Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Kesal


__ADS_3

Mila sampai di sekolah dengan membonceng motor ninja Vicki di belakang hingga menampakkan paha putihnya. Semua mata para siswa menatap iri ke arah pasangan yang di gadang gadang sebagai sepasang kekasih itu. Imran yang baru saja keluar dari ruang rapat menatap tajam ke arah pasangan yang baru saja turun dari motornya. Tangannya mengepal kuat menahan emosi di jiwa.


" Kau bahkan tidak mengindahkan ucapanku Mila." Gerutu Imran dalam hatinya.


Imran berjalan menuju ruangannya. Begitupun dengan Mila dan Vicki, Keduanya berjalan menuju ruang kelas masing masing.


" Thanks ya Vic udah mau jemput gue." Ucap Mila sambil berjalan.


" OK... Gue siap kok jadi ojek buat Lo." Sahut Vicki.


" OK lah... Besok besok kalau gue butuh tumpangan gue bakal calling Lo, Gue masuk dulu ya." Ucap Mila setelah sampai di depan kelasnya.


"Ok.. Rehat kita ke kantin ya." Ujar Vicki.


" OK deh.. Bye." Sahut Mila.


Mila masuk ke dalam kelasnya menuju bangkunya.


" Tumben nggak telat." Ucap Risa.


" Gue nggak tiap hari telat kali, Lo mah sukanya ngejek gue." Cebik Mila.


" Eh gimana acaranya? Sukses?" Bisik Risa supaya teman yang lain tidak dengar.


" Entar gue ceritain, Ada yang lebih heboh dari sekedar acara itu." Ucap Mila.


" Ok Ok gue tunggu cerita Lo." Sahut Risa


Pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran matematika yang mana gurunya adalah suaminya sendiri. Membuat mood Mila menjadi buruk saja. Imran masuk ke dalam kelas menuju kursinya.


" Pagi anak anak." Sapa Imran seperti biasa. Ia melirik ke arah istrinya yang sedang menatap ke arahnya.


" Pagi Pak." Sahut murid murid.


" Buka buku paket kalian dan kerjakan soal halaman seratus sampai seratus lima, Dua jam pelajaran harus sudah selesai dan terkumpul di meja saya." Ucap Imran. Sepertinya Ia sedang melampiaskan emosinya kepada murid muridnya.


" What? Lima halaman lhoh Pak! Harus selesai dua jam pelajaran? Yang bener aja Pak, Otak kita bukan mesin Pak." Protes Mila.


Bayangkan saja jika satu halaman ada lima puluh soal lalu lima halaman berarti dua ratus lima puluh soal harus selesai dalam waktu seratus dua puluh menit? Mungkin untuk otak yang cerdas nggak masalah tapi untuk otak yang pas passan apa nggak ngap ngapan? Bahkan mungkin sangat keteteran. Bener bener nggak ada ot** nih guru pikir Mila.


" Yang keberatan silahkan keluar, Tidak perlu mengikuti pelajaran saya." Tegas Imran.


Mila maju ke depan menatap Imran, Imran berdiri di hadapan Mila sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


" Kenapa?" Tanya Imran.


" Ini namanya penindasan Pak, Untuk mereka yang punya otak di atas rata rata akan dengan mudah mengerjakannya, Tapi untuk yang di bawah rata rata gimana? Apa Pak Des tidak berpikir sampai ke situ?" Tanya Mila menatap Imran.


" Saya sudah bilang kalau keberatan silahkan keluar, Dan tunggu hukuman dari saya." Tegas Imran.


" Yang tidak bisa mengerjakan keluar bareng gue, Jangan di paksakan atau otak kalian akan jebol kaya' bendungan, Nggak perlu takut hukuman kita akan hadapi hukuman itu sama sama." Ucap Mila menatap teman temannya.

__ADS_1


Semua murid saling pandang lalu satu persatu dari mereka beranjak dari duduknya berdiri di samping Mila sambil menundukkan kepala, Dan hanya tersisa dua murid saja yang masih sibuk dengan pena dan bukunya.


" Bagaimana Pak Des? Apa kami semua harus keluar? Jika sampai kami keluar maka kami akan mengadu kepada kepala sekolah atas cara anda mengajar kami." Ancam Mila.


Imran menghela nafasnya menatap Mila yang menatap remeh ke arahnya. Jika sampai mereka mengadu kepada kepala sekolah maka Imran akan mendapat sanksi.


" Baiklah saya kurangi, Sekarang kalian duduklah, Kerjakan satu halaman saja." Ucap Imran.


