Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Imran Sakit


__ADS_3

Hari ini Mila sangat cemas pasalnya Imran tidak kunjung turun panasnya, justru semakin tinggi. Mila sudah menghubungi mertuanya untuk datang ke rumahnya dan juga menelepon Dokter. Ia mondar mandir di dalam kamarnya sambil menggigit jarinya. Ia menatap Imran yang sedang tertidur di ranjangnya.


" Aku harus bagaimana Mas? Jangan buat aku cemas seperti ini donk." Gumam Mila dalam hati.


Drt drt


Ponsel Mila berdering tabda panggilan masuk dari Mama Lina. Ia segera mengangkat teleponnya.


" Halo Ma." Sapa Mila.


" Mama udah ada di depan, cepet buka pintunya gih, ada Dokter juga di sini." Ujar Mama Lina.


" Iya Ma tunggu sebentar." Sahut Mila mematikan sambungan ponselnya.


Mioa keluar kamar menuju lantai bawah untuk membukakan pintu.


Ceklek ......


" Mama." Ucap Mila memeluk Mama Lina.


" Gimana kabarmu sayang?" Tanya Mama Lina.


" Aku tidak baik baik saja Ma, aku cemas dengan keadaan Mas Desfian." Sahut Mila.


" Jangan khawatir semua pasti akan baik baik saja, Oh ya kenalkan ini Dokter Anton, Dokter keluarga kita sayang yang akan memeriksa Imran." Ucap Mama Lina.


" Hai Dok, aku Mila." Ucap Mila mengulurkan tangannya.


" Anton." Sahut Dokter Anton.


" Silahkan masuk Dok, Ma." Ujar Mila.


Ketiganya masuk langsung menuju kamar Imran. Dokter mulai memeriksa Imran dengan mengecek suhu tubuhnya terlebih dahulu, setelah itu Dokter mengecek detak jantung dan denyut nadi.


" Sejak kapan Imran demam?" Tanya Dokter Anton. Selain Dokter keluarga Ia juga teman Papa Romi. Mereka terlihat akrab bukan hanya sebatas Dokter dan pasien tapi sebagai kerabat.


" Dari kemarin Dok." Sahut Mila. Dokter Anton manggut manggut.


" Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Tanya Mila.


" Tenang saja Mila ini hanya demam biasa, Minum obat nanti juga sembuh." Ucap Dokter Anton.


" Tapi saya rasa suami kamu banyak di gigit nyamuk Nona Mila." Sambung Dokter Anton.


" Apa? Di gigit nyamuk? Bagaimana bisa? Kamu jangan mengada ada di sini tidak ada nyamuk Anton." Ujar Mama Mila.


" Buktinya dada dan lehernya merah merah semua." Ucap Dokter Anton.


Blushhhhh


Wajah Mila merah merona bukan karna bahagia atau tersipu tapi karna menahan malu yang teramat sangat. Ia teringat ulahnya kemarin saat menghabiskan waktu bersama Imran. Ia banyak membuat tanda di tubuh Imran.


Mama Lina menghampiri Imran dan mengecek bagian dada dan lehernya. Mama Lina tersenyum menatap ke arah Mila.


" Iya kau benar Ton, nyamuknya ganas kalau ini mah, sampai sampai hampir tertutup warna merah semua." Ucap Mama Lina tersenyum simpul.


" Mila nanti kamu bersihin kamarnya ya, biar anak Mama nggak di gigit nyamuk lagi." Goda Mama Lina.


" Ah iya Ma." Sahut Mila.


" Eh tapi Mama malah seneng kalau Imran sering di gigit nyamuk, biar cepat berkembang biak Imrannya menghadirkan Imran junior, besok besok ajarin Mama ya caranya nyamuk membuat tanda seperti itu." Seloroh Mama Lina.


" Kamu ini, udah jangan goda menantumu entar dia malu lagi, Mila ini obat penurun panas sama vitamin ya, berikan kepada Imran setelah dia makan." Ujar Dokter Anton.


" Makasih Dok." Ucap Mila.


