
Damar gak bisa mengungkapkan isi hatinya ketika bertemu dengan Luna. Hanya dadanya saja yang berdegup kencang. Berharap segera menikah dengan Luna dan cepat memilikinya.
"Damar! Mamah mau bicara!"
Nyonya kamaratih sudah menunggu Damar di depan rumahnya. Dia baru mendengar sesuatu yang gak bisa dipercaya.
"Ada apa sih, mah? Aku capek!" ungkap Damar yang selalu menghindar jika bicara berdua dengan mamahnya. Selalu saja ada pembicaraan yang berseberangan diantara mereka.
"Apa kamu mau menempatkan Dayat di perusahaan? Kamu tahu siapa dia kan? Pendidikannya hanya SMA. Mana mungkin bisa menghandle pekerjaanmu!" ungkap Nyonya Kamaratih tanpa basa basi.
"Mang Dayat bisa kok, mah. Aku malah senang ada dia. Aku kan sibuk menyiapkan acara pertunanganku!" jawab Damar santai. Dia sangat tahu sifat mamahnya.
"Tapi, kamu harus memikirkan resikonya. Beberapa direktur cabang menanyakannya kepada mamah. Dayat itu cuma sopir. Mereka merasa direndahkan kalau semeja dengannya!" lanjut Nyonya Kamaratih. Dia senang Damar memperlakukan Dayat dengan baik. Tapi jangan terlalu mencolok.
"Mang Dayat bukan sekedar seorang sopir. Mamah sangat tahu siapa dia sebenarnya!"
Nyonya kamaratih terdiam mendengar perkataan Damar. Apa dia tahu siapa Dayat sebenarnya?
"Apa maksudmu, Damar? Memangnya siapa Dayat itu? Dia bukan siapa-siapa!"
Damar menatap tajam mamahnya. Bukan itu yang ingin didengar Damar.
"Mamah sangat tahu apa yang aku maksud!"
Damar memutuskan meninggalkan mamahnya. Dia ingin mendengar mamahnya mengatakan siapa Dayat sebenarnya. Namun, mamahnya berkeras menyembunyikannya.
Nyonya Kamaratih hanya diam saja. Kesunyian membuat napasnya sesak. Dia mencari oksigen kecil yang selalu dibawa. Namun, gak bisa ditemukan juga. Sementara napasnya semakin sesak. Apakah dia akan mati?
Tiba-tiba, terdengar suara langkah mendekatinya. Damar pasti balik lagi karena mencemaskannya. Nyonya Kamaratih menoleh.
"Dayat?" ucapnya ketika melihat siapa yang datang.
"Ini oksigennya, nyonya!" ucap Dayat sambil menyerahkan benda kecil berisi oksigen.
Nyonya Kamaratih segera mengambil alat yang diberikan Dayat. Napasnya lebih ringan setelah menghisap oksigen itu.
__ADS_1
"Apa kamu mendengar pembicaraan aku dengan Damar tadi?" tanya Nyonya Kamaratih setelah lebih tenang.
"Nyonya tenang aja. Saya tetap memegang janji. Setelah Tuan Damar menikah, saya tetap mau pulang kampung!" jelas Dayat.
"Apa kamu nyaman bekerja di kantor Damar. Aku hanya cemas karena banyak yang komplain dengan kehadiranmu!"
Dayat tersenyum tipis, "saya tahu posisi saya. Nyonya gak perlu khawatir! Sekarang udah malam. Sebaiknya Nyonya istirahat!"
Dayat mendorong kursi roda Nyonya Kamaratih tanpa diminta. Dia sangat tahu kondisi kesehatannya yang sengaja ditutupi dari Damar.
-- Setahun yang lalu di rumah sakit --
"Jangan katakan apapun kepada Damar soal kesehatanku! Aku gak mau membuatnya khawatir!"
