
Rani tertegun begitu mendengar pertanyaan gadis kecil yang sangat mirip dengannya itu. Menjadi mamanya? Pertanyaan gak ada jawabannya bahkan gak pernah sekalipun terlintas dipikiran Rani.
"Maaf, ya. Anakku memang selalu menanyakan hal itu jika aku punya teman wanita," ucap Agung yang mendengar pertanyaan puterinya.
Shakila kecil masih menatap Rani dan menunggu jawabannya. Dia gak terpengaruh dengan ucapan sang ayah.
Rani sangat bingung bagaimana menjawabnya, "aku adalah teman ayahmu. Apa kamu juga mau jadi temanku?" Hanya itu yang bisa dilakukan Rani untuk mengalihkan pertanyaan Shakila.
"Teman? Aakh! Temanku banyak di sekolah. Jadi mamaku aja, tante!" ungkap Shakila.
Ternyata, shakila gak terpengaruh juga. Membuat Rani semakin serba salah. Mengapa dia harus menghadapi gadis kecil itu? Apakah dia harus menyerah?
"Shakila! Jangan begitu sama tante. Bagaimana kalau kita beli es cream dulu. Apa kamu mau?" Agung hanya tertawa melihat sikap puterinya.
"Asyiiik, Shakila mau yaah!"
Rani bisa bernapas lega setelah perhatian Shakila berubah. Ternyata, Agung pandai mengambil hati puterinya.
Agung sendiri merasa kasihan dengan Rani, apalagi wajahnya menjadi pucat. Kadang, seperti itu yang Agung takutkan. Setiap ada wanita di dekatnya, Shakila selalu mengira akan menjadi mamanya.
Shakila sangat senang ketika mendapatkan es creamnya. Agung juga membelikannya untuk Rani.
"Ini untukmu," katanya sambil menyodorkan satu cup es cream untuk Rani.
Rani tertegun. Sudah lama dia gak menikmati ea cream, "terima kasih," ucapnya sambil mengambil es cream dari tangan Agung.
"Enak es creamnya kan, tante? Aku suka strowberry. Kata ayah nanti kami mau ke kebun strowberry. Apa tante mau ikut?" tanya Shakila dengan mata berbinar. Sepertinya dia sangat mengharapkan sesuatu.
"Maaf, sayang. Tante ada pekerjaan. Mungkin lain kali kalau ada libur," jawab Rani sebisanya. Memang biasanya dia gak ada waktu bahkan untuk dirinya sendiri.
Agung hanya senyum-senyum sendiri mendengar celotehan puterinya. Wanita lain pasti gak akan sanggup mendengarnya. Tapi, Rani berbeda. Dia selalu menjawab pertanyaan puterinya dengan senyuman.
*****
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Nyonya Kamaratih ketika masih berada di meja makan.
Luna hampir tersedak mendengarnya. Mamah Luna juga gak menyangka Nyonya Kamaratih menanyakan hal itu. Lukylah yang paling senang. Dia bisa setiap hari main game di istana gamer itu.
"Apa secepat itu, mah? Sa-saya masih ada pekerjaan," tanya Luna mencari alasan. Dia masih meragukan perasaannya kepada Damar.
__ADS_1
"Soal pekerjaan kan gampang bisa dilakukan sambil jalan. Mamah sudah pengen menimang cucu. Iya kan, Mamah Luna?"
"Ooh iya, Nyonya. Saya juga pengen menimang cucu!" jawab Mamah Luna spontan. Memamg itulah yang dia inginkan selama ini.
"Saya juga pengen secepatnya Kak Luna dan Kak Damar menikah. Apa boleh saya kesini setiap hari? Saya mau belajar dari Kak Damar. Katanya punya banyak buku!" celetuk Luky. Luna melotot mendengar celotehan adiknya. Gak biasanya Luky mengeluarkan pendapatnya.
Damar santai aja mendengar percakapan itu. Dia merasa yakin Luna gak bisa mencari alasan lagi.
"Baiklah! Pokoknya akhir bukan ini kalian harus menikah!" tegas Nyonya Kamaratih.
Luna menggenggam tangannya erat. Apalagi ketika melihat Damar yang hanya tersenyum penuh kelicikan. Gak! Gak secepat ini. Luna harus meyakinkan hatinya lebih dalam lagi.
"Baik, mah!"
Namun, apa yang dipikirkan dengan yang diucapkan sangatlah berbeda. Mau gak mau, Luna mengiyakan perkataan Mamah Damar.
"Tunggu aja nanti, Tuan Damar. Kamu akan mendapatkan balasannya!" ancam Luna dalam hati.
Selesai makan, Damar masuk ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju. Seharian ini, pekerjaannya sangat padat. Yaitu untuk menarik hati Luna.
Namun baru saja masuk ke kamarnya, Damar berhenti. Dia mencium aroma yang gak asing, wangi mamahnya! Buat apa, mamahnya masuk ke sana? Kamar itu adalah penjara yang diciptakan untuk anaknya sendiri. Apakah mamahnya memasuki penjara itu?
Damar pun melihat ke sekeliling, gak ada yang berubah. Kecuali laptop! Jelas sekali posisinya sudah bergeser. Jangan, jangan ....
