
Damar yang membopong Luna berlari menjauhi ketiga pemabuk itu. Di dalam pikirannya lebih baik menghindar daripada bonyok!
Ketiga pemabuk itu pun tidak tinggal diam.
"Ayo, kejar mereka!" teriak salah satunya.
Mereka pun ikut berlari mengejar Damar dan Luna. Wajah sangar mereka sangat menyeramkan. Untung aja Damar memilih kabur daripada menghadapi mereka.
Sesampainya di dekat mobil, Damar segera menurunkan Luna dari gendongannya.
"Huft! Ternyata kamu berat juga, ya. Sepertinya besok kamu harus diet!" celetuk Damar sambil ngosngosan.
Luna langsung melotot, sepertinya Damar mau nyari ribut lagi nih. Tapi, Luna harus berpikir seribu kali kalau mau menentangnya. Apalagi Damar sudah kecapean menggendongnya.
"Iya, iya. Lagipula siapa yang nyuruh gendong aku?!"
Eeh! Luna malah keceplosan. Damar menatapnya tajam seakan mau menerkamnya hidup-hidup.
"Hei, kalian. Jangan pergi!" teriak salah seorang pemabuk sangar itu.
Damar tercengang melihat mereka padahal napasnya masih tersengal-sengal.
"Cepat! Masuk ke dalam mobil," ucap Damar yang segera membuka pintu mobil.
Kali ini, Luna menurutinya tanpa banyak bicara. Damar pun berjalan ke pintu sebelahnya.
Namun, sayang ketiga pemabuk itu sudah sampai.
Luna gemetaran di dalam mobil. Mengira akan terjadi hal buruk kepada Damar. Dia pun mencari sesuatu di dalam mobil untuk dijadikan senjata. Wajahnya berubah ketika menemukan sebuah obeng. Cukuplah untuk bisa bertahan!
Baru saja, Luna akan keluar. Damar sudah masuk ke dalam mobil dengan senyuman mengembang. Luna melihat ketiga pemabuk itu senyam-senyum aja.
"Ada apa? Kenapa mereka jadi kayak begitu?" tanyanya penasaran.
"Tidak apa-apa. Mereka hanya mau mengembalikan sepatumu aja, kok. Ternyata aku sudah salah sangka!" jawab Damar seraya menyerahkan sebelah sepatu Luna.
Luna terbelalak melihat sepatunya, "jadi mereka cuma mau mengembalikan sepatuku? Haduh! Aku kira mereka mau berbuat jahat," gerutu Luna sambil mengambil sepatunya.
"Iya, tapi kamu hutang satu juta padaku!" celetuk Damar lagi yang sudah menjalankan mobilnya.
"Apa, satu juta? Mereka minta satu juta cuma buat sebelah sepatuku? Harganya aja ga sampe segitu. Lebih baik gak usah kasih mereka uang itu!" ujar Luna sambil memasang muka cemberut.
__ADS_1
Damar hanya tersenyum melihat sikap Luna. Padahal tadi dia hanya memberikan uang tiga ratus ribu aja kepada para pemabuk itu!
"Baiklah! Kemana sekarang?" tanya Damar setelah berada di jalan raya.
"Ternyata aku salah. Karyawanku adanya di tempat karaoke Blue Butterfly. Apa kamu mau mengantarkan aku ke sana?" tanya Luna dengan suara manja sambil memandangi Damar. Matanya mengerjap seperti anak kucing minta dikasihani.
Damar geli juga melihat Luna jadi seperti itu. Perutnya jadi mual.
"Sudah, sudah! Aku akan antar. Jangan pasang muka seperti itu. Perutku jadi mual tahu!" ungkap Damar.
Luna tersenyum penuh kemenangan. Meskipun usahanya tadi memalukan tapi cukup berhasil.
Tak berapa lama kemudian, mereka sampai juga di tempat yang dituju.
"Aku akan mengantarmu sampai ke depan karyawanmu. Aku gak mau disalahkan kalau terjadi hal buruk padamu lagi!" ucap Damar yang ikut menemani Luna.
Tentu aja Luna kesenangan. Ternyata CEO ingusan itu sudah mau jadi bodyguardnya.
"Tapi, ingat! Kamu berhutang banyak padaku. Suatu saat aku akan menagihnya!"
Eeeh! Ternyata Luna sudah salah sangka. Ceo ingusan itu perhitungan juga!!!
