
Jion merasa sangat bersalah karena Luna mendapatkan masalah karena jalan bersamanya. Saat itu Jion gak memikirkan imbasnya. Dia hanya ingin bersama Luna. Akhirnya berita hoax soal kedekatan mereka menyebar dengan sangat cepat.
"Kamu harus cari cara, Jion. Kasihan Nona Luna. Aku dengar rumah dan butiknya dikerumuni para wartawan!" ucap manager Jion yang malah mengkhawatirkan Luna.
"Iya-iya. Aku sedang memikirkannya. Ada seseorang yang bisa membantuku. Aku memang sedang dekat dengannya. Tapi, aku gak tahu apakah dia mau melakukannya!" jawab Jion yakin.
"Siapa?" tanya managernya penasaran.
"Yuki!" tegas Jion.
"Yuki? Apa kalian beneran serius? Atau kamu aja yang membuat harapan palsu?"
Jion tertawa. Dia memang dekat dengan Yuki karena sama-sama gak punya figur ayah yang normal. Tuan Arya ataupun Tuan Kenta hanyalah figur ayah di atas kertas. Kenyataannya mereka seperti gak punya ayah.
"Aku akan melamarnya. Dengan begitu para wartawan gak akan mengejar Luna lagi!"
"Kamu yakin? Apa kamu hanya pura-pura cinta aja?"
"Pura-pura cinta? Kayak judul sinetron aja!"
Lagi-lagi Jion tertawa. Managernya malah bingung melihat sikapnya.
*****
Luna memutuskan menunggu Damar di ruang kerjanya. Walaupun Damar banyak pekerjaan dan beberapa meeting. Luna gak mau ke rumah Damar karena di sana juga gak ada orang. Lebih baik menunggu Damar sampai selesai bekerja.
"Luky! Apa didepan rumah masih ramai? Apa mamah masih ketakutan?" Luna khawatirnya kepada mamahnya.
"Sudah aman, kak. Om Arya sudah mengusir mereka, bahkan sampai berjaga disini!" jawab Luky yang yakin Tuan Arya masih bersama mamahnya.
"Om Arya? Sejak kapan kamu memanggilnya seperti itu?" Luna merasa aneh dengan ucapan adiknya.
"Sejak mau dibeliin perlengkapan game! Eeeh, salah. Biarin ajalah, kak. Aku tahu Tuan Arya menyukai mamah sejak lama. Biarin dia menjaga mamah. Kasihan mamah kesepian!" jelas Luky seperti orang dewasa aja.
"Eeeh, kamu ngomong apaan sih? Kamu itu masih anak ingusan. Apa Tuan Arya masih ada disana?"
"Kayaknya sih masih ada. Lagi ngobrol sama mamah! Tadi sih waktu datang, Om Arya dalam keadaan sakit!"
"Tuan Arya sakit? Kenapa gak dibawa ke rumah sakit?"
"Udah sembuh kayaknya, kan udah ketemu mamah!"
"Luky! Kamu ngaco, ya?!" Luna mulai kesal dengan omongan adiknya.
"Beneran kok, kak. Meski aku masih abg, aku kan juga tahu sikap Om Arya sama mamah. Tapi mamahnya aja yang jual mahal!"
__ADS_1
"Hadeh! Kenapa ngomong begitu sih sama mamah! Awas kamu, ya!"
"Udah, aach. Aku mau main game lagi!" Luky buru-buru menutup hapenya sebelum mendengar teriakan kakaknya lagi.
Luna memang sangat kesal mendengar omongan adiknya. Walaupun dia juga tahu perasaan Tuan Arya kepada mamahnya. Sudah berapa kali Tuan Arya melamar tapi mamahnya gak mau juga. Bukan karena hanya menikah siri namun karena gak mau menyakiti istri pertamanya. Sampai akhirnya Tuan Arya menikahi Saskia. Gadis yang jauh lebih muda darinya.
Luna sangat ingat ketika mamahnya mendengar kabar pernikahan Tuan Arya. Mamahnya menangis seharian dan gak mau bertemu dengan Tuan Arya lagi.
Sejak itu Tuan Arya gak pernah ke rumahnya lagi. Kabarnya setelah menikah, dia tinggal di luar negeri bersama istri mudanya. Luna juga gak pernah bertemu dengannya lagi sejak keluar dari perusahaannya.
Mungkin sudah saatnya, hati mamah Luna kembali terbuka. Perasaan cinta gak akan mudah hilang. Hanya saja seperti air laut yang pasang surut.
Damar baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Dia melihat Luna masih menemaninya sampai tertidur di sofa. Membuat hatinya trenyuh. Ada saja yang menimpa Luna setelah berjumpa dengannya. Namun, kekuatan cinta mereka sudah teruji.
