
Luna benar-benar gak bersemangat untuk bekerja. Belum lagi, Jion yang sering datang untuk pengukuran beberapa model pakaian. Suasana kantor pasti heboh jika Jion ke sana. Meski usianya sudah sedikit tua tapi aura bintang Jion masih cukup bersinar.
Sebenarnya ada lagi yang membuat Luna gak mood. Sudah dua hari, Damar gak menghubunginya. Biasanya, Damar selalu mengirim pesan atau menelpon langsung. Mungkin, Damar sedang dalam perjalanan pulang sehingga gak ada signal.
Begitu sampai di ruangan kerjanya, perhatian Luna tertuju kepada rangkaian bunga mawar aneka warna di atas meja. Luna yakin pasti Damar yang memberikannya.
Luna langsung tersenyum lebar. Ternyata Damar gak melupakannya. Dia pun langsung memfoto bunga itu dan mengirimkannya ke hape Damar. Mungkin sekarang dia sedang tidur. Gak apa-apalah! Yang penting Luna sudah mengucapkan terima kasih.
"Ada apa senyum-senyum begitu, Lun?" Sarah heran melihat Luna yang tersenyum sendiri. Begitu melihat rangkaian bunga yang dipegang Luna, Sarah baru tahu sebabnya.
"Aaah, pasti karena bunga itu, ya?" celetuk Sarah lagi.
Luna hanya nyengir. Hatinya juga ikut berbunga-bunga.
"Iya, kak. Hari ini semua menjadi indah. Bunga di hatiku pun ikut mekar!" jawab Luna seraya menciumi bunga-bunga ditangannya.
Sarah terdiam melihat ekspresi Luna. Sebenarnya, Sarahlah yang meletakan bunga itu di atas meja Luna. Dia juga tahu siapa yang mengirimkan bunga itu.
"Apa kamu tahu siapa yang mengirimkan bunga itu, Lun?" Sarah ingin sekali mengatakan siapa pengirim bunga itu.
"Pasti Tuan Damarlah, kak. Ternyata dia romantis juga. Pantas dari kemarin gak ada kabar. Jangan-jangan, dia sudah pulang!" jawab Luna dengan wajah semringah.
Lagi-lagi, Sarah terdiam. Dia gak mau mood Luna hilang kalau tahu siapa pengirim bunga itu sebenarnya.
"Oh, CEO ganteng itu. Aku dengar dia jadi trending topik di dunia maya juga dunia nyata, ya. Hadeh! Seharusnya kamu yang mengiriminya bunga karena kesuksesannya, Lun!" Sarah terpaksa berbohong. Luna pasti ngamuk kalau tahu sebenarnya.
"Oh iya, ya. Aku lupa, kak. Hhmmm aku kasih apa, ya? Kalau membelikannya setelan jas, dia pasti punya banyak. Kalau cake, sudah pasaran!" Luna semakin bersemangat memikirkan hadiah untuk Damar.
"Kamu masakin makan malam aja, Lun. Sekalian nengokin mertuamu!" cetus Sarah.
Mata Luna langsung berbinar, "oh, bener juga, kak. Nanti sore, aku akan ke rumahnya. Lagi pula aku juga khawatir Mamahnya Damar sendirian di rumahnya!"
"Nah, begitu aja juga bagus. Kamu kan jadi semakin dipuja mertuamu itu!"
Luna langsung menggangguk. Di kepalanya sudah berterbangan aneka menu. Hhmmm, Damar suka masakan apa, ya?
Jion sudah membayangkan tanggapan Luna dengan bunga yang dikirimkannya. Jion sangat tahu kalau Luna sangat senang kalau dikasih bunga. Ketika menembaknya, Jion juga memberikan bunga.
"Apa Luna ada di ruang kerjanya, Prilly cantik?" tanya Jion setelah pengukuran selesai.
"Entahlah, say. Sekarang Luna gak bisa ditebak. Kadang ada kadang gak ada. Suasana hatinya jadi gak menentu setelah kamu datang. Mungkin, dia masih punya perasaan sama kamu!" tebak Prilly. Dia juga tahu kalau Luna sempat pacaran sama Jion.
"Tentu aja Luna masih suka sama aku. Apalagi kalau melihat bunga-bunga itu!" sahut Jion yang masih merapikan pakaiannya.
