TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
BANGKIT KEMBALI #1


__ADS_3

Luna mulai mengepak barang-barangnya yang ada di kantor. Begitu juga dengan Sarah dan Prilly. Meskipun sedikit sedih, Luna harus tetap tegar agar bisa bangkit lagi.


Yuki sengaja menunggu di lobby agar bisa melihat wajah Luna yang baru saja bangkrut. Saat itu adalah saat yang paling dia tunggu. Sejak pertama Luna memutuskan membuka perusahaan sendiri. Papa Yuki selalu membanggakannya.


"Lihatlah, Luna. Dia bukan lulusan sekolah luar negeri tapi sangat bekerja keras dan akan membangun perusahaannya sendiri. Lalu apa yang kamu lakukan? Hanya mondar mandir tanpa ada kemajuan?" ungkap Tuan Aris Munandar, Papa Yuki.


"Aku bukan Luna, pah. Aku bisa saja membuka perusahaan kapan aja aku mau!" jawab Yuki yang gak suka selalu dibandingkan dengan Luna.


"Seperti itulah dirimu, hanya memikirkan kesenangan pribadi. Seorang pemimpin itu bukan hanya soal diri sendiri tapi memikirkan banyak orang!"


Yuki merasa tertantang begitu mendengar perkataan papanya. Namun,dia juga semakin membenci Luna.


"Apa Luna itu anak papah? Jujur aja, pah! Kenapa papah sangat membelanya?" celetuk Yuki yang sudah gak tahan melihat perlakukan papanya kepada Luna.


Saat itu, Tuan Aris hanya tersenyum. Sepertinya dia menyimpan sesuatu yang hanya dia yang tahu.


"Kamu harus mendekatinya. Luna bisa saja adalah kakakmu!" jawab Tuan Aris terakhir kali.


Darah yuki mendidih. Dengan mudah papanya mengatakan hal serius seperti itu. Sejak itu, Yuki sangat ingin melihat Luna hancur. Kini, keinginannya itu telah terwujud.


"Apa perasaanmu sekarang, Lun? Apa enak punya perusahaan yang sudah bangkrut?" tanya Yuki dengan muka rubah betina.


Luna sangat terkejut ketika baru keluar dari lift, Yuki sudah ada didepannya. Sarah gak merasa heran dengan kedatangan Yuki. Mereka sempat membicarakannya di kantor.


"Apa? Yuki terlibat dengan semua ini?" Sarah gak percaya. Dia tahu Luna pernah bekerja di perusahaan papanya Yuki.


"Iya, kak. Itu yang dikatakan Jion. Aku juga gak percaya Yuki sampai seperti itu!"


"Kalau begitu aku akan menyelidikinya lebih dalam. Dia harus menerima hukuman karena melakukan perbuatan jahat itu sama kita!" ungkap Sarah berapi-api.


Kini, Yuki sudah berada di hadapan mereka. Tujuannya pasti ingin melihat kehancuran Luna dan kawan-kawannya.


"Aku heran dari mana kamu tahu soal kondisi perusahanku? Apa kamu terlibat dengan semua ini?" tanya Luna tanpa basa basi.

__ADS_1


Yuki sedikit gugup mendengar pertanyaan Luna. Tapi, gak lama dia pun tersenyum sinis.


"Kabar apapun di dalam dunia usaha akan cepat sekali menyebarnya. Buat apa aku ikut campur dengan perusahaanmu? Memangnya aku kurang kerjaan?" kilah Yuki.


"Baguslah! Karena aku gak akan melepaskan siapapun yang terlibat dengan semua ini!" ucap Luna sambil berlalu meninggalkan Yuki.


Yuki tersenyum sinis, "ini baru permulaan, Luna!"


*****


Akhirnya, Luna, Sarah juga Prilly sampai juga di gudang yang juga sebagai bagian produksi. Biasanya puluhan pegawai bekerja siang dan malam selalu bergantian. Kini, hanya ada satu shif dan gak sesibuk biasanya.


"Untung masih ada orderan kecil yang masih bisa dikerjakan. Mereka memberikan uang muka lebih banyak untuk modal kita! Mereka adalah pelanggan kita sejak dari pertama dulu!" jelas Sarah setelah meletakan barang bawaannya di atas meja.


Sekarang, kantor mereka hanya satu ruangan saja yang dipakai untuk tiga bagian. Yang paling heboh adalah Prilly karena ada patung-patung dan sample pakaian yang dibuatnya.


