Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Memahami Perasaan Masing Masing


__ADS_3

Aroon membiarkan Kinan tinggal di rumah Papa Burhan tapi Ia tidak mau menceraikan Kinan dengan alasan Ia sangat mencintainya dan akan mengubah sikapnya serta membuktikan cintanya kepada Kinan. Saat ini Aroon sedang berdiam diri duduk di lantai balkon kamarnya sambil mengepulkan asap rokoknya. Sebotol whine juga ikut menemani kesendiriannya.


Aroon merenung memikirkan tentang apa yang harus Ia lakukan sambil terus mengepulkan asap rokoknya. Baginya ini pilihan yang sulit. Ia harus memilih antara Zavran dan Kinan yang merupakan dua orang yang sama sama Ia sayangi. Setelah beberapa saat merenung akhirnya Ia mendapatkan jawaban untuk keputusannya. Aroon mengambil ponsel untuk menelepon Mila.


" Halo Kak." Sapa Mila di sebrang sana setelah mengangkat panggilannya.


" Mila maaf... Tolong katakan pada Zavran jika mulai sekarang aku tidak bisa sering sering menemuinya, beri dia pengertian Mil, bukan aku sudah tidak sayang padanya tapi kamu tahu keadaanku saat ini kan? Maafkan aku Mil yang tidak bisa menepati janjiku untuk selalu menemani Zavran... Sekali lagi maafkan aku." Ucap Aroon.


" Tidak masalah Kak, aku turut senang sekarang kamu sudah menemukan kehidupanmu sendiri, dari dulu inilah yang aku inginkan Kak, aku doakan semoga kau selalu bahagia dan segera memberikan adik untuk Zavran... Sampaikan maafku pada Kinan juga." Ujar Mila.


" Semoga Kinan mau menerimaku lagi Mil, aku benar benar mencintainya, aku tidak mau kehilangannya, dulu aku berpikir jika aku tidak bisa mengukir nama wanita lain di hatiku, tapi aku salah... Ternyata Kinanlah cintaku yang sebenarnya, aku akan membuat Kinan menjadi cinta terakhirku." Ucap Aroon.


" Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu Kak, semangat berjuang demi cintamu Kak dan semoga berhasil." Ucap Mila mematikan sambungan ponselnya.


Aroon menatap langit sambil menghela nafasnya.


" Aku akan membuktikan padamu jika Mila tidak membawa pengaruh apapun dalam hidupku sekarang ini sayang... Jangan lama lama marahnya Mas tidak tahan jika harus jauh darimu." Ujar Aroon menatap langit yang sudah gelap.


Di tempat lain Kinan juga sedang berada di balkon kamarnya. Ia menatap gelapnya langit malam yang indah karna di hiasi bintang bintang.


" Maafkan aku jika aku mengambil keputusan ini, aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku Mas, karna bagaimanapun aku tidak mau jadi pilihan ke dua ataupun menjadi prioritas ke dua dalam hidupmu, jika memang kau mencintaiku maka kau akan meninggalkan mereka tapi jika kau tidak bisa meninggalkan mereka itu artinya masih ada cinta untuk Mbak Mila dalam hatimu, dan aku tidak bisa menerima itu, lebih baik aku mengalah sebelum perasaanku semakin dalam untukmu." Monolog Kinan menghela nafasnya dalam dalam.


Bukan karna Kinan menolak Zavran tapi Mila yang menjadi pertimbangannya. Aroon sudah membohongi dirinya tentang Mila, jika Aroon tidak punya perasaan apa apa kepada Mila, kenapa harus menyembunyikan hal itu pada Kinan? Kinan ingin dalam pernikahannya ada kebahagiaan di dalamnya bukan rasa curiga yang akan terus bersarang di dalam pikirannya.


Bayangkan saja jika terjadi sesuatu pada Zavran seperti malam itu, lalu Aroon semalaman tidak pulang. Apa yang Kinan pikirkan apalagi Mila adalah wanita istimewa dalam hati suaminya. Wanita mana yang tidak mengkhawatirkan akan hal itu.


Kinan kembali ke ranjang, Ia masuk ke dalam selimut memejamkan matanya menuju alam mimpi.


Sedangkan Aroon Ia hanya berguling ke sana kemari tanpa bisa tidur. Ia terus memikirkan Kinan dalam hatinya hingga hari menjelang pagi.


Jam lima subuh Aroon bergegas mandi dan berpakaian rapi. Ia ingin ke rumah mertuanya untuk menemui Kinan atau sekedar sarapan bersama. Aroon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Setengah jam kemudian Aroon sampai di kediaman Papa Burhan.


