TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
HATIKU ADALAH MILIKMU #3


__ADS_3

Luna melotot begitu melihat posisi Damar yang siap untuk dipeluk.


"Jangan macem-macem, Damar! Tuh diliatin orang," ucap Luna ketika dua orang lewat dan menertawakan Damar.


"Ya, sudah. Aku juga pegal kalau kelamaan!" ungkap Damar yang menggerakan tangannya siap menerkam Luna.


"Damaar! Jangan bikin aku marah, ya!" teriak Luna seraya menaikan kakinya siap menendang Damar.


Damar terdiam. Sekali lagi usahanya gagal. Namun, akhirnya dia tahu kalau Luna bukanlah perempuan gampangan. Meski sudah dijanjikan proyek olehnya Luna gak berubah.


"Iya, iya! Aku kan cuma bercanda," ujar Damar sambil tertawa.


Luna yang sudah panas dingin tambah sewot dengan kelakuan Damar.


"Aku ini pegang ban merah di taekwondo tahu! Kamu mau ngerasain?" tantang Luna.


Damar semakin tertawa kencang, "iya, aku ngaku kalah!" katanya sambil menghidupkan mobilnya lagi.


Luna kembali kepada posisinya semula. Walau bagaimanapun, dia gak mau terlalu dekat dengan Damar. Wajah kekasihnya yang sudah meninggal selalu terbayang.


"Apa kamu selalu begitu kalau sama pacarmu dulu?" tanya Luna penasaran.


Damar mengerutkan keningnya. Tentu saja, Damar gak akan segila itu. Damar hanya berani memandangi Anna saja tanpa menyentuhnya meski seujung jari.


"Tentu saja, gak mungkin seperti ini. Entahlah aku kena virus apa? Kamu harus bertanggung jawab karena sudah menularkannya padaku!" jelas Damar.


Lagi-lagi, ucapan Damar membakar emosi Luna. Tapi, Luna malah pura-pura tertidur. Padahal hatinya masih saja panas.


Luna kembali membayangkan pacar Damar. Tentu saja, Damar gak akan melakukan hal gila itu kepada pacarnya yang dulu. Gadis itu sepertinya orang yang lembut dan sopan. Senyumnya juga sangat manis. Mungkin senyum itu yang membuat Damar jatuh cinta kepadanya.


"Pasti pacarmu cantik sekali, kan?" gumam Luna.


Damar terdiam. Dia gak begitu mendengar ucapan Luna.


"Apa? Kamu ngelindur, ya?"


Luna langsung melotot begitu mendengar ucapan Damar.

__ADS_1


"Aku mau mampir ke toko kue dulu. Aku mau beli cake!" ucap Luna sembarang.


"Buat siapa? Aku dan mamaku gak suka makan kue!"


"Buat Mang Dayat!" jawab Luna. Sebenarnya, dia sempat mendengar kalau hari ini adalah ulang tahunnya.


"Kenapa kamu mau membelikannya kue? Aku jadi cemburu!" Damar langsung memasang mulut manyun.


Luna pengen tertawa geli, ternyata Damar bisa pose unyu juga, "sebenarnya kamu berapa lama sih mengenal Mang Dayat?"


"Entahlah! Ketika aku selesai kuliah, Mang Dayat sudah ada. Katanya sih, dia anaknya pegawai yang merawat kebun!"


"Apa kamu gak tahu kalau hari ini Mang Dayat sedang berulang tahun?"


"Ulang tahun? Apa iya? Kenapa aku gak tahu?"


"Gak tahulah! Kamu juga sih, terlalu sibuk sampai gak tahu!" sahut Luna.


Damar tersenyum. Ternyata, Luna perhatian juga kepada siapapun meski Mang dayat baru saja dikenalnya. Sepertinya, Damar semakin menyukai Luna.


*****


Gak begitu lama, Bik Narsih datang. Rani bisa bernapas lega.


"Maaf, bibik mampir ke dokter dulu. Kaki bibi sering sakit ternyata asam urat bibi naik!" terang Bik Narsih. Dia sempat tersenyum kepada Agung yang ternyata sudah ada di kedainya.