"Tapi, nyonya. Dokter menyarankan nyonya mendapatkan perawatan kesehatan lebih mendetail. Jantung nyonya sangat lemah dan harus istirahat total!" ungkap Dayat yang mencemaskan keadaan ibunya.
"Aku bisa istirahat di rumah. Suruh aja dokter memeriksaku, tapi jangan di rumah sakit. Damar akan khawatir kalau aku bolak balik ke rumah sakit. Dia pasti tahu kondisiku!"
Dayat gak bisa mengatakan apa-apa lagi. Nyonya Kamaratih tetap berkeras dirawat di rumah.
Setahun telah berlalu. Nyonya kamaratih semakin lemah dan harus berada di atas kursi roda setiap saat.
*****
Damar gak bisa tidur juga meski sudah memejamkan mata. Perkataan mamahnya tadi masih aja terngiang di telinganya. Ada satu cara agar bisa membuatnya cepat terlelap. Damar pun mengambil hape dan menghubungi seseorang. Dia adalah Luna, pujaan hatinya.
Luna sedang memakai masker ketika hapenya bunyi. Dia melirik siapa yang sudah menghubunginya. Waduh! Gimana ini? Wajahnya sedang gak berbentuk, hanya matanya aja yang kelihatan.
"Ada apa? Aku gak bisa vc!" pesan Luna.
"Kenapa? Aku kangen!" jawab Damar dari pesan hape.
"Pokoknya gak bisa! Aku mau tidur. Sudah malam juga!" sahut Luna lagi.
"Sebentar aja! Aku gak bisa tidur. Please ..." pinta Damar sambil mengirim emot memelas.
__ADS_1
Luna gak tega juga mengetahui Damar memelas seperti itu.
"Ya, udah. Tapi jangan kaget, ya!"
Luna menutup pesan dan membuka layar vc. Damar segera membukanya ketika Luna menghubunginya.
"Astaga, Luna?! Kamu lagi ngapain?"
Bukannya melihat wajah cantik Luna, Damar malah melihatnya sedang memakai masker seperti topeng.
"Kan sudah aku bilangin. Kamu aja yang bandel! Sekarang mau apa?"
Damar tersenyum juga karena sudah melihat pujaan hatinya secara langsung.
"Gak apa-apa, kok. Yang penting kangenku hilang. Tapi aku mau kiss night dulu biar bisa tidur nyenyak!"
Hadeh, Damar! Bikin masalah aja udah malem juga!
"Gimana kamu bisa tidur kalau mukaku kayak gini? Bisa-bisa kamu malah mimpi buruk!" celetuk Luna.
Bener juga apa yang dikatakan Luna. Damar malah mimpi buruk kalau wajah bertopeng itu yang muncul di mimpinya.
"Ayo dong, sayang. Kissnya sekali juga boleh!" pinta Damar yang masih kekeh.
"Ya sudah! Tapi aku gak tanggung jawab kalau kamu mimpi buruk, ya!"
Luna mendekatkan hapenya dan memberikan sebuah kecupan. Dia gak bisa membayangkan apa yang dilihat Damar di layar hapenya.
Muaaaach ....
Akhirnya sebuah kecupan mendarat juga ke hape Damar.
Damar gak tahu apakah harus tertawa atau ketakutan. Saat ini Luna mirip tokoh antagonis di dalam film.
"Makasih, sayang. Seperti apapun dirimu, aku akan selalu mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Setelah ini aku pasti akan tidur nyenyak dan memimpikan kamu. Apa kamu tahu seperti apa perasaanku sekarang?" tanya Damar yang ingin sekali mengungkapkan semua isi hatinya kepada Luna.
__ADS_1
Namun, gak ada jawaban dari Luna. Layar hapenya juga dipenuhi dengan motif sprei. Gak lama terdengar suara dengkuran. Apa Luna sudah ketiduran? Damar hanya tersenyum dan mendekap hape setelah mematikannya. Sudah saatnya tidur!
❤❤❤❤❤