TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
SELALU ADA HARAPAN #2


__ADS_3

Luna sudah mengabarkan mamahnya bahwa akan menginap di rumah Damar. Tentu aja, mamahnya malah kesenangan. Katanya gak usah pulang lagi ke rumahnya. Segitu pengennya punya mantu seperti Damar!


"Antarkan Prilly ke kamarnya dulu ya, sayang. Aku ada keperluan pekerjaan dulu sama Mang Dayat. Tapi, jangan lama-lama di kamarnya. Daah, Pril. Met bobo cantik yaa!" ungkap Damar yang akan menemui Mang Dayat dulu. Tadi dia melihatnya baru sampai dari kantor.


"Iya, sayang!" ujar Luna yang membiasakan diri memanggil dengan sebutan itu kepada Damar.


"Siapa Mang Dayat, saay?" tanya Prilly ingin tahu.


"Setahuku, Mang Dayat itu cuma asisten Nyonya Kamaratih. Tapi dia diperlakukan seperti keluarga. Wajahnya memang mirip dengan Damar meski kulitnya lebih gelap dan kurus!" jelas Luna soal Mang Dayat.


"Damar, Dayat! Nama mereka hampir sama juga, ya. Apa mereka masih sodaraan, ya?" Prilly mulai kepo.


"Sssttt, jangan kepo aah. Ayo, aku antarkan ke kamar kamu di samping kamarku!" ajak Luna sambil menggandeng Prilly. Sebenarnya, dia juga merasa kalau Mang Dayat dan Damar banyak kemiripan. Mereka sama-sama tenang seperti air yang menghanyutkan.


Damar segera menemui Mang Dayat yang sedang makan malam sendirian. Mang Dayat segera berdiri begitu Damar datang.


"Makan aja, mang. Gimana soal rapat tadi?" tanya Damar sambil duduk di depan Mang Dayat.


"Semuanya berjalan lancar, tuan. Tapi saya belum menyusun laporannya!" sahut Mang Dayat yang berhenti makan.


"Hhmmm, ke depannya aku akan repot mengurus acara pertunanganku dengan Luna. Aku harap Mang Dayat mau membantuku soal pekerjaan di kantor. Rani pasti akan mendampingi Mang Dayat!" terang Damar. Sepertinya dia sangat mempercayai Dayat.


"Tapi, tuan. Sebagian petinggi perusahaan kurang suka saya menggantikan tuan!"


"Jangan pedulikan mereka. Lagipula, aku yakin Mang Dayat bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Aku akan memberikan surat kuasa jika diperlukan!" ucap Damar lagi.


Dayat hanya diam saja sampai Damar pergi. Dia merasa aneh dengan sikap Damar. Sepertinya dia sengaja memberikan pekerjaan yang penting kepada Dayat. Jangan-jangan, Damar tahu siapa Dayat sebenarnya?


Damar memang sengaja mengikutsertakan Dayat dalam pekerjaan kantornya. Dia merasa perlakuan mamahnya ketika Dayat sakit membuktikan keraguannya. Mamahnya sangat khawatir seperti kepada puteranya sendiri. Damar yakin, kalau Dayat adalah saudaranya tanpa harus dijelaskan lagi.

__ADS_1


"Ada apa, sayang? Kenapa bengong gitu?"


Tiba-tiba, Luna keluar dari kamar Prilly. Dia melihat Damar hanya diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Gak ada apa-apa, kok. Ayo, aku antar ke kamarmu," sahut Damar yang mulai kumat otak mesumnya.


"Eeeh, ngapain? Aku bisa ke kamar sendiri kok!" tolak Luna.


"Sebentar aja, aku masih belum mengantuk. Apa kamu aja yang ke kamarku?"


"Gak aaah! Kamar kamu itu seperti perpustakaan. Kepalaku pusing melihat buku sebanyak itu!"


"Tapi, nanti kan kamu tidur di kamarku?!"


