Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Menjemput Kinan


__ADS_3

Setelah menikah sudah satu minggu Kinan di rumah Papanya, Ia belum mau di boyong Aroon ke rumah Papa Shiv dengan alasan masih merindukan rumahnya. Aroon memahami semua itu karna istrinya masih labil. Tapi tidak untuk hari ini, Aroon sudah kehabisan kesabarannya. Ia di temani Papa Shiv untuk menjemput Kinan di rumahnya. Saat ini Aroon dan Papa Shiv sedang duduk di ruang tamu bersama Papa Burhan.


" Maafkan saya Tuan Shiv, saya merasa tidak bisa mendidik putri saya sendiri, dia sangat keras kepala bahkan saya sudah membujuknya untuk kembali ke rumah suaminya." Ucap Papa Burhan sedih.


" Tidak pa pa Tuan Burhan, saya bisa mengerti apalagi usia Kinan masih sangat muda, di usianya harusnya Ia sedang senang senangnya bermain dengan teman temannya, putra saya saja yang kurang sabar menghadapinya." Sahut Papa Shiv.


" Terima kasih atas pengertiannya Tuan." Ucap Papa Burhan.


" Sama sama Tuan." Sahut Papa Shiv.


Tap tap tap


Terdengar langkah gontai Kinan menuruni anak tangga satu persatu sambil menyeret kopernya. Padahal Aroon sudah bilang jika semua keperluan Kinan sudah Ia siapkan di rumahnya. Tapi Kinan tetaplah Kinan, gadis keras kepala. Apa yang Ia inginkan harus Ia lakukan. Melihat itu Aroon segera menghampirinya.


" Sayang sini Mas bantuin." Ucap Aroon mengambil alih koper Kinan. Kinan membiarkannya, Ia berjalan menghampiri Papanya.


" Pa Kinan pamit ya, Papa hati hati dan selalu jaga kesehatan di rumah, kalau ada apa apa segera kabari Kinan Pa." Ucap Kinan.


" Jangan khawatir sayang, Papa akan baik baik saja." Ujar Papa Burhan.


" Kami permisi Pa, jaga diri Papa baik baik." Ucap Aroon.


" Papa titip Kinan kepadamu, jika suatu saat nanti kamu sudah tidak menginginkannya kembalikan dia pada Papa dengan baik." Ucap Papa Burhan.


" Tentu Pa, tapi aku berjanji kalau aku akan selalu menyayangi Kinan dengan sepenuh hatiku." Ucap Aroon.


" Kami permisi Tuan Burhan." Ucap Papa Shiv.


Aroon menggandeng tangan Kinan berjalan keluar menuju mobilnya. Ia membukakan pintu penumpang untuk Kinan, setelah Kinan masuk Ia duduk di sebelah Kinan.


" Papa terlihat seperti sopir." Ucap Papa Shiv mulai melajukan mobilnya.


" Maaf Pa." Ucap Aroon.


" Its OK." Sahut Papa Shiv.


Di dalam perjalanan, Kinan hanya menatap ke luar jendela mengabaikan Aroon di sebelahnya yang sedang menatapnya. Kinan menoleh ke arah Aroon membuat tatapan mereka bertemu. Jantung Aroon deg degan, hatinya berdesir tidak seperti Kinan yang justru merasa kesal. Kinan membuang mukanya menatap keluar jendela lagi. Aroon menghela nafasnya dalam dalam.

__ADS_1


Setengah jam kemudian mereka sampai di kediaman Papa Shiv. Ketiganya turun dari mobil.


" Selamat datang ke rumah kami Kinan." Ucap Papa Shiv.


" Terima kasih Pa." Sahut Kinan.


" Semoga kamu bisa mendapat kebahagiaan di dalam keluarga kami." Ujar Papa Shiv.


" Amien." Sahut Kinan.


" Ayo sayang kita masuk, biar kopermu nanti di bawa oleh Bi Siti." Ujar Aroon menggandeng Kinan masuk ke dalam rumahnya.


" Selamat pagi Tuan, Nyonya." Sapa Bi Siti seorang ART di rumah ini.


" Pagi Bi, tolong antarkan Nyonya ke kamar saya ya Bi, saya mau langsung ke ruang kerja." Ucap Aroon.


" Baik Tuan." Sahut Bi Siti.


" Eh maaf Tuan, apa tidak sebaiknya Tuan saja yang mengantar Nyonya, masa' pengantin baru di tinggal sendiri di dalam kamar Tuan." Ujar Bi Siti.


