
Yuki meminta acara pernikahannya dengan Jion berlangsung sederhana aja. Dia gak mau diserang fans Jion karena kekurangannya yang seorang janda.
Namun, Yuki sangat berharap Tuan Arya datang di acara pernikahannya. Meski belum mengatakan siapa papa kandungnya yaitu Tuan Kenta.
"Sebaiknya kamu katakan aja siapa papah kandungmu, Ki!" saran Jion, "apa perlu aku temani karena berhubungan juga denganku. Selama ini kan Tuan Kenta itu adalah papahku!" lanjutnya.
Yuki terdiam dan menatap Jion lekat. Banyak jalan yang membuat mereka terhubung. Inikah yang namanya takdir?
"Apa kamu mau menemaniku? Aku bingung harus bagaimana mengatakannya? Terakhir menemui papah juga aku gak bisa bilang apa-apa!"
Jion menggenggam tangan Yuki erat, "aku akan selalu ada di samping kamu, Ki. Kita bisa melewatinya asal selalu bersama!"
Perkataan Jion memberikan Yuki kekuatan. Ya! Dia bisa melaluinya bersama Jion.
Hanya saja, saat ini Tuan Arya sedang berada di rumah Saskia. Yuki menjadi ragu karena gak suka dengannya. Namun, Jion mengatakan jangan menghiraukan istri muda papahnya itu lagi. Yuki pun menurutinya.
"Hallo, Yuki. Ada apa kamu kesini? Apa mau bertemu denganku?" sambut Saskia sedikit menyindir.
"Aku mau ketemu papah!" jawab Yuki singkat.
Saskia gak mau membiarkan Yuki memasuki rumahnya dengan mudah.
"Papahmu sedang istirahat. Aku akan melihatnya dulu, ya! Kalian duduklah dan nikmati suasana rumahku yang sederhana ini!" ucap Saskia yang langsung masuk ke dalam.
Yuki mengangguk. Sederhana apanya? Rumah itu bak istana dengan perabotan mahal di setiap ruangan. Sangat jauh dengan rumah mamahnya yang jadul.
Hampir setengah jam berlalu. Tuan Arya belum muncul juga. Yuki mulai gelisah.
"Kenapa lama bener, sih? Ayo kita pulang aja!" celetuk Yuki dengan nada tinggi.
Jion tersenyum melihat ekspresi Yuki.
"Sabarlah, sayang. Mungkin Tuan Arya lagi tidur!" ucap Jion menenangkan.
"Makanya lebih baik kita pergi aja. Nanti aja di kantor kita datang lagi!"
__ADS_1
Yuki berdiri dari tempat duduknya dengan kesal. Baru aja akan melangkah pergi, Tuan Arya muncul bersama Saskia.
"Mau kemana, Yuki? Aach! Kamu ini gak berubah. Selalu aja gak sabaran. Kamu harus bisa mengendalikannya Jion!" ucap Saskia sinis.
"Baik, tante!" jawab Jion. Yuki malah memelototinya.
Sikap Tuan Arya biasa aja. Kondisi badannya memang semakin lemah.
"Ada apa kalian kesini?" tanya Tuan Arya yang langsung duduk di sofa.
Yuki baru sadar kalau wajah papahnya kelihatan pucat.
"Apa papah sakit?" tanyanya cemas.
Tuan Arya menggeleng. Dia gak mau membuat cemas.
"Aku cuma gak enak badan aja!'
"Apa gak ke rumah sakit, tuan? Apa perlu saya antar?" Jion juga ikut cemas.
"Tidak usah! Kami punya dokter pribadi. Dia mengatakan kalau Tuan Arya kelelahan. Makanya beliau gak boleh ke kantor dulu!" jawab Saskia sigap.
"Tentu saja ada aku!" jawab Saskia singkat dan jelas. Dia tersenyum penuh kemenangan.
Deg! Kecurigaan Yuki benar. Kini istri muda papahnya itu sudah menguasai perusahaan papahnya juga. Namun Yuki harus bisa mengendalikan hatinya dan berusaha tenang.
