
Luna kembali mendampingi Mamah Damar di rumah sakit, meski hatinya selalu saja bergemuruh. Dia selalu berharap masih ada waktu agar Damar bisa menemui mamahnya.
"Terima kasih, Luna Sayang. Maafkan mamah sudah membuatmu sedih!" ucap Mamah Damar yang melihat Luna sedikit melow.
"Gak apa-apa kok, mah. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk mamah!" sahut Luna sambil memeluk Mamah Damar. Dia berusaha menahan airmatanya agar tidak tumpah.
Nyonya Kamaratih tersenyum tipis sebelum perawat membawanya masuk ke ruang kemoterapi.
Luna berusaha tetap kuat. Namun begitu Mamah Damar sudah tidak kelihatan, airmatanya pun tumpah.
Dayat juga ada di sana. Dia juga tidak tahu harus bagaimana. Hatinya juga gak menentu. Meski dulu berniat untuk pergi, namun kini berharap selalu ada bersamanya.
Tiba-tiba, hape Dayat berdering. Wajahnya berubah ketika mengetahui siapa yang menghubunginya. Dia pun menjauh dari Luna.
Kini, Luna tinggal sendirian. Dia hanya bisa menggenggam tangannya yang dingin dengan erat. Seharusnya Damar ada di dekatnya. Mereka bisa saling menguatkan.
Sebuah bayangan muncul dan langsung duduk di samping Luna. Mungkin dia adalah Dayat.
"Siapa yang menelpon? Rani atau Damar?" tanya Luna sambil menghapus air matanya.
Tidak ada jawaban. Luna pun mendongak. Matanya langsung terbelalak ketika menyadari siapa yang ada di sebelahnya.
"Da-damar?"
Damar tersenyum. Dia sengaja datang tanpa memberitahu Luna.
"Iya, Sayang. Ini aku!"
Luna langsung menghambur ke pelukan Damar. Meski begitu airmatanya malah kembali mengalir. Menumpahkan semua kesedihannya ke dalam pelukan Damar.
Dayat hanya bisa menarik napas panjang. Tadi dia menerima telpon dari Damar yang ternyata sudah ada di sana. Dayat menjemputnya di lobby dan membawanya ke ruangan itu. Sekarang Dayat membiarkan Damar bersama Luna. Sementara dia memilih menunggu di tempat lain.
"Terima kasih, Sayang. Maafkan aku menyusahkanmu untuk menjaga mamahku!" bisik Damar. Matanya juga basah.
Luna menggeleng dan menyeka airmatanya. Sebuah senyuman mengembang. Hatinya terasa tenang karena Damar sudah ada di depannya.
"Tidak, Sayang. Aku gak merasa disusahkan. Aku hanya berharap kamu bisa bertemu dengan mamah secepatnya!"
"Iya. Setelah surat-suratnya selesai aku langsung kesini!"
"Syukurlah semuanya berjalan lancar!"
__ADS_1
Damar mengangguk dan menggenggam tangan Luna erat. Dia juga sangat senang sudah bisa berada di sana.
Gak lama kemudian, pintu ruang terapi di buka dan Mamah Damar muncul sambil di dorong perawat.
Damar gemetar melihat keadaan mamahnya yang sudah tidak memiliki rambut. Wajahnya juga tidak bersinar seperti dulu dan matanya pun meredup. Sosok tegar itu kini tak sekeras dulu.
"Mamah ..., ini Damar, mah!" ucap Damar lembut.
Mamah Damar mengangguk pelan, kemudian memejamkan mata.
"Apa yang terjadi dengan mamah? Kenapa lemah sekali?" tanya Damar yang cemas melihat mamahnya seperti itu.
"Memang seperti itu setelah terapi. Mamah belum sadar sepenuhnya!" sahut Luna.
Dayat segera mendekati mereka. Dia juga kelihatan sangat cemas.
"Saya akan membawa nyonya ke kamar. Tuan istirahat aja dulu!" ucap Dayat yang mendampingi perawat.
"Tunggu! Aku juga akan mendampingi mamah!" ucap Damar yang langsung berlari ke sisi ranjang sebelahnya.
Luna tertegun melihat Damar dan Dayat yang mendampingi Nyonya Kamaratih. Keduanya sama-sama cemas. Sudah pasti, mereka adalah bersaudara!
Beberapa lama kemudian, Nyonya Kamaratih membuka mata ketika sudah berada di ruang rawat inap. Dia sangat senang Damar sudah berada di depannya. Ada sesuatu yang harus dia sampaikan saat itu juga.
"Mamah, bagaimana keadaan mamah?" tanya Damar penuh kecemasan. Meskipun dia pernah bersitegang dengan mamahnya dulu namun sekarang dia sangat memerhatikan kondisi mamahnya.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana pekerjaanmu? Apa sudah beres semuanya? Mamah gak mau kamu meninggalkan pekerjaan hanya demi mamah!"