" Nyonya masih malu malu Bi, dia belum terbiasa jadi biarkan dia beradaptasi dulu dengan kamarku, nanti malam baru dengan orangnya." Sahut Aroon membuat Bi Siti tersenyum simpul.


" Hmm." Gumam Kinan.


" Mari Nya." Ucap Bi Siti.


Kinan mengikuti langkah Bi Siti menuju kamar Aroon yang akan di huni oleh mereka berdua. Sebelumnya Aroon sudah mendekor ulang kamarnya untuk menghilangkan jejak Fisa. Yah walaupun sudah bertahun tahun lamanya.


" Silahkan masuk Nya." Ucap Bi Siti.


" Bi bisakah kau memanggil namaku saja? Aku tidak nyaman di sebut Nyonya di rumah ini." Ujar Kinan.


" Saya panggil Non aja gimana? Non Kinan." Ujar Bi Siti.


" Baiklah itu lebih baik." Sahut Kinan.


Ceklek....

__ADS_1


Bi Siti membuka pintu kamar Aroon, Kinan membulatkan matanya menatap ranjang yang di dekor seperti kamar pengantin. Kelopak bunga mawar berbentuk love tepat di tengah ranjang, dua handuk yang di bentuk angsa putih di depannya membuat bulu kuduk Kinan merinding.


" Non Kinan, boleh Bibi berbicara sesuatu?" Tanya Bi Siti.


" Katakan saja Bi, aku akan mendengarkannya." Sahut Kinan.


" Sebelumnya maafkan Saya kalau Saya lancang mengatakan ini Non, Saya sudah bertahun tahun bekerja di sini, bahkan sejak Den Aroon masih kecil saya yang mengasuhnya karna Den Aroon lebih banyak menghabiskan waktunya di sini dari pada di rumahnya sendiri, saya tahu betul bagaimana Den Aroon selalu merasa kesepian Nona." Terang Bi Siti menghela nafasnya.


" Saya tahu kalau malam ini malam yang berat untuk Nona, tapi saya mohon pada Nona berikanlah hak Tuan Aroon sebagai suamimu Nona." Ucap Bi Siti.


" Apa maksud Bibi?" Ucap Kinan.


" Selama tiga puluh tahun ini Den Aroon seperti orang yang kurang kasih sayang, lebih tepatnya menjauh dari kasih sayang, dia selalu diam menyendiri Non, saya ingin mengatakan kalau sebenarnya Tuan Aroon orang yang baik, dia sangat sulit untuk jatuh cinta tapi kalau Tuan Aroon sudah mencintai seseorang, dia akan menjaga cinta itu selamanya Nona, saya yakin malam ini malam pertama untuk Den Aroon." Ujar Bi Siti.


" Maksud Bibi aku harus menyerahkan diriku kepada Om Aroon begitu?" Tanya Kinan menatap Bi Siti.


" Bibi mohon, terimalah Tuan Aroon dengan sepenuh hati Non, cintailah dia segenap jiwa Nona, hidupnya sudah susah sejak dia kecil, dia harus dewasa sebelum waktunya dan mengalami kenyataan pahit yang dia tanggung sendiri." Sahut Bi Siti.


" Aku tidak bisa berjanji soal itu Bi, tapi aku akan berusaha mengabdikan hidupku dengannya karna bagaimanapun dia suamiku, tapi untuk malam ini aku tidak bisa melakukannya, maaf." Sahut Kinan.


" Tidak apa Non saya bisa mengerti, dan saya ucapkan terima kasih Nona mau mencoba menerima Den Aroon sebagai suami Nona, pahami lebih jauh tentang Tuan Aroon maka suatu saat nanti Nona akan bersyukur bisa menjadi istri Tuan Aroon." Ucap Bi Siti.


" Semoga Bi." Sahut Kinan.


" Kalau begitu saya permisi Nona, selamat beristirahat." Ucap Bi Siti.


" Terima kasih Bi." Sahut Kinan.


Bi Siti keluar dari kamar Aroon, Ia tersenyum smirk memikirkan sesuatu.


" Sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk membuat mereka cepat bersatu." Gumam Bi Siti dalam hatinya.


Hayo tebak kira kira apa ya ide yang akan Bi Siti lakukan?


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya..


Author ucapkan terima kasih kepada para readers yang sudah mensuport author...

__ADS_1


Miss U All


TBC.....


__ADS_2