TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MELANGKAH PASTI #2


__ADS_3

Luna benar-benar malu karena ke pantai dengan gaun pesta. Tingkahnya sudah seperti maling kesiangan dan menutupi wajahnya dengan jas punya Damar.


Damar kasihan juga melihat Luna seperti itu. Karena dia juga yang memaksa Luna untuk mampir ke pantai sebelum pulang.


"Ayolah! Pegang tanganku. Di depan ada toko souvenir pasti menjual baju pantai juga. Tapi, kita harus melewati anak-anak muda yang sedang membuat acara. Kamu harus sabar kalau mereka menggoda!" ujar Damar seraya meraih tangan Luna dan mengambil sepatunya.


"Apa? Anak muda? Hadeh! Mereka pasti mengira kalau aku orang aneh!" sahut Luna dari balik jas Damar.


"Gak kok, sayang. Kan ada aku! Paling mereka terpesona dengan ketampananku sehingga gak fokus melihat kamu!"


"Damar!"


Damar tertawa kecil. Dia selalu senang kalau Luna kesal.


Benar saja yang dikatakan Damar. Ketika mereka sampai di kerumunan anak-anak abg, anak ceweknya terpesona dengan ketampanan Damar bak artis korea. Mereka saling berbisik dan memasang wajah semanis mungkin.


"Permisi!" ucap Damar sopan sambil menundukkan kepalanya.


"Iya, kak. Ceweknya kenapa dituntun, ka? Buta, ya?" tanya seorang gadis sambil senyam-senyum. Teman-temannya yang lain pun tertawa.


Wah! Anak itu membangunkan macan tidur, nih! Luna berhenti tepat di depan anak gadis itu. Dia langsung menyibak jas Damar sehingga wajahnya terlihat jelas.


Anak-anak gadis itu terkejut melihat Luna dengan makeup full. Ternyata perkiraan mereka salah.


"Hai! Aku gak buta, kok! Cuma gak tahan panas aja!" jawab Luna sambil menyibak rambut panjangnya. Aura kecantikannya langsung terpancar membuat siapapun yang melihatnya terpesona.


"Wah, tante cantik sekali!" teriak mereka lagi sambil tertawa.


Luna langsung melotot. Damar aja dipanggil kakak tapi kenapa dirinya dipanggil tante? Kepalanya langsung mengeluarkan alarm siap perang.


Damar tahu kalau Luna gak suka dengan perkataan anak gadis itu. Dia harus membawa Luna pergi secepatnya.


"Ayo, sayang!" ucap Damar sambil menarik tangan Luna. Sebelumnya dia melemparkan senyuman mautnya ke arah anak-anak gadis itu. Otomatis, mereka langsung klepek-klepek.


Luna terpaksa mengikuti langkah Damar. Hatinya sangat panas sampai ingin segera nyebur ke laut!

__ADS_1


Gak lama kemudian mereka sampai ke toko souvenir dan sudah memakai baju pantai. Hanya ada satu yang kurang. Make-up Luna masih mode pesta.


"Aku harus menghapus make-up dulu. Tapi, aku gak bawa tas make-upku!" Luna tetap aja gak pede dengan wajah seperti itu.


"Gak apa-apa! Cantik kok!"


"Damar! Nanti anak-anak itu mengolok-olok aku lagi. Pokoknya aku mau hapus make-up dulu!"


Luna segera mencari sesuatu. Sayangnya di toko itu gak ada pembersih wajah. Hanya ada kapas dan air mineral. Tambah bad mood aja deh Luna!


"Sudahlah! Aku akan membersihkan wajahmu pelan-pelan!"


Akhirnya Damar bisa menenangkan Luna. Dia mengajak Luna ke tepi pantai yang cukup teduh dan mulai membersihkan wajah Luna.


"Sebenarnya, aku juga lebih suka kalau kamu gak usah pake make-up. Jadi lebih fresh seperti anak abg!"


Luna langsung membuka matanya, "jadi kamu juga melihatku seperti tante-tante? Waktu kita pertama bertemu kan aku juga pake make-up. Apa saat itu kamu juga berpikir kalau aku sudah tua?" tanyanya sambil melotot.


