TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MELEPASKAN IMPIAN #2


__ADS_3

Luna tidak tahu apa yang sedang ditunggunya. Apakah Damar? Tidak mungkin Damar menyusulnya. Darimana dia tahu kalau Luna ada di sana?


Aach! Luna jadi menyesal karena tidak berpamitan terlebih dahulu. Dia bukanlah orang yang pengecut dan memilih kabur dari masalah. Lalu, mengapa sekarang dia ada di bandara sendirian dan dipenuhi penyesalan.


Mungkin lebih baik seperti ini. Luna akan melepaskan impian pernikahannya bersama Damar. Setelah sekian lama, Damar juga berhak bahagia bersama perempuan yang lebih dicintainya yaitu Anna.


Terdengar suara petugas bandara mengabarkan pesawat menuju Indonesia akan segera take-off. Luna pun berjalan memasuki area penumpang. Matanya mulai basah. Orang yang ditunggunya tidak mungkin datang.


Sementara itu, Damar baru saja tiba di bandara. Dia segera mencari keberadaan Luna di ruang tunggu. Namun bayangan Luna sudah tidak kelihatan. Akhirnya, Damar hanya terduduk lemas di ruang tunggu. Apa yang dipikirkan Luna sehingga pergi begitu saja. Apakah karena Anna?


*****


"Akhirnya, sayalah yang akan menemani nyonya disini. Sepertinya Kak Luna sudah pergi!" ungkap Anna di hadapan Nyonya Kamaratih dengan senyuman mengembang.


Nyonya Kamaratih terdiam. Akhirnya dia tahu mengapa Luna menghilang. Pasti Anna sudah mengatakan sesuatu padanya.


"Apa yang kamu katakan pada Luna? Tadi kamu bicara dengannya, kan?" tanyanya.


Anna menarik napas panjang. Berusaha mengumpulkan kekuatan yang masih tersisa di hatinya. Pengorbanannya selama ini tidak akan sia-sia.


"Saya hanya bicara sedikit dengannya. Wajahnya sangat mirip dengan saya. Apa nyonya sudah membuat skenario baru? Apa nyonya katakan kalau saya hanyalah masa lalu Damar? Apa nyonya katakan kalau keberadaannya di samping Damar adalah karena wajahnya?" Anna malah mengajukan banyak pertanyaan.


Nyonya Kamaratih sangat terkejut dengan gaya bicara Anna sekarang. Gadis lugu penyakitan dulu telah menjelma menjadi ular berbisa.


"Mereka sudah bertunangan. Itu karena mereka saling mencintai! Bukan karena wajah Luna yang mirip denganmu!" sahut Nyonya Kamaratih dengan suara gemetar. Dadanya mulai terasa sesak.


"Kenyataannya Kak Luna sudah kabur! Berarti dia gak percaya kalau Damar mencintainya dengan tulus. Saya akan mengambil tempat yang dulu pernah nyonya ambil. Sayalah yang akan menikah dengan Damar!'


Nyonya Kamaratih melotot. Napasnya terasa sangat berat. Pandangannya pun buram.


"Da-dayaaat!" panggil Nyonya Kamaratih dengan sisa napasnya.


Dayat yang memang berada di depan pintu segera masuk ke dalam. Dia juga mendengar semua yang dikatakan Anna. Namun pura-pura gak mendengarnya.


"Ada apa, bu?" tanya Dayat penuh kecemasan.

__ADS_1


"Pa-panggil Dokter! A-aku sudah gak kuat!" ucap Nyonya Kamaratih sebelum pingsan.


"Ibu! Bangun, bu!" Dayat memanggil ibunya cukup kencang. Dia pun menggoyangkan tangannya juga. Namun, Nyonya Kamaratih gak merespon. Dayat pun segera memanggil dokter dengan menekan alat panggil yang menempel di dinding. Gak lama kemudian dokter dan perawat pun datang.


Anna mundur beberapa langkah. Badannya gemetar melihat reaksi Nyonya Kamaratih. Dia gak menyangka menjadi seperti itu. Apa yang harus dilakukannya? Apakah penantiannya akan sia-sia? Yang diinginkannya adalah Nyonya Kamaratih melihatnya bersama Damar seperti dulu.


Dayat juga segera menghubungi Damar.


"Hallo, Damar. Ibu sedang kritis sebaiknya kamu kembali ke rumah sakit!" ucapnya dari hape.


