
Damar sangat mengenal suara itu meski sudah lama tidak mendengarnya. Ya! Suara itu dari perempuan yang dulu sangat dicintainya namun sudah tiada. Dia adalah Anna!
"A-Anna?!" Bibir Damar bergetar begitu menyebut nama itu.
Luna tertegun mendengar Damar menyebut nama seseorang. Nama mantan pacar Damar tapi dia sudah meninggal.
"Iya, Damar! Aku Anna. Aku akan menemui mamahmu!"
"Tidak! Kamu bukan Anna. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu sudah meninggal!' ucap Damar masih belum percaya dengan perkataan gadis itu.
Anna tersenyum, "kamu bisa menanyakannya kepada mamahmu. Dia adalah seorang sutradara yang sangat hebat!"
Setelah sekian lama, Anna baru berani menampakan diri. Dulu, Mamah Damar memberikannya uang untuk meninggalkan Damar. Anna tidak menolak karena dengan uang itu dia bisa berobat di Singapura. Walaupun dalam perjanjian setelah sembuh, Anna gak bisa kembali pulang ke tanah air.
Beberapa saat yang lalu. Setelah mengungkap kalau Dayat adalah masih bersaudara dengan Damar, Nyonya Kamaratih meminta sesuatu kepada Dayat.
"Tolong hubungi nomor ini, Yat!" ucap Nyonya Kamaratih seraya menyodorkan secarik kertas bertuliskan nomor hape.
"Nomor siapa ini, nyonya?" tanya Dayat ingin tahu.
Nyonya Kamaratih tersenyum, "jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Aku adalah ibumu. Damar juga sudah mengetahuinya. Itu adalah nomor hape mantan pacar Damar ketika SMA dulu! Suruh dia datang ke sini sekarang juga!"
"Mantan pacar? Bukankah dia sudah meninggal, bu?" tanya Dayat sedikit kaku dengan panggilan yang sudah lama tidak diucapkannya.
"Dia masih hidup! Dulu aku sudah melakukan sesuatu yang membuat Damar sangat menderita dengan memisahkannya dari Anna yang sakit-sakitan. Aku takut jika dia meninggal, Damar akan lebih menderita. Aku akan memperbaikinya sebelum ajalku datang!" ungkap Nyonya Kamaratih penuh keyakinan.
"Tapi, di dekat Tuan Damar sudah ada Nona Luna. Bagaimana dengan hubungan mereka nanti?"
Nyonya Kamaratih yakin kalau hubungan Damar dan Luna sudah sangat kuat. Tapi masalah hati Damar, dia tidak bisa menebaknya.
Ya! Kini, Anna sudah muncul. Damar sangat terkejut begitu juga Luna. Hal yang ditakutkannya terjadi juga. Masa lalu Damar akan mempengaruhi hubungan mereka.
"Kamu sudah datang, Anna?" Nyonya Kamaratih siap membuat pengakuan di depan Damar dan Luna. Apapun yang terjadi, dia tidak mau menyimpan rahasia apapun lagi.
"Iya, nyonya. Bagaimana keadaan nyonya?" jawab Anna lembut. Gaya bicaranya masih seperti dulu.
__ADS_1
Damar melihatnya tanpa berkedip. Benarkah gadis di depannya itu adalah Anna? Gadis yang pernah dia cintai?
"Bagaimana kesehatanmu? Apa sakitmu sudah sembuh?" tanya Nyonya Kamaratih lagi.
Damar mendengarkan dengan saksama dan berusaha mencerna apa yang sudah terjadi sebenarnya.
"Saya berhenti berobat dari setahun yang lalu, nyonya. Dokter mengatakan kalau saya sudah sembuh total!"
"Syukurlah! Aku memintamu datang karena ingin memberikan kehidupanmu lagi. Mulai sekarang kamu berhak hidup sesuai dengan keinginanmu!" jelas Nyonya Kamaratih.
Anna tersenyum, "apa saya bisa kembali bersama dengan Damar lagi, nyonya?"
Nyonya Kamaratih sangat terkejut dengan permintaan Anna. Damar juga tidak kalah terkejut.
Sementara Luna merasa tidak pantas berada di ruangan itu. Dia memilih pergi diam-diam setelah mendengar ucapan Anna. Dia tidak mau menjadi alasan untuk siapapun. Kewajibannya mendampingi Damar dan mamahnya sudah selesai. Kini, mereka harus menyelesaikan masalah sendiri.
Luna terus berjalan sampai berhenti setelah sampai di taman. Dia pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Apakah kisah cintanya bersama Damar akan segera berakhir?
Damar baru sadar kalau Luna sudah tidak ada di ruangan itu. Dia pasti terpengaruh dengan kemunculan Anna. Mereka pernah membicarakannya dulu. Damar dengan pasti mengatakan hatinya gak akan goyah apapun yang akan terjadi. Kenapa sekarang Damar malah meragukan hatinya sendiri?
