TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
KEKUATAN CINTA #3


__ADS_3

Damar merasa tidurnya sangat nyenyak. Ketika membuka mata, dia baru sadar kalau bukan berada di kamarnya!


Astaga! Dia ada di kamar adiknya Luna. Berarti dia masih di rumah Luna. Damar pun bergegas ke luar kamar dan mencari kamar Luna. Sebenarnya, semalam dia salah kamar. Niatnya ingin mengagetkan Luna malah Luky yang ada di ruangan itu. Tapi, Damar senang juga karena bisa mengobrol sesama lelaki dengan Luky meski dia tidur duluan.


"Apa sih yang Kak Damar senangi dari kakakku? Dia itu kan galaknya gak ketulungan. Apalagi punya ban hitam, semua yang ada di depannya pasti dihancurkan!" tanya Luky yang masih heran. Padahal dulu pernah ditanyakannya juga meski masih gak percaya sampai menikah.


"Apa, ya? Mungkin karena ban hitam itu aku jadi menyukainya. Aku paling gak suka cewek manja!"


"Itu karena kakak gak pernah mengeluarkan jurus mautnya di depan Kak Damar. Padahal kalau melihatnya, pasti sudah kabur!"


Damar tertawa kecil dan terbayang saat Luna mengeluarkan jurus tendangan mautnya.


"Kabur sih gak, aku kan sudah tahu kelemahannya!"


"Waaah, hebat! Apa aku boleh tahu apa kelemahan Kak Luna? Aku bisa melawannya suatu hari nanti!"


"Hhmmm, rahasia dong! Kamu harus selalu menghormati kakakmu itu. Dia sangat menyayangi kamu dan mamahmu!"


"Iya, sih. Kak Luna itu sudah bekerja keras sejak papah meninggal. Tapi kadang-kadang galaknya gak ketulungan. Dia itu ...."


Luky menghentikan pembicaraannya ketika melihat Kak Damar sudah terlelap. Dia hanya tersenyum kecil. Akhirnya, kakaknya menemukan orang sebaik Kak Damar.


Kembali ke pagi berikutnya, Damar berjalan mengendap endap ke kamar sebelahnya. Pasti kamar Luna. Hanya ada dua kamar di lantai atas.


Perlahan, Damar membuka pintu. Tiba-tiba dia terdiam. "Masa sih Ceo perusahaan terkenal tingkahnya seperti maling? Mending langsung aja buka pintunya!" guman Damar.


"Iya! Buka aja langsung!" terdengar suara dari belakang.


Damar tertegun. Dia mengenali suara itu.


"Luna sayaaang," ucap Damar sambil memasang wajah gak bersalah. Sedetik kemudian, dia malah bengong melihat Luna dengan rambut basah. Wangi shampo membuat gejolak muda Damar meronta.


"Masuk aja, gak apa-apa kok!" ucap Luna antara tulus atau gak. Soalnya dia juga pernah masuk ke dalam kamar Damar.


"Aku lapar! Semalam gak makan," ucap Damar seraya memegang perutnya. Sekaligus mengalihkan hasrat mudanya.


Luna gak tega juga melihat Damar seperti itu. Setahunya Damar memang gak sempat makan malam.


"Ya sudah! Kamu mau makan apa?" tanya Luna sambil membalikan badan.

__ADS_1


"Tapi, tunggu sebentar!"


"Apa?"


"Aku mau kiss morning dulu!"


Secepat kilat Damar mencium pipi Luna dan segera berlari menuruni tangga.


Hadeh! Luna kecolongan. Moga aja Luky gak melihat melihat adegan itu!


*****


Jion akan melakukan rencananya hari ini juga. Dia sudah menyiapkan acara dan mengundang wartawan semua media. Yang pertama dilakukannya adalah mengajak Yuki ke sana. Sebenarnya Jion juga merencanakan sesuatu lagi.


"Ayolah, Yuki. Bantu aku menghadapi para wartawan. Aku mau klarifikasi soal berita hoax aku dan Luna!" pinta Jion dengan wajah memelas.


"Ngapain aku ikut? Harusnya ajak Luna aja!"


"Jangan Luna lagi. Dia harus kembali ke Singapura untuk mengurus Nyonya Kamaratih!"


"Apa Mamah Damar sakit?" Yuki mencemaskan Nyonya Kamaratih. Meskipun dia gak menyukainya namun Yuki masih menghormatinya.


