Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Kedatangan pria setengah tua


__ADS_3

Kinan baru saja selesai mandi, Ia turun ke bawah untuk makan malamnya. Kinan menuruni anak tangga satu persatu menuju meja makan menghampiri Papanya.


" Malam Pa." Sapa Kinan.


" Malam sayang, sini duduk kebetulan kita sedang ada tamu." Sahut Papa Burhan.


" Tamu? Siapa Pa?" Tanya Kinan.


Ceklek...


Pintu kamar mandi dapur terbuka. Kinan menatap ke arah pria yang baru saja keluar dari sana.


" Om." Pekik Kinan.


" Ya." Sahut Aroon menatap Kinan.


Glek.....


Aroon menelan kasar salivanya, jantungnya berdetak dengan kencang kala melihat Kinan yang saat ini hanya memakai hotpants dan tanktop saja. Kulit putih bersih telihat jelas di matanya.


" Ngapain Om di rumahku?" Tanya Kinan sambil melotot dan berkacak pinggang.


" Kinan tidak baik berbicara seperti itu pada tamu, Tuan Aroon ingin menyampaikan sesuatu kepada kita, kau duduklah dulu." Ujar Papa Burhan.


" Aku ganti baju dulu Pa, takut di terkam sama duda kelaparan." Sahut Kinan melirik Aroon.


Kinan kembali ke kamarnya. Aroon menatap kepergian Kinan tanpa berkedip.


" Ehm ehm." Dehem Papa Burhan membuat Aroon tersadar.


" Maaf atas sikap anak saya Tuan." Ucap Papa Burhan.


" Tidak masalah Tuan namanya remaja begitulah sikapnya." Sahut Aroon duduk di kursi sebelah Papa Burhan.


" Silahkan menikmati makan malamnya Tuan." Ujar Papa Burhan.


" Terima kasih tuan Burhan." Sahut Aroon.


Keduanya mulai memakan sajian makan malamnya. Kinan berjalan menghampiri mereka lalu mengambil makanannya, Ia duduk di depan Aroon. Aroon menatap intens penampilan Kinan, kali ini Kinan memakai dress selutut membuatnya semakin anggun di mata Aroon.


" Nggak pernah lihat cewek cantik ya Om? Dari tadi lihatin mulu." Ketus Kinan.


" Eh... Siapa yang lihatin kamu." Kilah Aroon salah tingkah.


" Kinan." Lirih Papa Burhan.


" Iya Pa." Sahut Kinan.


Ketiganya makan dengan khidmat. Setelah selesai mereka berkumpul di ruang tamu.


" Begini Tuan Burhan, langsing saja saya kaakan kalau saya akan menyetujui kerja samanya tapi maaf saya mengajukan satu syarat yang harus di penuhi kepada anda." Ucap Aroon menatap Papa Burhan.


" Apa syaratnya Tuan Aroon?" Tanya Papa Burhan.

__ADS_1


" Saya ingin Kinan menikah dengan saya." Sahut Aroon.


" What???? Me... nikah denganmu? Aku?" Kinan menunjuk dirinya.


" Iya kamu lah masa' Papamu." Sahut Aroon.


" Tidak bisa, emangnya aku mau apa menikah sama pria setengah tua sepertimu? Tidak Pa aku tidak mau." Ucap Kinan.


" Kinanthi." Ucap Papa Burhan.


Kinan menatap Papanya sambil mengatupkan kedua tangannya.


" Pa ku mohon jangan terima syarat itu Pa, aku tidak mau menikah dengannya Pa." Sambung Kinan.


" Anda pasti tahu konsekuensi jika menolak syarat dari saya Tuan Burhan." Ucap Aroon.


" Pa please.... Papa tidak perlu mendengarkan ancamannya Pa, jangan korbankan masa depanku dengan menikahkan aku dengan Om Om ini Pa." Ucap Kinan.


" Tapi anda akan mengorbankan masa depan banyak orang jika anda menolaknya Tuan Burhan." Sahut Aroon.


" Diamlah Om! Jangan mengintimidasi Papaku." Ujar Kinan.


" Aku memberikan peluang kerja sama Kinan, perusahaan kalian akan mendapat keuntungan yang besar dari kerja sama ini." Ujar Aroon.


" Tapi aku yang tidak beruntung jika harus menikah denganmu Om." Sahut Kinan.


" Tuan Burhan pikirkan baik baik atas syarat yang saya ajukan, saya tunggu jawabannya besok pagi, saya permisi." Ucap Aroon beranjak dari duduknya. Ia kesal krna dari tadi Kinan menyebutnya dengan pria setengah tua. Tidak tahukah Kinan jika sampai sekarang Aroon masih perjaka.


" Baik Tuan Aroon, terima kasih sudah memberi waktu untuk saya berpikir." Ucap Papa Burhan.


" Om tunggu." Panggil Kinan berlari menghampiri Aroon. Aroon menghentikan langkahnya.


" Ada apa? Apa kau langsung menyetujui syaratku itu?" Tanya Aroon.


