
Luna menyiapkan sarapan untuk Damar dengan hati penuh gembira. Perjuangan cinta mereka mendapatkan hasil yang sangat sempurna. Cinta mereka semakin besar setiap waktu. Luna berharap, mulai saat ini hanya ada kebahagiaan bersama Damar.
"Hhmmm, wanginya harum. Kamu masak apa, Sayang?" tanya Damar ketika sampai di dapur.
Luna menoleh dan terpesona melihat ketampanan Damar yang baru saja mandi. Rambutnya masih basah dan belum tertata. Awas ngiler, Lunaaa!
"Aku bikin bubur ayam kuah soto, kamu pasti suka!" jawab Luna yang segera sadar dari lamunannya.
"Aku pasti suka apapun yang kamu buat!" ucap Damar sambil menatap Luna penuh perasaan.
"Aakh! Dulu pertama kali aku masak disini. Kamu malah menyukai pasta. Padahal itu bukan aku yang bikin, tapi Rani!"
Damar tertegun. Jadi yang membuat pasta itu adalah Rani.
"Kenapa kamu gak ngomong?"
"Kamu itu kurang sensitif, sih. Mamah kamu aja tahu kalau pasta itu bukan masakan aku!" gerutu Luna yang kembali teringat kejadian waktu itu.
"Mamah tahu? Terus apa yang dilakukannya? Apa memarahi Rani?" tanya Damar yang malah mencemaskan Rani.
"Aku gak tahu!" jawab Luna semakin panas mendengar pertanyaan Damar.
"Aku memang sangat suka pasta. Dari dulu aku selalu sendirian dan hanya pasta yang membuatku gak merasa kesepian. Anehnya, sekarang berbeda. Kalau gak makan bersamamu rasanya aku kesepian. Jadi, tinggal aja disini, ya!"
Eeeh! Kok Damar malah mengatakan soal lain. Luna diam saja dan menikmati bubur ayam buatannya. Hatinya masih sedikit dongkol karena Damar masih mengkhawatirkan Rani.
"Memangnya Rani itu siapa sih? Begitu juga Mang Dayat. Mereka berdua selalu ada didekat kamu!" tanya Luna yang mengikutsertakan Mang Dayat agar gak kelihatan kalau sedang cemburu.
"Mereka saudaraku. Rani adalah adik perempuanku dan Mang Dayat adalah kakakku. Kamu juga harus mengerti kalau aku mencemaskan mereka!" jawab Damar sambil menyuap bubur ayam buatan Luna ke dalam mulutnya.
"Astaga, Luna! Ini bukanlah bubur ayam biasa. Tapi bubur ayam sultan!" seru Damar setelah merasakan bubur itu.
"Biasa aja kaliiii!" sahut Lina yang udah gak antusias.
"Eeh, kok gitu? Apa kamu mau aku ***** juga seperti bubur ini?!"
Luna langsung melotot.
"Damar!!!
Damar tertawa puas melihat ekspresi Luna. Dia ingin secepatnya menikmati suasana hangat seperti ini setiap hari.
*****
"Luna Sayaaang! Apa yang kamu lakukan sama Jion kemarin?" sambut Prilly.
Luna baru saja sampai setelah Damar mengantarkannya sekalian ke kantor.
"Ada apa sih, Prilly cantiiq? Apa yang terjadi sama Jion?" tanya Luna yang keheranan melihat Prilly secemas itu.
__ADS_1
"Bukan Jion aja, Lun. Tapi kamu juga. Lihat medsos deh. Ada berita kalau Jion dan kamu balikan lagi dan akan menikah!" ucap Sarah yang ikut cemas juga.
"Apa? Aku sama Jion mau menikah? Apa mereka lagi bercanda?"
"Iikh, liat aja deh, saay!"
Prilly segera membuka tabletnya. Di semua medsos ada berita tentang Jion dan Luna.
Luna sangat terkejut melihat foto dirinya dan Jion. Foto itu diambil saat mereka sedang makan siang di restoran kemarin.
"Mereka gila, ya! Aku sama Jion cuma makan siang biasa aja, kok! Hadeh, Damar pasti marah lagi deh. Kemarin sore juga dia melihat Jion mengantarku sampai di rumah. Ada aja siih?! Perasaanku selalu gak enak kalau ada Jion. Gak dulu atau sekarang, akulah yang selalu jadi korban!" omel Luna yang kembali mencemaskan Damar. Dia pasti berpikir yg nggak-nggak lagi.
"Jadi Tuan Damar melihat kalian berdua! Aduh Lunaaa. Kamu gimana siih? Tuan Damar pasti cemburu, apalagi melihat berita ini," ucap Prilly yang masih histeris.
"Aku harus bicara sama Damar!"
Lina segera menghubungi Damar lewat hape. Namin sampai beberapa kali, Damar gak mengangkatnya. Ternyata Damar sengaja mematikan hape dan lupa menghidupkannya sejak semalam.
Akhirnya Luna menelpon Rani.
"Iya, nona. Apa nona sudah bertemu dengan Tuan Damar?" tanya Rani yang segera membuka hapenya.
