TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
PILIHAN BERAT #3


__ADS_3

Anna sadar penyakitnya semakin parah. Bahkan, seharusnya dia sudah mati sejak lama. Lalu, apa yang akan dilakukannya setelah penantiannya selama ini hanya sia-sia? Kenyataannya hati Damar sudah dimiliki orang lain.


Hari ini, Anna mulai berkemas. Dia sudah memutuskan pulang dan berkumpul bersama keluarganya lagi. Entah apa yang akan dikatakannya nanti. Mereka hanya tahu kalau dia sudah mati. Hanya orang tuanya yang mengetahui kejadian sebenarnya.


Waktu itu, Nyonya Kamaratih menemui Anna dan orang tuanya di rumah sakit.


"Aku akan membiayai semua pengobatan dan semua keperluan Anna di Singapura. Asalkan ada satu syarat yang harus kalian ikuti!"


Orang tua Anna yang tadinya senang mulai khawatir.


"Syaratnya apa, nyonya?" tanya Ayah Anna yang cepat mengetahuinya.


"Di depan anakku Damar, Anna harus meninggal. Sampai kapanpun Anna jangan muncul lagi disini apalagi di depan anakku!"


Anna hanya bisa menangis begitu juga mamahnya. Kenyataan vonis sakit kanker paru-paru sudah membuatnya down. Apalagi mendengar persyaratan yang sangat gak masuk akal.


"Kenapa kami harus membohongi putera nyonya? Dia anak yang sangat baik. Kami yakin dia sangat peduli dengan anak kami!" ucap Ayah Anna lagi. Dia masih bingung.


"Itulah yang aku tidak suka. Anakmu sakit-sakitan! Pasti membuat Damar gak konsen belajar. Dia adalah pewaris perusahaan papahnya yang mempunyai tanggung jawab sangat besar. Puterimu hanya membuat anakku kehilangan fokus!"


Jika Anna bisa kembali di saat itu, dia akan memilih mati namun tetap berada di hati Damar. Namun, orang tua Anna menyetujui persyaratannya agar bisa melihat puterinya tetap hidup. Anna terpaksa mengikuti skenario yang malah membuatnya sangat menyesal.


Siang itu, Damar datang ke rumah sakit sambil berlari. Napasnya masih ngos-ngosan. Anna sendiri sudah berbaring di tempat tidur seperti orang meninggal. Sebuah kain putih menutupi wajah dan seluruh tubuhnya.


"Saya mau bertemu Anna, om. Tolong izinkan saya melihatnya untuk terakhir kali!" mohon Damar dengan berderai airmata.


"Maaf, Nak Damar. Anna sudah tiada. Sebaiknya kamu pulang saja dan lupakan Anna!" sahut Ayah Anna. Sementara mamahnya hanya bisa menangis.


Damar gak langsung pergi. Dia masih menunggu di depan ruang rawat inap Anna. Hampir saja sandiwara itu gagal ketika dokter datang. Untung saja, Damar pergi ketika melihat dokter dan perawat memasuki kamar Anna.


Itulah saat terakhir, Anna mendengar suara Damar. Airmatanya mengalir deras. Dia terpaksa memilih pilihan yang sangat berat itu. Bukan hanya demi kondisi kesehatannya juga karena Damar. Yang dikatakan Nyonya Kamarataih benar. Jika Anna mati, Damar pasti jauh lebih menderita.


Kali ini Anna memilih untuk kembali. Menghadapi takdirnya yang dulu ditinggalkan. Entah kapan bisa bertemu dengan Damar lagi. Mungkin esok Anna sudah tiada.


*****


"Damar! Bangunlah. Kita harus menemui mamahmu!"


Luna menggoyangkan tubuh Damar yang masih tertidur.di atas sofa. Sudah jam satu siang. Luna ingin cepat melihat mamahnya Damar agar hatinya tenang. Apalagi, Mang Dayat menghubunginya kalau Mamah Damar menanyakan mereka.


"Sebentar, aku masih ngantuk!"

__ADS_1


"Damaar! Mamah nanyain kita. Aku takut terjadi apa-apa!" ucap Luna lagi.


Damar membuka mata dan menatap Luna lekat.


"Apa kamu juga secemas itu kepadaku?"


"Apa, sih? Cepat bangun. Apa perlu aku ambilkan seember air!"


"Eeh! Emangnya aku kucing. Iya-iya. Tapi aku mau mandi dulu!"


"Ga usah! Nanti malah kesorean. Kamu kan kalau mandi bisa berjam-jam!"


Damar tertawa. Dia kesenangan Luna memerhatikannya.