"Aduh, saaay! Ternyata capek hati, pikiran dan tenaga juga. Aku gak nyangka sampai melelahkan seperti ini! Barang-barangku masih banyak belum dibawa kesini juga!" keluh Prilly yang selalu bergaya meski kecapean.


"Nanti kita bisa balik lagi, Prilly cantik. Aku akan membantumu juga!" ucap Luna yang merasa kasihan juga dengan Prilly.


"Siap, Kapten!" jawab Luna sambil memberi hormat.


Prilly cengengesan melihat sikap Luna. Meskipun Luna adalah seorang Ceo tapi sikapnya selalu rendah hati. Makanya, Prilly gak mau pindah ke perusahaan yang lebih besar. Dia akan memilih tetap bersamanya sampai kapanpun.


Peristiwa menyedihkan itu jadi sedikit terlupakan. Mereka seperti anak sekolah yang sedang camping. Canda tawa, senda gurau selalu mewarnai setiap waktu.


*****


Damar masih merisaukan peristiwa yang terjadi pada Luna. Jika Yuki terlibat, dia gak akan memberikan orderan dari perusahaannya lagi.


"Tolong selidiki soal Yuki, Ran. Aku yakin Yuki yang membuat perusahaan Luna bangkrut!" ungkap Damar ketika sedang makan siang di kantornya. Seperti biasa, Damar enggan ke luar gedung karena menghabiskan waktu saja.


"Baik, tuan. Apa perlu ada tindakan dari managemen?"

__ADS_1


Damar sengaja membicarakan soal perusahaan Luna. Tanggapan Yuki biasa saja seperti sudah tahu apa yang terjadi.


"Tunggu saja sebentar, tapi pending dulu sampai masalahnya jelas. Aku gak mau memberi kesempatan seekor rubah!" jawab Damar setelah menghabiskan makanan yanga ada dimulutnya.


"Baik, tuan!" jawab Rani yang masih berdiri di samping Damar.


Tiba-tiba Damar mendongak dan menatap Rani lekat.


"Duduklah, Ran. Makanlah bersamaku. Aku lihat kamu semakin kurus aja!" ujarnya.


Rani tertegun. Berarti Damar memerhatikannya juga.


"Gak usah, Tuan. Nanti saya makan belakangan aja!"


"Sebaiknya jangan panggil aku seperti itu. Kamu itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Lama-lama aku jadi gak enak mendengar kamu memanggilku dengan tuan. Kayaknya aku sudah jompo!" celetuk Damar. Meskipun usianya hanya beda satu tahun tapi Damar menganggap Rani seperti adiknya sendiri.


"Saya sudah lama memanggil tuan. Saya sudah terbiasa seperti itu," jawab Rani yang malah senang memanggil Damar dengan sebutan itu.


"Akunya yang jadi gak enak. Nanti Luna menyangka aku seorang diktator!" cetus Damar. Sebenarnya, dia ingin menanyakan soal mengapa Rani gak memberitahukannya soal perusahaan Luna kemarin. Tapi Damar memilih gak menyinggungnya.


Lagi-lagi soal Luna. Rani menelan ludah ketika tenggorokannya terasa kering. Pantas Tuan Damar baru memikirkan soal panggilan kepadanya. Biasanya sikap Tuan Damar biasa aja.


"Nanti saya coba, tuan. Tapi, Nyonya Besar pasti marah kalau mendengarnya," kilah Rani.


"Jangan khawatir soal mamah. Aku yang akan bertanggung jawab. Oh, iya. Bagaimana dengan rumah yang akan kamu beli. Apa sudah fix?" tanya Damar setelah membersihkan mulutnya dengan tissu.


"Belum, tuan!"


"Nanti sore pergilah bersama Mang dayat. Aku akan pulang sendiri!"


Deg! Pasti Tuan Damar akan menemui Luna lagi. Rani merasa hatinya bergemuruh.


"Tapi, tuan. Ada beberapa berkas yang belum ditandatangani. Besok harus sudah selesai!"

__ADS_1


"Aku akan mengerjakannya di rumah. Bawa saja berkasnya pulang! Aku mau keluar sebentar. Kamu makanlah, jangan sampai sakit!" ujar Damar yang langsung pergi. Dia sudah gak sabar untuk mendengar kabar dari Luna. Hari ini Luna akan pindah, Damar ingin sekali berada di sampingnya.


❤❤❤❤❤


__ADS_2