
Tuan Kenta kembali merencanakan sesuatu. Yang pasti demi keuntungannya sendiri. Kini, bukan Luna lagi yang menjadi targetnya. Dia adalah Yuki, pewaris perusahaan Bintang Grup. Sekaligus puteri seseorang yang pernah mengisi hatinya.
Tapi, Tuan Kenta harus menemui Arana terlebih dahulu. Setelah sekian lama, hatinya masih berdegup meski melihat dari fotonya saja.
Nyonya Arana memulai harinya mengantarkan sang cucu sekolah. Dia sangat senang dengan kegiatan barunya itu. Ingatannya kembali saat Yuki kecil dulu. Dia selalu mengantarkannya sekolah setiap hari meski mempunyai banyak pembantu.
Setelah mengantar Nabila sekolah, Nyonya Arana mampir di supermarket dulu. Dia ingin memasak makanan kesukaan Yuki dan cucunya. Senyuman selalu mengembang di sudut bibirnya. Baru kali ini, dia merasakan kebahagiaan.
Ketika sedang memilih buah, Nyonya Arana menabrak seorang laki-laki.
"Ma-maaf, saya gak melihat anda!" sungut Nyonya Arana.
Laki-laki itu membalikan badannya. Ternyata dia sudah tidak muda lagi. Nyonya Arana tersenyum dan menatapnya lekat. Kemudian, wajahnya berubah ketika menyadari siapa laki-laki itu.
"Tidak apa-apa, nyonya!" ucap laki-laki itu yang ternyata Tuan Kenta. Dia pun menatap Nyonya Arana lekat seakan sengaja menunggu reaksinya.
"Iya, sekali lagi maaf!" Nyonya Arana buru-buru meninggalkan tempat itu. Konsentrasinya buyar. Dia mengenali siapa laki-laki itu. Seseorang yang pernah meninggalkannya setelah menyetubuhinya dahulu.
Nyonya Arana segera ke tempat parkir dan menunggu sopir yang membawa mobilnya. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Seorang laki-laki muda keluar dan membuka pintu belakang.
"Silakan masuk, nyonya!" ucap laki-laki muda itu yang ternyata Denny, anak buah Tuan Kenta.
"Kamu siapa? Aku sedang menunggu anakku!" ucap Nyonya Arana berbohong.
"Tidak apa-apa, nyonya. Hanya sebentar aja, kok!"
Denny mendorong Nyonya Arana masuk ke dalam mobil dengan paksa. Nyonya Arana berniat untuk berteriak namun di dalam mobil itu sudah ada seseorang. Dia adalah Tuan Kenta.
"Apa kabar, Arana? Kamu pasti mengenalku!" ujar Tuan Kenta.
Nyonya Arana menatap laki-laki itu. Dia tetap gak mau mengaku kalau mengenalnya.
"Tuan? Anda kan yang tadi saya tabrak di dalam supermarket. Maaf, apa tuan marah? Sa-saya benar-benar gak sengaja melakukannya. Apa saya harus ganti rugi?"
Nyonya Arana membuka tasnya dan mengeluarkan satu gepok uang senilai sepuluh juta.
"Hanya ini yang saya punya! Tolong biarkan saya pergi. Kalau anak saya tahu, dia pasti akan lapor polisi!" ucap Nyonya Arana lagi seraya menyodorkan uang itu.
__ADS_1
Tuan Kenta tertegun. Namun beberapa detik kemudian malah tertawa.
"Ternyata kamu sudah kaya ya! Anak kamu itu, apakah namanya Yuki? Setahuku, dia sekarang sedang ada di kantornya!"
Nyonya Arana semakin pucat. Dia mencari cara lain agar bisa menjauh dari laki-laki bajingan itu.
"Apa uang ini kurang? Aku akan memberimu cek. Berapa yang kamu inginkan?" Nyonya Arana pun mengeluarkan cek kosong dari dalam tasnya.
Tuan Kenta kembali tertawa.
"Sudahlah, Arana! Jangan berbohong lagi. Kamu pasti mengenaliku. Kita pernah berpacaran dalam waktu yang lama. Bahkan terakhir kali kita sudah berbulan madu meski belum menikah!"
Nyonya Arana terdiam. Amarahnya sudah di atas ubun-ubun. Jika ada pisau, dia akan segera menancapkannya di dada laki-laki bejat itu.
"Maaf, aku gak ingat apa-apa. Aku sudah melupakan semua masa laluku. Sekarang aku adalah seorang istri perusahaan Bintang Grup. Mereka pasti akan melaporkan kamu ke polisi karena sudah menculikku!" gertak Nyonya Arana. Padahal Arya gak pernah perduli padanya meski mati di jalanan sekalipun.