"Itulah yang dikerjakan orang seganteng aku. Kamu lihat, kan? Kulitku selalu bersinar siang dan malam!" sahut Damar sambil memajang wajah tampannya.


Damar malah menyombongkan kulitnya yang putih bersih. Luna memang mengakui kalau kulit Damar sangat cerah. Bahkan dia sendiri kalah kinclong darinya.


"Aach! Aku pergi sendiri aja, deh!"


Luna membalikan badan dan berniat pergi namun Damar malah menarik Luna sampai terduduk di pangkuannya.


"Nah nah! Kalau begini kan enak! Aku masih kangen tahu!"


"Damar! Jangan macem-macem tahu! Apa perlu aku keluarkan jurus mautku?!"


Luna hampir kehilangan kesabarannya. Dia takut malah kebablasan dan berubah menjadi iblis betina.


"Iya-iya!"


Damar tertawa lebar sambil melepaskan Luna. Dia puas melihat wajahnya yang berubah merah seperti udang rebus.


Luna bisa bernapas lega setelah Damar pergi ke kamar mandi. Sampai kapan dia merasakan seperti ini. Gak sabar saat melewatkan malam pertama bersama Damar. Siapa yang akan menjadi singa, apakah dia atau Damar? Helleh, sadar Lunaa ....


*****


"Bagaimana keadaan kamu, Luna Sayang? Kamu baik-baik saja, kan?"


Nyonya Kamaratih langsung ceria begitu melihat Luna datang bersama Damar. Senyuman mereka membuatnya sangat tenang.


"Saya baik-baik aja, mah. Bagaimana keadaan mamah?" tanya Luna sambil mencium pipi calon mertuanya itu.

__ADS_1


"Mamah sudah baikan, sayang. Gimana keadaan kamu Damar?" Nyonya Kamaratih beralih kepada puteranya.


"Aku baik, mah! Syukurlah mamah sudah baikan," jawab Damar yang mencium pipi mamahnya juga.


"Baiklah! Kalian sudah berkumpul disini. Mamah mau mengatakan sesuatu yang sangat penting. Keadaan mamah memang sudah lebih baik tapi masih lama sembuh totalnya. Jadi, daripada menunggu lebih lama lagi, lebih baik kalian menikah disini aja, sekarang juga!"


Luna dan Damar saling pandang begitu mendengar perkataan Nyonya Kamaratih. Apa mereka salah dengar?


"Maksud mamah, kami menikah disini? Di rumah sakit ini?" tanya Damar lebih mendetail. Bukan seperti ini pernikahan yang diimpikannya selama ini.


"Ya, di rumah sakit ini. Aku melihat ada ruangan yang cukup besar untuk kalian menikah. Ajaklah keluarga dan teman-teman kamu, Luna Sayang!"


Luna gak bisa mengatakan apapun. Dia masih belum bisa menerima perkataan Nyonya Kamaratih. Jika pernikahannya di rumah sakit pasti hanya sederhana aja. Gaun puteri kerajaannya gak mungkin dipakai disini.


"Tapi, banyak yang harus kami lakukan, mah. Aku akan membicarakannya dengan Luna dulu!" ucap Damar yang mengerti keinginan Luna sebenarnya.


"Bagaimana tanggapan kamu soal keinginan mamah, Lun?" tanya Damar ketika sedang berdua Luna.


Luna diam aja. Dia gak mau menjadi egois. Keinginan Mamah Damar harus dilaksanakan.


Damar mengerti perasaan Luna. Dia pun menarik tangan Luna dan menggenggamnya erat.


"Jangan terlalu dipikirkan, sayang. Kamu gak harus menuruti kemauan mamah. Kita sudah merencanakan pernikahan sejak lama!"


Luna menatap Damar lekat, "ya, sudah. Kita menikah disini aja. Aku juga gak suka terlalu ramai. Rencana sebelumnya kan karena promo butikku. Kita bisa melakukannya nanti!"


Damar terbelalak. Luna sedang serius apa bercanda sih?


"Kamu serius?" tanyanya memastikan.


Luna tersenyum dan mengangguk.


"Tentu aja aku serius! Yang penting kita akan menikah beneran. Iya, kan?!"


Damar mulai kebingungan dengan kata-kata Luna.


"Menikah beneran? Tentu aja kita akan menikah secara resmi! Apa kita menikah sirih aja dulu, ya?" ledek Damar.


"Damaar!" teriak Luna sambil memasang kuda-kuda.


Damar senang Luna bisa menerima permintaan mamahnya. Luna memang selalu terbaik! Damar sepertinya jatuh cinta berkali-kali padanya ....

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2