Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Pernikahan


__ADS_3

Papa Sakti, Mama Alfi, Khanna dan Nervan segera datang ke rumah sakit setelah Aroon memberitahu tentang pernikahannya dengan Kinan. Semua orang terkejut dan bahagia secara bersamaan. Mereka tidak menyangka jika Aroon akan melepas status dudanya setelah sekian lama hidup sendiri. Mereka semua menuju ruangan Papa Burhan.


Ceklek.....


Mama Alfi membuka pintu ruangan di mana pak penghulu dan saksi dari pihak Kinan sudah datang.


" Mama... Silahkan masuk Ma." Ucap Aroon.


Mama Alfi masuk ke dalam di ikuti semuanya dari belakang.


" Om Burhan, kenalkan ini Papa dan Mamaku, dan yang ini adikku dan suaminya." Ucap Aroon meninggalkan kalimat formalnya memperkenalkan keluarganya kepada calon mertuanya.


" Selamat malam Tuan, Nyonya." Sapa Papa Burhan lemah.


" Panggil nama saja Pak Burhan, sekarang kita akan menjadi keluarga." Sahut Papa Sakti.


" Pa Ma, ini Kinan calon istriku." Ucap Aroon memperkenalkan Kinan.


Kinan menatap kedua orang tua Aroon sambil tersenyum. Inikah orang orang yang akan menjadi keluarganya nanti? Kinan tidak pernah membayangkan semua hal ini terjadi padanya begitu cepat.


" Sayang." Panggil Aroon menyenggol bahu Kinan membuat Kinan tersadar.


" Ah maaf Tante Om, saya Kinan." Ucap Kinan menyalami Mama Alfi dan Papa Burhan.


" Gadis yang cantik, kamu memang pintar memilihnya Bang." Ujar Mama Alfi.


" Bukan memilih tapi memaksa Tante." Gumam Kinan yang masih bisa di dengar oleh Aroon.


" Mas denger lhoh Yank." Ujar Aroon.


Huek....


Kinan menahan muntahnya mendengar ucapan Aroon.


" Hai Kak aku Khanna, adiknya Kak Aroon dan ini Mas Nervan suamiku." Ucap Khanna mengulurkan tangannya.


" Hai, kaya'nya aku lebih mirip jadi adikmu deh." Ujar Kinan.


" Iya usiaku jauh lebih tua darimu, tapi aku akan memanggilmu Kakak ipar karna kau menikahi Kakakku." Sahut Khanna.


" Hmm." Gumam Kinan. Perkenalan Kinan beralih ke Nervan.


" Kinan." Ucap Kinan menyalami Nervan.


" Nervan." Sahut Nervan.


" Tuan Aroon bisa acaranya di mulai sekarang?" Tanya Pak penghulu.


" Silahkan Pak." Sahut Aroon.


Kinan dan Aroon duduk di kursi yang sudah di sediakan pihak rumah sakit untuk acara ijab qobul mereka. Pak penghulu menjabat tangan Aroon.


" Saudara Aroon Arviano." Ucap Pak penghulu.


" Saya." Sahut Aroon.


" Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Kinanthi Swaraya binti Burhan Ardio yang mana kewaliannya sudah di wakilkan kepada saya dengan mas kawin uang sebesar satu juta rupiah di bayar tunai." Ucap Pak penghulu.


" Saya terima nikah dan kawinnya Kinanthi Swaraya binti Burhan Ardio dengan mas kawin tersebut tunai." Ucap Aroon lantang.


" Bagaimana saksi?" Tanya Pak penghulu kepada kedua saksi.

__ADS_1


" Sah." Sahut kedua saksi bersamaan.


" Alhamdulillah." Ucap semua orang serempak.


Pak penghulu membacakan doa doa setelah ijab qobul. Setelah selesai di lanjut penandatanganan akta nikah. Kinan mencium tangan Aroon sedangkan Aroon mencium kening Kinan lalu menyebul ubun ubun Kinan dengan doa.


" Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, taatilah kewajiban masing masing dan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah." Ucap Pak penghulu.


" Terima kasih Pak, saya akan berusaha untuk menjadi suami yang baik bagi istri saya." Sahut Aroon.


" Selamat Pak Burhan kami permisi." Sambung Pak penghulu undur diri.


" Selamat sayang sekarang kamu mempunyai tanggung jawab baru terhadap istrimu." Ucap Mama Alfi.


" Terima kasih Ma." Sahut Aroon.


Mama Alfi beralih ke Kinan.


" Selamat Kinan, semoga selalu bahagia." Ucap Mama Alfi.


" Terima kasih Tan." Sahut Kinan.


" Lhoh kok Tan sih? Mama donk." Protes Mama Alfi.


" Iya Ma." Ucap Kinan.


Setelah saling mengucapkan doa dan selamat, Papa Sakti dan keluarganya kembali ke rumah, sedangkan Kinan dan Aroon menunggu Papa Burhan.


Kinan duduk di kursi samping ranjang sambil menggenggam tangan Papanya.


" Sayang kamu tidurlah di sofa, biar Papa aku yang jaga." Ucap Aroon.


" Sayang jangan keras kepala, kalau kamu tidak tidur kamu bisa sakit, sekarang menurutlah atau aku...


