
Di kantor Imran sedang berjibaku dengan komputernya. Ia sedang menganalisa dana yang akan perusahaannya luncurkan untuk sebuah proyek baru. Proyek pembangunan hotel di kota Y.
Drt.... Drt...
Ponsel Imran berdering tanda panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya karena itu panggilan dari Mamanya.
" Halo Ma." Sapa Imran.
" Halo Ran, Ran tadi Mila ke sini dan mendengar percakapan Mama sama Tante Winda yang membicarakan perjodohanmu dengan Vania dulu dan Mama mengucapkan sedikit hal buruk tentang Mila, Mama takut dia salah paham sayang karna sebelum Mama menjelaskan semuanya dia sudah pergi begitu saja membawa mobilnya sambil ngebut, Mama takut terjadi sesuatu dengannya Nak, Sayang maafkan Mama." Terang Mama Lina.
Imran menghela nafasnya.
" Ma Imran sudah bilang berkali kali jangan ungkit masalah perjodohan itu karena sejak dulu Imran juga sudah menolaknya bukan? Hubungan Imran baru saja membaik dan sedikit lebih dekat Ma, Kalau seperti ini Imran yakin Mila akan menjauhi Imran lagi." Ujar Imran memijat pelipisnya.
" Ran maafkan Mama." Ucap Mama Lina.
" Ya udah Ma doakan Mila baik baik saja nanti biar Imran yang memberi pengertian padanya." Ucap Imran.
" Makasih Nak." Sahut Mama Lina mematikan sambungan teleponnya.
Baru saja Imran hendak meletakkan ponselnya, Ponselnya kembali berdering. Ia melihat ID pemanggil " Cintaku".
" Halo sayang." Ucap Imran setelah mengangkat panggilannya.
" Halo Pak maaf apa anda mengenal yang punya ponsel ini?" Tanya seseorang di sebrang sana.
" Ya dia istri saya, Apa terjadi sesuatu dengannya? Kenapa ponselnya ada pada anda?" Tanya Imran panik.
" Istri anda saat ini berada di rumah sakit xx Pak, Baru saja mengalami kecelakaan dan saya Suster yang menangani Istri anda." Sahutnya.
" Apa? Kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang Sus?" Tanya Imran.
" Keadaannya baik baik saja hanya syok dan luka di dahinya Pak, Sebentar lagi juga sadar." Jelas Suster.
" Saya akan kesana makasih Sus." Tanpa menunggu jawaban dari Suster Imran mematikan sambungan ponselnya.
Dengan tergesa Imran segera berlari menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit yang tadi suster sebutkan.
Sesampainya di rumah sakit, Imran segera mencari ruangan UGD. Sedangkan di ruangan itu Mila yang baru saja sadar sedang berbincang dengan seorang pria yang tadi di tabraknya.
" Sekali lagi maafkan aku Ar." Ucap Mila kepada pria yang bernama Arnav.
" OK tidak masalah aku juga baik baik saja kok." Sahut Arnav.
" Aku akan mengganti semua kerugian pada motormu." Ucap Mila.
" Hey... Berapa banyak uang yang akan kau keluarkan Mil? Itu motor mahal dan langka lho, Biaya perbaikannya aja bisa nyampai jutaan bahkan puluhan." Ucap Arnav.
" Tidak masalah uang segitu gue masih punya kali." Sahut Mila.
" Widih anak sultan nih." Ujar Arnav.
" Biasa aja." Sahut Mila.
" Awh." Rintih Mila menyentuh perban pada dahinya yang terasa perih dan cenut cenut.
__ADS_1
" Kenapa? Sakit ya?" Tanya Arnav.
" Perih." Sahut Mila.
" Sini aku tiup." Ujar Arnav.
Arnav memajukan wajahnya Ia mulai meniup kening Mila. Mila memejamkan matanya. Entah mengapa baru kenal tapi Mila merasa sreg dan nyaman dengan Arnav.
" Mila." Bentak Imran yang baru membuka pintu, Ia melihat Mila seperti hendak berciuman dengan Arnav.
Mila dan Arnav menoleh ke arah Imran bersamaan. Mengingat ucapan Mama Lina, Mila memalingkan wajahnya.
" Maaf siapa ya?" Tanya Arnav setelah Imran berdiri di depannya.
" Harusnya aku yang tanya siapa kamu? Aku suaminya Mila kalau kau mau tahu." Ucap Imran.
" Su... Suami Mila?" Tanya Arnav tidak percaya.
Arnav menatap ke arah Mila seolah meminta jawaban dari Mila. Mila hanya menundukkan kepalanya.
" Oh kenalkan saya Arnav, Pria yang di tabrak oleh istri anda Tuan Imran." Ucap Arnav mengulurkan tangannya mencoba menutupi kekecewaannya.
Bagaimana tidak? Arnav kira Mila masih gadis. Ia menyukai Mila pada pertemuan pertama ini dan berharap bisa mendapatkan hati Mila tapi nyatanya Mila milik orang lain. Pupus sudah harapannya.
