Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Rencana Mila


__ADS_3

Tujuh hari telah berlalu acara honeymoon Imran dan Mila lalui dengan penuh keributan. Ada aja yang memicu keributan mereka, Seperti saat pertama kali datang ternyata semua isi almari Mila adalah lingerie seksi, Hingga Imran harus pergi membelikan baju untuknya, Sayangnya Ia hanya membawa uang cash sedikit saja hingga Ia harus membeli baju satu saja. Acara jalan jalan yang kacau karna Imran cemburu Mila di dekati oleh turis asing di sana.


Hari ini mereka sampai di rumah kembali. Mila merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil meregangkan otot ototnya.


" Akhirnya aku bisa kembali ke rumah ini, Ah damainya tidur di kasur sendiri." Monolog Mila.


" Iya aku juga senang." Sahut Imran merebahkan tubuhnya di samping Mila.


Keduanya menatap langit langit kamar dengan pikiran masing masing.


" Mas kamu nggak nemuin Mbak Hena gitu? Apa nggak kangen sama istri pertamanya?" Tanya Mila menoleh ke arah Imran.


" Enggak... Aku kangennya sama kamu." Ujar Imran.


" Ih nggak adil banget jadi suami, Entar malem sono gantian ke kamar Mbak Hena, Biarkan aku tenang tidur sendiri." Ucap Mila.


" Bukannya kamu lebih senang kalau tidur dalam pelukanku?" Goda Imran.


" Apa sih Pak Des rese' ih." Cebik Mila.


" Mas sayang... Salah mulu manggil suaminya." Ujar Imran.


" Ok baiklah Mas Desfian SAYANG." Ucap Mila.


Hati Imran kembali berbunga bunga mendengar ucapan Mila.


Hening


Keduanya saling terdiam, Mungkin karena saking lelahnya hingga tanpa sadar keduanya tidur sambil berpelukan.


Hena sedang menata makan siangnya untuk suami dan madunya. Setelah selesai Ia menaiki anak tangga menuju kamar Imran untuk memanggil pasangan yang baru saja pulang bulan madu. Baru sampai di depan pintu yang terbuka hatinya memanas melihat pemandangan yang menyayat hatinya melihat suami dan madunya tidur sambil berpelukan. Itu tandanya keduanya semakin dekat.


" Aku harus secepatnya melakukan sesuatu sebelum semuanya menjadi tidak terkendali." Ujar Hena dalam hati.


Hena kembali ke kamarnya untuk memikirkan rencana apa yang bisa membuat Imran dan Mila berpisah secepatnya. Ia akan melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya menjadikan Imran miliknya satu satunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari hari berlalu setelah melewati ujian beberapa minggu lalu akhirnya hari ini Mila menerima pengumuman kelulusannya. Ia mendapat predikat dengan nilai terbaik. Bahkan Ia mendapat tawaran dari berbagai Universitas ternama dari dalam maupun luar Negri.


Saat ini Mila sedang berada di cafe KA menunggu kedatangan kedua sohibnya yaitu Vicki dan Risa. Tak lama menunggu akhirnya Risa dan Vicki datang juga.


" Milaaaa......" Pekik Risa menghampiri Mila yang sedang duduk di mejanya sambil menikmati minumannya.


" Selamat Mil atas keberhasilan Lo dengan predikat terbaik." Ucap Risa memeluk Mila.


" Selamat juga untuk Lo Ris, Lo juga dapat nilai terbaik." Sahut Mila melepas pelukannya.


" Selamat Mil, Lo memang the best." Ucap Vicki gantian memeluk Mila.


" Thanks ya Vic Lo juga teman gue ter the best deh karena mau menjadi ojek gue kemana mana ha ha ha." Canda Mila.


Risa dan Vicki duduk berhadapan dengan Mila.


" Mau pesen apa?" Tanya Mila.

__ADS_1


" Jus mangga aja deh." Sahut Risa.


" Kalau Lo Vic?" Tanya Mila.


" Sama aja lah jus mangga juga." Sahut Vicki.


Setelah Mila memesan tak lama pesanan pun datang.


" Silahkan Mbak Mas ini jusnya." Ucap Pelayan meletakkan dua gelas jus mangga di depan meja Vicki dan Risa.


" Makasih Mbak." Ucap Mila.


" Sama sama." Sahut pelayan Cafe.


" Gimana rencana kita selanjutnya? Apa Lo bisa ikut dengan kami Mil?" Tanya Revi sambil menyedot jusnya.


" Ikut lah." Sahut Mila.


" Emang suami Lo bakal ngijinin?" Tanya Risa.


