
Damar sangat menyesal karena sudah mengatakan sesuatu yang aneh semalam. Luna pasti berpikir aneh tentangnya.
Padahal Damar sendiri juga ingin menikah dengannya. Dadanya selalu berdegup kencang setiap kali bersama Luna. Dia ingin bersamanya setiap saat. Bahkan ketika membuka mata, yang ada hanyalah wajah Luna.
Kini, Damar hanya bisa menunggu keputusan Luna. Entah apa yang akan dikatakan Luna. Mungkin, dia sudah menganggapnya gila! Ya, Damar memang sudah tergila-gila pada Luna.
Sudah saatnya untuk melupakan masalalu dan menatap masa depan. Damar menghampiri laptop jadulnya. Dia akan melihat foto Anna untuk terakhir kali.
"Terima kasih sudah menemaniku selama ini, Anna. Sekarang tenanglah kamu di surga!"
Damar mulai menghapus foto itu satu persatu. Menghapus setiap kenangan yang dulu pernah tercipta. Tangannya sedikit gemetar. Betapa saat-saat itu adalah yang terpenting dalam hidupnya. Namun setiap melihatnya Damar malah merasakan amarah di hatinya. Kini, amarah yang membara itu, sedikit demi sedikit akhirnya padam juga.
Sudah saatnya mengganti dengan foto-foto yang baru. Damar baru sadar kalau gak punya foto Luna sama sekali. Ada satu kenangannya bersama Luna ketika acara penghargaan Woman of The Year. Rani pasti memiliki foto-foto itu.
Pagi-pagi, Damar sudah siap ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya. Dia ingin sekali bertemu Luna lagi dan menanyakan jawabannya.
"Mang Dayat mana, Ran?" tanyanya ketika hanya melihat Rani di depan rumah.
Rani juga baru sadar kalau Mang Dayat belum kelihatan dari tadi.
"Saya gak tahu, tuan. Mungkin masih di kamarnya. Biar saya kesana dulu!"
Rani meletakan tasnya di atas meja dan berjalan menuju ke kamar Dayat. "Apa Mang Dayat sakit, ya?semalam dia gak knapa-napa!" pikir Rani.
Ketika Rani sampai di depan kamar Dayat, Bik marsih yang membantu di rumah itu muncul dari dalam kamarnya. Rani mulai merasa ada sesuatu yang terjadi pada Dayat.
"Mang Dayat kenapa, bik?"
"Itu, neng. Mang Dayat demam. Katanya semalam sempat keujanan! Saya mau ambilkan air hangat buat kompres dulu, neng!"
Astaga! Rani baru ingat semalam Dayat sempat kehujanan karena membelikannya makanan. Rani pun segera masuk ke kamar Dayat.
Dilihatnya Mang Dayat sedang tergolek lemah di atas tempat tidur. Selimut tebal menutup sebagian tubuhnya namun masih tetap menggigil. Matanya terpejam dan gak menyadari kedatangan Rani.
__ADS_1
Rani mendekati Mang Dayat dan menempelkan telapak tangan di keningnya. Rani tercengang ketika merasakan hawa panas menjalar di telapak tangannya.
"Biar saya yang mengompres Mang Dayat, neng. Itu, Tuan Damar menanyakan neng!" Bik Marsih datang lagi sambil membawa baskom berisi air hangat dan sebuah handuk kecil.
"Biar saya aja, bik. Tolong kasih tahu Tuan Damar, kalau
Mang Dayat sakit dan saya akan menyusul ke kantor nanti, ya!"
"Baik, neng!" Bik Marsih meletakan baskom yang dipegangnya di atas meja kemudian pergi lagi.
Sementara itu, Damar kelihatan cemas menunggu Rani. Dia gak segera kembali, bisa aja terjadi sesuatu pada Mang Dayat.
"Kenapa kamu belum berangkat, Damar?" Nyonya Kamaratih baru keluar dari kamarnya setelah sarapan dan minum obat.
"Katanya Mang Dayat sakit, mah. Aku lagi menunggu Rani."
"Sakit? Kenapa bisa sakit? Cepat bawa ke rumah sakit!" ujar Nyonya Kamaratih yang langsung panik. Dia pun segera melajukan kursi rodanya menuju ke kamar Dayat.
