
Sudah hampir jam sebelas malam. Damar tahu semuanya pasti kelelahan. Begitu juga dirinya yang hampir tak bertenaga lagi.
"Sebaiknya kita pulang sekarang! Besok bisa dibicarakan lagi. Rani kamu pulang dengan Pak Ihksan saja. Sepertinya kalian satu arah!" ungkap Damar yang masih mengkhawatirkan Rani.
"Satu arah? Bukankah Bu Rani tinggal di rumah tuan?" tanya Ikhsan yang belum tahu kalau Rani sudah pindah rumah.
"Rani sudah pindah ke rumahnya yang baru. Tolong antarkan sampai ke rumahnya, ya. Aku rasa kendaraan umum jam segini sudah gak ada!"
"Baik, tuan!" Tentu saja Ikhsan sangat senang bisa berdua dengan Rani. Sebenaenya dia audah menyukainya sejak lama. Namun, Rani selalu bersikap cuek.
Rani gak membantah sedikit pun. Dia hanya diam saja sambil merapikan semua berkas.
Namun ketika sampai di lobby, Rani tertegun ketika melihat Agung masih di tempatnya semula. Dia malah sampai ketiduran. Rani baru ingat kalau Agung mengatakan akan menunggunya sampai selesai.
"Maaf, Tuan Damar. Saya gak bisa pulang dengan Tuan Ikhsan. Saya lupa kalau ada yang menunggu saya pulang!"
"Siapa, Ran?" tanya Damar ingin tahu.
"Tetangga saya, tuan. Sepertinya dia sampai ketiduran. Maaf, saya pergi!"
Rani segera melangkahkan kakinya menuju ke arah Agung. Dia sangat menyesal karena melupakan kalau Agung sedang menunggunya.
Damar melihat seorang laki-laki yang tengah tertidur di sofa. Dia kelihatan lebih tua dari Rani. Semoga dia orang baik-baik apalagi sampai ketiduran menunggunya.
"Mas, Mas Agung. Bangun, mas!" ucap Rani sambil menggoyangkan lengan Agung.
Gak lama kemudian Agung membuka matanya.
"Oh, maaf. Aku ketiduran. Jam berapa ini?" tanya Agung ketika sudah membuka mata.
"Jam sebelas lewat, mas. Maaf kalau mas kelamaan menunggu!"
"Oh, ya gak apa-apa. Semuanya sudah beres, kan?"
"Sudah kemalaman, mas. Besok akan diteruskan lagi. Ayo kita pulang!"
"Ayo!" Agung pun segera berdiri.
Kruuuk, kruuuuk ....
Tiba-tiba, perut Agung mengeluarkan suara.
"Aduh, maaf. Sepertinya cacing diperutku ini minta makan! Jangan cari nasalah, ya. Ini sudah malam tahu!" ucap Agung sambil memukul perutnya.
Rani tersenyum melihat kelakuan Agung.
"Di depan ada restoran makanan siap saji, mas. Kita makan dulu aja. Aku juga lapar!"
Sebenarnya Rani gak kepikiran soal makanan. Tapi, dia gak bisa membiarkan Agung kelaparan.
"Oke! Aku pesan hamburger aja agar bisa dimakan sambil jalan! Ini sudah kemalaman. Besok kamu mau kerja lagi, kan?"
__ADS_1
"Iya, mas!" Rani langsung mengangguk. Dia sangat senang Agung sangat memerhatikan kebiasaannya. Membuat Rani sangat bersyukur dengan adanya Agung. Walaupun Tuan Damar juga selalu memerhatikannya, namun rasanya berbeda. Rani mulai merasakan debar saat bersama Agung.
Namun, ada sesuatu yang masih dikhawatirkan Rani. Yaitu ucapan terakhir Tuan Damar.
"Tolong jangan katakan apapun kepada Mang Dayat ataupun dengan Luna, Ran. Aku gak mau mereka jadi khawatir. Jika gak ada jalan lain, aku akan menceritakan semuanya setelah acara pertunanganku nanti!"
