TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
DENDAM TANPA AKHIR #2


__ADS_3

Jion baru saja sampai di sebuah gedung milik Grup Bintang. Mereka akan memilihnya sebagai model. Dia jadi ingat ketika pertemuannya dengan Luna dulu. Saat itu karir Jion sedang bersinar dan dikontrak Grup Bintang.


Ternyata, Luna adalah salah satu fansnya. Tapi, Luna gak memperlihatkannya secara langsung. Jion sangat tahu sikap para fansnya meski jalur backstreet. Sampai akhirnya, Luna mengakui sebagai salah satu penggemarnya. Sayangnya, Luna gak mau menjadi kekasihnya. Jion.harus bersusah payah mendapatkan hati Luna. Meski akhirnya, Jion juga yang menghancurkannya.


Kini, Jion kembali lagi ke gedung itu dengan alasan yang sama. Berharap bisa bertemu Luna lagi. Dia mendengar kalau luna akan menjadi salah satu direktur di sana. Kesempatan baik! Dia pasti akan sering bertemu dengan Luna.


Namun, baru akan memasuki lobby, Jion melihat Yuki keluar dengan wajah penuh amarah. Dia merasa kalau Yuki sudah mendapatkan masalah baru.


Jion berinisiatif untuk mengikuti Yuki. Dia bisa menebak kalau Yuki akan melakukan sesuatu yang buruk.


Benar aja perkiraan Jion. Setelah mengikuti mobil Yuki, dia berhenti di sebuah jalan yang sepi. Apa yang dilakukan Yuki di tempat itu?


Tiba-tiba, Luna terlihat keluar dari sebuah butik kecil. Berarti Luna membuka usahanya di sana. Jangan-jangan, Yuki akan melakukan sesuatu yang buruk kepada Luna!


Dengan cepat, Jion keluar dari mobil dan mengejar Luna. Namun, Luna berjalan sangat cepat sampai dan menyeberang jalan.


Jion melihat mobil Yuki berjalan sangat cepat ke arah Luna. Apa Yuki akan menabraknya? Secepat kilat Jion berlari ke arah Luna yang hanya diam saja di tengah jalan.


Tepat ketika mobil Yuki berada di depan Luna, Jion mendorong Luna sampai terjatuh ke aspal. Sementara mobil Yuki sudah gak kelihatan lagi.


"Kamu gak kenapa-napa, Lun?" tanya Jion ketika sudah membawa Luna ke pinggir jalan.


Luna masih belum sadar benar. Dia mengira kalau mobil itu akan menabraknya.


"A-aku gak knapa-napa. Apa yang kamu lakukan di sini, Jion? Terima kasih, kalau gak ada kamu. Mungkin aku sudah tertabrak mobil!" ucap Luna setelah sudah mengumpulkan nyawanya lagi.


Jion terdiam. Dia gak akan mengatakan kalau sudah mengikuti Yuki yang barusan hampir menabraknya.


"Aku mau menemuimu. Aku mau membicarakan soal Angela. Tapi, untung aja aku melihatmu di tengah jalan itu! Lihatlah, kakimu mengeluarkan darah! Kita harus ke dokter!" jawab Jion yang panik melihat kaki Luna terluka.


"Hanya sedikit luka aja, kok. Tanganmu juga berdarah!"


Jion melihat tangannya juga berdarah. Sepertinya terkilir juga karena menopang tubuh Luna.


"Tenang aja! Gak ada yang bisa membuat badanku luka. Ayolah! Aku lihat di depan ada klinik kesehatan," sahut Jion yang sebenarnya meradakan sakit juga. Dia masih bisa memapah Luna ke klinik di dekat mereka.

__ADS_1


*****


Yuki sangat ketakutan karena hampir saja menabrak Luna. Dendamnya hampir membutakan mata dan hatinya. Untung saja, ada seorang laki-laki yang menyelamatkan Luna. Tapi, dia sangat mirip dengan Jion. Apa benar dia adalah Jion? Atau hanya orang yang mirip saja!


"Ada apa, Yuki? Wajahmu pucat begitu. Apa kamu sudah menemui Luna? Papahmu menelpon katanya kamu ke kantor sambil marah-marah!" Arana langsung menyambut puterinya. Dari tadi dia sudah menunggu Yuki karena suaminya menelpon.


"Aku lelah, mah. Aku mau istirahat dulu!" sahut Yuki yang langsung masuk ke dalam kamar tidurnya.


Nyonya Arana hanya nelihat puterinya itu tanpa mengatakan apapun. Dia sangat tahu sifat Yuki. Nanti juga akan menceritakan sendiri apa yang sudah dia lakukan.


Yuki membanting tubuhnya di tempat tidur. Harinya benar-benar buruk. Soal papahnya dan Luna membuatnya hampir gila. Dia juga hanpir saja melakukan hal bodoh dengan menabrak Luna. Jika itu terjadi, bukannya mendapatkan hal baik tapi malah akan masuk ke penjara!


