
" Apa hasilnya Dok?" Tanya Mila kepada Dokter.
" Selamat Nona, anda positif hamil." Jawab Dokter.
" Alhamdulillah." Ucap Mama dan Mila bersamaan.
" Usia kandungannya memasuki tujuh minggu, makan makanan bergizi, istirahat cukup dan kurangi pekerjaan berat seperti mengangkat beban Nona karna di usia ini janin masih rentan dengan keguguran, jika mengalami mual di pagi hari itu hal wajar Nona, itu namanya morning sicknes biasanya terjadi di awal trisemester pertama." Jelas Dokter.
" Iya Dok terima kasih." Ucap Mila.
" Resepnya di tebus di apotik ya, sekali lagi selamat Nona." Ujar Dokter.
" Terima kasih Dok." Ucap Mila.
Mama Lina mematikan ponselnya. Ya sedari awal mereka masuk ruangan Mama Lina menghubungi Imran dengan panggilan video. Sepintar mungkin Mama Lina menyembunyikan supaya Mila tidak menyadarinya.
Di tempat lain, Imran tampak begitu bahagia mendengar kabar jika istrinya sedang hamil. Sebenarnya Ia tadi ingin langsung masuk ke dalam ruangan dan memeluk Mila dengan erat. Tapi Ia ingat dengan ancaman Mila yang akan meninggalkannya jika Ia berani muncul di hadapannya.
" Maafkan Daddy sayang, Daddy belum bisa menemanimu karna Mommymu masih marah sama Daddy, bantu Daddy meredakan amarah Mommymu ya." Ucap Imran mengelus ponselnya yang mrnampakkan hasil usg calon anaknya.
Mila dan Mama Lina pulang ke rumah, begitupun dengan Imran. Imran masuk lewat pintu belakang dan langsung menuju kamar tamu yang selama ini Ia huni. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit langit kamar memikirkan bagaimana caranya agar Mila mau memaafkannya.
Mila dan Mama Lina masuk ke dalam rumah. Saat melewati ruang tamu Mila langsung menghampiri dua orang yang sangat Ia kenal.
" Kak Fisa, Kak Aroon, kapan kalian datang?" Tanya Mila duduk di sofa sebrang, sedangkan Mama Lina langsung menuju kamarnya.
" Barusan saja, kami mau mengantar undangan untukmu." Ucap Fisa memberikan undangan kepada Mila
" Undangan pernikahan?" Mila membaca nama yang tertera di undangan tersebut. Mila menatap Aroon dan Fisa bergantian.
" Kalian mau menikah?" Tanya Mila memastikan.
" Iya Mil." Sahut Aroon.
" Aku ucapkan selamat Kak, semoga lancar sampai ke pelaminan dan menjadi keluarga yang bahagia." Ucap Mila tulus.
" Terima kasih Mil, kalau begitu kami pamit dulu masih banyak undangan yang harus kami sebar." Ucap Fisa.
" Silahkan Kak, hati hati." Sahut Mila.
" Mari Mil." Ucap Aroon.
" Mari Kak." Sahut Mila
Setelah kepergian keduanya, Mila segera masuk ke dalam kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
" Kenapa aku begitu merindukanmu Mas? Aku merindukan perhatian dan kasih sayangmu, tapi aku harus memberimu pelajaran supaya kau sadar betapa berartinya diriku untukmu, dan ku harap setelah ini kau tidak akan lagi membuat kesalahan yang menyakitiku, bukan aku tidak tahu kalau sebenarnya kamu ada di sini, walaupun mataku tidak melihatmu tapi hatiku bisa merasakan kehadiran dirimu, Sabar ya sayang kita sedang bermain main dengan Daddymu, kita akan lihat siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang." Monolog Mila mengusap perut ratanya.
Entah kenapa rasanya Mila sangat mengantuk, mungkin efek dari kehamilannya. Ia memejamkan matanya. Di dalam mimpinya, Mila melihat Imran menghampiri dirinya. Imran mencium keningnya.
" Selamat datang sayang, Daddy sangat bahagia atas kehadiranmu sayang, semoga kehadiranmu bisa mempererat hubungan Daddy dan Mommy sayang, cepat besar dan sehat sehat di dalam sini ya, bantu Daddy meluluhkan hati Mommy, Daddy tidak sabar menanti kelahiranmu, Daddy pergi dulu ya sampai jumpa nanti malam sayang." Ujar Imran mengelus perut Mila dan menciuminya.
" Sudahi marahnya sayang, aku mencintaimu." Ucap Imran mencium kening Mila.
Imran segera pergi dari kamar Mila sebelum Mila bangun dari tidurnya. Mila mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang hadir dalam mimpinya. Mila mencium aroma maskulin tubuh Imran membuatnya menyadari jika semua itu bukan mimpi.
