit dan menarik tangan Damar agar bangun dari tempat tidurnya. Mau gak mau, Damar menurutinya. Padahal dia masih ingin memeluk Luna lebih lama.


"Oke, tapi habis sarapan aku mau memelukmu lagi!"


"Apa? Ganti guling aja. Kamu bisa memeluknya seharian!" seru Luna langsung kabur sebelum Damar melakukan apapun.


Sementara Damar hanya tertawa kecil melihat kelakuan Luna. Tingkahnya masih seperti anak abg padahal mereka sudah bertunangan. Setidaknya, rasa rindu Damar sudah kesampean. Hatinya jadi lebih tenang.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2