TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
JINAK MERPATI #1


__ADS_3

Malam semakin larut. Luna gak bisa memejamkan matanya. Apalagi, rangkaian bunga yang diberikan Damar menghias pojok kamarnya. Aakh! Mengapa mamanya meletakan bunga itu di sini?


Gadis itu pun bangkit dari tempat tidurnya dan berniat memindahkan rangkaian bunga itu ke ruang tamu atau dapur. Di mana aja yang penting bukan di kamarnya.


Baru aja Luna menurunkan kakinya dari ranjang, ada pesan masuk di hapenya. Siapa yang mengiriminya pesan malam-malam? Luna melirik jam dinding. Sudah jam setengah sebelas.


-- Aku menunggumu dibawah! --


Luna tercengang. Itu adalah pesan dari Ceo yang menyebalkan! Ngapain dia kesini malam-malam? Gerutu Luna dalam hati.


Dia pun berjalan ke arah jendela dan membuka tirai. Ternyata benar! Damar melambaikan tangan ketika melihatnya di jendela. Gilak! Bocah ingusan gak tahu waktu. Ini kan sudah malam!


Luna enggan menemuinya. Apalagi wajahnya sudah tanpa make-up. Pasti kelihatan seperti tante-tante kalau disamping Damar.


-- Ngapain ke sini? Aku mau tidur! -- Jawab Luna dari hapenya.


-- Sebentar aja! Aku tahu besok kamu libur. Atau aku akan mengetuk pintu dan membangunkan mamamu! -- Ancam Damar.


Luna melotot. Bocah ingusan itu benar-benar menjengkelkan. Mau gak mau dia harus menemuinya. Luna segera mengambil sweeter dan masker untuk menutupi wajahnya yang polos.


Dengan mengendap-endap Luna keluar dari rumahnya. Berharap mama dan adiknya gak bangun. Baru saja, Luna akan membuka pintu depan. Tiba-tiba lampu menyala.


"Nah! Kakak mau kemana malem-malem begini?"


Ternyata Luky, adiknya Luna masih belum tidur. Dia memang biasa tidur malam karena mengerjakan tugas sekolah.


"Sssttt! Nanti mama bangun. Kakak mau keluar sebentar!" bisik Luna.


"Boleh-boleh! Asal bawain makanan, ya. Aku lapar, nih!" sahut Luky sambil memegang perutnya.

__ADS_1


'Lihat aja nanti, cuman sebentar aja kok!" ucap Luna lagi yang langsung menyelinap keluar pintu.


Sebenarnya, Luky sempat melihat ada laki-laki di depan rumahnya. Dia mengira kalau orang itu adalah maling. Tapi ketika melihat kakaknya mengendap-endap dari kamarnya, Luky mengetahui apa yang terjadi.


Damar tersenyum begitu melihat Luna muncul dengan setelan sweeter dan masker yang menutupi wajahnya. Penampilannya sangat berbeda dari biasanya.


"Ngapain malam-malam kesini?!" tanya Luna langsung sambil bertolak pinggang.


"Ikutlah denganku!" jawab Damar sambil menyodorkan helm.


"Ngapain aku harus ikut denganmu? Malam begini juga!" ungkap Luna lagi.


"Sudahlah, ikut aja!" Damar menyalakan sepeda motornya.


Luna tertegun. Dia baru tahu kalau Ceo masih mau naik sepeda motor. Entah mengapa Luna seperti dihipnotis dan langsung naik ke belakang Damar.


"Sebenarnya kita mau kemana, sih?" tanya Luna ketika diperjalanan.


"Kita mau kemana?" teriak Luna lagi tepat di telinga Damar.


Kali ini, Damar bisa mendengarnya dengan jelas.


"Lihat aja nanti!" jawab Damar singkat.


Luna semakin kesal dengan jawaban Damar. Dia sangat menyesal karena mau aja ikut dengannya.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah yang sangat besar dengan halaman yang luas. Berbagai mobil mewah berjejer rapi di garasi. Tapi, mengapa Damar malahan membawa sepeda motor.


Seorang laki-laki menyambut mereka. Luna mengenalinya karrna pernah bertemu di rumah sakit.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mama, mang?" tanya Damar sambil menyerahkan helmnya kepada laki-laki itu.


"Masih terbaring di tempat tidur, tuan. Sepertinya masih menunggu tuan datang!" jawab laki-laki yang dipanggil Damar dengan sebutan mamang itu.


"Ya, sudah. Kami mau menemui mama sekarang juga!"


Luna sedikit mencerna percakapan mereka. Sepertinya mamanya Damar sakit lagi.


"Ayolah, ikut denganku!" ajak Damar tanpa menunggu jawaban Luna.


Luna juga gak bertanya apa-apa lagi dan menuruti perkataan Damar. Dia khawatir kalau mamanya benar-benar sakit.


Luna terpesona dengan kemewahan rumah Damar yang lebih mirip dengan hotel bintang lima. Namun, bulu kuduknya merinding ketika hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Damar ketika Luna menghentikan langkahnya.


Tiba-tiba, Luna merasa ragu. Untuk itulah dia berhenti. Hatinya menjadi ciut jika nanti benar akan menikah dengan Damar.


"Bagaimana kalau mamamu dibawa ke rumah sakit aja. Aku mau menemaninya kalau di sana," ucap Luna dengan sedikit gemetar.


"Memang kenapa dengan rumah ini?"


"Aku kurang nyaman di sini," jawab Luna mencari alasan.


Damar menarik napas panjang kemudian menarik ujung baju Luna. Membuat gadis itu terkejut.


"Jangan berpikiran yang gak-gak. Di sini gak ada hantu kok!" celetuk Damar yang bisa membaca pikiran Luna.


"Eeeh! Aku bisa jalan sendiri kok," ujar Luna dengan langkah terseret.

__ADS_1


Damar cuek aja. Sikap seperti itu yang membuat Luna kurang menyukainya. Damar selalu bertindak semaunya sendiri!


❤❤❤❤❤


__ADS_2