
Mila masuk ke dalam kamarnya dengan menenteng satu bungkus rujak buah di tangannya. Imran memesan rujak buah yang pedesnya di atas rata rata.
" Mas ini rujaknya." Ucap Mila menyodorkan kantong plastik ke arah Imran yang sedang duduk bersandar. Mila duduk di tepi ranjang.
" Makasih sayang." Ucap Imran.
Imran membuka mika jumbo berisi rujak buah yang sudah di canpur dengan sambalnya.
" Aku siapin minum dulu Mas soalnya itu pedes banget." Ujar Mila.
Mila mengambil segelas air putih. Imran mulai memakan rujak buahnya sambil kepedasan. Keringat mengucur di dahinya.
" Enak Yank." Ucap Imran. Padahal Mila melihatnya sambil nyengir. Bagaimana tidak rujak buahnya berisi kedondong, mangga muda, jambu kancing, nanas, bengkoan dan banyak asam jawanya. Pasti masam banget kan ya...
" Udah Yank." Ucap Imran setelah memakan rujaknya hampir separo.
" Masih separo Mas, nggak di habisin?" Tanya Mila.
" Udah ah kenyang." Sahut Imran.
" Ya udah aku buang dulu Mas." Ucap Mila hendak beranjak.
" Jangan Yank, Mas mau sisanya kamu yang makan." Ujar Imran.
" Hah????" Mila melongo menatap Imran.
" Aku yang makan?" Tanya Mila menunjuk dirinya.
" Iya." Sahut Imran menganggukkan kepalanya.
" Nggak mau ah, udah pedes masam juga, aku nggak mau perutku sakit Mas." Ujar Mila.
" Tapi aku penginya gitu Yank, habisin rujaknya di depan mataku sekarang." Ucap Imran.
" Mas aku memang suka makanan pedas, tapi aku nggak suka makanan masam Mas." Cebik Mila.
" Emang dari dulu kamu nggak sayang sama Mas." Ucap Imran cemberut.
" Kamu ini kenapa sih Mas? Kaya' anak kecil aja bentar bentar merajuk, nggak kaya' biasanya deh." Gerutu Mila dengan suara meninggi.
Bagaimana Mila nggak kesal? Mila mencari penjual rujak sampai perbatasan kota, sekarang Ia di paksa untuk menghabiskan makanan yang sama sekali Ia tidak suka. Di tambah sikap Imran yang sering merajuk.
" Aku hanya ingin melihatmu makan rujak itu saja." Sahut Imran.
" Aku nggak mau dan jangan paksa aku, kamu lagi sakit nanti kalau aku ikut sakit siapa yang akan merawat kita? jangan aneh aneh kalau kamu sudah nggak mau makan akan aku buang saja." Ujar Mila keras kepala.
" Iya maafkan Mas yang suka memaksa." Ucap Imran masuk ke dalam selimutnya.
Mila menghela nafas, Ia segera keluar dari kamarnya menuju bawah.
" Bisa bisa stres aku nanti kalau sifat dia terus terussan begini." Kesal Mila.
" Kenapa sayang?" Tanya Mama Lina.
" Nggak pa pa Ma hanya capek aja." Sahut Mila menutupi kekesalannya.
Mila tidak membuang sisa rujaknya tapi Ia memasukkannya ke dalam kulkas.
" Sayang sini, Mama ingin menanyakan sesuatu sama kamu." Ujar Mama Lina duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
__ADS_1
" Apa itu Ma?" Tanya Mila duduk di sebelah Mama Lina.
" Kapan terakhir kamu datang bulan?" Tanya Mama Lina.
" Tiga minggu yang lalu Ma, emang kenapa Ma?" Mila balik bertanya.
" Ah nggak pa pa, Mama cuma mengira kalau Imran sedang ngidam saja." Sahut Mama Lina.
" Apa Ma? Ngidam?" Pekik Mila menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
" Masss Desss." Geram Mila beranjak meninggalkan Mama Lina.
" Mila kamu kemana?" Tanya Mama Lina.
" Mau ke kamar Ma." Sahut Mila.
Mila membuka pintu kamarnya. Ia menghampiri Imran lalu menarik kasar selimutnya.
" Apa sih Yank." Ucap Imran menatap Mila.
" Katakan padaku wanita mana yang sudah kau hamili Mas?" Tanya Mila tiba tiba.
" Ap... Apa maksudmu?" Tanya Imran.
" Tidak usah pura pura lagi Mas, katakan saja siapa wanita itu." Tegas Mila.
" Sayang tenangkan dirimu ya, katakan dengan jelas apa maksud ucapanmu? Aku tidak pernah menghamili siapa siapa, sama kamu aja belum berhasil." Ujar Imran.
" Buktinya kamu udah ngidam gitu, kamu membohongiku lagi?" Tanya Mila penuh penekanan.
" Tidak sayang, siapa yang bilang kalau aku lagi ngidam?" Tanya Imran.