" Sama sama, kalau begitu saya permisi." Ujar Dokter Anton.


" Silahkan Dok." Sahut Mila.


" Aku duluan Lin." Ucap Dokter Anton.


" Hati hati." Sahut Mama Lina.


" Sayang kamu di sini saja nungguin Imran bangun, Mama akan memasak untuk sarapan kalian." Ucap Mama Lina.


" Biar aku saja Ma, Mama di sini saja." Tolak Mila tidak enak.


" Tidak pa pa, Imran membutuhkanmu di sini bukan Mama." Ujar Mama Lina keluar dari kamar Imran.

__ADS_1


Mila duduk di tepi ranjang, Ia mengompres dahi Imran dengan washlap.


" Mas bangun donk." Ucap Mila menatap wajah Imran yang memerah akibat saking tinggi panasnya.


" Kamu kenapa sih Mas? Kalau demam biasa harusnya kamu udah baikan, aku khawatir banget sama keadaanmu Mas." Sambung Mila.


" Engh." Lenguh Imran membuka matanya menatap Mila.


" Mas mau minum?" Tanya Mila.


" Hmm." Gumam Imran.


Mila membantu Imran untuk minum.


" Jangan khawarir sayang Mas baik baik saja, Sini sayang." Lirih Imran.


Mila duduk bersandar pada headboard sedangkan Imran menggunakan paha Mila untuk bantalan. Wajahnya Ia hadapkan ke perut Mila sambil memeluk pinggang Mila.


" Kenapa hmm?" Tanya Mila.


" Nggak pa pa lagi pengin begini aja." Ujar Imran.


" Kapan dia ada di sini?" Tanya Imran mengelus perut Mila.


" Kita pasrahkan saja sama Tuhan kapan Dia akan memberikan amanah itu pada kita Mas." Sahut Mila.


" Iya kau benar, mungkin Tuhan masih ingin memberiku kesempatan untuk membuktikan betapa besarnya cintaku padamu dan tidak membuatmu kecewa lagi." Ucap Imran.


" Aku percaya padamu Mas, sekarang jangan bahas hal itu lagi ya, fokuslah pada kesembuhanmu agar tidak membuatku khawatir." Sahut Mila.


" Iya sayang makasih ya udah nemenin Mas selama ini." Ujar Imran.


" Sama sama Mas." Sahut Mila.


" Apa Mama ke sini?" Tanya Imran.


" Mama udah ada di sini Mas dari tadi, Mama datang bareng Dokter." Ujar Mila.


" Dokter? Apa Mas udah di periksa sama Om Anton?" Tanya Imran.


" Iya sudah dan kata Dokter Anton Mas hanya demam biasa." Sahut Mila.


" Mama lagi masak sebentar buat kamu, nanti kamu makan terus minum obat ya Mas." Ujar Mila.


" Hmm." Gumam Imran menganggukkan kepalanya membuat Mila sedikit geli.


" Usap kepalaku Yank." Ucap Imran.


Mila mengusap kepala Imran dengan lembut. Mama masuk membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih.


" Makan dulu sayang, Mama buatkan bubur ayam kesukaanmu." Ucap Mama Lina.


" Iya Ma, Yank suapin." Ucap Imran.


Mama Lina tersenyum melihat sikap manja putranya.


" Udah tua kok manja." Ucap Mama Lina.


" Aku masih muda Ma, belum juga punya anak." Sahut Imran.


" Makanya buruan di jadikan, Mama juga udah kepengin menimang cucu." Ujar Mama Lina.


" Doakan saja Ma." Sahut Mila.


" Doa terbaik untukmu sayang." Sahut Mama Lina.


" Ya udah sekarang kamu makan dulu, Mama ke bawah dulu ya, Mama juga belum sarapan, setelah menyuapi Imran kamu juga turun untuk sarapan ya Mil" Ucap Mama.


" Iya Ma, makasih ya Ma." Ucap Mila.


" Sama sama sayang." Sahut Mama Lina meninggalkan mereka berdua.


