Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Mencoba Dekat


__ADS_3

Mila mengerjapkan matanya, Ia menatap wajah tampan suami di depannya. Jantungnya berdebar tak karuan, Ia memberanikan diri mengelus pipi Imran dengan pelan supaya tidak mengusik tidur Imran.


" Kamu ganteng juga Mas, Semoga kau tidak mengecewakan aku lagi." Lirih Mila.


Mila turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya. Setelah selesai Ia menyiapkan baju kantor Imran lalu meletakkannya di atas ranjang. Ia turun menuju dapur untuk membuat sarapan.


Ya... Mila akan memulai hubungan baiknya dengan Imran. Ia akan mencoba berdamai pada keadaan. Tapi untuk cinta Ia belum yakin dengan perasaannya sendiri. Tiga puluh menit Mila menyelesaikan nasi goreng suwir ayamnya. Ia menatanya di meja makan.


Mila kembali ke kamarnya untuk mandi dan membangunkan Imran.


" Mas bangun." Ucap Mila berdiri di pinggir ranjang menatap Imran yang sudah mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.


Imran tidak bergeming padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


" Mas bangun." Panggil Mila masih dengan posisi yang sama.


" Haduh ini gimana banguninnya ya.... Apa aku coba guncang badannya aja ya." Gumam Mila.


Tangan Mila mulai menyentuh pundak Imran. Dengan gemetar Mila mengguncang pelan pundak Imran.


" Mas... Bangun udah jam tujuh." Ujar Mila.


Imran membalikkan badannya sambil menarik tangan Mila hingga tubuh Mila ambruk di atas tubuh Imran.


" Mas." Pekik Mila. Imran mengunci tubuh Mila dengan memeluk pinggangnya.


Mila menatap mata Imran, Keduanya saling pandang dengan jantung yang deg degan. Ada sesuatu yang berdesir di hati Mila tapi entah apa itu Mila sendiri tidak tahu.


Cup


Imran mengecup bibir Mila membuat Mila melongo membulatkan matanya.


" Morning Kiss." Ucap Imran tersenyum manis.


" Rese' kamu Mas nyuri kesempatan aja." Cebik Mila mencoba lepas dari pelukan Imran.


" Mau kemana? Di sini aja! Biarkan Mas memandang wajahmu sampai puas." Ujar Imran mengeratkan pelukannya.


" Lepas ih aku mau mandi, Jangan puas sekarang entar saatnya aku jatuh cinta sama kamu, Kamu udah bosan duluan sama yang ada entar aku kecewa lagi." Sahut Mila.


" Baiklah sayang Just for U, Muah." Ucap Imran mencium pipi kanan Mila.


Mila segera beranjak menuju kamar mandi. Sampai di dalam Ia mengelus dadanya yang terasa berdebar debar.


" Hah apa aku punya penyakit jantung kali ya? Kenapa jantungku selalu berdebar bila di dekatnya? Apa mungkin aku jatuh cinta? Apa secepat ini aku bisa mengembalikan rasa ini seperti waktu itu? Ah tidak tidak... Aku tidak mencintainya, Ini hanya perasaanku saja, Hadeuh dekat dengannya membuat kewarasanku hilang." Monolog Mila.


Mila segera melakukan ritual mandinya. Lima belas menit kemudian Ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobenya.


Ceklek...


Imran menatap ke arah pintu kamar mandi, Ia menelan ludahnya dengan kasar, Bagaimana tidak? Bathrobe yang Mila pakai hanya sebatas paha memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus, bersih dan seputih susu.

__ADS_1


" Kalau setiap hari di suguhi pemandangan seperti ini alamat si otong tidak bisa mengendalikan diri, Ah pengin aku terkam kamu Mil." Batin Imran.


" Kamu mandi dulu Mas, Aku akan memanasi nasi gorengnya biar hangat lagi." Ujar Mila.


" Tidak perlu aku lebih suka yang sedikit dingin." Sahut Imran.


" Baiklah." Sahut Mila.


Setelah keduanya rapi, Mereka menuju meja makan untuk memakan sarapannya. Imran mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya dengan pelan menikmati rasa masakan istrinya.


" Kenapa? Nggak enak?" Tanya Mila menatap Imran.


" Enak kok Yank, Ini kamu bisa masak katanya nggak bisa." Ujar Imran.


" Siapa yang bilang nggak bisa? Aku hanya malas aja." Sahut Mila.


" Mulai sekarang kamu harus memasak untukku." Ujar Imran.


" Tergantung moodku aja, Jadi aku nggak bisa janji." Sahut Mila membuat Imran menggelengkan kepala. Ia akan pelan pelan membuat Mila jatuh cinta padanya. Apalagi untuk menghilangkan sikap cuek Mila, Ia butuh kesabaran ekstra karena biasanya yang cuek tidak akan peka.


" Aku mau cari kerjaan Mas, Suntuk di rumah nggak ada kegiatan." Ucap Mila di sela sela makannya.


" Mau kerja dimana? Apa kamu mau bekerja di kantor Mas saja?" Tanya Imran menatap Mila.


" Tamatan SMA emang bisa dapat bagian apa?" Mila balik bertanya.


" E.... Jadi sekretarisku mau nggak? Biar Mas bisa mengawasi kamu juga, Mau ya?" Tanya Imran.


Mila merasa sedih karena impiannya melanjutkan pendidikan dan mencapai gelar spesialis anak pupus sudah. Bukan niat Imran menghalangi cita cita Mila tapi Imran ingin Mila fokus mengurus keluarga saja. Toh Imran sudah menghasilkan banyak uang.