"Iya, bik. Makanya bibik jangan terlalu capek. Carilah pegawai satu lagi yang bisa membawa barang belanjaan. Maaf, bik. Saya harus kembali ke tempat kerja!" ungkap Rani yang merasa gak nyaman karena pembeli bernama Agung.


"Eeh, mau kemana? Itu ada Mas Agung. Apa kalian sudah bicara?" cegah Bik Narsih yang langsung menarik tangan Rani.


"Sudah, bik. Tadi atasan Rani telepon katanya ada keperluan mendadak!" jawab Rani berbohong. Sebenarnya dia hanya mencari alasan untuk pergi.


"Tunggu sebentar. Biar Mas Agung yang mengantarmu pulang. Biasanya dia bawa mobil!" Bik Narsih langsung mendekati Agung. Mereka bicara sebentar.


Haduh! Rani gak bisa kabur lagi. Bik Narsih sepertinya sangat ingin menjodohkan Rani dengan pelanggannya itu.


"Maaf, bik. Saya harus pergi. Nanti saya telpon, ya! Permisi ...."

__ADS_1


Rani langsung mencium tangan Bik Narsih sebelum pergi.


.


"Kamu hati-hati kerjanya. Jangan terlalu diporsir!"


"Iya, bik!" ucap Rani. Sebelum pergi dia sempat tersenyum kepada Agung. Laki-laki itu pun membalas senyuman Rani.


Akhirnya Rani merasa lega bisa keluar dari kedai bibiknya. Andai saja gak ada Agung, Rani berniat untuk menginap. Sekarang, dia harus pergi kemana lagi. Acara di rumah Nyonya Kamaratih pasti belum selesai.


Setelah menunggu lama, pesanan ojol Rani gak datang juga. Dia baru menyesal karena gak punya kendaraan pribadi. Setidaknya sebuah motor. Baru saja Rani akan menelpon ojolnya eeh malah di cancel. Membuat Rani jadi tambah bad mood!


Tiba-tiba sebuah mobil sedan berhenti di depan Rani. Ketika kaca mobil dibuka ternyata pengemudinya adalah Agung.


"Apa kamu mau aku antar? Tapi aku mau mampir ke sekolah dulu!" tanya Agung sedikit ragu. Makanya dia gak terlalu menggebu ingin mengantar Rani. Dia masih punya urusan lain.


"Ke sekolah? Apa Mas mau mengajar?" Rani ingin tahu apa keperluan Agung ke sekolah. Masa sih penampilan seperti itu mau mengajar? Aakh, Rani ....


Agung tertawa kecil, "bukan! Emangnya aku ada tampang guru? Aku mau jemput anakku yang pertama. Sekarang sudah kelas dua Sekolah dasar!" terang Agung tanpa malu kalau sudah mempunyai anak.


Entah mengapa, sesaat kemudian Rani sudah berada di dalam mobil bersama seorang laki-laki yang baru dikenalnya. Biasanya, Rani gak gampang akrab dengan siapapun. Pikiran dan hatinya sudah terbiasa bekerja seperti di kantornya.


*****


Luna sudah selesai membeli cake ulang tahun buat Mang Dayat. Tinggal mencari buah tangan buat mamanya Damar.


"Aku mau beli buah dulu buat mamah!" celetuk Luna setelah keluar dari toko kue.


"Buat apa? Sekarang ini makanan mamah sangat terjaga. Sudahlah! Gak usah bawa apa-apa," ucap Damar yang gak mau merepotkan Luna.


"Tentu aja tetap harus bawa, dong. Ini kan acara keluarga. Lagi pula, nanti kamu bisa memakannya. Iya, kan?" tanya Luna sambil melotot.


Kalau sudah begitu Damar terpaksa menuruti kemauan Luna, "oke! Berarti aku akan memilih buah yang aku suka aja, ya!" jawab Damar yang langsung semangat.


Jiaaah! Masa sih Ceo perusahaan terkenal seperti itu. Kayak anak kecil yang dijanjikan membeli permen. Luna cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah laku Damar.


*****

__ADS_1


__ADS_2