Luna membuka mata dan melihat wajah Damar sangat dekat. Dia pun sangat terkejut dan spontan mendorong Damar sampai jatuh duduk.
"Astaga, Damar! Kamu ngagetin aku aja, sih? Maafkan aku, ya!" ungkap Luna seraya membantu Damar untuk berdiri.
"Malah kamu yang ngagetin aku! Memangnya kamu melihat hantu sampai seperti itu?!" gerutu Damar meski bercanda.
"Iya, maaf ya sayaaang," rayu Luna sambil memeluk Damar agar amarahnya hilang.
Hhmmm, kalau begitu, Damar langsung meleleh!
"Kalau begini, sering-sering aja kamu kaget. Aku malah suka!" cetus Damar.
Damar hanya cengengesan. Tapi, dia memang malah senang sering dipeluk begitu.
"Ayo, kita pulang. Sudah malam juga!"
"Kayaknya aku gak jadi menginap di rumahmu!"
"Kenapa?" Hadeh, Damar gagal deh bisa lama-lama memeluk Luna.
"Wartawan di rumahku sudah pergi! Jadi aku mau pulang aja!"
"Bagaimana kalau mereka kembali?"
"Gak kok! Tuan Arya sudah mengusir mereka," jawab Luna santai.
"Tuan Arya? Apa sekarang ada di rumahmu?" Damar merasa sedikit cemburu dengan kehadiran Tuan Arya di rumah Luna.
"Tadi sih ada! Gak tahu sekarang," jawab Luna sambil mengambil tasnya.
"Pokoknya kalau masih ada Tuan Arya, kamu harus menginap di rumahku aja!"
__ADS_1
"Kenapa emangnya? Kamu kan tahu sendiri kalau Tuan Arya sudah seperti seorang ayah bagiku!"
"Ya, sudah. Aku akan menginap dirumahmu juga!"
"Damar!"
Damar gak peduli dengan panggilan Luna. Dia gak akan bisa tenang jika Luna serumah dengan Tuan Arya!
*****
Saskia sangat kesal karena Tuan Arya malah ada di rumah Luna. Dia harus menyusulnya sekarang juga. Dendamnya belum selesai. Masih banyak yang harus dilakukan Saskia.
"Sabarlah, kak! Rencana kita sebentar lagi berhasil. Biarkan Tuan Arya disana!" ucap anak muda yang selalu bersama Saskia.
Ternyata, anak muda itu adalah adiknya Saskia. Meskipun adik angkat tapi dia mendukung rencana Saskia untuk membalas dendam. Dia adalah Roby yang bekerja sebagai sopir Saskia sehingga mereka bisa bertemu setiap waktu.
"Rencana kita hampir gagal. Tuan Arya sudah memblokir rekening dan kartu kreditku!"
"Apa dia sudah mencium rencana kita?"
"Tuan Arya bukan orang sembarangan! Aku harus mencari alasan soal uang satu milyar itu. Sepertinya dia sudah mengetahui kalau aku mengambilnya dari bank!"
"Lalu, apa uang itu akan kakak kembalikan?"
Saskia tertawa, "buat apa? Uang segitu seperti uang jajan bagi Tuan Arya. Aku hanya harus mengatakan alasannya!"
"Apa alasannya?"
"Buat berobat ibu? Katakan aja kalau ibu sakit parah. Dia pasti akan luluh!"
"Tapi, kak. Ibu sehat-sehat aja!"
"Bikin aja surat dari dokter yang mengatakan ibu sakit parah! Gampang, kan?
Roby terdiam. Dia kurang suka kalau ibunya yang harus jadi kambing hitam. Keberadaannya di sana karena sesuatu. Ya, dia mencintai Saskia meski dia adalah kakaknya!
Sejak kapan perasaan itu tumbuh? Sejak Roby mengijak masa puber. Lima belas tahun. Ya, kalau itu dia masih SMP dan Saskia baru lulus SMA.
"Aku mau kerja dan kuliah di kota. Aku harus meninggalkan kampung tanpa harapan ini!" ucap Saskia ketika masih berada di kampung.
"Aku mau ikut!" cetus Roby yang gak bisa melepaskan cinta pertamanya.
"Kamu masih ingusan. Lagipula siapa yang membantu ayah mengurus sawah?"
"Aku gak peduli! Aku gak bisa hidup tanpa kakak!"
__ADS_1
Saat itu, Saskia hanya bisa menertawakannya. Dia tetap aja pergi tanpa dirinya. Setelah lima tahun berlalu Saskia kembali namun untuk mengatakan akan menikah. Roby patah hati!
*****