
Malam hari Mila baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Ia keluar kamar mandi hanya menggunakan hotspant dan tangtop saja, Sama seperti di rumahnya. Ia lupa jika di dalam kamar ada buaya yang siap menerkamnya.
Ceklek....
Imran menatap ke arah pintu kamar mandi dan...
Glek...
Imran yang sedang duduk bersandar pada headboard menelan kasar ludahnya, Tiba tiba ada yang menegang di bawah sana. Bagaimana tidak? Paha putih mulus serta bagian punggung dan dada yang terekspos melambai lambai di depannya seakan ingin di sentuhnya.
" Pak Des ngapain di kamarku?" Tanya Mila tanpa rasa bersalahnya menghampiri ranjang.
" Ya mau tidurlah Yank." Sahut Imran.
" Uek... Sayang." Cebik Mila.
" Kenapa?" Tanya Imran menatap Mila yang naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut.
" Minggir Pak aku mau tidur ngantuk, Pak Des tidur di bawah aja sana cari kasur lantai." Ujar Mila.
" Enak aja! Emang ini kamar siapa?" Ucap Imran.
" Kamarku lah orang Pak Des udah kasih ke aku, Atau kalau tidak tidur di kamar Mbak Hena sana." Usir Mila.
" Nggak mau malam ini aku mau tidur sama kamu, Ini malam pertama kita lhoh." Goda Imran.
" Ya emang malam pertama kita setelah menikah, Siapa yang bilang ini malam ke dua?" Seloroh Mila membuat Imran menghela nafasnya.
" Maksudku ini malam pengantin kita Mila, Kamu harus memberikan hakku sekarang juga." Ucap Imran.
Mila beranjak duduk menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia menatap ke arah Imran dengan tatapan memelas.
" Pak Des yang baik hati.... Jangan minta itu padaku ya, Minta aja sama Mbak Hena plisss." Ucap Mila mengatupkan kedua tangannya.
" Aku tidak akan memintanya malam ini tapi ada syaratnya." Ujar Imran.
" Apa syaratnya?" Tanya Mila membuat Imran tersenyum.
" Biarkan aku tidur di sini sesuka hatiku." Ucap Imran.
" OK baiklah tapi jangan minta itu padaku." Sahut Mila.
" Satu lagi." Ucap Imran.
" Udah satu aja jangan banyak banyak." Sahut Mila.
" Ya sudah kamu harus memberikannya sekarang." Ucap Imran.
" Sialan nih orang." Gerutu Mila dalam hati.
__ADS_1
" Baiklah katakan apa syarat satunya aku sudah ngantuk mau tidur." Ujar Mila.
" Panggil aku Mas." Ucap Imran.
" Heh nggak inget umur, Harusnya aku manggilnya Om... Om Desfian." Gumam Mila yang masih bisa di dengar oleh Imran.
" Nggak mau, Harus Mas gimana?" Tanya Imran.
" Ya ya baiklah... Demi keselamatan mahkotaku yang sangat berharga." Sahut Mila.
" Baiklah Mas Desfian dedek Mila mau tidur dulu udah ngantuk, Jangan ganggu ya." Sambung Mila kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang menutup tubuhnya dengan selimut.
Mila memejamkan matanya tanpa mau mempersoalkan masalah Imran tidur satu ranjang dengannya. Ia benar benar lelah dan mengantuk malam ini. Jika Imran berani berbuat sesuatu maka akan Mila hajar toh Mila jago karate di sekolahnya.
Imran menatap wajah cantik Mila diam diam. Ia memajukan wajahnya menatap bibir pink milik Mila. Tanpa sepengetahuan Mila, Imran mengecup bibir dan pipinya.
" Selamat malam sayang, Semoga mimpi indah." Lirih Imran.
Sinar matahari masuk ke dalam kamar Mila melalui celah celah korden. Mila mengejapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
" Kemana dia? Apa dia tidur di kamar Mbak Hena? Ah syukurlah kalau gitu gue aman." Monolog Mila.
Mila bersiap memakai seragamnya lalu berdandan di depan cermin. Di atas meja rias terdapat memo bertuliskan tangan. Mungkin dari Imran.