Mau gak mau, Yuki menuruti permintaan Jion. Selama ini, Jion sudah banyak membantunya juga perusahaannya sehingga bisa bangkit lagi.


Akhirnya, Yuki datang juga ke acara Jion. Para wartawan sudah menunggu. Ketika mereka datang, para wartawan itu langsung mengerumuni keduanya.


Yuki yang gak terbiasa dengan popularitas itu sedikit terganggu. Apalagi banyak kilatan kamera membuat pandangannya jadi kurang jelas. Sebagian wartawan saling berbisik dan mencari tahu siapa Yuki. Sebagian yang lain sibuk memotonya.


Jion melihat Yuki sedikit kesulitan. Dia pun memegang tangannya dan menuntun ke depan meja. Melihat adegan romantis itu membuat para wartawan semakin riuh.


"Baiklah! Kawan-kawan semuanya. Saya datang kesini untuk mengklarifikasi berita hoax yang sudah beredar. Sebenarnya, berita itu bukan kenyataan sebenarnya. Hubungan Saya dengan Nona Luna hanya berteman saja meski kami pernah dekat. Nona Luna juga sudah bertunangan dengan Tuan Damar, Ceo Santika Grup. Sekarang saya juga akan mengabarkan berita baik kepada kalian ...."


Jion berhenti sebentar. Semua wartawan yang datang menjadi heboh. Mereka gak sabar menunggu ucapan Jion selanjutnya.


Disaat genting itu, Jion mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya.


"Disini, disaksikan kalian semuanya. Saya akan melamar Nona Yuki untuk menjadi istri saya. Baiklah! Nona Yuki. Apakah kamu mau menjadi istriku?"


Deg! Yuki merasakan dadanya berhenti berdetak. Apa-apaan Jion?! Kenapa mendadak melamarnya?

__ADS_1


"Jion? Apa yang kamu lakukan? Lamaran bukan main-main!" bisik Yuki dengan mata melotot.


Jion tertawa kecil, "aku gak main-main. Aku memamg benar sedang nelamar kamu!" sahut Jion sambil mengeliarkan sebuah cincin dari dalam kotak.


Semua wartawan menjadi heboh. Bahkan berita itu langsung masuk internet padahal Yuki belum memberikan jawaban.


"Oke, jawablah Nona Yuki. Aku berjanji akan menjadi seorang suami yang bertanggung jawab dan setia sampai maut memisahkan!"


Yuki terdiam. Dia masih ingat bagaimana suaminya dulu selingkuh. Membuat hatinya terluka dan takut untuk mendekati laki-laki lain. Namun, Nabila membutuhkan seorang ayah bahkan sudah dekat dengan Jion.


"Baiklah! Aku menerima lamaranmu!" jawab Yuki tanpa keraguan.


Jion sangat gembira mendengar jawaban Yuki. Dia pun menyematkan cincin itu di jari manis Yuki.


"Terima kasih, Yuki!"


Yuki tertegun melihat senyuman Jion. Senyuman itu sangat aneh. Apa Jion cuma bersandiwara aja di depan wartawan?


Akhirnya acara itu pun berakhir. Jion sangat senang karena para wartawan itu gak akan mengejar Luna lagi.


"Ini, cincin kamu!" ucap Yuki sambil menyodorkan cincin yang tadi diberikan Jion di depan wartawan.


Jion bengong melihat cincin itu.


"Untuk apa kamu berikan cincin itu?" tanyanya keheranan.


"Aku tahu diri, Jion. Kamu melamarku hanya di depan wartawan, kan? Aku mau melakukannya agar Luna bebas dari kejaran mereka!" jelas Yuki lugas meski hatinya sedikit perih.


"Apa maksudmu? Aku serius melamar kamu, Yuki! Tadi bukan sandiwara tapi benar-benar tulus dari hatiku!" ungkap Jion tentang perbuatannya melamar Yuki.


Kali ini, Yuki yang bengong.


"Maksud kamu, lamaran tadi beneran?"


Jion tersenyum dan mengembalikan cincin itu ke jari Yuki.


"Aku benar-benar serius, Yuki. Aku menyayangimu dan puterimu. Aku ingin kalian menjadi keluargaku!"


Yuki masih belum percaya dengan ucapan Jion. Benarkah Jion benar-benar menyayanginya?

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2