
"Lunaa, kamu baik-baik aja, naak?"
Mamah Luna langsung menyambut puterinya itu dengan bersimbah airmata. Hatinya sedih sekaligus gembira karena bisa memeluk Luna lagi.
"Iya, mah. Luna baik-baik aja, kok!" sahut Luna yang juga memeluk mamahnya erat.
"Terima kasih ya, Nak Damar. Sudah mendampingi Luna. Seharusnya gak sampai semua ini terjadi kalau Luna mau mendengarkan mamah dan kalian cepat menikah!"
"Mamah ...," ucap Luna yang gak enak dengan Damar.
"Iya, mah. Makanya mulai hari ini saya akan mempersiapkan pernikahan kami!"
"Damaar!" seru Luna sambil melotot.
Damar cuek aja. Kali ini, gak akan menunda pernikahan mereka, apapun yang akan terjadi.
Luna jadi serba salah. Tapi, gak bisa membantah. Hanya berharap benang kusut yang sudah terjadi akan segera terurai.
"Luna keluar karena Tuan Arya yang menjamin, mah. Apa mamah yang sudah memberitahunya?" tanya Luna setelah Damar pergi.
Mamah Luna menarik napas panjang, "iya, mamah yang menelponnya. Mamah sangat khawatir sama kamu. Tuan Arya pasti bisa membantumu!" jawab Mamah Luna gak membantah perkataan puterinya.
"Luna gak enak sudah menyusahkan Tuan Arya, mah. Luna juga yakin bisa keluar dari penjara karena gak bersalah. Bukan Luna yang sudah menyerang Pak Sony!" jelas Luna.
"Tapi mamah tetap khawatir, Luna. Masalah ini sangat berat. Hukumannya bisa hukuman mati. Mamah takut ada orang yang sengaja menjebakmu!"
"Iya, mah. Pasti ada orang yang sudah menjebak Luna. Apa Yuki yang sudah melakukannya?"
"Astaga, Yuki lagi? Kenapa dia selalu aja ingin membuatmu menderita?" Mamah Luna sangat terkejut begitu mendengar nama Yuki.
"Dia mengira kalau Luna adalah anak haram papahnya. Tapi, semua itu salah kan, mah? Luna adalah anak almarhum papah!"
Mamah Luna terdiam. Dia gak bisa mengatakan sebuah rahasia yang dikuburnya dalam-dalam. Kisah masa lalu itu teramat pahit untuk diceritakan.
"Mungkin hanya pikiran Yuki aja. Sebaiknya ucapkan terima kasih kepada Tuan Arya, Lun!"
"Iya, mah. Katanya Damar mau menemani Luna untuk menemuinya!"
"Bersyukurlah masih ada Nak Damar, Luna. Kurang apa lagi sih? Nak Damar itu sangat sempurna untuk menjadi pendampingmu. Sudah tampan, sukses, baik hati juga!" puji Mamah Luna.
"Iya, mah. Luna tahu!" Luna gak enak mendengar mamahnya memuji Damar terus. Sebenarnya, Luna juga sudah yakin dengan perasaannya kepada Damar.
*****
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Nak Luna, Damar?"
Sekarang gantian, Damar yang disambut dengan pertanyaan mamahnya ketika sudah sampai di rumah.
"Luna sudah pulang, mah," jawab Damar singkat. Mamahnya pasti sudah tahu kasus yang menimpa Luna.
"Tunggu sebentar, Damar. Apa benar Luna hampir melenyapkan nyawa orang?"
Damar menghentikan langkahnya.
"Kalau memang bersalah Luna gak akan bisa keluar dari penjara, mah. Ada seseorang yang sudah menjebaknya!"
"Apa Yuki?"
Damar membalikan badannya ketika nama Yuki disebut mamahnya.
"Kenapa mamah menyebut namanya?"
"Yuki datang kesini dan menceritakan masalah Luna. Sepertinya dia mengetahui banyak!"
"Untuk apa Yuki menceritakannya kepada mamah?"
"Mungkin mengira mamah akan membenci Luna. Kamu harus tahu kalau mamah sangat mempercayai Luna. Mamah gak pernah salah menilai orang!"