" Tapi Mas aku suntuk di rumah karena tidak ada kegiatan, Kerjaanku pasti hanya makan tidur main ponsel itu itu aja." Protes Mila.


" Kalau kamu suntuk di rumah makanya cepat buka hatimu dan menerimaku sebagai suamimu, Nanti kita buat anak yang banyak dan lucu lucu pasti kamu tidak akan kesepian." Seloroh Mila.


" Aku akan mencoba tapi untuk mempunyai anak aku belum kepikiran sampai sana, Buatnya aja masih mikir dua kali, Sebenarnya aku pengin melanjutkan kuliah Mas." Ujar Mila.


" Bukannya Mas menghalangi kamu untuk menggapai cita citamu tapi Mas ingin kamu fokus pada keluarga saja, Mas tidak mau jika kita punya anak nanti mereka akan kekurangan kasih sayangmu, Mas tidak bisa selalu meluangkan waktu untuk mereka jadi Mas ingin kasih sayang yang kamu berikan pada mereka bisa maximal, Kamu tahukan maksud Mas?" Jelas Imran panjang lebar.


" Iya Mas, Aku juga merasakan bagaimana rasanya kekurangan kasih sayang orang tua." Sahut Mila dengan muka sedih.


" Sayang bukan maksud Mas membuatmu sedih, Maafkan Mas ya." Ucap Imran.


" Nggak masalah Mas." Sahut Mila.


" Mas berangkat dulu kalau kamu suntuk di rumah kamu bisa main ke butik Mama aja gimana? Itung itung kamu pendekatan sama Mama." Saran Imran.


" Ok nanti aku akan coba ke sana, Aku juga mau lebih dekat sama Mama." Sahut Mila.


" Ya sudah Mas berangkat dulu, Boleh Mas mencium keningmu?" Tanya Imran meminta ijin.


" Nggak perlu Mas kalau mau berangkat tinggal berangkat aja." Sahut Mila menolak Imran. Bukannya apa apa, Mila masih malu dengan insiden tadi pagi.

__ADS_1


Imran menghela nafasnya.


" Baiklah, Assalamu'alaukum." Ucap Imran.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Mila.


Mila menatap kepergian mobil Imran dari teras. Ia masuk ke dalam rumah kembali. Mila mengambil kunci mobilnya. Ia berencana mengunjungi Mama mertuanya di butiknya.


Mila melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Setengah jam kemudian Ia sampai di butik LM. Setelah turun dari mobil, Ia masuk ke dalam. Saat Ia mendekati ruang yang di gunakan Mama Lina untuk menerima tamunya, Ia menghentikan langkahnya.


" Jeng kenapa kamu membatalkan perjodohan Imran dengan Vania, Vania anak dewasa dan mandiri lhoh, Dia bisa mengurus rumah tangga dengan baik kenapa kamu justru menikahkan Imran dengan anak ingusan yang nggak bisa apa apa? Dia juga tidak mencintai Imran kan? Beda sama Vania yang sudah mencintai Imran sejak lama." Ucap wanita paruh baya di samping Mama Lina.


" Maaf Jeng Winda, Mau gimana lagi orang Imran sukanya sama Mila, Sebenarnya aku juga udah sreg banget sama Vania, Tapi aku tidak mau Imran menjauh dariku kalau aku menolak keinginannya." Sahut Mama Lina.


Deg..... Hati Mila mencelos mendengar ucapan Mama mertuanya.


" Apa kamu suka sama istrinya Imran Jeng? Atau kamu hanya terpaksa menerimanya sebagai menantumu karena kamu tidak ingin Imran menjauh darimu?" Selidik Bu Winda.


" Entahlah Jeng, Kalau di lihat dari sikapnya yang urakan sebenarnya aku kurang suka tapi....


Prak....


Mila menyenggol vas bunga yang ada di samping pintu. Mama Lina dan Bu Winda menoleh ke belakang dimana Mila sedang berdiri terpaku dengan mata berkaca kaca. Mama Lina dan Bu Winda saling pandang.


" Sayang.... Sejak kapan kamu ke sini?" Tanya Mama Lina menghampiri Mila.


" Maaf Ma aku ada urusan mendadak lain kali Mila mampir lagi." Ucap Mila.


Mila segera meninggalkan tempat itu sambil menahan air matanya. Ternyata tidak ada yang benar benar menginginkannya.


" Mila tunggu." Teriak Mama Lina.


Mila tidak menyahut Ia terus berjalan menuju mobilnya. Mila melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kenapa? Kenapa semua orang hanya mempermainkan dirinya saja? Manis di depan dengan penuh keterpaksaan.


" Arghhhhhhhh." Teriak Mila memukul stirnya.


" Kenapa mereka terpaksa menerimaku? Kenapa? Siapa yang tulus menyayangiku? Apa tidak ada yang menginginkan aku? Orang tuaku sendiriembuangku kepada keluarga suamiku, Keluarga suamiku terpaksa menerimaku karena Mas Des, Apa Mas Des juga hanya pura pura mencintaiku?" Monolog Mila.


Mila tidak fokus mengemudi mobilnya hingga...


Brakkkkk....


TBC....


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...


Mohon doa dan suport supaya author bisa membuat karya yang menarik yang bisa menghibur para readers semua....


Makasih aras suport yang readers berikan...


Miss U All..

__ADS_1


__ADS_2