"Jadi, kamu sudah mengirimi bunga, ya? Kenapa gak dari dulu aja kamu lakukan. Luna sangat marah ketika tahu kamu punya hubungan dengan model itu. Siapa namanya?"
Jion bahkan sudah lupa nama gadis yang pernah dikencaninya dulu. Dia gak pernah bisa mengingat nama-nama mereka.
"Entahlah, aku lupa!"
__ADS_1
"Aakh! Kamu ini payah juga. Luna aja sampai sekarang masih ingat kelakuan kamu dulu. Hatinya masih terluka makanya sampai sekarang gak mau dekat dengan laki-laki lain. Kecuali sama CEO ganteng itu pastinya!"
Jion terdiam mendengar kicauan Prilly. Sudah saatnya menghentikan petualangannya dan kembali kepada Luna. Sebelum Luna menjadi milik orang lain.
"Aku akan menemuinya sebelum pulang. Mungkin akan mengajaknya makan malam!" ucap jion yang selalu kepedean. Dia yakin Luna akan kembali padanya apalagi setelah melihat bunga itu.
"Luna sudah pulang!" Sarah muncul dan mendengar ucapan Jion.
"Pulang? Seharusnya dia menungguku bahkan mencariku! Apa bunga itu sudah sampai ke tangannya?" tanya Jion heran.
"Sudah! Tapi Luna mau ke rumah mertuanya. Hari ini calon suaminya pulang. Katanya mau masak makanan yang enak untuknya!" sahut Sarah datar. Dia aja masih kesal dengan kelakuan Jion dulu.
Jion tertawa kecil, "masak? Luna itu gak bisa masak! Mana mungkin mereka mau makan masakannya?!" ucapnya disela tawa. Dulu, Luna pernah memasak untuknya dan rasanya amburadul.
"Kalau yang masak itu orang yang dicintai pasti enak aja! Kecuali orang yang gak bersyukur. Luna itu anugrah buat orang yang tepat!" sindir Sarah. Kenapa hatinya jadi panas, ya? Mungkin karena teringat bagaimana Luna ketika Jion selingkuh dulu. Bahkan Luna sampai gak mau makan selama berhari-hari.
*****
"Mamah sangat senang kamu datang, Nak Luna. Damar memang masih dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi,dia juga sampai. Apa yang kamu bawa?" Mamah Damar menyambut kedatangan Luna dengan senang. Pandangannya tertuju kepada barang bawaan Luna.
"Ini sayuran, mah. Damar pasti kangen makan masakan rumah. Tapi, masakan kesukaan Damar apa ya, mah?"
Mamah Damar menggeleng pelan. Dia juga gak tahu makanan kesukaan Damar. Dulu, Damar selalu makan sendirian karena ditinggalnya bekerja.
"Mamah juga kurang tahu. Hhmm apa sajalah kamu masak. Pasti semuanya enak. Bantu Nak Luna ke dapur, mang!"
Luna jadi gak enak mendengar panggilan Nyonya Muda. Tapi, Mamah Damar juga gak ngomong apa-apa.
"Apa Mamang tahu makanan kesukaan Tuan Damar?" tanya Luna ketika sudah sampai di dapur.
"Biasanya sih cuma mie instan atau beli makanan dari luar, nyonya. Tuan Damar gak pernah makan yang dimasak langsung!"
"Kenapa begitu?"
"Dulu Nyonya sibuk kerja jadi Tuan Damar sendirian aja di rumah. Ketika Tuan Wicaksana masih ada sih Nyonya sering masak. Tapi, Tuan muda tinggalnya di asrama. Ketika meninggal, tuan muda baru tinggal disini!" jelas Mang Dayat.
Luna mendengarkan dengan saksama. Kasihan Damar! Dia pasti selalu sendirian dan kesepian.
"Ya, udah. Aku masak seadanya aja, deh. Moga aja, Damar suka!" cetus Luna yang langsung mengeluarkan sayuran yang dibawanya.
Tak lama kemudian, Damar sampai di rumahnya bersama Rani. Dia melihat ada mobil Luna terparkir di depan. Tanpa sadar sebuah senyuman mengembang. Rasa lelahnya pun langsung menghilang.
"Dimana Nona Luna, mang?" Damar langsung menanyakan Luna ketika Mang Dayat menghampirinya.
"Sedang di dapur, tuan. Katanya mau masak," jawab Mang Dayat seraya mengambil koper di dalam bagasi mobil.