"Sudah, Ran. Saat ini Tuan Damar sedang menuju ke kantor. Tapi, ada berita di medsos tentang aku dan Jion. Tolong kabarkan aku kalau Damar sudah sampai, ya!" jelas Luna dengan penuh kecemasan.
"Medsos? Nona dan Jion? Kenapa bisa ada berita seperti itu, nona?"
"Aku akan menjelaskannya setelah sampai disana!"
*****
Saskia sudah berada di dalam ruang kerjanya. Dia serius mengotak-atik layar tablet. Senyuman lebar menghiasi bibirnya. Di sana terlihat banyak berita tentang Luna dengan artis bernama Jion. Bahkan mereka dikabarkan akan menikah.
"Lihatlah, Luna! Kamu pasti pusing melihat semua berita itu!" gumamnya.
"Kenapa kamu senyum sendirian, Saskia?"
Saskia sangat terkejut mendengar suara itu. Dia pun segera menutup tabletnya dan berdiri. Ternyata yang datang adalah Tuan Arya.
"Gak kok, Sayang. Cuma lagi melihat medsos aja. Ada apa kok papih jadi sering kesini?" tanya Saskia yang mengalihkan perhatian Tuan Arya.
Tuan Arya terdiam. Sebenarnya dia juga sudah melihat berita online tentang Luna dan mencurigai Saskia yang membuat berita itu.
"Aku melihat berita soal Luna juga. Aku mau tahu siapa yang membuat berita hoax itu. Dia pasti mempunyai niat buruk dan menghancurkan hubungan Luna dengan tunangannya! Aku pasti akan memberikan hukuman yang sangat berat jika sampai bertemu dengan orang jahat itu!" ancam Tuan Arya dengan penuh kemarahan.
Saskia menjadi gugup mendengar perkataan Tuan Arya. Apa dia yang membuat berita itu?
"Sudahlah, Sayang. Ayo kita makan siang saja!"
Seperti biasa, Saskia selalu mengalihkan pembicaraan. Yang jelas, dia sedang merencanakan sesuatu.
__ADS_1
*****
Setelah sampai.di gedung perusahaan Grup Santika, Luna segera menuju ke ruang kerja Damar. Dia sangat khawatir kalau Damar sampai membencinya karena berita hoax itu.
"Di mana Tuan Damar?" tanya Luna ketika melihat Rani di depan ruang kerja Damar.
"Ada di dalam, nona!"
"Bagaimana keadaannya? Apa aku boleh masuk?"
"Silahkan, nona!"
Luna segera masuk ke dalam ruang kerja Damar setelah Rani memberinya izin.
"Damar!"
"Luna? Kenapa kamu ada disini? Apa kamu kangen denganku? Padahal kita baru saja bertemu tadi!" tanya Damar heran melihat Luna muncul di kantornya.
"A-aku mau membicarakan sesuatu sama kamu!" jawab Luna yang masih ngos-ngosan. Wajahnya memerah dan keringat memenuhi keningnya.
"Ngomong apaan? Bukankah kita sudah banyak bicara tadi pagi? Apa masalah mamah? Atau pernikahan kita?"
Sepertinya Damar belum mengetahui berita di medsos.
"Aku hanya mau bertanya sama kamu. Apa kamu mencintaiku?"
Damar tertegun mendengar pertanyaan Luna. Dia pun segera berdiri dan menghampiri Luna.
"Aku selalu mencintaimu, Sayang. Apapun yang akan terjadi, aku akan selalu mencintaimu!" ungkap Damar seraya memeluk Luna penuh kelembutan. Dia merasakan detak jantung Luna berdegup sangat kencang.
"Kamu juga harus yakin kalau aku mencintaimu. Jangan dengarkan perkataan orang lain. Apalagi kalau ada yang menghubungkan aku dengan Jion. Aku hanya mau menikah dengan kamu!" bisik Luna lirih.
Damar tersenyum. Dia tahu kalau Luna sedang memikirkan sesuatu.
"Tenanglah! Aku gak peduli dengan Jion. Aku akan selalu menjadi nomor satu begitu juga dihatimu. Iya, kan?"
Luna mengangguk pelan. Hatinya menjadi tenang begitu mendengar ucapan Damar.
"Makanya hati-hati kalau berdua dengan Jion. Kamu juga mau diajak makan dengannya!" ucap Damar lagi.
Luna tertegun. Darimana Damar tahu kalau Jion sudah mengajaknya makan.
"Damar! Apa kamu sudah membaca berita itu?"
Damar cengengesan. Dia memamg sudah melihat berita soal Luna dan Jion. Rani yang sudah memberitahukannya.
"Kamu jangan percaya berita itu. Aku gak pernah ngajakin Jion balikan. Aku hanya mau menikah sama kamu aja!" ucap Luna yang memastikan Damar gak sampai cemburu.
Damar semakin tertawa lebar melihat tingkah Luna. Aaakh! Andai Luna tahu ketika Damar melihat berita itu sebelumnya. Dia sangat membenci Jion dan berharap bisa memukul wajah tampannya itu. Tapi sekarang sikap Damar sangat berbeda. Hatinya luluh begitu melihat Luna yang kelihatan sangat takut kalau Damar cemburu.
__ADS_1
❤❤❤❤❤