
Setelah makan selesai Imran menggandeng Mila menuju kamarnya. Kamar pribadinya di lantai paling atas.
Ceklek....
Imran membuka pintunya aroma mawar dan aroma therapi dari lilin langsung menyeruak ke hidung Mila. Ia menatap ranjang yang sudah di dekorasi sama persis dengan kamar pengantin baru. Kelopak bunga mawar yang di bentuk love menghiasi ranjang mereka. Imran menuntun Mila menuju ranjangnya.
" Ma... Mas." Gugup Mila.
" Kenapa? Kamu gugup?" Tanya Imran.
" I... Iya Mas." Sahut Mila.
" Tidak perlu gugup sayang kita ikuti naluri kita saja ya, Mas akan melakukannya dengan sangat lembut dan pelan." Ujar Imran.
" Sekarang bersihkan dirimu dulu lalu pakailah pakaian yang sudah ada di dalam kamar mandi." Sambung Imran.
" Baiklah Mas." Sahut Mila.
Mila masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Ia melihat baju yang tergantung di dinding kamar mandi matanya membulat sempurna.
" Lingerie? Bagaimana gue memakainya? Oh ya ampun gue akan merasa malu di depan Mas Des, Gimana ini? Mana gue udah janji mau menyerahkan diri gue padanya lagi." Monolog Mila.
" Sayang di pakai saja, Mas udah mematikan lampunya kok jadi kamu tidak harus malu." Teriak Imran dari luar.
" Hah Mas Des cenayang kali ya? Tahu aja apa yang sedang gue khawatirkan, Mas Des makin bikin gue felling in love deh." Ujar Mila.
Mila segera memakai pakaian yang mirip seperti jaring ikan, Begitu transparan. Warnanya sama seperti gaunnya, Merah maroon begitu pas dan kontras dengan kulit putihnya. Mila menutupinya dengan bathrobe yang ada di sana.
Ceklek....
Mila keluar kamar mandi, Imran menatap ke arahnya.
" Lhoh kok di tutup pakai bathrobe sih Yank, Buka donk biar Mas rekam di dalam pikiran Mas, Biar Mas hafal setiap lekukan yang ada di tubuh kamu." Seloroh Imran.
" Aku masuk nih kalau kamu gitu." Ancam Mila.
" Jangan donk yank, Kamu nggak tahu betapa sakitnya menahan selama ini, Sini." Ucap Imran menuntun Mila ke ranjang.
Keduanya duduk serong saling berhadapan. Mila baru menyadari kalau Imran hanya memakai handuk di bagian bawahnya saja.
" Mas udah mandi?" Tanya Mila.
" Iya... Mas mandi di kamar sebelah." Sahut Imran.
Imran mendorong pelan tubuh Mila hingga terlentang di atas ranjang. Imran segera mengukungnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Mila membuat Mila memejamkan matanya. Imran mengecup bibir Mila. Imran menggigit bawah Mila dan Mila membuka sedikit mulutnya. Imran menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Mila. Ia mengekspos setiap inchi di dalam mulut Mila. Imran melu*** lembut bibir Mila. Keduanya saling menikmati sensasi panas dingin yang keduanya ciptakan.
Ciuman Imran turun ke leher Mila. Lidahnya bermain main di sana membuat Mila mendesis. Imran membuat banyak jejak kepemilikan di sana.
" Massss." Desis Mila.
Imran melanjutkan kegiatannya, Ia bermain main di puncak gunung kembar istrinya. Entah siapa yang memulai kini keduanya sama sama pol*s.
" Sayang ini akan terasa sangat sakit kamu bisa cakar punggung Mas, Berbagilah rasa sakitnya dengan Mas ya." Ujar Imran.
__ADS_1
" Aku tidak akan menyakiti orang yang aku sayangi Mas." Sahut Mila.
"Baiklah terserah kamu saja, Jika sakit hentikan Mas, Mas datang ya." Ucap Imran.
" Hmm." Gumam Mila menganggukkan kepalanya.
Setelah berdoa Imran mulai menuntun pusakanya menuju goa. Ia mulai memasuki goa itu dengan pelan dan lembut. Saat Ia hampir berhasil masuk dengan sempurna tiba tiba Mila melenguh menahan sakit.
" Engh." Mila menggigit bibirnya sambil meremas kuat sprei. Ia menahan suaranya agar tidak terdengar Imran. Mila tidak mau Imran merasa bersalah jika tahu Ia kesakitan.
" Sayang apa kamu kesakitan?" Tanya Imran konyol.
" Enggak Mas aku tadi cuma kaget aja kok." Sahut Mila.
" Kalau sakit kita tunda saja sayang." Ujar Imran.
" Nggak usah Mas, Lanjutin aja." Sahut Mil.
" Beneran nggak pa pa." Ucap Imran.
" Iya Mas percaya saja." Sahut Mila.