" Mama." Sahut Mila.
" Mana bisa begitu? Bulananku baru tiga minggu Mas, ini pasti kamu sama wanita lain." Ujar Mila.
" Ya ampun sayang.... Jangan negatif thinking sama suami sendiri Yank, beneran aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu sayang, percayalah." Ucap Imran menggenggam tangan Mila.
" Aku akan menunggu wanita yang mengaku mengandung anakmu, jika sampai itu terjadi kau akan merasakan akibatnya Mas." Sahut Mila.
" Tidak akan ada yang datang padamu sayang, apalagi mengaku mengandung anakku." Ucap Imran.
" Mila... Imran... Ada Vania di bawah." Teriak Mama Lina dari luar.
Mila dan Imran saling melempar tatapan.
" Tuh kan baru di bilang aja dia sudah datang Mas, jangan jangan benar kata si uler keket itu lagi kalau kamu yang menghamilinya." Ujar Mila.
" Itu tidak benar sayang, bukankah kamu tahu kalau yang menyentuhnya pacarnya sendiri." Sahut Imran.
" Tau ah." Cebik Mila.
" Eh kamu mau kemana?" Tanya Mila saat Imran hendak turun dari ranjangnya.
" Mau menemui Vania." Sahut Imran.
" Yah kau hebat, tadi nggak bisa bangun sekarang mendengar Vania ada di bawah kamu langsung mau menemuinya, ini nih yang di bilang ikatan anak sama bapak kuat." Ucap Mila.
" Astaghfirulloh sayang, bukan begitu Yank Mas hanya mau mengusirnya saja, ya udah Mas tidak akan kemana mana, suruh Mama yang mengusirnya saja." Ujar Imran.
__ADS_1
" Diam di sini, awas aja kalau berani keluar." Ancam Mila.
" Baik sayangku." Sahut Imran.
Mila keluar kamar menuju ruang tamu. Di sana Vania duduk berdampingan dengan Mama Lina.
" Ngapain kamu ke sini?" Tanya Mila menatap Vania.
" Aku ingin bertemu dengan Imran, suamiku dan ayah dari bayiku." Sahut Vania.
" Tutup mulutmu Vania." Bentak Mila membuat Mama Lina dan Vania berjingkrak kaget.
" Kenapa? Memang itu kenyataannya kan?" Tanya Vania berdiri di depan Mila.
" Jangan bicara omong kosong, carilah ayah dari bayi itu di luar sana." Teriak Mila menunjuk perut Vania.
" Imran ayah dari bayiku." Teriak Vania.
" Dia suamiku, sebaiknya sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu kehidupan kami lagi." Ucap Mila menarik tangan Vania.
" Lepaskan aku, aku tidak mau, aku ingin bertemu Imran." Ucap Vania memberi perlawanan. Mama Lina hanya melihat saja tanpa tahu harus berbuat apa.
Mila masih menarik tangan Vania hingga pintu keluar. Mila mendorong tubuh Vania agar keluar dari rumahnya. Vania melihat Imran yang sedang berjalan ke arah mereka, tiba tiba.
" Awh." Pekik Vania jatuh terduduk dengan keras. Pant*tnya membentur tangga kecil yang berada di teras rumah Mila.
Mila terkejut karna tiba tiba Vania jatuh. Padahal Ia hanya mendorongnya dengan pelan.
" Mila." Bentak Imran berlari menghampiri Vania.
Mila menatap Imran yang sedang berusaha membantu Vania berdiri.
" Imran sakit Ran, awh perutku sangat sakit Ran." Keluh Vania.
" Astaga Vania, kandunganmu." Pekik Imran saat melihat darah mengalir di sela kaki Vania.
" Hiks.... Imran tolong selamatkan anak kita." Isak Vania.
" Tenang saja aku akan menolongnya." Sahut Imran.
Imran menggendong Vania.
" Mas..." Panggil Mila mendekati Imran.
Imran tidak mempedulikannya, Ia berlari sambil menggendong Vania menuju mobilnya. Imran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan Vania akibat ulah istrinya. Ia tidak mau istrinya di salahkan karna masalah ini.
Sedangkan Mila meneteskan air matanya menatap kepergian Imran. Hatinya pedih melihat Imran mengabaikannya dan lebih mementingkan Vania. Pikiran buruk muncul di dalam benaknya. Apakah mungkin jika anak itu anak Imran suaminya?
" Tenanglah sayang, Imran tadi hanya panik saja makanya dia langsung membawa Vania tanpa menghiraukanmu, tenang ya semuanya pasti akan baik baik saja." Ujar Mama Lina.
" Iya Ma, aku mau menyusul ke rumah sakit Ma." Ucap Mila.
" Baiklah Mama ikut." Sahut Mama Lina.
Keduanya masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit terdekat, karna mereka yakin kalau Imran akan membawanya ke sana.
TBC.....
*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya....
__ADS_1
Makasih untuk para readers yang sudah dukung author....
Miss U All*...