" Imran." Sahut Imran membalas uluran tangan Arnav.
" Sekarang udah ada suami kamu, Aku pulang ya Mil." Ucap Arnav.
" Hati hati, Makasih udah nolong aku masalah ganti rugi kamu tinggal kirim nomer rekeningmu ke aku ya nanti aku transfer." Ucap Mila.
" Ha ha ha ok ok." Sahut Mila sambil tertawa.
" Saya permisi Tuan Imran." Ucap Atnav keluar ruangan Mila.
" Hm." Gumam Imran.
Mila memainkan ponselnya mengabaikan kehadiran Imran. Hatinya masih kesal jika mengingat ucapan Mama mertuanya.
" Sayang kamu baik baik saja? Apa ada yang sakit?" Tanya Imran berdiri di samping ranjang.
" Ada." Sahut Mila.
" Mana yang sakit? Biar Mas obati." Ucap Imran.
" Lukanya tak terlihat tapi rasa sakitnya teramat sangat." Sahut Mila sambil tersenyum masam dalam hatinya Ia menertawakan dirinya sendiri.
" Maafkan Mama sayang, Mama tidak bermaksud...
" Ya ya semua orang tidak bermaksud menyakitiku, Tapi aku yang merasakan rasa sakit itu jika memang tidak suka atau tidak mau menerima setidaknya tidak usah berpura pura, Apalagi mengumbarnya di depan orang lain membuat orang lain menertawakan kemalangan hidupku saja." Mila memotong ucapan Imran.
" Sayang kamu salah paham, Bukan itu maksud Mama, Mama hanya...
" Udah lah Mas nggak perlu kamu menunjukkan sikap baktimu pada Mamamu dengan terus membelanya, Mau di sukai atau tidak aku sudah tidak peduli, Yang jelas bukan aku yang masuk ke dalam keluarga kalian tapi kalian yang memaksaku." Sinis Mila.
" Sa..
__ADS_1
" Aku nggak mau mendengar alasan apapun, Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar bukan dengan omongan orang lain." Ucap Mila.
Mila kembali memainkan ponselnya, Ia membuka aplikasi hijau lalu menelepon Risa sahabatnya. Telepon tersambung tinggal menunggu Risa mengangkatnya.
" Halo Mil." Sapa Risa di sebrang sana.
" Hai... Lagi di mana?" Tanya Mila.
" Lagi di kantin kampus sama Vicki juga nih, Gue loudspeaker ya." Ucap Risa mengaktifkan loudspekearnya.
" Halo Mila sayang gimana kabarmu?" Tanya Vicki.
" Yang jelas kabarku tidak baik baik saja sejak jauh dari kalian, Gue merana bet yakin." Sahut Mila.
" Lhoh kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Risa.
" Gue baru saja nabrak orang tau nggak Lo." Ujar Mila.
" Terus terus gimana? Apa kamu baik baik saja?" Tanya Risa.
" Alhamdulillah gue sama dia baik baik saja sih." Sahut Mila.
" Yang Lo tabrak cewek apa cowok?" Tanya Vicki.
" Cogan.... Sumpah ganteng banget Vic." Sahut Mila membuat Imran menatap ke arahnya tapi yang di tatap cuek cuek aja.
" Wah untung donk Lo, Siapa namanya? Comblangin gue donk." Ujar Risa.
" Namanya Arnav, Ya kali gue nyomblangin Lo mending gue embat sendiri kali." Sahut Mila.
" Eh Lo udah punya Pak Des, Mau di kemanain dia?" Kekeh Risa.
" Yah buat cadangan kan nggak masalah, Jadi kalau suami gue nyakitin gue bisa otw ke Arnav." Seloroh Mila melirik Imran.
Imran semakin merasa panas pada dadanya mendengar semua ucapan Mila. Ingin sekali Ia membanting ponsel Mila tapi Ia menahannya.
" Ha ha ha Lo bisa aja." Sahut Risa.
" Udah dulu ya gue mau bobok pusing nih pala baby." Ucap Mila.
" Ok sehat sehat ya Say, Miss U." Ucap Vicki.
" Miss U All." Sahut Mila.
Mila meletakkan ponselnya ke atas nakas. Ia lalu merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memejamkan matanya. Ia benar benar mengabaikan kehadiran Imran di sana. Sedangkan Imran hanya mencoba bersabar dan terus bersabar, Ia memaklumi sikap Mila yang sedang sakit hati.
*TBC ....
Sakit nggak sih kalau dengar mertua kita kurang menyukai kita? Kalau author pasti sakit banget deh, Itulah yang di rasakan Mila semoga para readers di sayang mertua semuanya. ...
Jangan lupa like dan koment si setiap babnya.. Author juga minta doa dan dukungannya agar bisa membuat cerita yang menarik untuk readers semua...
Makasih.. .
Miss U All*
__ADS_1