Mila membantu Imran duduk bersandar pada headboard. Ia menyuapi Imran dengan telaten. Ia mengusap sisa makanan di bibir Imran dengan tisu.


" Pinter, sekarang tinggal minum obat." Ucap Mila.


" Huk..." Imran menutup mulut dengan telapak tangannya


" Kenapa Mas?" Tanya Mila.

__ADS_1


Imran turun dari ranjang, Ia langsung berlari menuju kamar mandi. Mila segera mengikutinya.


Huek.... Huek... Huek....


Imran memuntahkan seluruh isi perutnya di wastafel kamar mandi.


" Ya ampun Mas.... Apa yang terjadi denganmu? Kenapa bisa muntah kaya' gini?" Pekik Mila.


" Aku pijit ya." Sambung Mila memijat tengkuk Imran dengan pelan.


Huek... Huek...


Setelah merasa perutnya kosong Imran membasuh mulutnya dengan air bersih. Mila mengelap mulut Imran dengan tisu.


" Udah baikan?" Tanya Mila.


" Lemes Yank." Sahut Imran.


" Aku bantu kembali ke ranjang." Ujar Mila.


Mila memapah Imran menuju ranjangnya. Ia membaringkan Imran di ranjang lalu menyelimuti tubuh Imran sebatas dada.


" Aku ambilkan makanan lagi ya Mas." Ujar Mila.


" Enggak usah Yank, Mas mau tiduran aja." Sahut Imran.


" Kalau perut Mas Des kosong gimana Mas mau minum obatnya?" Tanya Mila.


" Mas nggak mau minum obat, Mas mau istirahat saja." Ujar Imran.


" Kalau nggak minum obat nanti nggak sembuh sembuh Mas." Ujar Mila.


" Ya udah minum obat tapi nggak usah makan, Mas takut mual." Ucap Imran.


" Nggak bisa, makan yang lain aja ya." Bujuk Mila.


" Mas mau makan rujak buah." Ucap Imran tiba tiba.


" Rujak???" Mila melongo menatap Imran.


" Pagi pagi begini kamu mau makan rujak buah Mas?" Tanya Mila tidak percaya pasalnya ini masih jam tujuh pagi.


" Bukannya kamu nggak suka rujakan ya Mas? Apalagi sama buah yang masam." Ujar Mila.


" Tapi Mas pengin banget sayang, beliin ya kalau bisa yang ada mangga mudanya, sekarang." Ucap Imran dengan tatapan memelasnya.


" Kamu sakit apa sih Mas sebenarnya, ada ada aja orang sakit muntah muntah malah pengin makan rujak buah, mau cari dimana coba, mana pagi pagi begini, kalau penjual rujak kan bukanya agak siangan dikit." Gerutu Mila.


" Ya udah kalau kamu nggak mau beliin nggak pa pa." Ucap Imran menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Mila menghela nafas pelan sambil menggelengkan kepalanya. Ia tahu kalau Imran sedang merajuk.


" Baiklah akan aku belikan, Mas tunggu saja di sini." Ucap Mila keluar dari kamarnya. Ia turun ke bawah untuk menemui Mama Lina.


" Ma." Panggil Mila menghampiri Mama Lina yang sedang makan.


" Iya ada apa? Apa Imran kurang buburnya?" Tanya Mama Lina.


" Mas Desfian memuntahkan semua yang masuk ke dalam perutnya Ma." Sahut Mila.


" Apa? Imran muntah muntah." Pekik Mama Lina.


" Iya Ma, malahan Mas Desfian minta di beliin rujak buah sekarang juga." Ucap Mila.


Mama Lina tersenyum lebar mendengar ucapan Mila. Semoga tebakannya kali ini benar jika akan ada kabar baik dari Mila.


Hayooooo kira kira Imran kenapa ya????


Tunggu di Bab selanjutnya


TBC......


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...


Jika berkenan beri author hadiah dan votenya ya...


Terima kasih buat readers yang udah sukung author semoga sehat selalu...


Miss U All

__ADS_1


__ADS_2