Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Kekecewaan Mila


__ADS_3

Malam hari Mila membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia tidak lagi menunggu kepulangan Imran. Ia tidak mau membuang buang waktu menunggu seseorang yang sedang asyik berdua dengan wanita lainnya. Saat ini Mila sedang berada di rumah Mama Santi. Setelah pulang dari rumah sakit, Mila mengemas beberapa bajunya untuk pulang ke rumahnya sendiri.


Cukup alot perdebatan antara dirinya dengan Mamanya yang tidak mengijinkan Mila tinggal di sini. Dengan sikap keras kepalanya Mila mengancam akan pergi jauh dari kehidupan keluarganya jika Mamanya tidak mengijinkannya. Mila tahu jika Mamanya memberitahu Imran tentang keberadaannya di sini. Tapi Ia bersikap masa bodoh.


Ceklek....


Benar saja, Imran masuk ke dalam kamarnya. Melihat Mila yang sudah bergelung di dalam selimut, Imran segera masuk ke dalam kamar mandi. Imran tidak perlu cemas soal pakaian ganti karna Imran pernah meninggalkan beberapa pakaiannya di sini. Setelah selesai mandi, Imran menghampiri Mila di ranjangnya.


Cup..


Imran mengecup pipi kanan Mila karna saat ini Mila berbaring membelakanginya.


" Sayang Mas tahu kamu belum tidur, Kenapa tidak menyambut kedatangan Mas." Ucap Imran memeluk Mila dari belakang. Sesungguhnya Mila merasa jijik tapi Ia sedang malas berdebat.


" Sayang kok diem aja sih, Kita lakukan ritual sebelum tidur yuk." Ajak Imran.


Mila tahu betul maksud ucapan Imran tapi Ia malas menanggapinya.


" Sayang ada apa denganmu hm?" Tanya Imran mencoba membalikkan badan Mila.


" Lepas! Apaan sih, Aku capek mau tidur dan mulai malam ini tidak ada ritual sebelum tidur." Ucap Mila.


" Kenapa? Apa kamu kesakitan karna kita melakukannya setiap malam? Apa kamu kecapekan sayang?" Tanya Imran cemas.


" Aku lagi haid." Sahut Mila singkat.


" Baiklah Mas akan menahannya selama satu minggu." Ujar Imran.


" Kau bahkan tidak akan pernah melakukannya lagi denganku Mas, Lakukan saja dengan ja***mu itu." Batin Mila.


Mila memejamkan matanya berharap semua ini adalah mimpi yang akan hilang saat Ia terbangun nanti.


Pagi hari Imran sudah bersiap hendak pergi entah kemana lagi. Padahal hari ini hari Minggu dimana semua orang libur bekerja. Bahkan para kuli pun biasanya menggunakan hari Minggu untuk beristirahat di rumah.


" Pagi Pa Ma." Sapa Imran kepada kedua mertuanya di meja makan.


" Pagi Ran silahkan duduk." Sahut Mama.


" Pagi sayang." Sapa Imran mencium kening Mila.


Mila tidak bergeming Ia hanya diam saja. Imran menyadari jika sedari semalam Mila mencoba untuk menghindarinya. Buktinya saat ini, Mila justru kembali ke kamarnya.


" Mila kamu mau kemana? Layani dulu suamimu." Ujar Mama Santi.


Mila tidak menghiraukan ucapan Mamanya Ia tetap melanjutkan langkahnya.


" Apa kalian sedang ada masalah?" Tanya Papa.

__ADS_1


" Tidak Pa, Mungkin Mila sedang badmood aja karna dia sedang PMS, Aku susul dia dulu Ma Pa." Sahut Imran.


Imran masuk ke dalam kamarnya. Ia menghampiri Mila yang sedang berdiri di dekat jendela menatap keluar.


" Sayang kamu sebenarnya kenapa? Kenapa kamu tiba tiba menghindariku hingga kamu pergi dari rumah? Aku tahu semalam kamu juga sengaja menghindariku, Kamu tidak sedang haid bukan?" Tanya Imran menyentuh kedua bahu Mila.


" Lepas!" Mila menepis tangan Imran. Imran menghela nafasnya.


" Sayang katakan sebenarnya ada apa denganmu." Ujar Imran.


Mila menatap tajam ke arah Imran.


" Benarkah kau tidak tahu ada apa dengan diriku?" Bukannya menjawab Mila justru bertanya kepada Imran.


" Tidak sayang aku tidak tahu." Sahut Imran.


" Kalau kau tidak tahu jangan pernah mencoba mencari tahu." Ucap Mila.


" Apa maksud ucapanmu sebenarnya sayang? Mas tidak paham, Katakan saja ke intinya." Ujar Imran.