" Ku mohon ganti dengan syarat yang lain, aku tidak mau menikah sekarang Om, aku masih sangat muda cita citaku bahkan belum terwujud, ku mohon padamu Om." Pinta Kinan.


Aroon mendekat ke arah Kinan, bahkan tubuh mereka hanya berjarak lima centi saja. Kinan menatap Aroon dengan tatapan was wasnya.


" Menikahlah denganku, urus aku dan anak anak kita nanti, kau tidak perlu bekerja karna uangku sudah lebih dari cukup untuk menghidupimu." Ucap Aroon mengelus pipi Kinan.


" Jangan aku, aku berjanji akan mencarikan wanita yang tepat untuk menjadi istrimu." Ujar Kinan.


" Jangan membuat janji jika kau tidak bisa menepatinya." Sahut Aroon.


" Aku akan menepatinya Om, suer." Ucap Kinan mengacungkan dua jarinya.


" Kalau begitu tepati janjimu kepada putraku, kau masih ingat janji itu kan?" Ujar Aroon.


Kinan menelan salivanya dengan kasar. Kali ini Ia kalah telak jika berdebat dengan Aroon.


" Kenapa diam? Apa kau lupa dengan janji yang kau buat dengan putraku Zavran? Kau berjanji akan menikah denganku dan menjadi Mamanya saat kalian bertemu kembali, tapi apa nyatanya? Kau menolaknya saat pertemuan kedua dengan Zavran, kau pura pura tidak mengenalnya hingga membuat putraku sedih." Ucap Aroon menatap Kinan.


" E... Soal itu maafkan aku." Ujar Kinan.

__ADS_1


" Aku bisa memaafkanmu saat itu, tapi kali ini aku tidak akan memaafkanmu lagi jika kau berani menghindariku apalagi menolakku kau akan menerima akibatnya, Kau mengerti?" Tanya Aroon.


" Me... Menghindarimu." Ucap Kinan.


" Ya kamu sengaja resign dari sekolah Zavran untuk menghindar dari janjimu kan? Jika kau berani melakukannya lagi maka terima akibat dari kesombonganmu ini Nona Kinan, kau akan kehilangam semua yang kau miliki saat ini termasuk Papamu." Tegas Aroon.


" Papaku? Apa maksudmu aku kehilangan Papaku? Apa kau akan menghabisinya begitu?" Selidik Kinan dengan suara meninggi.


" Apapun bisa aku lakukan Nona Swara." Ucap Aroon.


" Ah kau memang menyebalkan, aku tidak mau menikah dengan orang yang umurnya sama dengan adik Papaku, bermimpilah karna keinginanmu tidak akan terwujud Tuan Aroon." Ucap Kinan hendak meninggalkan Aroon tapi Aroon mencekal tangannya.


" Lepasin." Ucap Kinan.


Aroon menarik tangan Kinan dengan kasar hingga membuat tubuh Kinan membentur dada Aroon. Aroon segera mengunci tubuh Kinan dengan memeluknya.


" Lepas... Lepaskan aku Om." Ucap Kinan memberontak.


" Jadilah gadis yang manis, jangan keras kepala seperti ini aku tidak suka." Bisik Aroon di telinga Kinan. Bulu kuduk Kinan merinding tersapu hembusan nafas Aroon.


" Berlakulah hormat dengan seorang wanita Tuan, jangan rendahkan dirimu hanya karna menginginkan wanita sepertiku." Ucap Kinan.


" Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan termasuk mendapatkan dirimu gadis kecil." Ujar Aroon.


" Tidak semua yang kau inginkan harus orang lain penuhi termasuk mendapatkanku, sekarang lepaskan aku." Ucap Kinan.


" Ah sayang terima kasih karna kau mau memaafkan aku dan mau menerimaku lagi, aku berjanji akan membuatmu bahagia dan kita akan menikah secepatnya." Ucap Aroon tiba tiba.


" Apa apaan sih Om, lepas." Ucap Kinan mendorong keras tubuh Aroon hingga pelukannya terlepas.


" Oh jadi kalian memang ada hubungan to, pantas saja kamu memanggilnya Om." Ujar Papa Burhan tiba tiba membuat Kinan menoleh ke belakang.


" Bukan begitu Pa...


" Maafkan saya Tuan Burhan, kami memang menjalin hubungan tapi saat ini Kinan sedang marah dengan saya karna terakhir kami bertemu saya menciumnya... Hmmpt"


Aroon belum menyelesaikan ucapannya tapi Kinan sudah membekap mulutnya.


" Kinan jangan begitu sama calon suami sendiri." Ujar Papa Burhan.


" Apa maksud Papa?" Tanya Kinan.


" Papa menerima syarat yang di ajukan Tuan Aroon untuk menikahimu." Ucap Papa Burhan.


Jeduarrrrrr


Hayo kira kira apa ya yang akan Kinan lakuin untuk membatalkan pernikahannya ya?


Tunggu di bab berikutnya ya....


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya


Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U all....


TBC.....


__ADS_2