TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
NGAKU AJA KALAU CEMBURU! #1


__ADS_3

Luna memerhatikan setiap gerak gerik Rani yang dengan cekatan membuat pasta. Sebagian kepalanya masih memikirkan alasan kenapa Damar gak jatuh cinta padanya. Meski wajahnya gak mirip pacarnya tapi tetap aja cantik.


"Eem, makasih ya atas bunga hari ini. Damar pasti menyuruhmu mengirimkan bunga itu!" celetuk Luna disaat Rani sedang serius.


"Bunga? Tuan Damar gak menyuruh saya mengirimkan bunga apapun," sahut Rani yang masih serius membuat adonan.


"Begitu, ya. Apa mungkin Tuan Damar memesan bunga itu sendiri tanpa memberitahumu?" Luna mulai curiga. Jangan-jangan bunga itu bukan dari Damar!


"Sepertinya tidak. Tuan Damar gak pernah memesan apapun sendiri, kak!"


Deg! Luna baru sadar akan kesalahannya.


"Maaf, aku tinggal sebentar, ya!" ungkap Luna seraya menyingkir dari tempat itu.


"Hallo, Kak Sarah. Apa kakak sudah mencari tahu siapa pengirim bunga tadi? Soalnya Damar gak mengirimkan bunga itu!" tanya Luna yang langsung menghubungi Sarah lewat hapenya.


"Oh, bunga itu ya. Ma-maaf, Lun. Aku gak sempet bilang kalau yang ngirim bunga itu adalah Jion!" jawab Sarah yang agak gugup. Luna pasti ngamuk sesudah mengetahuinya.


Nah! Dugaan Luna ternyata benar. Bunga itu bukan dari Damar. Luna juga sudah mengirimkan foto dan pesan ucapan terima kasih kepada Damar. Astaga! Luna harus segera menghapus pesan itu.


Luna pun segera menghapus pesan berikut foto bunga dari hapenya. Aakh! Mukanya mau ditaruh dimana kalau Damar sampai melihatnya.


Setidaknya, Luna akan memasak makanan enak buat Damar. Dia pasti akan melupakan soal bunga itu.


Luna kembali ke dapur dan menyelesaikan masakannya. Dia tetap memasak sayur capcay seafood dan beef teriyaki. Menurutnya masakan itu sudah sempurna. Sementara itu, pasta buatan Rani juga sudah selesai.


Semua masakan diletakan di atas meja makan. Luna duduk di salah satu bangku sementara Rani ke kamar Mamah Damar. Tak lama kemudian, Damar muncul bersama mamahnya dan juga Rani.


Luna tertegun melihat keserasian Damar dan Rani. Sesekali mereka saling pandang dan tersenyum. Luna merasa hatinya bergemuruh. Ingat Lun! Jangan sampai kamu kelihatan cemburu di depan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih sudah kamu sudah capek-capek masak, Nak Luna!" ucap Mamah Damar setelah melihat semua masakan di atas meja makan.


"Hhmm, ada pasta. Kamu tahu aja kalau aku suka pasta. Pasti kamu yang membuatnya juga, kan?" tanya Damar begitu melihat ada pasta di atas meja.


Luna masih teringat pesannya soal bunga. Berharap Damar belum sempat melihatnya.


"Oh, iya!" jawab Luna yang sebenarnya gak begitu jelas mendengar perkataan Damar.


Damar pun langsung menyantap pasta yang dibuat Rani. Setelah satu suapan masuk ke dalam mulutnya, Damar terdiam. Dia seperti teringat sesuatu dan melihat ke arah Rani.


"Aku sangat suka masakanmu, Nak Luna. Tapi terlalu asin buatku. Sudah lama aku gak makan masakan biasa. Mungkin lidahku jadi gak terbiasa dengan garam!" ungkap Mamah Damar setelah mencicipi masakan Luna.


"Oh maaf, mah. Saya lupa kalau mamah sedang diet garam," sahut Luna yang lupa soal kondisi kesehatan Mamah Damar.


"Tapi kelihatannya Damar sangat menyukai pasta buatanmu. Sering-seringlah kemari. Mamah senang bisa makan bersama di meja makan lagi. Iya kan, Damar?"


Damar sedikit termenung. Sepertinya dia tahu kalau pasta itu bukan masakan Luna melainkan Rani.


Damar membiarkan Luna berbohong kalau sudah memasak pasta itu. Namun ada sesuatu yang juga mengganggu pikirannya.


Rani segera mendorong kursi roda Nyonya Kamaratih ke kamarnya setelah selesai makan. Kini, tinggal Luna dan Damar di meja makan.


"Bagaimana dengan masakan yang lainnya? Apa kamu suka?" tanya Luna yang penasaran dengan penilaian Damar.


"Semuanya lumayan. Tapi aku sangsi kalau kamu yang membuat semuanya!" jawab Damar yang tiba-tiba tidak mengenakan.


"Maksud kamu?" tanya Luna penasaran dengan perkataan Damar.


"Aku tahu pasta ini buatan Rani. Bisa jadi masakan yang lainnya juga!"

__ADS_1


"Damar! Kenapa begitu. Kalau pasta memang Rani yang membuatnya. Tapi masakan lain aku yang masak! Kalau memang Rani, harusnya dia tahu kalau mamahmu gak boleh makan terlalu asin!" ungkap Luna. Hatinya menjadi panas begitu mendengar perkataan Damar.


Damar sendiri baru sadar kalau Luna sudah marah karena perkataannya.


"Oh, maaf. Aku kira semua Rani yang memasaknya. Jangan marah, ya!" jelas Damar yang berharap Luna gak sampai marah. Padahal Damar hanya sekedar menggoda Luna. Dia tahu kalau Lunalah yang memasak selain pasta.


Tapi, hati Luna sudah terlanjur panas. Saat itu, Luna ingin sekali menghilang dan gak melihat wajah Damar lagi.


Sepertinya, Luna sudah ga ada tujuan lagi berada di rumah itu. Setelah menemui Mamah Damar, Luna bergegas pergi tanpa pamitan dengan Damar.


Lagipula, Damar juga menghilang entah kemana. Pasti sedang bersama Rani. Mereka pasti sedang membicarakan soal pekerjaan. Biarlah mereka bersama! Luna gak mau merasakan hatinya panas lebih lama lagi.


"Tunggu sebentar!"


Tiba-tiba, Damar muncul ketika Luna mau masuk ke dalam mobil. Kedua tangannya kebelakang seakan sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Luna datar.


"Aku ingin tahu siapa yang sudah memberimu bunga itu?"


Deg! Ternyata Damar sudah melihat pesan yang dikirimkan Luna. Spontan membuat Luna gugup.


"Bunga? Ooh, aku salah kirim. Ternyata bunga itu bukan untukku," jawab Luna seraya membuka pintu mobilnya.


"Menurutku, bunga ini lebih pantas untukmu. Aku sendiri yang memetik dan merangkainya!" ujar Damar seraya menyodorkan sebuah rangkaian bunga yang sangat cantik.


Luna tertegun melihat bunga-bunga cantik itu. Dia gak percaya kalau Damarlah yang sudah merangkainya.


"Terus terang aku cemburu dengan orang yang sudah memberimu bunga itu. Aku akan memberimu bunga yang lebih banyak lagi setiap hari!"

__ADS_1


Haduh! Damar sudah mengeluarkan senjata pamungkasnya. Luna pasti klepek-klepek!!!


❤❤❤❤❤


__ADS_2