"Bukan begitu, sayang. Hadeh! Kamu ini baperan bener, sih!"


Luna segera membalikan badannya, "sudah! Aku aja yang bersihkan!" ucapnya sambil cemberut.


"Maafkan aku, sayang. Apa perlu aku berlutut agar kamu bisa tersenyum lagi?" tanya Damar sambil bersiap menekuk kedua kakinya.


Luna sigap menarik tangan Damar, ."eeh! Jangan macam-macam deh, Damar! Bisa heboh satu pantai ini. Lihat aja, anak abg itu masih memerhatikan kita!" cegah Luna. Dia gak mau cari masalah lagi di depan anak-anak abg itu.


"Oke! Tapi aku mau melihat senyuman kamu dulu. Kalau gak aku tetap akan berlutut sampai kamu mau tersenyum lagi!"


Luna terdiam. Memang sekarang dia gelisah karena masalah lain. Setidaknya Damar gak melihat kegelisahnnya. Luna pun menarik ujung bibir dan memasang senyuman manisnya.


"Nah begitu baru bagus. Aku jadi pengen ...."


"Apa sih Damar? Jangan macem-macem, ya!"


Luna langsung berdiri dan sigap dengan kuda-kuda. Damar malah tertawa geli melihat reaksi Luna yang selalu menggemaskan.

__ADS_1


Mereka pun menikmati senja dengan berjalan menyusuri pantai. Sesekali, Damar memeluk Luna namun gak bisa lama-lama karena banyak yang memerhatikan mereka.


Kegelisahan Luna juga hilang sejenak. Meski dia harus mengatakan isi hatinya kepada Damar hari ini juga.


"Ada yang mau aku katakan, Damar!" ujar Luna ketika mereka sudah kembali ke dalam mobil.


"Ada apa, sayang? Apa kamu masih kesal sama aku?" tanya Damar cemas.


"Gak, kok. Aku gak pernah kesal sama kamu. Cuma geregetan aja!"


Damar tersenyum dan mengusap wajah Luna lembut.


"Jangan terlalu cemas. Semuanya akan lancar sampai hari pernikahan kita nanti!"


Tiba-tiba, suara aneh terdengar. Luna memegang perutnya. Dia mau bicara serius malah perutnya bikin komedi. Hadeh! Luna jadi gagal fokus lagi deh.


"Nah! Ada yang demo tuh! Ayo kita makan dulu. Aku juga lapar!"


Damar gak bisa menyembunyikan senyumannya. Sementara Luna hanya bisa menahan malu.


*****


Yuki sangat senang bisa makan bersama papahnya lagi. Meski kenyataan membuat hubungan mereka renggang namun kehadiran Jion membuat semuanya kembali lancar.


"Ada apa? Kamu gak berhenti senyum-senyum dari tadi?" tanya Jion ketika mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Iya. Aku udah lama gak makan bareng papah. Bahkan dari kecil papah jarang sekali makan di rumah. Baru kali ini aku bisa merasakannya lagi!"


"Aku juga jarang makan bareng papahku. Ketika remaja aku lebih senang ngumpul dengan teman-temanku. Papah juga jarang pulang dan lebih sering keluar kota. Ketika ada kamu, itulah pertama kali aku makan bareng lagi dengannya!"


Yuki menatap Jion lekat. Ternyata mereka banyak sekali persamaannya. Sama-sama terbuang dan kesepian.


"Ketika aku melihat kamu seperti melihat diriku sendiri! Apa kita kembaran, ya?" tanya Yuki gak percaya.


Jion tertawa sambil manggut-manggut, "iya-iya. Bisa jadi. Apa perlu kita tes Dna?"

__ADS_1


Kali ini Yuki ikut tertawa. Hatinya merasakan kedamaian bersama Jion. Merasa bersyukur masih bisa melangkah bersamanya. Yuki yakin semuanya akan berjalan lancar selama mereka selalu bersama.


❤❤❤❤❤


__ADS_2