Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Kebohongan


__ADS_3

Malam ini Mila menunggu kedatangan Imran. Lebih tepatnya kepulangannya. Entah mengapa dan kenapa akhir akhir ini Imran sering pulang larut malam. Bahkan makanan yang Mila buat sering kali Mila buang. Walaupun Imran masih menyayangi dan semakin mencintainya tapi Mila tetap memiliki rasa curiga pada Imran.


Ceklek...


Imran membuka pintu kamarnya, Mila segera menghampirinya.


" Mas baru pulang? Apa Mas lembur lagi?" Tanya Mila.


" Iya sayang." Sahut Imran mencium kening dan pipi Mila.


" Mas kenapa setiap pulang kerja bajumu selalu beda dengan yang kamu pakai saat berangkat kerja?" Tanya Mila menatap Imran.


" Setiap sore kan Mas mandi di kantor sayang, Lalu bajunya di cuci sama OB kantor." Sahut Imran.


" Ya udah Mas bersih bersih dulu, Tunggu Mas di tempat tidur malam ini Mas mau mendatangimu." Ujar Imran.


" Lagi?" Tanya Mila.


" Iya sayang, Mas kecanduan dengan tubuhmu." Sahut Imran vulgar.


" Apasih kamu Mas, Emang nggak bosan apa setiap malam begituan mulu." Ucap Mila.


" Kan Mas udah bilang kalau Mas kecanduan, Tunggu Mas ya." Ujar Imran.


Imran masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lima menit Imran keluar dari kamar mandi menghampiri Mila di ranjangnya tanpa memakai bajunya.


" Sayang Mas udah siap." Ucap Imran.


" Sudah siap untuk apa?" Tanya Mila.


" Sudah siap mendatangimu." Ujar Imran.


" Apasih kamu Mas." Sahut Mila.


Imran mulai mencium bibir Mila dengan lembut, Tangannya menyusup ke dalam baju Mila dan bermain main di area favoritnya. Keduanya saling terbawa suasana menikmati keindahan malam yang di sertai suara erangan dan desah*n dari keduanya. Alam semesta menjadi saksi cinta mereka berdua.


" Makasih sayang, Semoga segera hadir dia di sini." Ucap Imran setelah menyelesaikan permainannya.


" Iya Mas." Sahut Mila.


Keduanya tidur sambil berpelukan setelah sama sama kelelahan mendaki puncak kenikmat*n.


Pagi hari Mila sedang memasak di dapur untuk membuat sarapan. Setelah selesai Ia menata makanannya di meja.


" Pagi sayang." Sapa Imran mencium kening Mila.


" Pagi Mas, Lhoh kok udah rapi bukannya ini weekend ya." Ujar Mila.


" Iya sayang, Mas lembur hari ini." Sahut Imran.


" Lembur lagi?" Tanya Mila.


" Iya sayang." Sahut Imran.


" Mas aku pengin kita bulan madu lagi tapi kali ini ke Paris Mas." Ucap Mila tiba tiba.


Imran yang hendak menyuapkan makanannya menghentikan kegiatannya, Ia menatap ke arah Mila yang sedang menatapnya juga.

__ADS_1


" Maaf sayang Mas tidak bisa." Ujar Imran merasa bersalah.


" Kenapa Mas tidak bisa? Apa kamu tidak menginginkan pergi bersamaku?" Tanya Mila.


" Bukan begitu sayang, Enam bulan ke depan Mas banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, Maafkan Mas ya, Mas janji setelah enam bulan itu kemanapun kamu mau pergi Mas akan menemaninya." Ujar Imran menghela nafasnya.


" Akhir akhir ini kamu tidak punya waktu denganku Mas, Entah mengapa aku merasa setelah aku mendekatkan diri kepadamu kamu justru menjauhiku, Aku tidak tahu apa alasanmu yang jelas kamu sudah berubah Mas." Ujar Mila.


" Sayang jangan berpikiran buruk tentangku, Apapun yang terjadi percayalah padaku jika aku selalu mencintaimu dan tidak akan pernah mengkhianatimu." Ucap Imran menggenggam tangan Mila.


" Lalu aku harus berpikir seperti apa Mas? Aku ingin mencoba mempercayaimu tapi rasa ragu kembali hadir di hatiku, Aku takut kau akan membohongiku seperti dulu lagi." Ujar Mila.


" Maafkan aku sayang, Aku akan memberitahumu jika saatnya tiba, Tapi tidak untuk saat ini." Ucap Imran.


" Apa maksudmu Mas? Apa kecurigaanku selama ini benar? Kau memiliki wanita lain di luar sana?" Selidik Mila.


" Tidak sayang... Percayalah padaku, Saat ini aku...


Drt drt ..


Ponsel Imran berdering menandakan panggilan masuk.