*Maaf Mas berangkat dulu hari ini ada meeting di sekolah
Selesai bersiap Mila turun ke bawah menuju meja makan. Di sana sudah ada Hena yang sedang menata makanan di meja makan. Kenapa Hena mau? Tentunya karena di suruh sama Imran.
" Mbak gue mau sarapan." Ucap Mila cuek.
" Lain kali bangun lebih awal dari suami, Masak lalu menyiapkan keperluan kerja suami, Jangan malas malasan." Cebik Hena.
" Lhah kan situ juga istrinya kenapa harus gue? Tugas melayani suami itu tugas istri pertama Mbak, Gimana sih!" Oceh Mila sambil mengambil makanan.
" Ya kita harus bagi tugas donk, Jangan semena mena mentang mentang jadi istri kedua, Jadi istri kedua aja bangga." Kesal Hena.
" Ya harus bangga donk, Pria kalau cari istri lagi itu tandanya dia udah nggak cinta sama istrinya, Nyadar nggak sih Mbak." Sahut Mila.
SkakMat...
" Terserah kamu saja, Emang susah kalau ngomong sama abg zaman sekarang, BANDEL." Ketus Hena.
" Bodo' amat hidup hidup gue." Sahut Mila menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Eh Mbak ini nggak di kasih racun kan makananannya?" Tanya Mila.
" Aku kasih biar kamu mati dan aku jadi istri satu satunya Imran, Puas?" Ucap Hena.
" Kalau gue mati Mbak Hena akan di cerai sama Mas Des, Pd banget jadi istri satu satunya." Cebik Mila membuat emosi Hena naik ke ubun ubun. Jika tidak mengingat pesan Imran mungkin Hena sudah menjambak jambak rambut Mila.
__ADS_1
" Sepertinya aku harus dengan cara halus untuk menyingkirkannya, Kalau beradu di depan aku pasti akan kalah." Ujar Hena dalam hati.
" Kenapa? Lagi mikirin cara buat nyingkirin gue?" Tanya Mila menatap Hena membuat Hena kelabakan.
" Tenang saja Lo nggak perlu nyingkirin gue Mbak karena gue yang akan pergi sendiri dari rumah ini." Ucap Mila.
" Apa maksudmu?" Selidik Hena.
" Lo harus bantu gue keluar dari rumah ini Mbak, Gue mau nerusin kuliah, Gue juga nggak minat mempertahankan pernikahan ini, Paham kan maksud gue?" Tanya Mila.
Hena menghela nafasnya lega. Kalau begini rencananya membuat Imran menjadi miliknya seutuhnya akan berjalan mulus.
" Biarkan gue numpang di sini selama satu bulan atau mungkin lebih sedikit, Itupun kalau gue berhasil mendapatkan tanda tangan Mas Des untuk mengijinkan aku kuliah." Jelas Mila.
" Emang rencana kuliah dimana?" Tanya Hena memastikan.
" Kota Y." Sahut Mila.
" Kenapa nggak di luar Negri aja? Kan Imran nggak bakal bisa nemuin kamu, Itu pun kalau kamu benar benar mau menjauh darinya." Ucap Hena memprovokasi Mila.
" Kejauhan.. Lagian gue udah janji sama temen temen gue, Urusan kuliah biar jadi urusan gue yang jelas Lo harus bantu gue mendapatkan tanda tangan Mas Des." Sahut Mila.
" Baiklah aku siap membantumu." Ucap Hena.
" Gue berangkat dulu, Mas Des ada nitip uang saku nggak buat gue?" Tanya Mila.
" Eh.. Eng... Enggak." Gugup Hena.
" Ya udahlah mungkin dia lupa kalau udah punya istri lagi." Ucap Mila.
" Gue berangkat Mbak." Pamit Mila.
" Kamu naik apa? Mobilnya di bawa sama Imran." Ujar Hena.
" Emang di sini mobil cuma satu?" Tanya Mila.
" Iya." Sahut Hena.
" Baiklah gue berangkat bareng teman gue aja, Berangkat Mbak Assalamu'alaikum." Ucap Mila.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Hena.
TBC.....
*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...
Makasih....
Miss U All*....
__ADS_1