
Angela ingin tahu siapa yang ingin bertemu dengannya. Mungkin dari agen atau seorang kawan model. Entahlah! Angela mau gak mau mengikuti polisi yang membawanya ke ruang kecil untuk menerima tamu.
Ketika sampai di dalam ruangan, Angela malah tertegun. Dia melihat seseorang yang pernah mengisi hatinya. Dia adalah Jion.
"Jion?!"
Jion bangkit dari tempat duduknya dan menatap Angel lekat.
"Bagaimana keadaanmu, Angela?"
Akhirnya, Jion menemui Angela juga. Padahal dia gak mau berhubungan dengannya lagi. Karirnya mulai menanjak lagi dan gak mau jatuh untuk kedua kali. Perkataan Luna membuatnya memikirkannya lagi.
"Buat apa kamu menemuiku? Apakah Luna yang meminta?"
Angela tahu kalau Luna pasti akan memberitahu Jion soal dirinya.
"Maafkan aku blom sempat menemuimu. Aku sedang meniti karir lagi di dunia film!"
"Selamat untukmu! Tapi gak ada hubungannya denganku. Apa aku bisa pergi?"
"Aku akan memberikan jaminan agar kamu bisa direhab. Kamu gak pantas berada disini, Angel! Aku tahu usahamu agar bisa jadi model. Semua usahamu akan hancur jika berada di dalam penjara!"
"Aku tahu apa yang akan terjadi pada diriku sendiri. Kamu gak usah susah payah memikirkan aku. Pikirkan aja diri kamu sendiri! Apa sampai sekarang kamu masih terobsesi dengan Luna? Hhmmm, apa kamu tahu kalau dia itu seorang pembunuh?!"
Jion hanya tersenyum tipis, "aku selalu mempercayai Luna. Dia gak akan melakukan hal buruk pada siapapun meskipun sudah menyakitinya. Dia selalu memperlakukanku dengan baik meskipun ada sedikit amarah di hatinya. Aku pun seperti itu. Aku masih menyesali mengapa malam itu bersamamu dan Luna melihatnya. Tapi, buat apa dipikirkan lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Hidup akan selalu berputar. Jangan sia-siakan hidupmu. Aku sudah memberikan surat jaminan di kepolisian tapi gak bisa mendampingimu. Nanti kita akan bertemu lagi dan kamu sudah menjadi dirimu sendiri!"
Angela diam saja. Jion sudah jauh lebih dewasa. Dia melakukan kebaikan meski bisa mencoreng namanya sendiri.
"Baiklah, terima kasih!"
Hanya itu yang bisa dikatakan Angela. Kemudian hatinya kembali berdebar ketika melihat senyuman Jion. Dia pun tersadar kalau masih mencintainya.
Jion sudah berada di dalam mobilnya. Hatinya merasa sangat tenang karena sudah melakukan kebaikan. Ternyata menjadi orang baik itu gampang. Tergantung bagaimana menyikapinya bukan hanya di dalam pikiran saja.
Namun, masih ada yang dipikirkan Jion. Dia teringat beberapa malam yang lalu ketika Yuki sedang mabuk. Yuki mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Dulu papaku mempunyai istri sebelum mamahku. Dia hanya perempuan biasa yang mengurus rumah. Mereka gak mempunyai anak. Kemudian papah menikahi mamahku dan barulah mempunyai anak yaitu aku. Seharusnya aku menjadi bintang utama! Tapi, kenapa papahku malah membenciku? Apa salahku? Aku hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari papahku!" ungkap Yuki ketika sedang mabuk. Sepertinya dia sangat kecewa dengan sikap papahnya.
"Gak ada orang tua yang membenci anaknya. Kamu aja yang berpikiran seperti itu, Yuki!" sahut Jion berusaha menenangkannya.
"Aakh! Persetan. Jelas-jelas aku adalah puteri Tuan Arya! Tapi dia memperlakukanku seperti anak tiri. Malah menperlakukan Luna seperti puterinya sendiri! Apa kamu tahu? Mamahku juga diperlakukan sama seperti aku. Papah selalu meninggalkannya dan hanya menemani istri tuanya. Apalagi setelah istrinya meninggal dibunuh perampok. Papahku malah gak pernah menemui mamahku lagi!"