"Tenanglah! Aku tahu seperti apa suamimu itu. Sekarang dia pasti sedang berada dipelukan istri mudanya. Kita akan berjalan-jalan sebentar!" ujar Tuan Kenta sambil memberi isyarat kepada Denny.
Denny pun menyuruh sopir untuk menjalankan mobilnya.
"Lepaskan aku! Kamu masih saja bajingan!"
Akhirnya Nyonya Arana memaki Tuan Kenta. Sifatnya memang gak berubah meski sudah menua.
Sementara itu, Tuan Kenta hanya tertawa. Entah apa yang akan dilakukannya kepada Nyonya Arana.
*****
Sekarang Damar sudah lega karena ada Dayat. Dia bisa mengurus acara pertunangannya tanpa diganggu urusan kantor. Dia yakin Dayat bisa mengatasi permasalahan pekerjaan dengan mudah. Meski gak sampai kuliah, tapi Dayat sangat cerdas.
Menjelang sore, Damar sudah berada di butik Luna. Dia janji akan mencoba baju yang akan dipakainya nanti.
"Dimana Luna, Pril?" tanya Damar ketika tidak menemukan Luna disana.
"Dia lagi nyoba baju sama Sarah, tuan. Nanti juga ke sini. Aakh! Tuan pasti akan terpesona sama Luna nanti," jawab Prilly sambil menyerahkan setelan jas kepada Damar.
"Jangan panggil aku seperti itu! Panggil aja Damar, atau bebeb juga boleh!" celetuk Damar sambil bercanda.
__ADS_1
"Bebeb? Waduh, aku gak berani! Kamu tahu kan, Luna? Bisa-bisa, aku ditendang sampai ke seberang lautan!" sahut Prilly yang sudah tahu kebiasaan Luna kalau marah.
Damar tertawa mendengar ucapan Prilly. Ternyata, sikap Luna memang sudah mendarah daging.
"Hai, kalian siap-siap, ya. Puteri Luna akan segera keluar!" ujar Sarah yang baru keluar dari ruang ganti. Tadi mereka memang mendengar suara Damar.
Damar dan Prilly menunggu dengan penuh debar. Damar ingin melihat kecantikan Luna sementara Prilly hanya ingin melihat kecantikan gaunnya.
Perlahan, Luna melangkah keluar dari ruang ganti. Dia juga gugup karena ada Damar. Padahal tadi dia sudah tenang karena Damar gak ngomong mau datang. Ternyata dia muncul ketika Luna sedang memakai gaunnya.
Sedetik kemudian, Damar hanya berdiri tertegun melihat ke arah Luna. Gaun yang Luna pakai hanya simple namun terlihat sangat mewah dan menambah kecantikannya.
"Astaga, Lunaaa. Kamu itu seperti bidadari turun dari kahyangan, siiih. Apalagi gaunmu sangat perfekto! Gak sia-sia jemariku melukis designnya!" teriak Prilly yang langsung menghampiri Luna.
"Iya, Prilly sayang. Gaunnya sangat cantik dan aku sangat suka. Gimana, Damar? Aku cantik, gak?" tanya Luna yang melihat Damar hanya bengong aja.
"Tentu aja, cantik. Tapiii, ada satu yang kurang!" sahut Damar sambil memikirkan sesuatu. Dia pun berjalan memutari Luna.
"Apa yang kurang sih, saay. Luna sudah sempurna begini!" celetuk Prilly yang gak setuju dengan omongan Damar.
"Nah, aku tahu. Nanti aku akan bawakan sesuatu yang kurang itu!" cetus Damar seraya masuk ke ruang ganti. Entah apa yang dicarinya di sana.
"Apa benar ada yang kurang, kak?" tanya Luna kepada Sarah yang dari tadi hanya senyam-senyum aja.
"Hhmmm, entahlah. Lihat aja apa yang dibawa Tuan Damar!" jawab Sarah ringkas. Padahal dia tahu apa yang dimaksud Damar.
"Aku sudah menemukannya!" teriak Damar dari dalam ruang ganti. Gak lama kemudian, dia pun keluar.
Luna menunggu apa yang ditemukan Damar. Mungkin perhiasan yang memang belum dia pakai.
"Jreng jreeeeng ..., inilah yang kurang. Pangeran Damar!"
Ohalaaah! Ternyata yang dimaksud Damar adalah dirinya sendiri yang melengkapi kekurangan Luna. Damar sudah memakai setelan jas yang tadi diberikan Prilly. Warnanya senada dengan gaun Luna.
Kali ini, Luna yang tertegun melihat Damar. Wajah Damar bersinar dan membuatnya semakin tampan. Deg deg deg .... apa Luna jatuh cinta lagi dengan Ceo tampan itu???
❤❤❤❤❤
__ADS_1