" Aku tidak akan mengatakan apapun tapi aku akan melakukan sesuatu." Sahut Mila cuek.


" Melakukan sesuatu? Melakukan sesuatu apa maksudmu?" Tanya Imran.


" Pergi jauh dari hidupmu." Sahut Mila.


Saat Mila hendak mengatakan yang sesungguhnya telepon Imran berbunyi. Imran segera menjauh untuk mengangkat teleponnya. Mila menatap Imran yang sedang mengangguk anggukkan kepalanya. Setelah itu Ia berjalan menghampiri Mila.


" Sayang Mas ada urusan mendadak, Kita bicarakan nanti lagi." Ucap Imran.


Cup..


" I Love U." Ucap Imran meninggalkan Mila begitu saja.


" Cintamu palsu Mas.... Hiks..." Isak Mila.


Mila mengusap air matanya. Ia segera mengambil slingbagnya lalu berlari keluar menuju mobilnya. Mila mengikuti mobil Imran dari belakang dengan perasaan sedih, Dongkol, Kecewa menjadi satu. Kini Mila bukan prioritas utama Imran lagi.


Cukup lama Mila mengikuti mobil Imran hingga mobil Imran berhenti pada rumah sederhana yang cukup jauh dari pemukiman warga. Imran turun dari mobilnya lalu di sambut oleh pelukan Vania. Imran menggandeng Vania masuk ke dalam rumah. Mila mengepalkan tangannya dengan erat.


" Aku harus menyelesaikan masalah ini hari ini juga, Aku tidak mau terus terussan tertipu oleh kata manis dari mulut busukmu Mas." Monolog Mila.


Mila mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ia menghubungi nomer suaminya. Terlihat Imran keluar dari rumah itu untuk mengangkat telepon darinya. Mungkin Imran takut jika Vania akan mengganggunya.


" Halo sayang." Sapa Imran.


" Kamu sekarang dimana Mas?" Tanya Mila.

__ADS_1


" Aku... Aku di kantor sayang." Sahut Imran.


" Kenapa aku ke kantormu kamu tidak ada? Bahkan kantormu tutup Mas." Ucap Mila.


" Apa? Mila ke kantor? Bagaimana ini?" Gumam Imran dalam hati.


" Oh saat ini Mas sedang keluar untuk mencari makan sayang, Setelah itu Mas akan kembali ke kantor lagi, Kamu di sana? Tunggu Mas sebentar lagi ya Mas akan kembali ke kantor." Kilah Imran.


" Cukup." Teriak Mila.


" Ada apa sayang? Kenapa kamu berteriak?" Tanya Imran.


" Cukup Mas, Sudahi semuanya hari ini, Berapa kebohongan lagi yang akan kamu katakan padaku Mas." Ucap Mila yang sudah tidak tahan dengan kebohongan yang Imran katakan.


" Apa maksudmu sayang? Mas tidak berbohong padamu." Ujar Imran.


" Benarkah?" Tanya Mila.


" Tentu sayang." Sahut Imran.


" Bukankah saat ini kamu sedang di rumah Vania? Kamu sedang memberikan makan burung itu karna aku menolakmu semalam? Bahkan kau menidur*nya sebelum kau menidur* aku, Kenapa diam? Bukankah seperti itu? Kau sedang bahagia menanti kelahiran anak harammu?" Tanya Mila.


Deg...


Jantung Imran seakan berhenti berdetak. Apakah Mila melihatnya? Darimana Mila mengetahui semuanya? Imran mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru jalan. Dan netranya menangkap mobil Mila terparkir tak jauh di sebrang jalan.


Mila menurunkan kaca mobilnya menatap Imran yang saat ini sedang menatapnya.


" Apa kau sudah melihatku?" Tanya Mila.


" Sayang semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan sayang, Jangan berasumsi sendiri dengarkan dulu penjelasanku, Aku akan menjelaskan semuanya setelah urusanku di sini selesai." Ujar Imran.


" Bukankah kah tahu jika aku lebih mempercayai apa yang aku lihat bukan apa yang aku dengar dari omongan orang lain? Kau paham betul akan hal itu Mas, Aku sudah pernah mengatakan padamu, Jangan paksa aku untuk tetap berada di sampingmu jika kesetianmu sudah hilang untukku." Ucap Mila menutup panggilan ponselnya.


Imran berlari menghampiri mobil Mila tapi terlambat karna Mila sudah pergi dari sana dengan kecepatan tinggi.


" Arghhhhh." Teriak Imran frustasi.


TBC....


*Hayoo tebak apakah Imran mengkhianati Mila atau cuma salah paham aja nih???


Jangan lupa like fan komment di setiap babnya ya...


Makasih suportnya....


Miss U All*....

__ADS_1


__ADS_2