TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
KERAGUAN #2


__ADS_3

Luna teringat pacar Damar yang mempunyai wajah mirip dengannya. Dia ingin tahu apakah Damar masih merindukannya meski gadis itu sudah tiada.


"Meooong ...."


Luna tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara kucing. Dia mencari suara itu dan mengira ada di dalam kamarnya.


"Meoong, meooong."


Suara itu terdengar lagi. Tapi, jelas suara itu berasal dari hapenya.


"Apa itu suara kucing beneran? Apa ada kucing di dalam hotel?" tanya Luna penasaran.


"Boleh, dong. Apalagi kucing itu membawa banyak uang!" jawab Damar sambil menelan ludah. Dia juga merasa aneh karena bersikap seperti anak kecil.


Luna baru sadar kalau suara kucing itu berasal dari mulut Damar dan bukan kucing beneran.


"Tuan Damar! Tolong jangan bercanda. Udah, aah. Aku mau tidur!" ujar Luna ngambek. Padahal dia tahu kalau Damar berusaha menghiburnya.


"Iya-iya. Maaf, aku hanya bercanda. Bagaimana dengan lukamu? Apa benar gak perlu ke dokter?"


Bagaimana Damar tahu soal lukanya? Luna mengira kalau Mang Dayat yang sudah memberitahukan Damar.


"Luka apa? Aku baik-baik aja, kok!" jawab Luna yang gak mau Damar cemas.


"Jangan bertemu Yuki lagi. Aku tahu sifatnya kurang baik!" Damar sedikit emosi jika teringat cerita Mang Dayat soal kelakuan Yuki kepada Luna.


"Aku sudah biasa menghadapinya. Tenang, aja. Aku baik-baik aja, kok!"


"Apa perlu aku menghubunginya? Apa aku harus pulang sekarang juga?"


"Iih, ngapain. Lagian tumben amat perhatian sama aku?" tanya Luna yang merasa aneh dengan sikap Damar yang sangat manis. Biasanya dia selalu kasar dan membuat emosi.


"Memangnya salah aku perhatian dengan calon istriku?" Damar malah balik bertanya.

__ADS_1


Luna terdiam. Dia merasa harus memastikan sesuatu dan menghapus keraguan di hatinya.


"Calon istri? Pacaran aja enggak!" celetuk Luna. Dia sangat penasaran dengan jawaban Damar.


Gak terdengar suara apapun. Mungkin Damar sudah tidur dan membalas kejadian semalam karena Luna tidur duluan.


"Ya, sudah. Ayo, pacaran!"


Deg! Gilak. Damar cepat sekali menjawab rasa ingin tahu Luna. Bukankah dia masih belum move on dari pacarnya?


"Kamu kan sudah punya pacar! Aku dengar kamu pacaran sejak SMA!"


Suasana kembali sunyi. Entah kenapa Luna menyesali ucapannya.


"Maaf, aku cuma dengar gosip aja!" ucap Luna lirih. Bukannya mendengar omongannya, Damar malah hapenya dimatikan. Mungkin Damar marah.


Luna sangat menyesal karena mengungkit kisah cinta Damar. Apalagi pacarnya sudah meninggal. Aakh, Luna! Harusnya kamu jangan mengungkit soal pacarnya Damar!


*****


Semalam Luna sengaja mematikan hapenya. Itu karena takut Damar menelepon dan menanyakan soal ucapan Luna soal pacarnya di SMA. Saat ini, Luna mau konsen pada bisnisnya dulu. Setelah itu siap menerima hukuman dari Damar.


"Bagaimana perasaan kamu, Lun? Apa Nyonya Kamaratih memperlakukanmu dengan baik? Aku dengar dia itu orangnya tegas sedikit ngegas!" Sarah langsung mengikuti Luna ke ruang kerjanya.


Luna santai aja dan langsung duduk di meja kerjanya, "Nyonya Kamaratih orangnya baik bahkan sangat menyayangiku. Beliau langsung menyuruhku memanggilnya mamah!" jawab Luna seraya membuka hapenya. Dia malah lebih fokus ke hape dari pada Sarah.


"Aneh! Kenapa dia bisa berubah dihadapan kamu, Lun? Pasti ada sesuatu!" ujar Sarah curiga.


Luna menatap layar hapenya lekat. Gak ada pesan atau telepon dari Damar. Jadi, Damar memang marah padanya.


"Apa hari ini jadi teken kotrak dengan perusahan luar negeri itu, Kak Sarah? Apa semuanya sudah siap?" Luna beralih kepada bisnisnya.


"Tentu saja sudah siap, Lun. Tapi dia meminta jaminan pabrik kita!"

__ADS_1


Luna mendongak. Kontrak itu gak seperti biasanya.


"Jaminan pabrik? Kenapa mereka meminta itu? Nama perusahaan kita kan sudah cukup apalagi setelah mendapatkan penghargaan kemarin!"


"Itu yang mereka pinta. Katanya, diluar negeri sudah biasa meminta jaminan jika mau bekerja sama. Terserah kamu aja, sih. Kalau gak yakin, kita masih bisa membatalkan kontraknya," jawab Sarah yang melihat keraguan Luna.


"Iya, sih. Kalau terjadi masalah, karyawan pabrik kita yang menjadi korban. Apa semua itu aman, kak?" tanya Luna lagi. Dia masih ragu kalau kontrak itu gak berhasil.


"Kalau terjadi hal buruk, mereka memang akan mengambil pabrik kita. Tapi, karyawan tetap aman dan masih bisa bekerja tapi dibawah perusahaan mereka!"


Luna terdiam. Kali ini, Luna harus memperjuangkan perusahaannya. Setidaknya, mereka gak akan terkena inbasnya jika terjadi hal buruk.


"Oke! Kita lanjut aja, kak. Bismillah, semoga semuanya lancar!" ujar Luna yang memilih tetap melanjutkan kotrak barunya.


"Siap! Aku akan menyiapkan kèperluannya. Nanti siang, kita bisa menandatangani kontrak itu dengan perwakilan perusahaan luarnegeri!"


Sarah langsung keluar ruangan. Tinggal Luna yang masih menunggu telepon dari Damar. Dia melihat Wanya sudah aktif. Tapi, mengapa belum mengirim pesan ya?


*****


Damar sengaja gak menghubungi Luna. Dia tahu, Luna sedang konsen dengan perusahaannya. Damar juga mencoba menyelidiki perusahaan luar negeri yang akan bekerja sama dengan perusahaan Luna.


"Coba kamu selidiki perusahaan Best Denim yang akan bekerjasama dengan Elegan Luna Fashion. Setelah itu laporkan padaku!" perintah Damar kepada sekretarisnya di Jakarta. Damar sendiri belum bisa pulang karena masih ada pekerjaan.


"Baik, pak. Saya juga mendengar kabar miring tentang perusahaan itu. Saya akan menyelidikinya lebih jauh!" jawab Denny, sekretaris grup Santika milik keluarga Wicaksana.


"Oke! Aku akan menunggu kabar secepatnya!"


Damar menutup hapenya. Dia juga merasa curiga dengan perusahaan yang akan bekerjasama dengan Luna. Tapi, sekarang ini Damar gak memiliki bukti apapun.


Sementara itu, Luna dan perwakilan perusahaan Best Denim dari luar negeri sudah siap untuk menandatangani kontrak. Luna memutuskan untuk menjaminkan pabriknya. Berharap semuanya akan berjalan lancar dan perusahaannya semakin maju.


*****

__ADS_1


__ADS_2