"Baiklah! Sepertinya kami gak jadi tunangan dan langsung menikah aja, pah!" ucap Yuki. Dia masih ragu untuk mengatakan tujuan awalnya. Jion mengangguk seakan memberi kekuatan kepadanya.
"Baguslah! Kondisiku juga semakin lemah. Aku ingin melihat kalian cepat menikah!"
"Tapi, pah. Ada hal yang lain lagi. Aku juga baru tahu belum lama dari mamah. Ternyata papah kandungku adalah Tuan Kenta. Papahnya Jion!"
Tuan Kenta terbelalak mendengar penjelasan Yuki. Ternyata papah kandung Yuki bukanlah orang lain, melainkan calon mertuanya sendiri.
"Kenapa bisa begitu? Mamahmu belum mengatakan apapun padaku!" Kali ini nada suara Tuan Arya meninggi.
__ADS_1
"Aku yang melarangnya, pah. Aku yang akan menjelaskan langsung kepada papah. Apapun yang terjadi di masa lalu gak akan merubah apapun. Papah adalah tetap papahku dan suami mamah!"
"Gak bisa begitu, Yuki. Kalau memang kamu bukanlah puteri kandung Tuan Arya. Mamahmu harus bercerai dari papahmu! Iya kan, sayang?"
Saskia juga sangat terkejut mendengar pembicaraan mereka. Tapi, dia harus bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.
Tuan Arya hanya diam saja. Kali ini dia benar-benar bingung.
"Maaf, tuan. Saya pun baru mengetahui kalau Tuan Kenta bukanlah papah kandung saya juga. Tapi, saya tetap menganggap kalau beliau adalah papahku sendiri. Seperti juga Yuki dengan tuan!"
Tuan Arya mendongak dan menatap Jion lekat. Nasibnya sama seperti Yuki namun bisa mengatasinya dengan lebih dewasa.
"Baiklah! Apapun yang terjadi, Yuki tetaplah anakku dan memakai nama belakangku. Aku hanya bisa berdoa agar kalian bahagia selamanya!"
Tuan Arya baru saja mengerti kalau Yuki dan Jion disatukan dengan takdir. Dia akan selalu mendukung mereka.
"Terima kasih, pah! Semoga papah sehat selalu juga," ucap Yuki yang langsung menghambur ke pelukan papahnya. Dia sangat kaget dengan kelakuannya. Sudah sangat lama dia gak memeluk papahnya itu.
Tuan Arya tersenyum lega dan menerima Yuki seperti dulu. Dia tetaplah puterinya.
Jion gak mampu menahan airmatanya melihat Yuki dan papahnya berpelukan. Tapi, dia sadar gak boleh sampai menangis. Masa sih, Jion itu jadi cengeng!
Berbeda dengan Saskia yang geram melihat kedekatan Yuki dengan Tuan Arya. Tapi, dia hanya melemparkan senyuman meski menahan perasaan. Sebentar lagi! Ya, sebentar lagi semua akan berakhir.
"Sebaiknya papih minum obat dulu, nanti malah kelupaan. Yuki dan Jion pasti membuat kondisi papih semakin lemah. Aku gak menyangka ternyata Yuki bukanlah puteri kandung papih. Kenapa papih gak mengatakannya padaku?"
Saskia menyiapkan obat yang akan diberikan kepada suaminya. Walaupun sambil menggerutu soal Yuki.
"Selama ini aku gak pernah tahu siapa papah kandung Yuki. Akhirnya dia menemukan juga papahnya yang asli!" sahut Tuan Arya sambil menenggak obat yang diberikan Saskia.
"Berarti sekarang papih harus menceraikan mamahnya. Mereka bukan tanggung jawab papih lagi!" ucap Saskia berapi-api. Dia gak akan menyia-nyiakan kesempatannya menjadi Nyonya Arya.
"Lihat aja nanti. Aku mengantuk!"
Tuan Arya memejamkan matanya. Meski begitu pikirannya masih berputar-putar. Banyak yang harus dia lakukan. Tapi kondisinya malah semakin lemah.
__ADS_1
Saskia hanya tersenyum tipis melihat suaminya itu terbaring lemah. Rencana terakhirnya berjalan dengan sangat baik.
******