TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
RAHASIA YANG TERBONGKAR #2


__ADS_3

Yuki merebahkan tubuhnya dengan lemas di tempat tidur. Dunianya sudah hancur. Dia bukanlah siapa-siapa. Suaminya memilih hidup dengan asistennya. Sedangkan dia juga gak tahu siapa papahnya. Anak haram! Itulah dirinya.


Kejadian waktu kecil kembali terlintas. Ketika Yuki mulai mengerti tentang kasih sayang. Semua teman-teman kelasnya selalu membawa orang tuanya saat ada kegiatan di sekolahnya. Tapi, papahnya gak pernah mau hadir.


"Ayo dong, pah. Datang ke acara di sekolahku. Teman-teman Yuki juga mau kenalan sama papah!" ujar Yuki kecil memelas sambil memegang tangan papahnya.


"Papah sibuk!" sahut papahnya sambil menghempaskan tangan mungilnya.


Yuki kecil hanya bisa melihat kepergian papahnya tanpa bisa bicara apa-apa lagi. Airmatanya mengalir. Saat itulah dia mulai merasa papahnya gak menyayanginya.


Nyonya Arana masuk ke kamar Yuki dan duduk di pinggir ranjang. Mengelus kepala puterinya yang sangat dia sayangi.


"Cinta mamah sudah cukup buat kamu, Yuki. Apapun yang terjadi, apapun yang kamu lakukan, mamah akan selalu ada di sampingmu!" ucap Nyonya Arana dengan penuh kasih sayang.


Namun, saat ini Yuki hanya ingin terlelap. Berharap ketika terbangun hidupnya akan berubah. Keluarganya akan lengkap dengan mamah dan papahnya. Ya! Yuki tetap menginginkan kasih sayang papahnya yang sekarang, Tuan Arya.


*****


Luna baru saja keluar dari rumahnya dan menikmati udara sore. Sudah dua hari dia dikurung di dalam rumah membuatnya sangat boring.


Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Luna mengenali mobil itu. Seorang laki-laki berwajah tampan dan bertubuh atletis muncul dengan senyuman penuh karismatik. Dia adalah Damar.


"Damar? Ngapain kamu kesini?"


Luna agak terkejut melihat kedatangan Damar. Padahal baru dua hari gak ketemu.


"Tentu saja aku kangen sama pacarku! Bagaimana keadaanmu, sayang?" jawab Damar sambil duduk di sebelah Luna.


"Pacar? Emang kapan kita pacaran?" goda Luna. Padahal emang Damar gak secara resmi menembaknya.


"Eeh, kok gitu? Sudah ratusan kali aku mengutarakan cinta padamu. Kamu ajalah yang gak pernah bilang cinta padaku!" sahut Damar sambil cemberut.


Akhirnya Luna gak tega juga melihat Damar seperti anak kecil yang gak kebagian permen.


"Iya-iya, aku cinta kamu!" bisik Luna. Dia takut mamahnya dengar apalagi kalau Luky. Bisa geger jagat raya.


"Apa?" tanya Damar sambil mendekatkan telinganya kepada Luna.


"I love ...." Luna mau mengatakan isi hatinya sekali lagi. Namun, dia melihat bayangan mamahnya menuju ke arah mereka.

__ADS_1


"Eeh, Damar. Ada perlu ada kesini?" tanya Mamah Luna yang juga kepo.


Damar segera berdiri dan gak fokus ke Luna lagi.


"Oh iya, tante. Saya mau bawa Luna ke rumah sakit untuk kontrol lukanya. Sekalian mau ajak ke rumah, mamah mau ketemu!" sahut Damar yang mencari alasan agar bisa lebih lama bersama Luna.


"Iya, tante lupa juga. Sudah tiga hari, ya! Sudah Luna, ikut Damar ke rumah sakit!"


"Iya, mah! Luna ganti baju dulu." Luna beranjak dari tempat duduknya.


Damar langsung menggamit lengan Luna.


"Biar aku antar ke kamarmu!" ucapnya.


Luna malah melotot. Dia gak enak karena melihat mamahnya memerhatikan mereka.


"Aku bisa sendiri, kok!" ucap Luna sambil mengibaskan tangan Damar.


Sikap cuek Luna muncul lagi padahal Damar masih mencemaskannya.


"Sabar ya, Nak Damar. Luna memang seperti itu. Dia gak mau kelihatan lemah di depan orang lain," ucap Mamah Luna yang memenangkan hati Damar.