Ting Tong


Aroon memencet bel rumah, tak lama ssetelah itu pintu terbuka dari dalam.

__ADS_1


" Eh Nak Aroon, silahkan masuk Nak" Ucap Tante Tari.


" Terima kasih Tante." Sahut Aroon masuk ke dalam rumah.


" Mau minum kopi?" Tanya Tante Tari.


" Boleh Tan." Sahut Aroon.


" Sebentar ya Tante buatkan dulu." Ujar Tante Tari.


" Tan..." Panggil Aroon membuat Tante Tari menghentikan langkahnya.


" Iya." Sahut Tante Tari.


" Kinan dimana? Apa Kinan sudah turun?" Tanya Aroon.


" Kinan akan turun saat sarapan nanti, bersabarlah jika ingin bertemu dengannya." Ucap Tante Tari tersenyum ke arahnya.


Tante Tari berjalan menuju dapur untuk membuatkan dua cangkir kopi untuk Aroon dan Kakaknya.


" Ini di minum." Ucap Tante Tari meletakkan secangkir kopi di depan meja Aroon.


" Ngapain kamu ke sini?" Ketus Papa Burhan duduk di depan Aroon.


" Pa aku ingin bertemu istriku." Ucap Aroon.


" Apa yang ingin kau buktikan kepadanya? Kepedulianmu atau perhatianmu?" Tanya Papa Burhan menatap Aroon.


" Semuanya Pa, aku akan membuktikan bahwa Kinan sangat berarti untukku." Tegas Aroon.


" Bukankah lebih berarti dua orang itu?" Sindir Papa Burhan. Aroon tahu betul dua orang yang di maksud Papa Burhan.


" Tidak lagi Pa, sejak kehadiran Kinan semuanya berubah Pa, aku menemukan jati diriku, aku menemukan hidupku yang sebenarnya, aku menemukan cinta yang sesungguhnya Pa, aku mohon hargai keputusanku dan dukung usahaku." Ucap Aroon menatap Papa Burhan.


" Dukunganku tidak berpengaruh apa apa, keputusan berada di tangan Kinan dan aku akan selalu mendukung semua keputusannya, aku tidak mau putriku hidup menderita, cukup sekali kesalahan yang aku lakukan kepadanya." Ujar Papa Burhan.

__ADS_1


" Yaitu menikahkanmu dengannya." Sambung Papa Burhan.


" Aku tidak perlu menjelaskan alasanku mendukung keputusan Kinan karna Papamu Shiv pasti sudah memberitahumu semuanya, bahkan dia bilang kau pernah merasakannya sendiri." Ujar Papa Burhan.


" Iya Pa, aku sadar dan pernah merasakan semua itu, itulah sebabnya aku berani meninggalkan Zavran karna aku tidak mau putraku nanti merasakan seperti apa yang aku rasakan hingga harus membenci Zavran sama seperti yang aku lakukan pada adikku Nervan." Terang Aroon.


" Aku hanya bisa mendoakan semoga kalian berbahagia." Ujar Papa Burhan.


" Pa.... Papa." Teriak Kinan dari atas.


" Apa sayang? Papa di bawah." Sahut Papa Burhan sedikit berteriak.


Kinan menuruni tangga tanpa melihat ke ruang tamu, Ia berjalan menghampiri Papanya.


" Pa aku mau pergi berlibur sama..... Noval." Ucap Kinan saat tatapannya bertemu dengan tatapan Aroon.


" Aku tidak mengizinkannya." Sahut Aroon.


" Pa siapa dia hingga mengaturku seperti itu?" Tanya Kinan menatap Papanya.


" Aku suamimu Kinan, dan aku tidak mengijinkanmu pergi bersama pria lain." Ujar Aroon.


" Apa saat kau menemani Mbak Mila kau meminta ijin padaku? Janjimu akan langsung pulang ke rumah setelah pulang dari rumah sakit Tuan Aroon." Sahut Kinan.


" Maafkan aku soal itu Kinan, Mas tidak bermaksud menyakitimu sayang, sekarang Mas janji akan menjadikanmu prioritas utamaku." Ucap Aroon.


" Aku tidak butuh janji tapi utuh bukti Tuan Aroon, tapi sayang sekali apapun yang kamu lakukan saat ini tidak akan mengubah keputusanku." Ujar Kinan.


" Sayang jangan bilang seperti itu, beri aku kesempatan untuk yang kedua kalinya, jika aku gagal maka aku akan menerima semua keputusanmu itu." Ujar Aroon.


Kira kira mau nggak ya Kinan memberikan kesempatan kedua untuk Bang Aroon?


Tunggu jawabannya di bab selanjutnya....


TBC.....

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentnya...


Miss U All..


__ADS_2