"Masak? Ada ada kelakuannya. Hhmm, Luna masak apa ya?" Damar langsung berjalan menuju dapur. Dia sudah gak sabar melihat apa yang akan dimasak Luna.
Di dapur, Luna sedang serius melihat video memasak dari hapenya. Sebenarnya Luna kurang pandai memasak. Dulu pernah memasak untuk Jion tapi malah dicemooh abis-abisan. Sejak itu Luna kapok memasak lagi, kecuali hari ini. Luna bertekad untuk memasak makanan yang enak buat Damar.
__ADS_1
"Ekheem, aku lapar, nih. Ada makanan apa, ya?"
Tiba-tiba, Damar muncul. Luna sangat terkejut dan buru-buru mematikan hapenya.
"Damar? Kenapa gak bilang kalau sudah sampai rumah?" Luna menjadi pucat karena gagal memberikan kejutan.
Damar hanya tersenyum. Dia melihat dapur berantakan.
"Hapeku mati sebelum naik pesawat. Aku pikir dirumah aja ngecasnya. Bagaimana? Apa masakanmu sudah ada yang matang?"
"Hape kamu mati? Berarti kamu belum membaca pesanku?" Lina malah lebih memperhatikan soal hape Damar.
"Oh, jadi kamu mengirim pesan. Ya sudah, aku akan ke kamarku dulu dan mengecas hape. Kabari aku kalau masakanmu sudah matang, ya!" ujar Damar yang bergegas ke kamarnya. Dia ingin tahu pesan apa yang dikirimkan Luna. Apa pesan tentang rindu? Damar makin bersemangat aja membayangkan hal itu.
Luna hanya bengong aja melihat Damar pergi. Bahkan dia lupa menanyakan soal bunga yang dikirimkan Damar. Aakh! Nanti juga Damar membaca pesannya. Yang penting masakannya matang secepatnya.
"Maaf, saya mengganggu. Apa saya boleh mengambil air putih, Nyonya muda?"
Seorang gadis cantik muncul. Luna pernah nelihat gadis itu tempo hari.
"Oh, silakan. Maaf dapurnya berantakan. Eee, kalau boleh tahu kamu siapa, ya?" tanya Luna yang gak bisa memendam rasa penasarannya.
"Saya Rani, Nyonya muda. Saya adalah asisten pribadi tuan Damar!" jawab Rani lugas.
"Oh, asisten pribadi ya. Apa kamu juga ikut Tuan Damar kalau ke luar negeri?" tanya Luna lagi. Aakh, memalukan! Kenapa Luna jadi kepo, ya?
"Iya, Nyonya Muda!" jawab Rani dengan senyuman manisnya.
Luna manggut-manggut dan meneruskan memasaknya. Rani cukup cantik dan pintar. Kenapa Nyonya Kamaratih gak memilihnya untuk menjadinya menjadi istri puteranya.
"Sebaiknya jangan panggil aku Nyonya Muda. Aku hanya tanu di rumah ini. Oh, iya. Apa kamu tahu makanan kesukaan Tuan Damar?" tanya Luna mengubah topik pembicaraan.
"Tuan Damar sangat suka pasta, Nyonya muda!" jawab Rani singkat dan padat. Karena Tuan Damar memang sangat menyukai makanan itu. Kemana pun mereka pergi pasti hanya pasta yang dicari atasannya itu.
"Pasta? Aduh aku gak bisa bikinnya. Apa kamu mau membantuku? Tapi, kamu pasti capek!"
"Saya mau kok, Nyonya muda!" jawab Rani cepat.
Luna sangat terkejut dengan jawaban Rani yang menuruti permintaannya dengan cepat.
"Baiklah! Tapi tolong jangan panggil aku dengan Nyonya muda. Aku kan belum menikah dengan Tuan Damar!"
Rani tersenyum. Terlihat lesung pipit di pipinya. Luna aja terpesona dengan kecantikannya, apalagi Damar yang selalu bersamanya setiap hari.
"Baik, kak!" jawab Rani yang langsung menggulung lengan bajunya.
Luna sangat senang. Ternyata, Rani adalah gadis yang baik. Dia pun langsung mengeluarkan keperluan untuk membuat pasta. Sebungkus tepung dan beberapa butir telur. Dengan sigap, Rani membuat pasta yang dibuat dengan tangannya sendiri. Apalagi kurangnya gadis itu. Ranilah yang lebih pantas menjadi Nyonya Muda di rumah itu.
*****
__ADS_1