"Kamu jangan pacaran dulu, Damar. Masa depanmu sangat jelas yaitu mewarisi semua perusahaan papamu. Gadis bernama Anna itu bukan siapa-siapa! Jauhi dia atau mamah yang akan bertindak!" ancam mamahnya ketika tahu soal Anna.
"Anna memang bukan siapa-siapa, mah. Kami juga gak pacaran tapi dia sangat berarti bagi Damar. Kalau mamah melakukan hal buruk padanya, berarti mamah juga menyakiti Damar!" Damar juga gak kalah keras. Dia baru saja merasakan hidup bersama Anna. Dalam sekejap, mamahnya mau merampasnya.
"Ingat, Damar. Mamah udah kasih ultimatum. Jika kamu gak mau menjauhi gadis itu, mamah akan bilang langsung sama guru kelasmu!"
Sejak hari itu, Damar sering merasa sesak napas. Mengira kalau hidupnya akan berakhir. Entah apa yang dilakukan mamahnya, perlahan Anna menghilang. Katanya, dia dikeluarkan dari sekolah.
Damar mulai depresi dan hampir gila. Sesak napas itu semakin sering. Apalagi mamahnya mengurung di dalam kamar. Tidak! Bukan kamar tidur tapi sebuah penjara.
Sesaat kemudian, foto-foto Damar dan Anna yang tersimpan di laptop langsung terpampang di layar. Anehnya, foto itu seharusnya tersimpan di file galery. Berarti ada seseorang yang sudah melihatnya. Apakah mamahnya?
Tiba-tiba, seseorang datang.
"Siapa kamu? Kenapa lancang masuk ke kamarku?!" tanya Damar dengan nada suara tinggi tanpa menoleh. Dia pun segera menutup file foto dan laptopnya.
__ADS_1
Ternyata, Luna yang masuk ke dalam kamar Damar. Dia tertegun melihat sikap Damar yang sangat aneh. Dadanya berdegup kencang. Luna gak pernah melihat Damar semarah itu.
"Ma-maaf. Aku hanya mau pamit!" ucap Luna yang masih gugup.
Kali ini, Damar yang tertegun. Suara itu adalah suara Luna!
"Oh, maaf. Aku sedang sibuk sedikit. Apa secepat ini kamu mau pulang? Disinilah sebentar. Kamu bisa melihat buku-buku koleksiku!"
Luna yang terlanjur gugup memilih tetap pergi. Sikap Damar sudah di luar nalar. Sepertinya dia marah karena tahu laptopnya ada yang membuka. Bahkan sudah melihat fotonya bersama Anna. Bagaimana kalau Damar mengetahui kalau orang itu adalah Luna?
"Gak perlu. Aku sudah memesan taksi online. Kamu istirahat aja!"
Luna langsung membalikan tubuhnya dan melangkah pergi. Tangannya masih gemetar namun berusaha untuk menahannya.
Damar segera menyusul Luna dan meletakan laptopnya begitu aja. Saat ini ada yang lebih penting. Sepertinya Luna sudah marah karena Damar sempat membentaknya.
"Tuan, Nyonya muda ...." Mang Dayat bertemu Damar di depan pintu. Namun, Damar gak memedulikannya.
Dia harus bertemu Luna secepatnya.
Akhirnya taksi online yang dipesan Luna sampai juga. Mamah dan adiknya langsung masuk ke dalam mobil.
"Sebaiknya Damar bisa mengantar kalian pulang. Mungkin dia sedang mandi!" ucap Nyonya Kamaratih sebelum Luna masuk ke dalam mobil.
"Tunggu sebentar, Luna. Kamu pulangnya nanti aja kalau aku sudah mandi!" ujar Damar dengan napas terengah-engah. Dia sampai berlari mengejar Luna yang cepat sekali perginya.
"Iya, Nak Luna. Tuh, Damar sudah mau mengantar kamu. Biar mamahmu pulang duluan."
Luna tersenyum tipis, "gak usah, Damar. Kamu pasti capek dari pagi mengantarku. Istirahat aja!" Luna membalikan badannya. Namun baru akan masuk ke dalam mobil, Damar menarik tangannya.
"Tunggulah sebentar! Aku mau bicara," bisiknya.
"Bicara apa? Sudahlah, gak usah terlalu dipikirkan. Aku gak apa-apa, kok!" sahut Luna seraya melepaskan tangan Damar.
Nyonya Kamaratih menyadari ada yang terjadi antara Damar dan Luna.
Tak lama, taksi online itu pun pergi. Luna sengaja gak menoleh ke belakang lagi. Ada sesuatu bergemuruh di hatinya dan matanya juga mulai panas. Apakah perasaan ini? Luna ingin menangis ....
"Ada apa kamu sama Nak Luna, Damar?" tanya Nyonya Kamaratih setelah taksi yang ditumpangi Luna gak kelihatan lagi.
__ADS_1
Damar gak menjawab dan langsung masuk ke dalam rumah. Diamnya Damar gak asing bagi mamahnya. Pasti sudah terjadi sesuatu antara Luna dan puteranya itu.
*****