TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MENJEBAK ATAU TERJEBAK #2


__ADS_3

Aakh! Kenapa Luna masih mengingat Jion segala, sih? Dulu selama sebulan Luna gak bisa move on ketika Jion memutuskan hubungan mereka. Cowok kayak begitu mending dibuang ke laut aja, deh!


Dateng lagi, bocah ingusan yang selalu bikin ngeselin. Luna bisa kena darting kalau ketemu dengan Damar lagi. Tapi, sudah diputuskan kalau seminggu lagi mereka akan dinner. Luna akan mencari cara agar acara itu dibatalkan.


Malam ini, Luna menginap di rumah sakit. Sementara Luky pulang bersama Sarah. Luna baru bisa tenang kalau sudah mengetahui hasil pemeriksaan mamanya.


*****


Yuki masih kesal karena gak mendapatkan penghargaan Woman of the Year tahun ini. Padahal perusahaannya semakin bertambah maju, bahkan jauh dari perusahaan Luna.


"Aku sangat membenci Luna. Apalagi kemarin dia sok kenal bener sama Damar!" maki Yuki di ruang kerjanya. Di depannya ada seorang gadis cantik berparas bule.


"Memangnya siapa Luna? Kamu kenal dia?" tanya Grace sambil membuang asap rokok dari dalam mulutnya.


"Aku sangat mengenalnya jauh sebelum dia mempunyai perusahaan sendiri. Bahkan dia pernah bekerja di perusahaan papaku!"


Oh! Ternyata Luna pernah menjadi karyawan papanya Yuki. Pantesan Yuki sangat kesal karena perusahaan Luna berkembang pesat.


"Aku bisa membantumu agar perusahaannya bangkrut. Apa kamu mau?" cetus Grace.


Yuki melotot. Grace mempunyai solusi dari masalahnya.


"Apa yang akan kamu lakukan, Grace? Apa bisa menghancurkan perusahaan Luna dalam waktu dekat. Aku janji akan memakai rancanganmu di perusahaanku!" ujar Yuki antusias. Dia sangat senang meski membayangkan apa yang akan terjadi dengan Luna.


"Aku punya ide. Asalkan kamu menepati janjimu itu!" ucap Grace memastikan.


"Kamu bisa memegang janjiku, Grace. Aku kasih kamu waktu sebulan. Perusahaan Luna bisa hancur sebelum waktunya akan jauh lebih baik!"


Grace cepat mengangguk. Dia bisa saja menjatuhkan perusahaan Luna kapan saja. Namun, dia harus melakukan sesuatu agar mempermudah jalannya.


*****


Luna sudah sedikit tenang setelah tahu kalau mamanya hanya menderita darah tinggi saja. Namun akibatnya akan parah jika tidak minum obat secara teratur dan menenangkan pikirannya.


"Makanya cepatlah menikah, Lun. Mamah kan pengen melihatmu bahagia!" celetuk Mama Luna setelah dokter pergi.


Luna hanya diam saja. Masalah itu membuatnya kepikiran juga.

__ADS_1


"Luna juga mau menikah, mah. Tapi kan belum ada calonnya!" jawabnya santai.


"Kata Nak Sarah kan sudah ada. Gak apa-apa lebih muda juga. Malah lebih bagus!" sahut Mama Luna yang sudah kebelet pengen punya menantu.


"Iikh, mamah! Baru juga Luna ketemu semalam. Dia itu masih bocah ingusan, mah. Ngajakin ribut mulu lagi!" sanggah Luna.


Mama Luna cuma nyengir. Baru kali ini, dia melihat puterinya itu membicarakan seorang laki-laki dengan mata berbinar. Sudah lama, Luna gak kayak gitu.


"Iya, iya. Yang penting mulai saat ini kamu harus membuka hati. Siapa tahu yang kamu panggil anak ingusan itulah jodoh kamu," jelas Mama Luna lagi.


"Mamah! Sudah aah. Luna mau cari makan siang sebentar, ya!" ujar Luna sambil beranjak pergi. Padahal hanya mencari alasan aja biar gak denger soal bocah ingusan itu lagi.


Mama Luna hanya geleng-geleng kepala. Sebenarnya dia bersikap seperti itu agar bisa menghibur puterinya itu. Dia tahu, Luna masih terluka karena perbuatan pacarnya yang dulu.


Setelah makan siang, Luna berniat kembali ke kamar mamanya. Tapi, seorang laki-laki menghentikan langkahnya.


"Maaf, nona. Apa nona masih ingat saya?" tanya laki-laki setengah baya itu.


Luna diam sebentar dan memerhatikan laki-laki itu, "oh iya, pak. Yang kemarin bersama nyonya yang pingsan itu, ya," cetus Luna setelah mengingatnya.