" Ya gimana caranya pokoknya dia harus ngijinin gue, Gue harus dapat tanda tangannya, Gue mau hidup jauh lebih tenang Ris." Ujar Mila.


" Sabar ya Mil, Lakukan jika memang ini yang terbaik buat Lo." Ujar Risa yang sudah tahu dengan masalah yang Mila hadapi.


" Iya gue kasihan sama Mbak Hena Ris, Gara gara gue dia sekarang tambah menderita, Gue nggak mau nyakitin hati wanita lain." Ujar Mila.


" Emang apa yang terjadi Mil? Boleh gue tahu?" Tanya Vicki.


" Nggak ada apa apa Vic tenang aja." Sahut Mila.


" Udah hampir malam gue pulang dulu ya." Ucap Mila.


" Hati hati Mil." Ujar Risa.


" OK." Sahut Mila.


" Semangat donk jangan lemes gitu, Mantapkan hati siapkan jiwa... Saranghae..." Ucap Risa yang hanya di balas senyuman oleh Mila.


Mila melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Mila segera masuk ke dalam kamarnya dan ternyata Imran sudah menunggu di sana.


" Darimana saja kamu jam segini baru pulang?" Tanya Imran berdiri di depan Mila sambil bersedekap dada.


" Dari Cafe Mas." Jawab Mila berjalan menuju kamar mandi.


Lima belas kemudian Mila keluar dari kamar mandi. Ia duduk di atas ranjang dengan ponsel di tangannya.


" Selamat atas kelulusanmu sayang." Ucap Imran berlutut di pinggir ranjang dengan menyodorkan sebuket bunga indah di tangannya.


Mila menatapnya dengan tatapan haru.


" Jangan seperti ini Mas aku takut hatiku goyah untuk meninggalkanmu, Aku tidak mau menambah luka di hati Mbak Hena, Dia istri pertamamu dan dia lebih berhak atas dirimu." Ujar Mila dalam hatinya.


" Sayang.." Panggil Imran membuat Mila tersadar dari lamunannya.


" Ah iya Mas, Makasih." Ucap Mila menerima bucket bunga itu.

__ADS_1


" Sekarang kamu udah lulus sekolah, Aku mau kamu menjadi istri yang mengurus suami dan calon keluarga kecil kita saja." Ucap Imran.


" Iya Mas." Sahut Mila terpaksa.


" Besok Mas ada kejutan untukmu, Kau datanglah ke cafe KA jam sembilan pagi." Ucap Imran.


" Iya." Sahut Mila.


" Ayo kita makan malam dulu." Ajak Imran.


" Ayo." Sahut Mila.


Keduanya turun ke bawah menuju meja makan. Di sana sudah ada Hena di sana.


" Malam Mbak." Sapa Mila.


" Malam." Sahut Hena.


Ketiganya mulai memakan makan malamnya dengan khidmat.


" Ini minumnya Ran." Ucap Hena memberikan segelas air putih setelah Imran menyelesaikan makannya.


" Makasih." Ucap Imran meminumnya hingga tandas.


Mila dan Hena saling pandang dan saling melempar senyuman.


" Mas aku kembali ke kamar dulu." Ucap Mila.


" Mas ikut." Sahut Imran membuat Mila tersenyum smirk.


Imran dan Mila kembali ke kamarnya. Imran merasa matanya begitu terasa berat. Entah kenapa Ia merasakan kantuk yang begitu hebat. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


" Mas kamu baik baik saja?" Tanya Mila.


" Sepertinya Mas mengantuk sayang, Mas tidur dulu ya." Ujar Imran mempertahankan matanya supaya terbuka lebar.


Mila segera mengambil kertas di dalam tasnya lalu Ia melipat kertas itu serapi mungkin seperti sebuah cek. Ia kembali menghampiri Imran.


" Mas aku butuh tanda tanganmu untuk mencairkan cek mas kawinmu, Papa butuh uangnya besok pagi jadi Papa pinjam dulu." Ucap Mila.


" Besok saja Mas mengantuk, Mas nggak bisa melihatnya dengan jelas." Sahut Imran.


" Sini tangan Mas." Mila menuntun tangan Imran yang sudah memegang pena.


" Nah tepat Mas, Silahkan tanda tangan." Ujar Mila.


Tanpa berpikir panjang Imran membubuhkan tanda tangannya di sana. Mila tersenyum bahagia menatap tanda tangan Imran di kertas itu.


" Akhirnya.....


TBC.....


*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya


Makasih atas suport yang para readers berikan...

__ADS_1


Miss u all*


__ADS_2