Nyonya Kamaratih masih saja mengkhawatirkan soal pekerjaan Damar.
"Mamah tenang aja. Semuanya berjalan lancar, kok!" jawab Damar setenang mungkin.
Dayat terdiam mendengar perkataan Damar. Padahal telah terjadi hal penting di perusahaan dan dia juga baru mengetahuinya dari Nona Luna.
"Baiklah! Kalian sudah berkumpul disini. Kamu dan Dayat adalah orang terpenting dalam hidup mamah. Kalau sampai mamah pergi menghadap yang kuasa, kalian harus saling menjaga!"
Damar menoleh ke arah Dayat setelah mendengar perkataan mamahnya. Mengapa mamahnya menyebut nama Dayat?
"Baik, mah. Mang Dayat pasti selalu ada disampingku. Iya kan, mang?"
"Oh iya, Tuan!" sahut Dayat sigap.
__ADS_1
Nyonya Kamaratih tersenyum melihat keduanya sangat akrab. Kini saatnya mengungkapkan rahasia yang sudah lama disimpannya.
"Ketahuilah, Damar! Sebenarnya Dayat adalah saudaramu. Kalian adalah bersaudara," ungkap Nyonya Kamaratih lirih.
Deg! Damar tertegun. Apa dia gak salah dengar?
"Apa maksud mamah? Mang Dayat saudaraku?" tanya Damar penasaran.
Nyonya Kamaratih mengangguk pelan.
"Iya, Damar. Dayat adalah kakakmu. Dia adalah putera mamah dari pernikahan sebelum dengan papahmu. Selama ini Dayat tidak mau mengungkapkan siapa dirinya karena takut kamu gak merasa nyaman!"
Damar kembali menoleh ke arah Dayat yang hanya tertunduk. Anehnya Luna tidak terlihat kaget mendengar rahasia itu. Apa Luna sudah mengetahuinya juga?
Damar menenangkan dirinya di luar ruang rawat inap mamahnya. Dia memang curiga dengan sikap mamahnya kepada Dayat selama ini. Hal pribadi mamahnya selalu diselesaikan Dayat. Bahkan Damar tidak diberitahu secara terbuka.
"Minumlah dulu. Aku tahu kamu sangat lelah dari bandara langsung kesini!" ucap Luna sambil menyodorkan sebotol minuman.
Dayat mendongak dan menatap Luna lekat. Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan.
"Apa kamu tahu soal Mang Dayat?"
Luna menggeleng, "aku tidak tahu kalau Mang Dayat adalah putera mamahmu juga. Tapi aku sudah merasakannya sejak awal kami bertemu. Mang Dayat selalu ada di sisi mamahmu. Perhatiannya lebih sekedar kepada majikan. Semakin kesini aku menyadari banyak kemiripan kamu dengan Mang Dayat!" jelas Luna. Dulu dia memilih diam karena gak mau mencampuri urusan keluarga Damar. Meskipun melihat banyak keanehan yang terjadi antara Mang Dayat dan Nyonya Kamaratih.
"Aku juga merasa seperti itu. Makanya aku mengajak Mang Dayat bekerja di kantor. Ternyata firasatku benar. Dia adalah kakakku!"
Luna mengelus bahu Damar lembut, "apapun yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kamu sekarang punya saudara yang bisa diandalkan. Jangan salahkan Mang Dayat! Dia malah yang paling menderita karena menjadi seorang asisten padahal dia adalah putera Nyonya Kamaratih juga!"
Damar mengangguk. Bahkan sampai sekarang Dayat selalu mengurus mamahnya dengan penuh perhatian. Setidaknya Damar tidak merasa sendirian lagi!
Damar menggenggam tangan Luna erat, "terima kasih sudah berada di sisiku, Sayang!" ucap Damar yang sangat senang dengan kehadiran Luna. Dia bisa melalui semuanya lebih ringan karena kehadirannya.
Sementara itu, seorang perempuan tengah berjalan mendekati Damar dan Luna dengan penuh percaya diri. Wajahnya sangat cantik dan bersinar dan penampilan bak seorang model. Anehnya, dia mirip dengan Luna!
"Selamat siang!" ucap perempuan itu lembut.
Damar menoleh ke arah perempuan itu begitu juga Luna. Sedetik kemudian keduanya malah bengong. Wajah perempuan itu sangat mirip dengan Luna.
"Selamat siang, Damar!" ucap perempuan itu sekali lagi dengan senyuman menawan.
Damar belum sadar benar namun mengenali siapa perempuan itu. Tetapi dia sudah meninggal sejak lama!
__ADS_1
😱😱😱😱😱