Wajah laki-laki itu langsung cerah mendengar ucapan Luna, "iya, nona. Nama saya Hardi. Saya sopirnya nyonya. Sebenarnya dari kemarin saya mencari nona!" jelas laki-laki bernama Hardi itu.


"Oh, bukan begitu. Nyonya saya ingin bertemu dengan nona. Apa sekarang nona ada waktu sebentar?"


Hadeh! Luna jadi tambah deg-degan. Jangan-jangan, nyonya itu gak suka kalau dia sudah memegang tubuhnya. Padahal kalau gak Luna sanggah, nyonya itu sudah jatuh ke lantai.


"Baik, pak. Saya bisa menemui nyonya bapak sekarang!"


Itulah, Luna. Dia gak akan menghindar bila ada masalah di depannya. Mungkin karena terbiasa menghadapi masalah di perusahaannya.


Gak lama kemudian, mereka sampai di ruangan rawat inap yang cukup besar. Ruangan itu sangat mewah seperti berada di dalam hotel. Sepertinya itu ruangan VVIP.


Seorang wanita terbaring diatas ranjang dengan mata terpejam. Wajahnya masih sangat pucat.


"Maaf, nyonya. Nona yang kemarin membantu nona sudah datang," bisik Hardi.


Wanita setengah tua itu pun membuka mata dan langsung tersenyum begitu melihat Luna.

__ADS_1


"Oh iya. Sebelumnya saya sangat berterima kasih karena nona sudah membantu saya kemarin. Hardi yang cerita kalau gak ada nona, saya pasti sudah jatuh!" ungkap wanita itu setelah posisi duduk.


"Gak apa-apa, nyonya. Kebetulan saya ada di sana. Maaf, panggil saya Luna saja. Saya sudah terlalu tua kalau dipanggil nona," sahut Luna yang yidak enak karena dipanggil nona dengan yang lebih tua.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya wanita itu lagi.


Wajah Luna langsung merah ditanya soal itu lagi.


"Belum, nyonya!" jawab Luna malu-malu.


"Nah, pas tuh. Saya mau menjodohkan kamu sama anakku aja, ya. Saya sangat senang kalau kamu mau menjadi menantu saya!" ujar nyonya itu sangat sopan.


Hah! Dijodohkan. Tiba-tiba, kepala Luna jadi kliyengan. Luna cuma bisa cengengesan. Kenapa masalah pernikahan terakhir ini jadi polemik baginya, ya???


Luna gak bisa mengatakan apapun. Dia selalu menghormati orang yang lebih tua. Untuk sementara hanya mengiyakan nyonya yang baru saja ditemuinya itu. Padahal, Luna sudah enggan mendengar soal pernikahan melulu.


"Baik, nyonya!" Akhirnya Luna luluh juga melihat wajah memelas nyonya itu. Padahal, dia ga tahu bagaimana selanjutnya.


"Ya, sudah. Minggu depan kamu bertemu dengan anakku, ya!" ucap nyonya itu sangat antusias. Wajahnya yang pucat langsung bersemu merah.


Minggu depan? Nah, kebetulan. Ada alasan agar gak ketemu si bocah ingusan. Tapi, Luna malah masuk ke dalam jebakan yang lain!!!


Sebelum kembali ke kamar mamahnya, Luna malah bertemu dengan Yuki. Ngapain juga mereka bisa bertemu di rumah sakit. Lina nerasa harinya sangat tidak menyenangkan.


"Luna?!" panggil Yuki padahal Luna sudah pura-pura gak melihatnya.


"Oh, Nona Yuki. Kenapa ada disini?" tanya Luna sedikit bersandiwara.


"Kamu juga ngapain disini? Apa kamu mau oplas wajahmu biar kelihatan muda, ya?" tanya Yuki setajam silet.


Luna hanya tersenyum. Dia sangat tahu siapa Yuki. Pernikahannya kandas karena suaminya selingkuh dengan baby sitternya. Namun, Luna gak mau berkonfrontasi dengannya.


"Iya, nona. Aku kan harus tampil cantik untuk dinner dengan CEO!" jawab Luna sedikit menyindir.


Yuki langsung manyun, "okelah. Aku sih mau menemui calon mertuaku! Bye," ucap Yuki sambil berlalu dengan gaya angkuhnya.


Luna hanya geleng-geleng kepala. Dulu, waktu Luna masih bekerja di perusahaan papanya Yuki, dia selalu ditindas. Tapi, Luna selalu bersikap sopan padanya. Mungkin itulah sebabnya, Luna memilih keluar dari pada diinjak Yuki terus menerus. Entah mengapa, Yuki sangat membencinya. Padahal papanya Yuki sangat baik dan menganggapnya seperti anak sendiri.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2