
Damar kembali duduk setelah menyadari Luna narik ujung bajunya. Dia mengerti Luna gak mau dirinya pergi meski tanpa kata-kata.
"Oke, perutku lapar. Apa yang kamu bawa?" Damar langsung mengambil bungkusan dari tangan Jion. Sikapnya sangat jauh dari seorang Ceo.
"Eeeh! Itu buat Luna," cegah Jion. Namun, Damar sudah terlanjur menyantapnya. Luna hanya tersenyum melihat kelakuan Damar.
"Kamu mau, sayang?" tanya Damar yang menawarkan bubur yang dibawa Jion.
"Mau," jawab Luna yang langsung membuka mulutnya lebar-lebar.
Damar pun menyuapi Luna. Sementara Jion cuma jadi nyamuk. Dia kalah pamor dengan Damar yang sudah mensponsori filmnya.
"Aku jadi menyesal sudah datang kesini. Lebih baik aku pergi aja. Tapi, kamu harus waspada sama Yuki, Lun. Sepertinya dia mengetahui soal perusahaanmu!" pesan Jion sebelum pergi.
"Jion!" panggil Luna.
"Ada apa? Apa mau aku peluk?" tanya Jion yang sudah sampai di depan pintu.
Mendadak Luna menjadi mual mendengar pertanyaan Jion. Damar aja langsung melotot begitu mendengarnya.
"Makasih, ya. Tapi, apa maksudmu soal Yuki? Apa dia terlibat dengan masalahku?"
"Kamu tahu bagaimana Yuki. Dia akan melakukan apapun yang diinginkannya. Aku rasa Tuan Damar bisa membantumu!"
Jion akhirnya harus meninggalkan Luna dengan laki-laki lain. Namun, bukan berarti dia akan menyerah. Selalu ada jalan untuk kembali.
__ADS_1
"Jadi Yuki terlibat dengan masalah perusahaanmu?" tanya Damar yang masih gak percaya dengan ucapan Jion, "memangnya ada hubungan apa kamu sana dia, Lun?"
Luna terdiam, "aku gak percaya Yuki terlibat dengan semua ini. Seharusnya dia tahu akibatnya jika masih membenciku!"
Luna teringat pertemuan Papa Yuki dengan Mamah Luna. Dulu Luna masih bekerja di perusahaan Papa Yuki.
Ternyata, Papa Yuki adalah teman SMA mamahnya sewaktu di kampung. Mereka sempat pacaran tapi gak disetujui orang tua Papa Yuki. Bahkan Papa Yuki dibawa ke luar negeri dan bersekolah di sana.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya Papa Yuki bertemu lagi dengan Mama Luna. Namun, Mamah Luna sudah gak menyukainya. Apalagi Papa Yuki sudah mempunyai dua istri. Mamah Luna juga sudah mempunyai dua anak meskipun suaminya sudah meninggal.
Namun, Papa Yuki sangat menyayangi Luna seperti anaknya sendiri. Mungkin itulah sebabnya, Yuki sangat membenci Luna yang disangka anak haram papanya.
Tiba-tiba, suara hape Damar terdengar dan membuyarkan lamunan Luna. Damar gak mengangkatnya ketika tahu Ranilah yang sudah menghubunginya.
"Ada apa? Kenapa kamu gak mengangkatnya? Pasti dari Rani, kan? Dia pasti panik karena kamu menghilang semalaman!" Luna seakan tahu kalau Damar gak bilang-bilang mau menemui Luna.
"Damar! Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sudah gak apa-apa, kok!"
Damar menarik napas panjang. Dia sangat takut terjadi hal buruk pada Luna. Bayangan Anna terlintas. Kali ini, Damar gak akan kehilangan orang yang disayanginya lagi.
*****
"Dimana Damar? Apa semalam gak pulang?" Nyonya Kamaratih akhirnya tahu kalau Damar semalam gak pulang.
"Iya, nyonya. Katanya Nona Luna dirawat di rumah sakit!" jawab Rani yang juga baru tahu kabar Tuan Damar.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Nak Luna? Apa sakitnya parah?" Nyonya Kamaratih jadi khawatir juga.
"Katanya, Tuan Damar mau menunggu Nona Luna sampai pulang. Tapi, pekerjaan Tuan Damar jadi sedikit berantakan!"
Nyonya Kamaratih menatap Rani lekat. Sangat jelas Rani gak suka kalau Damar bersama Luna. Lalu, apakah Dayat masih menyukai Rani? Sebenarnya, Nyonya Kamaratih lebih suka Dayat bersama dengan Rani. Dia akan sangat senang jika mereka menikah. Tapi bukan dengan Damar!
"Iya, gak apa-apa. Yang penting Nak Luna sehat. Apa kamu sudah memilih rumah di brosur kemarin. Kalau sudah, bilang aja sama Dayat. Dia akan membeli rumah itu atas namamu!"
"Iya, nyonya. Saya belum sempat melihatnya!" jawab Rani singkat. Dia baru sadar mengapa Nyonya Kamaratih sangat mempercayai Mang Dayat. Ternyata dia adalah puteranya sendiri.
"Aku sangat menyayangimu, Ran. Bahkan aku sangat senang kalau kamu mau menikah dengan Dayat. Kalau kamu mau, kalian bisa tetap tinggal disini," ucap Nyonya Kamaratih yang mulai melunak. Dia teringat kalau semalam Dayat mengatakan kalau mencintai Rani.
"Maaf, nyonya. Saya belum kepikiran untuk menikah. Saya masih ingin bekerja lebih lama lagi!"
Dayat menarik napas begitu mendengar jawaban Rani. Ternyata Dayat dari tadi berdiri di belakang pintu dan hampir gak sanggup mendengar jawaban Rani. Kini, dia tahu isi hati Rani sebenarnya. Jawabannya tadi hanya sebuah alasan agar bisa lebih lama bersama Damar.
"Maaf, biar saya antarkan Bu Rani dulu ke kantor. Nanti bisa jemput Tuan Damar kalau sudah pulang!"
Dayat akhirnya muncul. Dia sangat pandai menutupi siapa dirinya. Rani menjadi sungkan setelah mengetahui rahasianya.
"Ti-tidak usah. Saya bisa naik taksi aja, kok. Nanti, Tuan Damar pasti mencari Mang Dayat!"
"Gak apa-apa, sudahlah. Antarkan Rani ke kantor aja, mang! Kamu pasti telat lagi kalau naik taksi!" putus Nyonya Kamaratih.
Akhirnya, Rani terpaksa berangkat kerja bersama Mang Dayat. Dia sangat bingung harus bersikap bagaimana. Mang Dayat gak pernah kelihatan seperti anaknya Nyonya Kamaratih. Dia selalu sederhana dan rendah hati. Tapi, Rani gak mungkin menikah dengannya. Impian Rani hanya akan menikah dengan Damar!
__ADS_1
❤❤❤❤❤