" Maaf sayang Mas harus pergi saat ini, Tenanglah Mas masih menjaga kesetiaan ini, I Love U." Ucap Imran mencium kening Mila.


Tanpa mendengar jawaban dari Mila, Imran segera keluar dari rumahnya. Mila menatap kepergian Imran dengan pikiran berkecamuk.


" Sebenarnya apa yang membuatmu berubah seperti ini Mas? Jika kamu berani membodohiku lagi maka aku akan benar benar meninggalkanmu, Semoga kali ini aku mampu melakukannya." Monolog Mila.


Mila memakan sarapannya sendiri tanpa Imran. Ada rasa sedih di dalam hatinya. Tiba tiba ponselnya berbunyi. Ia melihat ID pemanggil yang tak lain adalah Fisa.


" Hallo Kak." Sapa Mila setelah mengangkat panggilannya.


" Tidak Kak, Ada apa?" Tanya Mila.


" Temani aku menjenguk temanku yang melahirkan hari ini, Bisa kan?" Tanya Fisa.


" Bisa Kak kapan?" Mila kembali bertanya.


" Sekarang aku jemput kamu ya." Ujar Fisa.


" OK Kak aku tunggu." Sahut Mila.


" OK makasih." Ucap Fisa menutup panggilannya.


Mila menghabiskan makanannya. Setelah selesai Ia menunggu Fisa sambil memainkan ponselnya. Tak berapa lama akhirnya Fisa memencet klakson mobilnya menandakan Ia sudah berada di depan rumah Mila. Mila segera menghampiri mobil Fisa.


" Hai Kak." Sapa Mila masuk ke dalam mobil Fisa.


" Lesu amat, Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Fisa.


" Enggak cuma lagi malas aja sendirian di rumah." Sahut Mila.


" Kak Des kemana? Bukankah kalau hari Sabtu Ia libur?" Tanya Fisa.


" Hari ini Mas Des lembur Kak." Sahut Mila.


" Oh... Kita jalan?" Ujar Fisa.

__ADS_1


" OK." Sahut Mila.


Fisa melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat temannya di rawat. Setengah jam mereka sampai di rumah sakit xx. Fisa berjalan menuju ruang rawat temannya di ikuti Mila di belakangnya. Saat melewati ruang periksa kandungan Mila menangkap sosok pria yang sangat familiar sedang menggandeng seorang wanita yang sedang duduk mengantri di kursi tunggu.


Deg...


" Mas Desfian." Gumam Mila.


" Siapa Mil?" Tanya Fisa.


" Ah bukan siapa siapa Kak, Oh ya Kak aku mau beli sesuatu dulu ya, Kakak duluan nanti aku nyusul." Ujar Mila.


" OK nanti telepon aku aja ya biar tahu ruangannya dimana." Ucap Fisa.


" OK Kak." Sahut Mila.


Setelah Fisa meninggalkannya, Mila bersembunyi di balik pilar. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Imran.


Tut... Tut...


Panggilan terhubung, Mila menatap seseorang yang sedang mengambil ponsel di saku celananya.


" Halo." Sapa Imran bahkan Ia melupakan kata sayangnya membuat hati Mila sakit seperti tersayat sembilu.


" Halo Mas kamu dimana?" Tanya Mila.


" Mas di kantor, Kan tadi Mas udah bilang kalau Mas lembur." Jawab Imran.


Dada Mila terasa sesak, Sangat sesak menahan kecewa di hatinya. Lagi... Imran membohonginya.


Tes...


Air mata menetes di pipi Mila. Ia segera mengusapnya. Ia tidak boleh lemah, Ia terus menatap Imran yang masih menempelkan ponselnya pada telinganya.


" Halo." Ucap Imran.


" Ya sudah Mas." Mila memutuskan sambungan teleponnya. Tak lama terdengar suara suster memanggil nama wanita yang sedang bersama Imran.


" Nona Vania." Panggil Suster.


Deg...


" Vania." Gumam Mila.


Hati Mila bagai di cabik cabik, Sakit... Sakit sekali melihat lengan Imran di gandeng oleh wanita lain masuk ke dalam ruang poli kandungan. Mila memotret gambar keduanya sebelum mereka benar benar hilang di balik pintu. Setelah Imran menutup pintunya, Mila menghampiri suster yang tadi memanggil Vania.


" Maaf sus saya temannya Vania, Pasien yang baru saja masuk, Kalau boleh tahu teman saya ngapain ya sus ke sini?" Tanya Mila semeyakinkan mungkin.


" Nona Vania periksa kandungan Nona, Dia hamil tiga bulan."


Jeduerrrrr


TBC.....


*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...


Makasih untuk para readers yang udah dukung karya author...

__ADS_1


Miss U All*


__ADS_2