"Syukurlah Nak Damar selalu menjaga Luna. Mamah aja gak bisa mengikutinya terus!"


Gak lama kemudian Luna balik lagi dengan pakaian dan dandanan rapi. Damar selalu terkagum-kagum dengan kecantikannya.


"Kenapa bengong? Ayo jalan!"


"Oke, bos. Permisi, tante!"


Luna berjalan lebih dahulu menuju mobil dan Damar segera menyusulnya. Sekali lagi, Damar menggamit tangan Luna. Tapi Luna malah mengibaskan tangannya lagi.


Mamah Luna hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Dia sangat senang Luna menemukan orang yang tepat. Sejak muda Luna selalu mandiri dan membantu keuangan keluarga setelah papahnya meninggal. Kini, Luna masih selalu bersemangat meski sedang terluka.


"Kita mau ke rumah sakit mana?" tanya Luna ketika sudah berada di dalam mobil.


"Ke rumah sakit temanku, tapi dia bagian spikolog. Aku mau menemuinya juga karena sudah lama gak berjumpa. Dia satu SMA denganku dulu. Tapi aku meneruskan sekolah keluar negeri!" jelas Damar.


"Oh ...." sahut Luna datar.

__ADS_1


Damar menoleh padanya seperti sedang teringat sesuatu.


"Ingat, ya. Kamu belum jelas mengatakan perasaanmu padaku. Tadi kan dipotong mamahmu!"


Luna melotot mendengar perkataan Damar. Matanya yang besar hampir keluar semua. Damar sangat menyukai kalau wajahnya seperti itu. Seperti tokoh anime jepang yaitu Sailormoon!


"Emangnya harus sering sering mengungkapkan soal itu. Bagiku satu kali sudah cukup!"


"Bagiku, gak. Aku mau mendengarkannya setiap saat. Pokoknya kamu harus mengatakannya lagi akan aku rekam biar bisa mendengarnya di kantor!"


"Damaar!"


Teriakan Luna gak dipedulikan Damar lagi. Dia sudah bisa menjinakan Luna.


Gak lama kemudian mereka sampai ke rumah sakit dan langsung menemui dokter Raffi. Dia mengenali Luna yang pernah terkait kasus penyerangan dengan salah satu pasiennya. Teman dekatnya bernama Laras yang seorang reporter pernah menceritakannya.


"Apa yang terjadi dengan Nona Luna?" tanya dokter Raffi yang gak mau mencampuri urusan pribadi pasiennya kecuali soal pekerjaan.


"Pacar saya ini hampir tertabrak mobil, dok. Sudah tiga hari yang lalu. Sepertinya perlu di Ctscan agar lebih tenang, dok!" sahur Damar. Dia yakin Luna akan menjawab hal yang lain.


"Tertabrak mobil? Seharusnya langsung diperiksa. Boleh saya lihat lukanya?" ucap dokter Raffi yang cukup terkejut mendengar cerita Damar.


"Gak apa-apa, dok. Kaki saya cuma membentuk aspal aja!"


Bener kan perkiraan Damar. Luna pasti menganggap lukanya sepele.


"Lukanya memang sudah mengering tapi tidak kelihatan luka dalamnya. Lebih baik di rongsen agar lebih jelas!" ungkap dokter Raffi setelah memeriksa luka luna.


"Hari ini juga, dok?" tanya Luna yang sedikit risau.


"Lebih cepat lebih baik. Saya akan memberikan surat pengantarnya!" ucap dokter Raffi sambil menuliskan sesuatu.


"Maaf, dok. Apa dokter Ken praktek di sini?" tanya Damar ketika teringat kawan SMAnya dulu.


"Dokter Ken? Apa kamu mengenalnya? Dia memang praktek di sini. Sepertinya ada di ruang kerjanya!"


"Kami satu SMA dulu. Baiklah, saya akan menemuinya!" Damar sangat senang bisa bertemu dengan kawan lamanya lagi. Dulu mereka selalu berdua ketika baru masuk sekolah. Sayang, Damar harus pindah sekolah ke luar negeri.


Luna segera menjalani pemeriksaan lebih mendetail. Dia sedikit cemas kalau ada hal buruk yang akan terjadi lagi. Tapi Damar selalu ada di sampingnya dengan penuh kesabaran. Luna bersyukur memiliki kekasih seperti Damar. Membuatnya semakin cinta aja. Cie, cie Lunaaa ....

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2