"Ogaah! Aku tidur di kamarku yang ini aja. Lebih nyaman karena bisa melihat kebun bunga di belakang!"


"Iya-iya. Nanti aku akan membuang buku-buku itu kalau kamu inginkan!"


"Iya, sayang. Nanti aku akan membelikan semua novel yang ada di muka bumi ini!" sahut Damar membuat Luna senang.


"Asyiiik! Bener ya janjimu itu. Kalau gak aku obrak abrik kamarmu itu!"


"Iya, sayaaang!" Damar langsung memeluk Luna. Membuat Luna sangat terkejut dan hampir menendang Damar. Tapi dia lupa kalau kakinya sedang sakit.


*****


Yuki gak bisa tidur di rumah mamahnya. Dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Sudah seminggu dia gak melihat puteri kecilnya Nabila. Yuki memang sering meninggalkan puterinya yang berusia lima tahun bersama babysitternya. Amarah kepada mantan suaminya dilimpahkan kepada puterinya sendiri.


Dulu, suaminya malah selingkuh dengan babysitter puterinya. Dia memang masih muda dan cantik. Yuki mengira suaminya memperlakukan gadis itu seperti adik. Ternyata, mereka malah berselingkuh. Yuki memergoki mereka sedang bermesraan di kamar anaknya sendiri!

__ADS_1


Kenangan buruk itu sangat membekas. Membuat Yuki ikut membenci puterinya sendiri yang sangat mirip dengan papahnya. Sekarang babysitter Nabila agak tua dan mengurusnya dengan sangat baik.


"Nabila mana, bik?" tanya Yuki ketika Bik Narsih membukakannya pintu.


"Sudah tidur, Nyonya. Tapi Non Nabila menanyakan nyonya terus. Katanya kangen sama mamihnya!" ungkap Bik Narsih.


Yuki merasa bersalah kepada puterinya itu. Kebencian papahnya kepadanya seperti Yuki membenci puterinya sendiri. Yuki merasa kasihan dengannya. Berharap puterinya itu gak menyimpan dendam juga seperti dirinya.


"Aku mau tidur sama Nabila, bik!" ucap Yuki yang juga merindukan tidur bersama puterinya.


"Iya, nyonya. Besok ada acara pengambilan rapot di sekolah Non Nabila, nyonya. Apa nyonya bisa datang ke sekolah?"


"Lihat aja nanti! Aku lagi gak enak badan!"


Bik Narsih sangat tahu sifat majikannya itu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia juga merasa kasihan dengan si kecil Nabila yang selalu sendirian tanpa ibunya.


Yuki melihat puterinya tertidur nyenyak di atas tempat tidur. Wajahnya mengingatkannya kepada mantan suaminya. Kebencian itu belum bisa hilang. Namun, Yuki melihat dirinya di dalam diri puterinya juga. Dia pasti kesepian.


"Mamih, Bila kangen ...," ucap gadis kecil itu ketika menyadari ada sang mamih di sampingnya.


"Iya, sayang. Mamih kangen juga!" sahut Yuki sambil memeluk puterinya itu.


"Mamih jangan pergi lagi, ya ...," ungkap Nabila kecil tanpa membuka matanya.


"Iya, sayang. Mamih janji akan selalu ada di sampingmu," jawab Yuki lirih. Tanpa sadar air mata menetes di pipinya.


Selama ini, Yuki selalu mencari pengakuan papahnya. Ternyata, apa yang ada di dalam pikirannya hanyalah ilusi. Kenyataannya, dia malah melupakan hartanya yang paling berharga. Dia adalah puterinya sendiri.


Tapi ada sesuatu yang harus Yuki ketahui. Dia adalah papah kandungnya. Gak mungkin menghilang begitu saja. Yuki yakin papahnya ada di suatu tempat dan harus bisa menemukannya. Bukan sebuah pengakuan lagi yang dicari Yuki. Namun harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2