" Aku tahu itu kamu Mas, sampai jumpa nanti malam." Ucap Mila.
Malam hari Mila, Mama Lina dan Papa Romi sedang makan malam bersama.
" Sayang apa kamu ingin makan sesuatu?" Tanya Mama Lina.
" Sebenarnya aku ingin makan sate ayam Ma, tapi aku malas keluar." Ucap Mila.
" Mama akan memesannya lewat gfood ya." Ujar Mama Lina.
" Boleh Ma." Sahut Mila.
Mama Lina mengirim pesan kepada Imran dan membuat seolah olah Ia mengirim pesan pada kurir dari gfood.
" Sudah sayang, di tunggu sebentar lagi ya." Ujar Mama Lina.
" Makasih Ma." Ucap Mila.
Dan benar saja tak lama seseorang menekan bel rumah mereka.
" Biar Mama saja." Ucap Mama Lina.
Mama Lina berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintunya.
" Kamu lewat pintu belakang saja." Ucap Mama Lina.
Mama Lina menutup pintunya. Ia berjalan menuju dapur kembali menghampiri Mila yang sudah menunggunya.
" Ini sayang satenya." Ucap Mama meletakkan satu bungkus sate itu di depan Mila.
" Makasih Ma." Ucap Mila.
Mila membuka bungkus satenya lalu mulai memakannya.
" Kok ini rasanya...." Batin Mila meresapi rasa dari sate langganannya.
__ADS_1
" Aku tahu kalau kurir yang Mama maksud itu kamu Mas, makasih masih perhatian sama aku, anakmu pasti akan menghabiskan makanan ini, sayang ini sate dari Daddymu, makan yang banyak ya biar kita bisa tidur nyenyak." Ujar Mila dalam hatinya.
Mila memakan satenya dengan lahap hingga habis. Imran menatapnya dari balik pintu dapur. Ia merasa senang karna Mila menghabiskan makanannya. Walau yang Mila tahu itu dari kurir. Pikir Imran.
Imran kembali ke kamarnya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang.
" Hallo Ran." Sapa Abbas dari sebrang sana.
" Besok pagi kirimkan bunga dan coklat dan tulis sesuatu di sana juga yang isinya tentang permintaan maaf." Titah Imran.
" OK akan aku laksanakan." Sahut Abbas.
" Makasih." Ucap Imran memutuskan sambungan ponselnya.
Imran menunggu jam sembilan malam. Biasanya di jam segitu Ia baru menikmati makan malamnya. Ia menunggu Mila tidur terlebih dahulu. Setelah jam sembilan, Ia menuju dapur untuk makan malam.
Imran mengambil makanan lalu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Mila berjalan menuju kulkas tanpa Imran sadari karna saat ini Imran benar benar fokus pada makanannya, jujur Ia merasa kelaparan.
Mila meneguk segelas air dingin sambil menatap Imran. Mila tersenyum jahil ke arah Imran yang sedang asyik dengan makanannya.
"Ehm ehm." Mila berdehem.
Mendengar deheman seseorang Imran menoleh ke asal suara dan....
Uhuk.... Uhuk.... Uhuk....
Imran tersedak makanannya sendiri, Mila menyodorkan segelas air putih kepada Imran. Imran segera meneguknya hingga tandas. Imran menghela nafasnya menetralkan keterkejutannya. Imran menatap Mila yang berdiri di depannya sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
" Maaf, Mas tidak tahu kalau kamu di sini sayang." Ucap Imran khawatir Mila akan meninggalknnya.
Tanpa berkata apa apa Mila meninggalkan Imran yang sedang menatap kepergiannya.
" Sayang... Andai kau tahu betapa tersiksanya Mas, Mas rindu padamu bahkan sangat sangat merindukanmu, sampai kapan kau akan menyiksa batinku seperti ini, sudah hilangkah rasa belas kasihmu kepadaku? Ku mohon kembalilah menjadi Milaku seperti dulu, aku selalu mencintaimu." Monolog Imran.
" Maafkan aku Mas, dengan seperti ini semoga kau menyesali kesalahanmu dan tidak akan mengulanginya lagi, aku ingin kita hidup bahagia bersama anak kita dengan sikap yang lebih tegas darimu, aku juga merindukanmu, sangat.... aku juga mencintaimu Mas." Batin Mila di balik pintu.
TBC....
Mau baikan lagi atau nunggu lebih lama lagi nih???
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Baca dan dukung juga karya karya author yang lain dengan cara klik profile author lalu pilih karya, author tunggu di sana ya....
Terima kasih untuk yang sudah dukung autbor, apalah artinya author tanpa kalian semua...
__ADS_1
Miss U All...