"Maaf, tuan. Kata Neng Rani, tuan berangkat aja duluan. Nanti Neng Rani menyusul!" ucap Bik Marsih sambil tergopoh-gopoh.
"Emangnya Mang Dayat sakitnya parah, bik?"
"Badannya panas, tuan. Dia juga gak sadarkan diri. Maaf, tuan. Saya mau ambil obat dulu disuruh Nyonya," terang Bik Marsih yang langsung pergi lagi.
Gak ada yang dilakukan Damar lagi disana. Dayat sudah dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Ada Rani dan juga mamahnya. Damar pernah berpikir kalau Dayat bukan orang lain. Bisa jadi dia keponakan atau saudara dari mamahnya. Namun, sampai sekarang Damar gak berani bertanya.
Akhirnya Damar berangkat kerja sendirian. Sebelumnya, dia memanggil dokter keluarga yang biasa merawat mamahnya. Walau bagaimanapun, Damar juga mencemaskan Dayat.
*****
Luna selalu terngiang perkataan Damar semalam. Pernikahan macam apa jika benar terjadi. Menikah tapi gak saling menyentuh. Itu sama aja seperti nikah kontrak!
"Ada apa, Lun? Kata sekuriti, semalam ada laki-laki yang datang kesini. Apakah Tuan Damar?" tanya Sarah yang mendengar cerita dari sekuriti.
__ADS_1
Luna mengangguk, "iya, kak. Aku kira dia maling. Hampir aja aku timpuk pake vas bunga!"
"Astaga, Lunaaa! Damar itu seorang Ceo perusahaan terkenal. Masa dia kamu tuduh maling, sih! Lagipula dia itu kan calon suamimu," ucap Sarah histeris.
Luna cuma cengengesan aja, "kan aku gak tahu, kak!"
"Apa? Ceo ganteng itu kamu tuduh maling? Bagaimana sih kamu, Lun! Aku gak terima, aku gak akan pernah menerima perlakuan kamu padanya!" ungkap Prilly yang baru sampai dan mendengar pembicaraan mereka.
"Iya, iya, Prilly sayang. Aku gak jawab telponnya. Jadi aku gak tahu kalau Damar sudah ada disini!"
"Kamu ini memang harus ke dokter deh, Lun. Laki-laki sesempurna Tuan Damar kamu gituin. Apa kamu masih memikirkan Jion?" tanya Prilly sambil bertolak pinggang dengan gayanya.
"Jion? Buat apa aku mikirin dia? Aku kan lagi banyak pikiran jadi gak konsen sama Damar! Aku hanya memikirkan kalian aja kok!"
Prilly melunak begitu mendengar ucapan Luna. Dia tahu Luna banyak masalah karenanya.
"Soal penipu itu! Aku dengar kabar dia bersembunyi di perusahaan Yuki. Apa Yuki ada hubungannya dengan semua ini?" Akhirnya Prilly mengetahui juga soal Yuki.
"Iya, Lun. Aku sudah menyelidikinya dan semua mengarah kepada Yuki. Jadi, yang dikatakan Jion itu benar?" sahut Sarah.
"Apa? Jion ngomong apa? Dia tahu kalau semua ada hubungannya sama Yuki? Kenapa kalian gak bilangin aku, sih?!" Prilly kembali mencak-mencak.
"Sudahlah! Jangan ngomongin itu lagi. Aku lapar, nih. Tadi naik kereta pagi sekali jadi gak sempat sarapan," ungkap Luna sambil memegangi perutnya.
"Waduh, aku lupa menjemputmu. Maaf ya, say. Ketika melihat kang bubur ayam, aku langsung lupa ingatan!"
"Kang buburnya ganteng ya, Pril?" ledek Sarah.
"Iiikh! Bukan kang buburnya, saay. Tapi bubur ayamnya yang membuatku tergila-gila. Ini, aku bawakan buat kalian!" Prilly memajang bungkusan bubur ayam di tangannya.
Luna dan Sarah langsung kalap dan merebutnya dari tangan Prilly. Keakraban seperti itu yang membuat Luna bertahan. Susah dan senang selalu bersama.
❤❤❤❤❤
__ADS_1