Damar terdiam. Kali ini, dia setuju dengan omongan mamahnya. Syukur aja mamahnya masih percaya Luna. Sementara Yuki akan segera menerima balasan dari perbuatan jahatnya.
"Maaf, nyonya. Saya mau bicara. Besok saya mau pindahan ke rumah yang baru!"
Akhirnya Rani memutuskan untuk keluar dari rumah itu.
Nyonya Kamaratih tersenyum lebar mendengar ucapan Rani.
"Baiklah! Bagus itu, Ran. Ngomong aja sama Dayat apa yang kamu perlukan!"
"Baik, nyonya! Hari ini saya mau menyelesaikan administrasinya. Biar saya pergi sendiri aja!"
"Kenapa sendiri? Sama Dayat aja sekalian mengurus masalah keuangan dan keperluan rumah kamu!"
"Tapi, nyonya. Sepertinya Mang Dayat lagi sibuk!"
"Gak kok. Saya gak ada kesibukan. Saya bisa mengantarkan Bu Rani!"
Tiba-tiba, Dayat muncul. Sebenarnya dia sudah mendengarkan pembicaraan mereka dari tadi.
__ADS_1
"Nah, itu ada Dayat. Ya sudah pergilah! Selesaikan semua masalah keuangannya dan sekalian bantu Rani membeli keperluan rumahnya. Pasti rumah itu masih kosong!"
"Baik, nyonya. Sebenarnya rumah itu sudah ada isinya, nyonya. Tinggal keperluan kecil aja yang belum ada," sahut Rani yang mau gak mau menyetujui diantarkan Dayat.
"Iya, makanya mumpung ada Dayat sekalian aja. Oh iya, carilah mobil juga agar kamu bisa ke kantor dengan lancar. Naik kendaraan umum pasti macet!"
Sebenarnya, Nyonya Kamaratih sangat perhatian dengan Rani. Dia sudah menganggapnya puterinya sendiri. Namun sekarang keadaan sudah berbeda. Sebentar lagi Damar akan menikah dan tidak baik ada perempuan lain di rumah itu.
*****
Damar belum bisa memejamkan matanya. Hadiah yang sangat manis dari Luna masih terbayang. Dadanya masih berdegup kencang. Damar ingin merasakannya sekali lagi. Sepertinya dia sudah kecanduan!
Sebenarnya, Luna sudah gak sabar untuk menemui Tuan Arya. Tapi dia sudah kapok keluyuran sendirian. Malam ini dia mau tidur cepat. Besok pagi banyak rencana yang akan dia lakukan.
Baru aja akan memejamkan mata, hapenya bersuara. Hhmmm, pasti Damar, dehh!
Bener aja perkiraan Luna. Di hapenya tertulis nama Ceo Menyebalkan.
"Hallo, ada apa?"
Damar mengerutkan keningnya. Sikap Luna kenapa hanya biasa aja?
"Kok gitu?"
"Kenapa?"
"Aku kangen ...." ungkap Damar tanpa basa basi lagi.
"Iikh! Emangnya anak abg apa. Kan barusan juga ketemu!" sahut Luna yang merasa Damar masih seperti anak kecil.
"Aku kesana, ya. Sepertinya aku ketagihan hadiah dari kamu tadi!"
"Hadiah apa?" tanya Luna pura-pura lupa. Padahal jantungnya berdetak semakin kencang.
"Apa perlu aku ingatkan? Soal ci ...."
"Iya-iya, aku ingat!" potong Luna. Jantungnya bisa berhenti berdetak jika Damar mengulasnya.
"Makanya, kenapa juga bilangnya lupa! Aku kesana, ya. Paling setengah jam sampai!" ucap Damar lagi sambil senyum-senyum.
"Gak usah, aku ngantuk. Sudah ya!" ucap Luna mencari alasan. Padahal matanya juga gak bisa terpejam.
"Eeh, kok ngantuk? Hallo, sayang ...?"
__ADS_1
Gak ada suara lagi. Luna sengaja gak menjawab perkataan Damar. Sepertinya, dia udah ketularan bucin. Bisa bahaya, nih!!!
❤❤❤❤❤