" Kamu apa? Kamu mau memaksaku lagi untuk mengikuti semua perintahmu begitu? kau tidak menjadikan aku sebagai istrimu tapi kau menjadikan aku sebagai budakmu yang harus selalu menuruti apa perintahmu." Ucap Kinan memotong ucapan Aroon.


" Bukan begitu sayang." Ujar Aroon.


" Sudahlah aku malas berdebat denganmu, aku sudah menuruti kemauanmu untuk menepati janjiku jadi sekarang jangan coba coba kau mengatur kehidupanku." Ketus Kinan.


" Kau bukan menepati janjimu tapi kau menuruti kemauan Papamu, ingat itu Kinan." Sahut Aroon berjalan menuju sofa. Tidak ada gunanya Ia memberikan perhatian pada orang yang tidak berempati padanya.


Kinan menundukkan kepalanya di atas tangannya. Ia mencoba memasuki alam mimpi dan berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan hilang saat Ia terbangun nanti.


Pagi hari karna mendengar suara berisik Kinan mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.


" Sofa?.... Bukankah semalam aku tidur di kursi?" Batin Kinan.


" Selamat pagi sayang." Ucap Aroon duduk di sofa sebelah kaki Kinan. Kinan memutar bola matanya malas. Ternyata ini semua bukan mimpi.


" Sekarang mandilah! Papa akan segera pulang dan baju gantimu sudah ada di kamar mandi." Ujar Aroon.


Tanpa berkata apapun Kinan segera masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa ponselnya. Sesampainya di dalam, Ia menatap papper bag yang berada di atas wastafel lalu Ia pun membukanya.


" Apa? Dia bahkan menyiapkan pakaian dalamku juga? Darimana dia tahu ukurannya?" Monolog Kinan bertanya tanya.


Ting...


Ponsel Kinan berbunyi tanda pesan masuk.


📲 Suami Tampanku

__ADS_1


Aku tahu ukurannya karna semalam aku sudah mengukurnya sendiri


"Apa apaan ini? Pertama kontak dengan nama suami tampanku, alay sekali... Terus yang kedua dia mengukur??? Mengukur apa ini yang di maksud? Tidak mungkin kan dia mengukur...." Kinan menatap dua gunung kembarnya.


" Ah tidak tidak tidak, ini tidak mungkin... Dasar pria tua mesum, awas aja kalau dia berani macam macam sama aku, akan aku patahkan semua tulang tulangnya." Gerutu Kinan.


Kinan mengedit kontak Aroon dengan nama yang sesuai menurutnya. Ia tersenyum smirk meletakkan ponselnya di pinggir wastafel. Kinan mandi dengan kilat karna takut Papanya menunggu kelamaan.


Setelah selesai Kinan segera keluar dari kamar mandi.


" Anak Papa sudah cantik aja nih." Ujar Papa Burhan saat Kinan menghampirinya.


" Harus donk Pa." Sahut Kinan.


" Emang seharusnya pengantin baru itu harus tampil cantik sepanjang hari." Ujar Papa Burhan.


" Apa keadaan Papa sudah membaik? Kalau belum menginaplah di sini untuk beberapa hari Pa supaya Papa benar benar sembuh baru kita pulang." Ujar Kinan mengabaikan candaan Papanya.


" Sudah sayang, kamu jangan khawatir ada Tante Tari yang akan menjaga Papa di rumah." Ucap Papa Burhan.


" Kenapa Tante Tari? Ada aku juga kan Pa." Sahut Kinan.


" Tidak sayang, sekarang kamu sudah menikah jadi kamu harus ikut kemanapun suamimu tinggal." Ujar Papa Burhan.


" Papa mengusirku?" Tanya Kinan.


" Bukan begitu sayang, tapi memang itu kewajiban seorang istri." Sahut Papa Burhan.


" Aku tidak mau, aku mau tinggal di rumah menemani Papa aja." Ujar Kinan.


" Sayang jangan bertingkah seperti Mamamu yang berlaku seenaknya sendiri, menurut lah pada Suamimu karna sekarang dialah Imammu." Tegas Papa Burhan.


" Papa tidak perlu menyamakan aku dengan Mama, aku keluar dulu." Ucap Kinan berjalan keluar ruangan.


" Sayang." Panggil Aroon hendak mengejar Kinan tapi Papa Burhan mencegahnya.


" Biarkan dia sendiri Nak Aroon, hati Kinan memang sensitif jika ada yang membicarakan tentang Mamanya." Ucap Papa Burhan.


" Ah iya Pa, Pa aku takut kalau Kinan mengetahui kebohongan Papa." Ucap Aroon.


" Tidak perlu khawatir, Kinan tidak akan pernah tahu jika sebenarnya kita bersandiwara supaya dia mau menikah denganmu." Ucap Papa Burhan.


Jeduar.....


Hayooo tebak... Apa nih yang meledak....


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...


Terima kasih buat readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U Al...


TBC....


AUTHOR UCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1443 H


MINAL AIDZIN WALFAIDZIN


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN


BILA ADA SALAH KATA AUTHOR DALAM MENYAPA KALIAN SEMUA....

__ADS_1


__ADS_2