"Tapi, tuan. Nona Luna pasti sangat sedih kalau sampai tuan masuk ke dalam penjara apalagi karena kesalahan orang lain. Saya berusaha sekuat tenaga agar tuan gak sampai masuk penjara!" ungkap Rani dengan penuh semangat. Dia ikut merasakan kesedihan Nona Luna jika hal itu terjadi. Padahal dia sudah banyak melalui banyak kesulitan.
"Makanya jangan katakan apa-apa dulu. Untuk sementara, Mang Dayat aku gak kasih ke kantor. Dia pasti menanyakannya padamu. Cari saja alasan yang kamu bisa!"
Rani mulai mencari alasan jika Mang Dayat menanyakan sikap Tuan Damar. Terakhir ini Tuan Damar mempercayai pekerjaan kantor kepadanya. Tapi, jika Mang Dayat ke kantor pasti tahu soal masalh yang terjadi pada Tuan Damar.
Angin malam yang berembus sepoi membuat Rani mengantuk. Tanpa sadar, dia merebahkan kepalanya di punggung Agung dan melingkarkan tangan di pinggangnya.
Agung tersenyum. Dia tahu Rani tertidur. Yang dilakukannya adalah melambatkan laju sepeda motor agar Rani bisa tidur dengan nyaman. Tapi dia juga sekaligus menikmati desir aneh di dalam hatinya. Dia ingin saat itu gak cepat berakhir.
*****
Damar dan Dayat sudah mulai biasa sarapan bersama. Hanya saja, kali ini Damar harus mengatakan sesuatu yang bisa membuat Dayat kecewa.
"Maaf, mang. Tolong jaga mamah, untuk sementara waktu gak usah ke kantor dulu. Sepertinya sakit mamah tambah parah! Aku akan mencari rumah sakit yang bagus di Singapura," jelas Damar setelah selesai sarapan.
"Ke Singapura? Bukankah nyonya gak pernah mau berobat ke sana?" Dayat ingat bagaimana reaksi Nyonya Kamaratih ketika dokter menyarankan untuk berobat keluar negeri.
"Katakan padanya sekali lagi. Aku ingin kondisi mamah tetap fit sampai pernikahanku nanti!" ucap Damar sebelum pergi. Dia sengaja menghentikan pembicaraan agar gak banyak pertanyaan.
Dayat masih diam saja di meja makan. Terdengar suara mobil Damar yang keluar dari garasi. Sebenarnya, Dayat terlanjur menyukai pekerjaannya di kantor. Dia merasa bisa meraih impiannya selama ini. Namun, sekali lagi dia harus melenyapkan impian itu.
"Ada apa, Dayat? Kamu gak ke kantor bersama Damar?" Nyonya Kamaratih muncul dengan kursi rodanya.
"Berobat keluar negeri? Bukankah hari pertunangannya sudah dekat? Aku gak mau pergi sampai pernikahannya nanti!"
Nyonya Kamaratih tetap berkeras tidak mau pergi. Dia ingin melihat kebahagiaan Damar untuk terakhir kali. Meski pun dia tahu penyakitnya semakin parah.
"Sepertinya tuan Damar mengetahui kondisi kesehatan nyonya. Nanti, tuan akan mengatur semuanya dan saya akan mendampingi nyonya!" jelas Dayat lagi.
Nyonya Kamaratih merasa heran dengan sikap Damar yang mendadak. Apa yang terjadi sebenarnya. Dia yakin ada hal lain yang sudah terjadi! Dia pun segera menelpon Rani.
"Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan Damar, Ran? Sikapnya sangat aneh. Dia menyuruhku berobat keluar negeri padahal aku ingin dia menikah dulu!" tanya Nyonya Kamaratih kepada Rani. Dia pasti tahu apa yang terjadi.
"Maaf! Saya tidak tahu, Nyonya. Saya akan mencari tahu dulu," jawab Rani yang pura-pura gak tahu. Dia baru saja sampai di kantor.
"Katakan pada Damar, aku gak mau pergi sebelum dia menikah!" ungkap Nyonya Kamaratih kekeh pada pendiriannya.
"Baik, nyonya. Saya akan katakan kepada Tuan Damar," sahut Rani yang sangat tahu sifat Nyonya Kamaratih yang tidak suka dibantah. Rani hanya khawatir kabut gelap mulai menghampiri mereka.