"Apa? Mamah kritis? Ya, sudah! Aku akan kembali ke sana. Apa kakak sudah membeli tiket pesawat buatku?" jawab Damar


"Belum sempat! Ibu keburu kritis. Cepatlah kesini!"


"Baiklah, kak. Aku akan kesana secepatnya!" ujar Damar yang terpaksa membatalkan kepergiannya menyusul Luna pulang. Saat ini, kondisi mamahnya lebih penting.


Nyonya Kamaratih segera dibawa ke ruang ICU. Kondisinya sangat parah. Semua organ tubuhnya ngedrop sampai gak sadarkan diri.


Dayat menunggu di depan ruang ICU dengan dipenuhi kecemasan. Dia sangat takut kalau hal buruk terjadi. Walau bagaimana pun Nyonya Kamaratih tetaplah ibunya.


"Bagaimana keadaan mamah, kak?" tanyanya cemas.


"Dokter sedang menangani ibu. Tadi ketika bersama Nona Anna, ibu pingsan!"


"Anna? Apa mereka sempat bicara?"


"Iya. Tadi mereka tadi mengobrol!"


Damar terdiam. Apa yang mamahnya dan Anna bicarakan? Apakah soal Luna?


Anna gak berani muncul di depan Damar. Dia memilih menunggu di lobby rumah sakit. Berharap keadaan Nyonya Kamaratih baik-baik saja.


"Ada apa, Anna? Mengapa kamu disini? Seharusnya kamu mendampingi Damar menemani mamahnya!"


Anna terkejut setengah mati ketika Luna muncul. Dia mengira kalau Luna sudah kabur.

__ADS_1


"A-ku menunggu disini aja, kak. Tadi Nyonya Kamaratih kritis. Sekarang lagi ada di ICU!"


"Apa? Mamah Damar kritis?" Luna sangat terkejut mendengarnya. Dia pun segera ke ruang ICU sampai melupakan kopernya. Tadinya Luna kembali hanya untuk berpamitan. Masih ada waktu karena pesawat delay selama satu jam. Masih ada waktu untuk menemui Damar. Ternyata mamah Damar malah kritis.


Anna tertegun melihat reaksi Luna. Wajah mereka mirip namun sifat tidaklah sama. Anna menyadari mengapa Damar memilih Luna. Sementara dirinya masih hidup di masa lalu yang sudah lama berlalu.


Damar benar-benar gelisah. Di satu pihak sangat cemas soal Luna. Apakah dia sudah benar-benar pergi meninggalkannya? Damar gak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Luna. Dia tidak akan bisa hidup tanpanya. Damar juga mengkhawatirkan keadaan mamahnya. Mereka berdua adalah orang-orang yang sangat dicintainya.


"Damar ...."


Damar tertegun. Suara itu sangat dikenalnya. Damar segera menoleh dan menemukan Luna ada di depannya.


"Luna ...," ucap Damar yang langsung menghambur kearah Luna dan memeluknya erat. Dia mengira kalau sudah kehilangannya.


"Terima kasih sudah kembali. Jangan tinggalkan aku lagi ...," lanjut Damar tanpa mengendurkan pelukannya.


Luna gak bisa menahan perasaannya lagi melihat Damar seperti itu. Seharusnya dia tegar dan tetap pergi. Namun, hatinya malah ikutan melow.


Dayat tidak tahu apakah harus sedih atau gembira. Meski ibunya sedang kritis, dia masih bisa tersenyum karena Luna kembali kepada Damar.


"Bagaimana keadaan mamah?" tanya Luna sambil menyeka airmatanya.


Damar melepaskan pelukannya, "mama masih kritis. Katanya tadi pingsan ketika sedang bicara dengan Anna. Entah apa yang mereka bicarakan. Sekarang Anna malah menghilang!" jelas Damar dengan sedikit kesal kepada Anna.


"Anna? Tadi aku bertemu dengannya di lobby!"


"Jadi dia masih disini? Aku harus bicara dengannya!" Damar harus segera menemukan Anna. Dia harua meluruskan sesuatu.


"Jangan, Damar. Tetaplah disini, mamah masih kritis!" cegah Luna.


Damar menuruti Luna juga. Lagipula sekarang hatinya sudah tenang karena sudah ada Luna.


Dayat sangat tahu apa yang tadi dikatakan Anna. Tapi dia gak akan menceritakannya kepada siapapun. Lagipula semua gak ada pengaruhnya karena Luna sudah kembali bersama Damar. Dayat percaya cinta sejati tidak akan berakhir dengan mudah.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2