
Setelah acara pemakaman nenek Mira, Fahri segera kembali ke rumah tanpa mempedulikan Sita pulang dengan siapa dan bagaimana.
Fahri masuk ke dalam kamarnya lalu tidur telungkup di atas ranjangnya.
" Kau sudah meninggalkan aku Nek, untuk apa lagi aku berada di sini?" Monolog Fahri.
" Tapi bagaimana dengan janjiku kepada Kira untuk tidak meninggalkan Sita? Jika aku pergi, Kira mengancam akan membenciku seumur hidupnya, dan aku tidak mau jika sampai itu terjadi, tapi jika aku terus bersamanya, apa aku bisa bahagia? Apa aku bisa menerima dirinya setelah aku tahu jika dia adalah wanita pendusta?" Tanya Fahri kepada dirinya sendiri.
" Hah.... Kenapa aku harus mengalami hal sulit seperi ini? Seandainya saja aku tidak menuruti Nenek untuk menikahinya, pasti semua ini tidak akan terjadi, saat ini aku sudah kembali ke luar negeri dan kembali menetap di sana untuk melupakan perasaanku kepada Kira, Kira.... Kau satu satunya wanita yang mampu menduduki hati ini, bahkan setelah bertahun tahun lamanya tidak ada wanita yang bisa menggantikanmu." Ujar Fahri menghembuskan nafasnya pelan.
Lama lama Fahri pun merasa mengantuk. Ia memejamkan matanya menuju alam mimpinya.
Beberapa jam pun berlalu, Fahri mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pemandangannya ke seluruh penjuru kamar yang ternyata hari sudah gelap.
" Apa Sita sudah pulang?" Monolog Fahri.
" Kenapa aku peduli kepadanya? Lebih baik aku mandi lalu mencari makan daripada memikirkan wanita pembohong itu." Ujar Fahri masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mandi Fahri segera turun ke bawah. Ia membuka pintu melihat ke depan barang kali Sita ada di halaman. Namun hasilnya nihil
" Apa mungkin Sita belum pulang ya?" Gumam Fahri.
Fahri berjalan keluar menuju pos satpam.
" Pak Udin." Panggil Fahri.
" Ya Mas." Sahut pak Udin menghampiri Fahri.
" Apa Bapak lihat Sita?" Tanya Fahri.
" Mbak Sita dari tadi belum pulang Mas, apa saya yang tidak lihat ya." Sahut pak Udin.
" Ya sudah biar nanti saya cari Pak, terima kasih." Ucap Fahri.
" Sama sama Mas." Sahut Pak Udin.
Fahri kembali masuk ke dalam rumah untuk mencari Sita. Siapa tahu Sita sudah pulang dan berada di salah satu ruangan rumahnya.
Setelah pusing berputar akhirnya Fahri menyerah.
" Kemana sih dia? Apa dia pergi ya karena Nenek sudah tiada." Ujar Fahri.
" Ah sial." Umpat Fahri.
Fahri mengambil ponselnya di dalam kamar. Ia mencoba menelepon nomer Sita.
__ADS_1
Tut.... Tut...
Sambungan terhubung tinggal menunggu Sita mengangkatnya.
" Halo." Sapa seseorang di seberang sana.
Fahri menjauhkan ponselnya lalu memastikan jika nomer yang di tuju tidak salah.
" Halo, ini ponsel Sita kan? Kenapa ada pada anda?" Tanya Fahri.
" Maaf Mas, Mbaknya yang punya ponsel ini tadi di temukan warga pingsan di makam Mas."
" Apa?" Pekik Fahri.
" Lalu sekarang dimana wanita itu?" Tanya Fahri.
" Ada di klinik dekat pemakaman Mas, saat ini Mbaknya belum sadarkan diri." Sahutnya.
" Baiklah saya akan segera ke sana untuk menjemput Sita." Ucap Fahri mematikan sambungan ponselnya.
" Dasar menyusahkan saja." Cebik Fahri.
Setelah sampai di klinik yang di maksud oleh orang tadi, Fahri turun dari mobil lalu masuk ke dalam klinik.
" Oh Mbak Rasita ada di kamar sebelah Pak." Sahutnya.
Fahri segera membuka pintu ruangan kecil berukuran dua kali tiga. Ia menatap Sita yang saat ini sedang duduk bersandar pada headboard.
" Sudah sadar rupanya." Gumam Fahri.
" Mas Fahri." Ucap Sita dengan mata berbinar dan tersenyum senang melihat kedatangan Fahri.
