TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
PERJUMPAAN YANG TERTUNDA #1


__ADS_3

Luna bingung harus menjawab apa ketika Jion menanyakan soal Damar. Dia gak akan mengatakan apapun apalagi dengan Jion.


"Damar lagi ada pekerjaan di luar kota!" jawab Luna singkat.


Jion memicingkan matanya. Sikap Luna sangat mencurigakan.


"Bagaimana dengan proyek pembangunan hotelnya? Apakah berjalan lancar? Soalnya nanti aku menjadi salah satu selebriti yang mempromosikan hotel itu!" tanya Jion lagi. Kali ini masalah hotel yang dibicarakan papahnya.


"Aku gak tahu! Sudahlah! Kamu kesini mau mewawancarai aku, ya? Apa kamu sekarang jadi reporter juga?" sahut Luna sambil melotot.


Jion tertawa melihat ekspresi Luna. Itulah yang gak ditemukannya dari perempuan lain.


"Iya, iya. Bagaimana kalau kita makan bareng aja! Kebetulan danaku baru cair," ajak Jion.


Luna diam saja. Prilly yang sangat antusias.


"Benarkah? Ayolah kita makan di tempat mahal seperti Hotel Santika. Ayo, Lun. Dari pada kamu melow melulu begitu! Aku ngeliatnya jadi sumuk tahu!"


"Kalian ajalah yang pergi. Aku lagi gak enak badan! Aku mau pulang aja," sahut Luna sambil berdiri dan mengambil tasnya.


"Ya, sudah. Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Jion mendadak.


"Heiii! Katanya mau makan di hotel?" Prilly sewot.


"Nanti aja lain kali ya, saay!" sahut Jion sambil melambaikan tangan. Prilly langsung manyun.


"Aku bisa pulang sendiri, kok!" Luna gak mau membuat Prilly kecewa.


"Kalian pergi aja! Aku aja sama Prilly yang makan bareng. Mau kan, Prilly cantiq!" ledek Sarah.


"Aakh, kamu lagi! Bosen, tahu!"


Sarah tertawa kecil melihat Prilly yang merajuk. Luna dan Jion sudah diluar sehingga gak melihat ekspresinya.


Luna terpaksa menerima ajakan Jion untuk mengantarnya pulang. Hanya saja, mereka gak tahu ada seseorang yang terus memerhatikan mereka. Laki-laki muda itu terus memotret Luna dan Jion dari dalam mobil.


Tiba-tiba, hapenya bunyi. Untung saja mobil yang membawa Luna dan jion sudah menjauh.


"Dimana Luna?" tanya seseorang dari tempat lain. Sepertinya dia seorang wanita.

__ADS_1


"Dia pergi bersama seseorang, nyonya. Sepertinya dia adalah Tuan Jion, seorang artis!" jawab orang yang memata-matai Luna.


"Jion? Dia bukan tunangannya? Apa dia belum bertemu dengan tunangannya?


"Bukan, nyonya. Tunangan Nona Luna adalah Tuan Damar! Sejak kembali, nona Luna hanya pergi ke butik dan kantor polisi!"


"Kantor polisi? Apa yang dia lalukan di sana?"


"Saya tidak tahu, nyonya!"


"Cari tahu sekarang juga!"


"Baik, nyonya!"


Pembicaraan pun berakhir. Laki-laki muda yang mengawasi Luna segera meninggalkan tempat itu. Tujuannya adalah ke kantor polisi.


"Kamu bicara dengan siapa, Sayang?"


Perempuan itu sangat terkejut. Ternyata dia adalah Saskia. Yang baru saja datang adalah Tuan Arya. Otomatis membuat Saskia gugup.


"Aach! Gak kok, Sayang. Hanya soal pekerjaan aja. Ayo kita makan siang!"


Saskia segera menggandeng tangan suaminya dengan mesra. Tuan Arya merasa sikap istri mudanya itu semakin aneh. Belum lagi masalah keuangan yang cukup banyak dipakainya.