Imran meneruskan permainannya. Ia benar benar memperlakukan istrinya dengan lembut. Sensasi luar biasa membuat Mila benar benar terbang ke awan. Suara desah*n dan erangan memenuhi ruangan kamar mereka. Malam pertama yang Imran berikan padanya benar benar begitu mengesankan. Malam ini mereka berdua menghabiskan malam bersama. Rasa bahagia begitu membuncah di hati keduanya.
" Makasih sayang kamu telah menjaganya untukku." Ucap Imran mencium kening Mila.
" Hmm." Gumam Mila.
Imran memeluk tubuh Mila. Keduanya memejamkan mata di waktu hampir pagi.
" Awh." Pekik Mila merasakan sakit di bagian intinya. Mendengar Mila memekik kesakitan Imran membuka matanya.
" Sayang.... Apa masih sakit?" Tanya Imran mendekati Mila.
Mila menatap Imran yang masih telanj*ng.
" Mas tutup tubuhmu dulu." Ujar Mila.
Tanpa mempedulikan ucapan Mila, Imran menggendong Mila menuju kamar mandi.
" Mas aku bisa sendiri." Ucap Mila. Ia sangat malu dengan keadaan mereka. Bagaimana tidak? Imran menggendongnya dengan tubuh mereka sama sama polos.
" Biar Mas bantu, Kamu pasti masih sakit." Sahut Imran.
Imran mendudukkan Mila di dalam bath up yang sudah Ia isi air hangat sebelumnya. Imran juga ikut masuk ke dalamnya.
" Kenapa Mas ikut masuk?" Tanya Mila.
" Mau mandi sayang memang mau apa lagi." Sahut Imran.
Tanpa banyak berkata Mila mengikuti saja apa yang Imran lakukan padanya. Menggosok tubuhnya dengan sabun, Menggendongnya bilas di bawah shower, Bahkan Imran juga yang memakaikan baju untuknya.
"Rambutmu indah sekali sayang." Ucap Imran yang sedang menyisir rambut Mila yang sedikit basah, Mila memang tidak mau menggunakan hairdryer karena menurutnya rambutnya akan kering tidak sehat.
__ADS_1
" Sekarang istriku udah cantik." Ujar Imran mencium pipi Mila.
" Makasih Mas." Sahut Mila.
" Setelah sarapan kita pulang ya." Ucap Imran.
" Iya Mas." Sahut Mila.
Sesuai janji setelah sarapan mereka pulang ke rumah. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Mila mulai memasak untuk makan siangnya. Saat sudah selesai Imran datang menghampirinya.
" Sayang Mas tidak makan siang di rumah, Mas ada keperluan mendesak dan harus segera tiba di sana, Mas sudah di tunggu." Ucap Imran.
" Yah padahal aku udah masak lhoh Mas." Unar Mila kecewa.
" Baiklah Mas akan makan di rumah dulu, Mas akan menyuruh mereka menunggu." Ujar Imran. Ia tidak tega melihat wajah kecewa istrinya. Apalagi hubungan mereka baru saja terjalin dengan baik.
" Makasih Mas udah menghargai masakanku." Ucap Mila.
" Sama sama sayang." Sahut Imran mencium kening Mila.
Mila mengambilkan makanan untuk Imran seperti yang Ia lakukan beberapa bulan ini.
" Silahkan Mas." Ucap Mila meletakkan piring makanan di depan Imran.
" Makasih sayang." Ucap Imran.
Keduanya makan dengan khidmat. Selesai makan Imran pamit kepada Mila. Di rumah Mila merasa kesepian. Ia mencoba menelepon teman temannya. Tak lama panggilan pun terhubung.
" Halo Mil." Sapa Risa di sebrang sana.
" Halo, Gimana kabar Lo?" Tanya Mila.
" Gue baik baik saja, Kalau Lo gimana?" Risa tanya balik.
" Gue juga baik." Sahut Mila.
" Eh udah unboxing belum nih? Udah lama lhoh kalian menikahnya." Goda Risa. Selalu saja yang Ia tanyakan pasti hal itu.
" Ingin tahu aja Lo." Ujar Mila.
" Ya iya donk, Nih roman romannya pasti udah unboxing nih tadi malam." Tebak Risa.
" Apasih Lo, Udah ah gue tutup males kalau teleponan yang di tanya pasti hal itu, Kepo Lo." Ujar Mila menutup sambungan teleponnya. Ia menatap ke arah kaca.
" What! Apa ini?" Pekik Mila berlari ke arah cermin. Ia memutar tubuhnya di depan cermin menatap tanda merah di lehernya. Bahkan sangat banyak.
" Ya ampun buas juga tuh perjaka tua, Sekali unboxing bisa meninggalkan jejak sebanyak ini." Monolog Mila.
TBC......
*Mau langsung konflik lagi atau melihat keunyukan mereka dulu nih?
Jangan lupa like da koment setiap babnya ya...
__ADS_1
Terima kasih untuk para readers yang selalu dukung author...
Miss U All*