"Dibunuh? Apa pelakunya sudah tertangkap?"
__ADS_1
"Sampai kapanpun gak akan pernah tertangkap. Kamu tahu gak? Mamahku yang merencanakan pembunuhan itu!"
Deg! Jion sangat terkejut mendengar pengakuan Yuki. Apakah mamahnya bisa melakukan perbuatan sadis itu? Bahkan Jion sampai gemetar ketika mendengarnya.
*****
Menjelang sore, Luna sudah keluar dari kantor polisi. Dia sangat bersyukur dan senang bisa menghirup udara dengan bebas lagi.
Tapi, ada sesuatu yang harus dia lakukan secepatnya.
"Aku harus menemui Tuan Arya!"
Damar terkejut mendengar perkataan Luna. Padahal dia baru saja keluar dari penjara.
"Apa? Astaga, Luna. Jangan hari ini! Lebih baik pulanglah dulu. Mamahmu pasti sangat mengkhawatirkanmu!" cetus Damar.
"Tapi aku mau mengucapkan terima kasih. Dia sudah sangat baik padaku!" sahut Luna.
"Aku juga sangat baik padamu. Jadi, mulai sekarang kamu harus mendengarkan aku. Lagipula dalam waktu dekat aku akan menagih janjimu!"
Luna menoleh dan menatap Damar yang sedang menyetir.
"Janji apa?"
Damar menarik napas panjang, "tentu aja janji untuk menikah denganku!"
"Lunaaa!" lagi-lagi Damar harus menahan perasaannya. Dia pun segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.
"Kenapa berhenti di sini?"
Damar terdiam. Dia gak bisa menahan perasaannya lagi.
"Aku sangat merindukan kamu, sayang!" ucapnya sambil memepet Luna.
Spontan Luna melotot. Dia ingin melakukan hal yang sama seperti dulu dan bersiap mengangkat kakinya tinggi-tinggi.
Tapi, Damar sudah mengetahui kebiasaan Luna. Dia pun menahan kaki Luna dengan tangannya.
"Tidak kali ini, sayang. Aku gak akan menyerah!" ujar Damar dan mulai bersiap mencium Luna.
Luna gak bisa berbuat apa-apa lagi dan pasrah. Dia hanya menutup mata dan siap menerima kecupan Damar.
Tiba-tiba, ada seseorang yang mengetuk jendela mobil. Keduanya pun sangat terkejut dan kembali ke posisi awal.
__ADS_1
Damar menoleh dan melihat seorang anak kecil berdiri di samping mobil.
"Ada apa, dek?"
"Saya menjual souvenir, om. Ada cincin, kalung dan lain-lain!"
Oalaah! Ternyata anak kecil itu hanya tukang jualan.
"Kamu mau, Luna?" tanya Damar.
Luna yang merasa kasihan segera mengangguk.
"Boleh aku lihat cincinnya?"
Anak kecil itu memberikan sebuah cincin bertahtakan berlian merah muda.
"Cobalah!" Damar memberikannya kepada Luna.
"Pas dan cantik sekali!" ujar Luna setelah memakai cincin itu di jari manisnya.
"Oke! Aku ambil ini aja," ucap Damar sambil menyodorkan uang selembar seratus ribuan.
"Maaf, om. Saya gak punya kembaliannya!" ucap anak kecil itu setelah memeriksa uang di dalam kantongnya.
"Ya sudah, bawa aja!" seru Damar.
"Benarkah, om?" tanya anak kecil itu gak percaya.
"Iya. Tapi jangan dibelikan macam-macam, ya!"
"Siap, om!" Anak kecil itu pun pergi dengan senyuman lebar. Baru kali ini, dia memegang uang sebesar itu.
Gak sadar, Damar pun ikut tersenyum melihat anak kecil itu.
Tiba-tiba, sebuah kecupan mendarat di pipi Damar dan membuatnya sangat terkejut.
"Apa itu?!"
Damar menatap Luna dengan wajah kebingungan.
"Hadiah!" jawab Luna singkat dengan muka yang memerah.
"Aku gak mau hadiah seperti itu. Aku mau yang ....."
__ADS_1
Teeeet! Ada sensor. Entah apa yang terjadi dengan mereka barusan. Beberapa saat kemudian wajah keduanya memerah seperti tomat!
❤❤❤❤❤