Akhirnya, Yuki hanya bisa menangisi ketidakberuntungannya. Mengapa kesialan itu terjadi padanya? Sejak ada Luna selalu saja dirinya mendapatkan nasib buruk. Namun, Yuki gak bisa menyakiti Luna. Papahnya pasti tahu apa yang sudah dia lakukan.


Tiba-tiba, hapenya bunyi. Yuki melihat siapa yang sudah menghubunginya. Ternyata Jion.


"Ada apa?" tanya Yuki sambil menyeka airmatanya.


"Aku tahu apa yang barusan kamu lakukan. Kamu berniat untuk menabrak Luna!"


"Apa yang kamu katakan?" Yuki pura-pura gak tahu maksud Jion.


"Jangan pura-pura, Yuki! Kamu hampir membuat nyawa Luna melayang. Aku akan membuat perhitungan denganmu. Sudah kubilang jangan sakiti Luna lagi. Sepertinya kamu menantangku! Tunggulah, sebentar lagi kamu akan mendapatkan balasannya!" ujar Jion yang langsung menutup hapenya. Dia sangat marah Yuki bisa seperti itu. Lihatlah, Yuki. Aku akan membuatmu sengsara!


Jion segera memasukan hapenya ke dalam kantong ketika dokter datang.


"Aduh! Pelan-pelan, dok. Tanganku ini bukan batang rotan yang bisa diputar-putar!" ujar Jion ketika luka tangannya diobati. Padahal di depan Luna tadi dia pura-pura kuat.


"Tanganmu agak bengkak. Sepertinya terkilir. Sebaiknya kamu memakai gips!" ucap dokter setengah tua itu datar. Sepertinya dia gak suka dengan Jion yang sedikit cerewet.


"Apa? Gips? Mana bisa, dok! Besok aku ada syuting. Apa dokter gak kenal aku? Aku artis dan model ternama, dok. Namaku Jion, Ji ... on!"


Dokter itu diam saja. Malah perawat yang gak bisa menahan senyum melihat Jion. Sepeetinya dia mengenal Jion.


"Tuh, perawat dokter kenal aku. Iya, kan?" Jion mulai tebar pesona.

__ADS_1


Perawat itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. Padahal dadanya berdegup kencang melihat ketampanan Jion.


*****


Damar sedang mengikuti meeting bersama para karyawannya. Rani juga ada di sana dengan membawa beberapa berkas. Dayat hanya berdiri di depan pintu namun selalu menyimak.


Perhatian Damar pecah ketika hapenya bunyi. Dia segera melirik siapa yang sudah menghubunginya. Di sana tertera nama Jion.


Aakh! Ngapain juga Jion menghubunginya. Mungkin gak penting. Damar gak menghiraukannya. Gak lama kemudian hapenya bunyi lagi juga dari Jion. Mau gak mau, Damar menerimanya.


"Ada apa?" tanya Damar.


"Luna kecelakaan! Apa kamu gak mau menjenguknya? Kalau gak, Luna bisa jatuh kepelukan aku lagi!" ujar Jion setengah bercanda.


"Apa? Kamu bercanda, ya?" tanya Damar lagi. Dia kurang mempercayai Jion.


"Terserahlah! Kami ada di klinik dekat butik Luna. Cepatlah! Atau Luna aku bawa pulang."


Damar mulai gelisah. Sepertinya Jion serius.


"Maaf, aku ada urusan penting! Mang Dayat, tolong diteruskan, ya. Nanti aku telpon!" ujar Damar yang menyerahkan tanggung jawab rapat kepada Dayat.


Spontan Dayat kebingungan. Damar sepertinya salah ngomong.


"Silakan Bu Rani lanjutkan!" ujar Dayat yang menyuruh Rani melanjutkan rapat.


"Tadi Tuan Damar menyuruh Mang Dayat. Gak apa-apa, kok. Nanti tinggal laporkan saja kepada Tuan Damar!" sahut Rani yang gak berani menentang perintah Damar.


Dayat melihat ke semua peserta Rapat. Mereka juga gak kalah terkejutnya. Dayat semakin bingung.


"Silakan Mang Dayat duduk di kursi Tuan Damar agar rapat bisa dilanjutkan!" ujar Rani lagi. Dia tahu siapa Dayat yang juga berhak duduk di kursi itu.


Akhirnya Dayat duduk juga di kursi yang tadi di duduki Damar. Rapat pun kembali berlanjut. Hebatnya Dayat bisa mengikuti jalannya rapat karena sudah sering melihat dan mencerna meski dalam diam.


Damar segera menuju ke klinik di dekat butik Luna. Pikirannya berkecamuk berbagai pertanyaan. Berharap keadaan Luna baik-baik saja.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2