" Baik Pak." Sahut murid murid mulai duduk kembali ke bangku masing masing.


" Lain kali pikir dulu Pak sebelum memberi perintah." Ujar Mila.


Murid murid mulai mengerjakan tugas dari Imran dengan tenang. Bel istirahat berbunyi semua murid menghela nafas lega. Imran bersiap meninggalkan kelasnya.


" Kamila Azzurra sekarang juga ikut ke ruangan saya, Bawakan juga tugas teman teman kamu." Titah Imran.


" Gue mau rehat Pak makan dulu keburu jam rehat habis." Sahut Mila.


" Kerjakan atau dapat hukuman." Tekan Imran meninggalkan kelas Mila.


" Rese' emang." Cebik Mila.


" Mil gimana kalau gara gara kami kamu mendapat hukuman dari Pak Imran?" Tanya Mella salah satu temannya.


" Sans aja, Gue bisa mengatasinya." Sahut Mila.


Mila berjalan menuju ruangan Imran sambil membawakan tugas teman temannya.


Tok tok


Mila masuk ke dalam meletakkan tugasnya di meja depan Imran.


" Saya permisi Pak." Ucap Mila membalikkan badannya.


" Mau kemana?" Tanya Imran mencekal tangan Mila.


" Mau ke kantin, Kenapa? Mau ikut?" Mila balik bertanya.


" Kenapa tadi berangkat bareng pria lain?" Selidik Imran.


" Karna kamu meninggalkan aku." Sahut Mila.


" Jangan alasan bukankah di garasi ada tiga mobil? Kenapa tidak kau pilih salah satunya?" Tanya Imran.


" Tiga mobil?" Tanya Mila memastikan.


" Iya.. Apa Hena tidak memberitahumu?" Tanya Imran.


" Sialan kau Mbak, Kau membodohiku." Batin Mila.


" Karena aku tidak bertanya padanya, Aku pikir kamu cuma punya satu mobil saja." Sahut Mila.

__ADS_1


Imran merapatkan tubuhnya ke tubuh Mila. Ia mengunci kedua tangan Mila ke belakang punggung Mila.


" Mau apa?" Tanya Mila tanpa rasa takut.


" Mau kasih kamu hukuman." Sahut Imran.


" Hukuman apa?" Selidik Mila.


" Hukuman yang bisa membuatmu senang." Seloroh Imran.


" Jangan macam macam ini di sekolah." Ucap Mila mulai ketakutan karena Imran mengendus lehernya. Aroma lily membuat Imran merasa tenang.


" Berarti kalau di rumah boleh?" Bisik Imran di telinga Mila membuat tubuh Mila meremang.


" Tidak boleh... Minggir aku mau keluar." Ucap Mila.


Cup


Imran mencium pipi kanan Mila membuat Mila melongo membulatkan matanya.


" Kau.... Kau melecehkan aku." Pekik Mila mencoba berontak.


" Tidak ada pelecehan terhadap istri sendiri bahkan jika aku melakukan hal yang lebih dari ini." Sahut Imran.


Cup


Imran mencium pipi kiri Mila.


" Sialan kau Pak Des, Kau merendahkan aku." Kesal Mila.


Mila menginjak kaki Imran membuat Imran memekik kesakitan hingga Ia melepaskan tangannya.


Plak....


Tamparan keras mendarat di pipi putih Imran.


" Kau... Kenapa kau menamparku Mila?" Tanya Imran.


" Karena kamu sudah berani menciumku, Aku sudah bilang padamu jangan pernah menyentuhku karena aku tidak sudi di sentuh oleh suami wanita lain." Teriak Mila. Beruntung ruangan Imran kedap suara jadi tidak ada yang mendengar teriakan Mila.


" Aku suamimu Mila, Aku berhak melakukan apapun padamu." Ucap Imran.


" Siapa yang memberi hak itu padamu? Pernikahan ini hanya keterpaksaan saja dan bagiku pernikahan ini tidak ada artinya, Kau dan aku hanya orang asing yang tinggal dalam satu kamar, Ingat itu." Tekan Mila menunjuk wajah Imran.


Brakkk


Mila menarik kasar kursi yang ada di sana hingga jatuh ke lantai, Imran memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya.


" Bagaimanapun caranya aku akan meluluhkan hatimu dan menumbuhkan cinta dalam hatimu Mila sayang." Batin Imran.


TBC.....

__ADS_1


*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...


Miss U All*...


__ADS_2