"Apa benar kamu adalah Anna? Waktu itu aku mengira kamu sudah meninggal!" ujar Damar ketika sudah berdua dengan Anna. Dia masih belum sadar benar kalau Anna ternyata masih hidup. Dadanya masih berdegup kencang namun berusaha untuk berpikiran normal.
"Mamahmu yang membuat skenario itu. Aku memang sakit-sakitan. Mamahmu menawarkan berobat ke Singapura asal aku tidak mendekatimu lagi!" jelas Anna. Permintaannya tadi belum mendapatkan jawaban. Apalagi, dia melihat di dekat Damar sudah ada perempuan yang sangat mirip dengannya.
"Maafkan semua perbuatan mamahku. Dia hanya terlalu mengkhawatirkan aku!"
"Aku melihat dia. Wajahnya sangat mirip denganku meski sedikit lebih tua. Dia pantas menjadi kakakku!" ucap Anna ketika teringat dengan perempuan yang dilihatnya bersama Damar.
"Namanya Luna. Dia adalah tunanganku!" jawab Damar pasti. Dia gak akan menutupi hubungannya dengan Luna.
Anna terkejut mendengarnya. Tunangan Damar?
"Apa kamu memilihnya karena mirip denganku?"
Damar malah tersenyum. Dia teringat saat pertama kali bertemu dengan Luna. Bahkan dia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena make-up tebal.
__ADS_1
"Sepertinya tidak begitu. Aku menyukainya karena dia adalah Luna. Apapun yang dia lakukan adalah karena dirinya tanpa jaim segala!"
Anna tertegun melihat senyuman Damar begitu membicarakan perempuan bernama Luna itu. Anna merasa iri dengannya. Dia sudah mendapatkan cinta Damar sementara Anna sudah banyak menderita.
"Sepertinya dia lebih tua darimu, Damar. Apa kamu gak salah memilihnya? Aku tahu seleramu. Jangan bohongi hatimu. Aku yakin kamu masih mencintaiku!" ucap Anna penuh keyakinan.
"Aku akui ketika kamu meninggal aku sempat trauma. Makanya aku pergi ke luar negeri agar bisa melupakanmu, untuk mengobati kesedihanku karena kehilanganmu. Dengan seiring waktu, aku sibuk dengan pekerjaan dan menata masa depan. Luna hadir dan membuat traumaku lenyap tak berbekas. Bukan karena wajahnya yang mirip dengan kamu namun kepribadiannya yang membuatku nyaman!"
Anna terdiam. Ternyata pengorbanannya selama ini hanya sia-sia saja. Nyatanya Damar sudah mencintai perempuan lain. Tetap saja dia akan sendirian dan kesepian.
Damar sudah menyelesaikan urusannya dengan Anna. Dia pun segera menelpon Luna. Dia pasti sedang kebingungan, namun hapenya tidak aktif. Dia pun mencari Luna ke berbagai tempat dan tidak dapat menemukannya.
"Ada apa, tuan? Kenapa tuan sangat pucat?" tanya Dayat yang bertemu Damar di ruang administrasi.
"Jangan seperti itu, kak. Aku ini adalah adikmu! Aku sedang mencari Luna. Apa kamu melihatnya?" Sudah tidak ada penghalang bagi Damar dan Dayat. Mereka adalah bersaudara meski Dayat masih berbicara seperti sebelumnya.
"Baiklah! Tadi aku melihat Nona Luna di taman. Mungkin masih ada di sana!" jawab Dayat dengan kata-kata yang masih kaku.
"Taman? Aku akan mencarinya!"
Damar segera berlari menuju ke taman. Dia ingin bicara dengan Luna secepatnya. Namun, bayangan Luna juga tidak kelihatan.
Sementara itu, Luna memutuskan untuk pergi tanpa pamit. Dia merasa kehadirannya di sana malah akan membuat Damar bingung. Setelah dia pergi, Damar pasti akan kembali dengan Anna dan mereka akan hidup bahagia.
Sebelumnya, Luna sempat bertemu Anna di taman. Mereka bahkan berbicara cukup lama.
"Apa aku boleh tahu siapa nama kakak?" tanya Anna yang sedikit menyindir karena Luna lebih tua.
"Namaku Luna!" jawab Luna singkat. Hatinya mengakui Anna jauh lebih cantik dan muda.
"Baiklah, Kak Luna. Setelah hari ini, aku dan Damar akan kembali bersama. Kakak hanya pelampiasan saja bagi Damar. Ikatan batin kami sangat kuat. Sampai sekarang dia selalu mencintaiku!" ujar Anna tanpa keraguan. Dia masih berharap Damar akan kembali padanya meski harus berbohong.
Itulah sebabnya Luna memutuskan untuk pergi. Perempuan yang dicintai Damar kini sudah kembali. Tak ada tempat lagi untuk Luna di hati Damar.
💔💔💔💔💔
__ADS_1