*****
Luna mulai gak bisa tidur. Acara pertunangannya tinggal beberapa hari lagi. Banyak yang harus dia persiapkan. Tapi gak juga sih! Mulai acara, gedung dan katering sudah di handle hotel kepunyaan Damar. Yang disiapkan Luna adalah soal hatinya yang gak berhenti bergemuruh.
"Kak! Kalau nanti kakak tinggal di rumah besar itu, aku ikut ya!" celetuk Luky yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Luna.
__ADS_1
"Luky! Bikin kakak kaget aja, sih!" ujar Luna sambil melemparkan sebuah bantal. Namun Luky dengan sigap menghindar.
"Eeh! Belum apa-apa udah emosian aja. Aku heran apa sih yang disukai Kak Damar dari kakak?"
"Jelas karena aku cantik, dong!" jawab Luna yang memuji dirinya sendiri.
"Cantik dari hongkong. Itu efek make up aja. Gimana kalau Kak Damar melihat kakak bangun tidur. Pasti kabur!" Luky terbahak.
"Eeeh jangan salah! Kakak kan pernah menginap di sana. Damar gak kenapa-napa tuh liat kakak bangun tidur. Tapi, kakak udah make-up dari semalam jadi pas bangun udah cantik dooong!"
"Tuh, bener kan! Coba foto pas kakak bangun. Tikus aja pasti lari!"
Luna langsung melotot mendengar ocehan adiknya.
"Ya, sudah. Kamu jaga mamah aja, gak usah ikut ke rumah itu!"
"Iya-iya, aku minta maaf. Asal aku bisa main game sama Kak Damar. Ternyata dia itu gamer sejati!"
"Masa, sih? Yang kakak tahu dia itu kutu buku!"
"Berarti kakak gak mengenal Kak Damar. Masa sih udah mau nikah masih begitu!"
"Auu aaach! Udah sana. Kakak mau tidur!" usir Luna.
"Makanya jangan egois jadi perempuan!" celetuk Luky lagi sebelum benar-benar menghilang.
Tinggal Luna yang terdiam. Yang dikatakan Luky ada benarnya. Selama ini Damarlah yang banyak mendampinginya. Ketika Luna mendapatkan masalah, Damar gak pernah meninggalkannya. Luna harus lebih memerhatikan Damar lebih banyak lagi.
Sudah hampir tengah malam. Luna mencoba menghubungi hape Damar. Mungkin dia sudah tidur karena gak menjawab. Aakh! Dasar Luna. Ini salah satu bentuk keegoisannya. Padahal Damar pasti sudah kecapean dengan pekerjaannya.
Luna menutup hapenya. Besok pagi, dia akan menghubungi Damar lagi. Tiba-tiba, hapenya malah bunyi dan Damar yang menghubunginya.
Luna segera membuka layar hape untuk video call. Eeh, ternyata Damar masih memakai handuk.
"Hallo, sayang. Maaf aku tadi lagi mandi. Ada apa? Kamu pasti gak bisa tidur karena kangen sama aku, ya?"
"Iih! Pake baju dulu sana. Malu tahu!" celetuk Luna yang malu sendiri melihat Damar gak memakai baju.
"Malu kenapa? Sebentar lagi kan kita akan menikah!"
"Damaar! Nanti ada yang lihat kamu seperti itu. Aku matikan, ya!"
"Eeeh, jangan! Nyalakan terus aja. Aku sambil pakai baju!"
Damar meletakan hapenya di atas meja sehingga menghadap ke atas.
"Jangan ditutup, ya!"
Luna tertegun begitu melihat layar hapenya. Ternyata di bagian atas kamar Damar sangat indah dengan bintang-bintang bertaburan. Ketika kesana Luna gak sempat melihatnya.
Luna merasa terbang ke angkasa dan menari di antara gemintang. Betapa indahnya. Tanpa sadar Luna memejamkan mata dan membayangkannya.
__ADS_1
Gak lama kemudian, Damar selesai memakai baju dan segera mengambil hapenya. Namun gak ada Lunanya dan hanya terdengar suara dengkuran. Hadeh, dasar Luna! Dia pasti ketiduran lagi deeeh. Damar hanya tersenyum meski hatinya dipenuhi kerinduan.
❤❤❤❤❤