
Luna mulai gelisah karena Damar belum kembali juga. Dia pasti bertemu dengan Anna dan berbicara dengannya. Luna mulai meragukan dengan keyakinannya. Damar bisa saja goyah.
"Aku mau menyusul Damar, kak. Kenapa lama sekali dia baliknya?" ucap Luna sambil melangkah pergi.
"Baiklah, non!" sahut Dayat. Dia tahu kalau Luna masih mencemaskan Damar. Pasti ada alasan kuat mengapa Luna kembali.
Luna yakin kalau Damar pasti bertemu Anna. Benar aja perkiraannya. Luna hanya tertegun begitu melihat Damar sedang menggendong Anna. Apa yang terjadi dengan Anna?
Melihat sikap Damar yang kelihatan sangat cemas, Luna gak berani menegurnya. Dia hanya mencari kopernya yang dilihatnya ada di pojokan. Entah apa yang terjadi pada Anna? Luna tidak ingin tahu!
Gak lama kemudian, Luna sudah kembali lagi di depan ruang ICU.
"Kemana Damar?" tanya Dayat yang heran melihat Luna sendirian.
"Sepertinya sudah terjadi sesuatu dengan Anna. Aku melihat Damar sedang menggendongnya ke ruang UGD!" jawab Luna sambil terduduk lemas. Hatinya masih bergemuruh, apalagi tadi melihat Damar menggendong Anna.
Dayat gak berniat bertanya lebih jauh lagi. Luna pasti masih sangat bingung melihat Damar bersama Anna.
*****
Damar segera membawa Anna ke ruang UGD. Dia sangat cemas karena Anna gak sadar juga. Gak lama kemudian dokter menanganinya. Dia adalah dokter Han, suami Anna yang sangat khawatir.
Dokter Han baru bertemu dengan Damar pertama kalinya. Dia pernah mendengar cerita Anna tentang hubungannya dengan Damar. Cinta mereka dipisahkan oleh Mamah Damar karena Anna yang penyakitan. Namun, dokter Han sadar kalau Anna masih mencintai Damar.
Anna membuka mata dan melihat Damar duduk di samping ranjangnya. Dia berusaha mengingat apa yang sudah terjadi. Waktu itu mereka sedang bicara kemudian Damar akan meninggalkannya. Setelah itu, Anna gak ingat lagi.
"Kamu sudah sadar? Aku akan panggil dokter, ya!" ucap Damar yang berniat pergi.
"Gak usah, Damar. Aku baik-baik aja, kok!" sahut Anna yang berusaha untuk duduk.
__ADS_1
"Jangan, Anna. Istirahatlah dulu! Aku akan keluar sebentar," Damar bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk melangkah pergi. Namun niatnya itu batal karena Anna menarik tangannya.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Damar," ucap Anna lirih. Matanya mulai basah kemudian sebutir air mata menetes di pipinya.
Damar tertegun. Dia gak tahu harus berbuat apa. Rasa bersalah karena mamahnya pernah melakukan hal buruk pada Anna. Membuat Damar gak tega meninggalkannya lagi. Pilihan itu sangat berat tapi Damar tetap harus memilihnya.
*****
Semalaman Damar gak kelihatan. Luna menebak kalau Damar bersama Anna. Namun, Luna gak mau bertindak gegabah seperti kemarin. Dia masih percaya kepada kesetiaan Damar.
"Keadaan ibu sudah stabil dan bisa kembali ke ruang rawat inap. Nona istirahat aja dulu di apartemen. Nanti sore bisa kesini lagi!" jelas Dayat yang melihat Luna sangat kelelahan.
"Bagaimana dengan kakak? Seharusnya Damar gantian menjaga mamahnya! Bukannya bersama orang lain," gerutu Luna sambil cemberut. Dia seperti gadis remaja yang baru saja jatuh cinta. Mungkin itulah yang disukai Damar.
Dayat tersenyum, "aku gak apa-apa kok. Nanti Damar juga kesini. Pergilah nona!" sahut Dayat.
"Baiklah, kak. Nanti sore aku akan kesini lagi, ya. Tolong beritahu mamah!" ucap Luna sambil menarik kopernya. Lagipula dia harus mengembalikan baju-bajunya kembali ke dalam lemari.
Luna langsung merebahkan tubuhnya di kasur tanpa menyalakan lampu. Dia lebih suka kedaan gelap sehingga pusingnya hilang. Tubuhnya terasa remuk begitu juga hati dan jiwanya. Meski begitu Luna harus tetap bertahan. Dia sudah memilih untuk tetap tinggal apapun yang akan terjadi.
Bayangan Damar yang sedang menggendong Anna terlintas ketika mata Luna terpejam. Damar kelihatan sangat khawatir. Jelas lah! Anna itu adalah mantan pacar yang dipaksa berpisah. Pasti rasa itu masih ada.
Tiba-tiba, Luna merasa ada sesuatu di atas tubuhnya. Dia pun memeriksa dan kemudian langsung bangun begitu sadar kalau itu adalah sebuah tangan. Namun, tangan itu malah menariknya kembali ke tempat tisur.
"Mau kemana? Aku masih ngantuk!"
"Damaar!"
Ternyata dia adalah Damar yang memang sudah semalam tidur di sana.
__ADS_1
Luna segera memindahkan tangan Damar namun selalu kembali memeluknya. Akhirnya Luna pun menyerah.
"Apa yang kamu lakukan disini? Aku kira kamu sama Anna!"
Damar terdiam. Itu karena otaknya belum sadar benar. Namun, dia baru tahu kalau Luna mengetahui kalau dia bersama Anna.
"Aku capek makanya tidur disini. Anna juga sudah mendingan jadi aku tinggal saja! Tapi, darimana kamu tahu kalau aku bersama Anna?" tanya Damar yang langung mengangkat kepalanya.
Luna berusaha menutupi perasaannya. Gimana gak grogi dtatap cowok setampan Damar, di atas tempat tidur juga!
"Tahulah! Aku kan punya telepati! Jadi kamu harus hati-hati. Aku tahu apapun yang kamu lakukan!" Lina malah bercanda agar groginya gak kelihatan.
"Jangan-jangan, kamu melihatku saat membawa Anna ke Ugd? Iya, kan?" tanya Damar tanpa memalingkan wajahnya.
"Iya-iya! Aku melihat kamu bersama Anna. Aku gak mau mengganggu kalau kalian lagi Clbk!"
Damar tertawa kecil. Akhirnya dia tahu kalau Lina lagi cemburu.
"Clbk? Apa aku kelihatan begitu? Yang aku tahu aku ini lagi Cbbs, cinta baru bersemi selamanya. Begitu!" ungkap Damar tanpa menghilangkan tawanya.
"Sudah, aah! Aku mau mandi!" ucap Luna yang sengaja mengalihkan perhatian Damar.
"Aku ikuuut!" teriak Damar penuh semangat.
"Tak uuk, weee!"
Luna melemparkan sebuah bantal ke arah Damar yang langsung menimpuk wajahnya. Di saat seperti itu, Luna langsung kabur.
Damar hanya bisa rebahan lagi ketika Luna sudah keluar dari kamar. Hatinya sangat senang karena Luna gak marah lagi. Tapi, kenapa dadanya masih berdebar ya? Apa perlu menyusul Luna ke kamar mandi? Dasar Damar! Otak mesumnya kumat ....
__ADS_1
❤❤❤❤❤