" Hmm." Sahut Fahri membuat senyum Sita hilang seketika.
" Kenapa kamu berada lama di makam itu? Apa kamu mau ikut dengan Nenek di sana? Kalau kamu mau seharusnya kamu tidak hanya pingsan tapi.... Mati." Ucap Fahri menohok hati Sita.
" Apa jika aku mati kau akan memaafkan kesalahanku?" Tanya Sita menatap Fahri.
" Tidak." Sahut Fahri.
" Kesalahanmu sangatlah besar dan tidak bisa di maafkan, bahkan di tebus oleh nyawamu sekalipun." Sambung Fahri menatap Sita sinis.
" Apa segitu besarnya kesalahanku padamu? Aku sudah meminta maaf padamu, bahkan aku sudah menanggung akibat dari semua perbuatanku dengan kehilangan calon anakku." Ucap Sita meneteskan air mata.
" Tidak sampai di situ saja, Tuhan juga menghukumku dengan tidak menghapus nama dan perasaan ini dari hatiku.... Aku tersiksa dengan perasaan cintaku kepadamu, aku tersiksa dengan rasa rinduku padamu, aku tersiksa Mas... Aku sangat tersiksa selama ini hiks..." Isak Sita.
__ADS_1
Fahri menatap Sita dengan tatapan iba, namun Ia tidak mau luluh begitu saja karena Ia yakin jika Sita hanya bersandiwara.
" Jika kamu tidak bisa memaafkan aku, biarkan aku pergi darimu sekarang juga, lagian sudah tidak ada yang harus aku urus kan? Nenek Mira sudah tiada jadi tidak ada gunanya aku berada di sampingmu." Ucap Sita mengusap air matanya.
" Kau tidak akan pergi kemanapun! Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah kau membuatku terjebak dengan pernikahan palsu ini." Ucap Fahri mencekal lengan Sita.
" Aku akan membuatmu semakin tersiksa dengan hidup bersamaku, kamu harus merasakan apa yang aku rasakan selama empat tahun hidup bersamamu dulu, Rasita." Tekan Fahri.
" Aku akan mengikuti keinginanmu jika itu bisa membuatmu menghapus kebencianmu untukku, aku ikhlas melakukannya Mas, supaya jika aku pergi nanti, aku sudah tidak menanggung beban ini." Sahut Sita.
Entah mengapa ucapan Sita mampu mengusik hati Fahri. Fahri melepaskan tangannya dari lengan Sita. Ia menjauh dari ranjang Sita dengan perasaan tak menentu.
" Bersiaplah untuk pulang, aku akan menunggumu di mobil." Ucap Fahri meninggalkan Sita.
Sita menatap kepergian Fahri dengan tatapan sendu.
" Apakah aku bisa mengambil dan meluluhkan hatimu Mas? Apakah aku bisa menggantikan nama Akira di dalam hatimu? Apakah aku bisa membuatmu memaafkan dan melupakan segala kesalahanku? Apa aku bisa membuatmu mencintaiku? Aku hanya bisa berusaha, selebihnya aku pasrahkan pada takdir Tuhan kemana akan membawaku melangkah." Gumam Sita.
Sita masuk ke dalam mobil Fahri. Tanpa mengucapkan satu kata pun, Fahri melajukan mobilnya ke padatnya jalanan kota di malam hari.
Lima belas menit kemudian keduanya sampai di rumah.
Fahri turun dari mobil lalu melenggang masuk ke dalam tanpa menunggu Sita. Sita menghela nafasnya pelan melihat sikap dingin yang Fahri tunjukkan kepadanya.
" Aku akan menanti waktu di saat kau mau membukakan pintu mobil untukku, waktu dimana kau akan menggandeng tanganku kemanapun kau pergi, waktu dimana hanya ada kita berdua yang di liputi oleh kebahagiaan, semoga waktu itu akan tiba walaupun entah kapan dan seberapa lamanya." Monolog Sita.
Sita turun dari mobil lalu berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Ia segera masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya.
Sita mulai membuka baju dan bawahannya sehingga hanya menampakkan kaca mata dan cdnya saja.
Saat Ia hendak mengambil baju di dalam almari tiba tiba pintu kamar mandi terbuka dan.......
Dan apa hayooooo..
Kita sambung besok ya karena saat ini author lagi tumbang...
Tekan like koment dan hadiahnya dulu biar author semangat dan cepat sembuh ya...
Terima kasih untuk readers yang telah memberikan dukungannya kepada Author...
Semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1