"Keluarga saya baik, Sayang. Rumah yang baru buat keluarga saya juga sudah selesai. Kapan kita ke sana, Sayang?"


"Keluargamu ada di luar kota. Aku gak bisa lama-lama meninggalkan kantor!"


"Nantilah kalau ada waktu luang. Sejak menikah, papih kan belum pernah ke rumah keluargaku! Kalau begitu, mereka akan saya ajak kesini aja!"


"Terserah sama kamu ajalah! Kalau memang memerlukan dana, bilang aja padaku!"


"Iya, Sayang. Saya pasti akan memberitahukan papih!"


Tuan.Arya menyadari satu hal. Uang yang diambil Saskia dari perusahaan bukan untuk keluarganya. Tapi buat siapa?


*****


"Kenapa kita kesini? Aku kan mau pulang!" ucap Luna ketika Jion malah membawanya ke restoran yang sering mereka datangi ketika masih bersama dulu.

__ADS_1


"Aku mau mengenang masa lalu. Lagi pula, mumpung Tuan Damar gak ada disini!" jawab Jion santai. Padahal tujuannya mengajak Lina agar bisa mencaritahu keberadaan Damar.


"Damar ada disini, kok. Ayo pulang aja. Aku gak mau dia salah paham! Kamu juga kan sedang dekat dengan Yuki. Jangan bikin masalah lagi!" ucap Luna mengingatkan.


Luna siap untuk pergi. Namun, Jion malah menarik tangannya.


"Jangan begitu. Aku tahu kamu belum makan siang. Makanlah sebentar!" ucap Jion seraya menarik bangku dan menyuruh Luna duduk.


Luna memang jadi gak bersemangat makan setengah mengetahui apa yang terjadi dengan Damar.


"Baiklah! Tapi jangan banyak-banyak. Aku lagi gak nafsu makan! Lagi pula, aku gak nyaman dilihatin orang-orang!"


Mau gak mau Luna mengikuti kemauan Jion. Sikapnya memang sudah banyak berubah. Jion lebih memerhatikan orang lain. Hanya saja, banyak orang yang mengenali siapa Jion. Membuat Luna jadi gak nyaman.


Jion tertawa kecil, "biarin aja mereka! Anggap aja di dunia ini hanya ada kita berdua!" Penyakit Jion mulai kumat lagi.


Luna mulai menyantap makananya. Steak sapi pun masuk ke dalam perutnya. Sudah lama dia gak memakan masakan enak itu.


"Aku tahu apa yang terjadi dengan perusahaan Damar. Apa dia baik-baik aja?"


Luna terkejut mendengar ucapan Jion. Suapan terakhirnya membuat Luna tersedak. Dia pun segera minum air putih sampai setengah gelas.


"Maafkan aku, Lun. Seharusnya aku gak mengungkit masalah Tuan Damar!"


Luna menarik napas panjang agar napasnya kembali normal. Jion sudah membuatnya seperti itu.


"Apa yang kamu tahu soal perusahaan Damar? Aku aja gak tahu apa-apa!" sangkal Luna.


Jion tersenyum tipis. Luna pasti gak akan mengatakan rahasia Damar.


"Aku hanya mendengar dari gosip aja. Hotel yang dibangun perusahaan Tuan Damar mengalami musibah. Katanya banyak yang meninggal dan terluka berat. Pasti Tuan Damar banyak mendapat masalah karenanya!"


Luna diam saja dan menikmati suapan terakhirnya.


"Damar sudah mengendalikan masalah itu. Bahkan dia bertanggung jawab penuh!"


"Apa sampai masuk penjara?"


"Jion!!!"

__ADS_1


Luna sangat terkejut mendengar perkataan Jion. Bagaimana dia tahu kalau Damar di penjara?


🤔🤔🤔🤔🤔


__ADS_2