"Hadeeeh, Luna. Kemana aja sih kamyuu? Suaraku sampai serak nih abis manggung!" sambut Prilly ketika Luna muncul.
Luna cengengesan. Malam panjang itu belum berakhir.
"Iya, sorry-sorry. Aku salah alamat. Untung aja ada yang nolongin aku sampai ke tempat ini!" sahut Luna lagi.
"Terus, mana orang yang nolongin kamu? Ajak aja kesini!" ucap Sarah lagi.
Tak lama kemudian, Damar muncul.
"Hallo semuanya!" sapanya sambil melambaikan tangan.
Sarah dan Prilly malah bengong begitu Damar muncul.
"Ka-kamyu kan, CEO muda itu kan? Tuan Damar Wicaksana?" tanya Prilly tergagap seperti melihat pangeran turun dari kahyangan.
Sarah dan karyawan lain hanya bisa melihat Damar dengan tatapan tidak percaya.
"Iya, ini aku. Apa kehadiranku mengganggu kalian?" tanya Damar dengan senyuman mautnya.
__ADS_1
Luna tidak tinggal diam. Karyawannya pasti tidak nyaman kalau ada bocah ingusan itu.
"Maaf, Tuan Damar. Terima kasih sudah menolong dan mengantarku. Besok saja kita bicara lagi, ya. Sebaiknya, kamu pulang saja. Aku takut disalahkan kalau kamu kesiangan ke sekolah nanti. Eeeh, maksudku ke kantor!" ujar Luna sambil mendorong Damar ke luar ruangan.
Sebenarnya Damar kurang suka juga di tempat ramai. Namun, dia hanya menguji Luna aja. Ternyata Luna malah mengusirnya!
"Eeh! Kenapa disuruh pergi. Gak apa-apa kok, Tuan Damar. Kami malah senang ada tuan di sini!" Prilly gak mau kehilangan kesempatan itu. Kapan lagi bisa berdekatan dengan CEO setampan Damar. Dia pun menarik Damar agar mau duduk di sebelahnya.
Hadeh! Damar malah masuk ke dalam mulut buaya berbulu angsa.
"Tidak-tidak! Aku cuma bercanda aja, kok. Besok aku ada perjalanan kerja ke luar negeri. Mungkin seminggu lagi, aku baru pulang. Silakan kalian lanjutkan lagi acaranya. Aku permisi," tolak Damar sopan. Dia pun segera berdiri dan langsung keluar dari ruangan itu tanpa melihat Luna lagi.
Prilly shock, rencananya gagal deeh! Luna cuma bengong ketika bayangan Damar menghilang di balik pintu. Dia merasa ada sesuatu yang hilang!
Damar segera kembali ke mobilnya. Hampir jam dua belas malam. Jam delapan dia harus sampai ke bandara. Hanya ada sisa waktu beberapa jam saja.
Damar sangat terkejut ketika tiba-tiba ada seseorang yang berdiri tepat di depan mobilnya. Dia pun menyalakan lampu sorot agar kelihatan wajah orang aneh itu. Ternyata dia adalah Luna!
"Ada apa lagi?" tanya Damar setelah membuka kaca mobilnya.
Luna segera menghampirinya, "aku mau minta nomor hape dan rekeningmu. Aku gak mau punya hutang!" cetusnya
Damar tersenyum. Ternyata Luna tidak melupakan hutangnya meskipun sudah dilebih-lebihkan Damar.
"Tidak usah! Sudah aku anggap amal!" jawabnya ketus.
Kurang ajar! Dasar bocah ingusan. Luna seperti pengemis di depannya.
"Aku bukan pengemis, tahu. Cepat berikan nomor hape kamu!" sahut Luna gak mau kalah.
"Oke-oke. Mana hape kamu?"
Luna menyerahkan hapenya. Damar pun memasukan nomor hapenya di sana.
"Nanti saja hubungin aku lagi!" jawabnya seraya melanjutkan perjalanan.
Dari kaca jendela, Damar melihat wajah Luna berubah merah ketika melihat nomor hape Damar. Dia pun tersenyum lebar penuh kemenangan.
Luna hampir saja meledak. Damar menyimpan nomor hapenya dengan sebutan CEO GANTENG DEWA PENOLONGKU ❤
Tiba-tiba perut Luna mual dan langsung muntah-muntah. Bukan karena masuk angin, melainkan tulisan itu lebay abiiiis!!!
__ADS_1
❤❤❤❤❤