Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Rumah Sakit


__ADS_3

Mila berjalan mondar mandir di depan ruangan operasi. Ia sangat cemas dengan keadaan suaminya. Pasalnya sudah hampir tiga jam operasi itu berlangsung. Ia takut terjadi sesuatu dengan Imran. Ia tidak siap kehilangan Imran.


" Sayang duduklah! Tenangkan pikiranmu! Kasihan bayi dalam kandunganmu jika kamu stres sayang.... Yakinlah semua akan baik baik saja." Ucap Mama Lina.


" Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahui keadaan Mas Imran Ma, Hah... Semoga Mas Imran baik baik saja." Sahut Mila.


" Sabarlah sayang semua akan baik baik saja." Ujar Mama Lina.


Pintu ruangan terbuka seorang Dokter keluar dari sana.


" Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Tanya Mila.


" Operasinya berjalan lancar Nona, Tuan Imran sedang dalam masa pemulihan, tunggu sampai suster memindahkannya ke ruang rawat." Sahut Dokter.


" Terima kasih Dok." Ucap Mila.


" Sama sama Nona." Sahut Dokter meninggalkan Mila.


Setelah Imran di pindahkan ke ruangan rawat, Mila dan kedua mertuanya masuk ke sana. Saat ini Imran masih belum sadarkan diri karna masih dalam pengaruh obat biusnya. Mila duduk di kursi samping ranjang sambil menggengam tangan Imran.


" Mas bangunlah... Aku merindukanmu.... Maafkan atas kecerobohanku yang malah membuatmu begini." Ucap Mila mencium tangan Imran.


" Aku tidak mau kehilanganmu Mas, Lihatlah calon anak kita juga merindukan Daddynya, segera sadar ya..." Ujar Mila mengusap perutnya sendiri.


Jari Imran bergerak, Ia mulai menggerakkan matanya.


" Masss." Panggil Mila.


" Enghhh." Lenguh Imran.


" Mas mana yang sakit?" Tanya Mila mengelus dahi Imran.


Imran membuka matanya menatap wanita cantik di depannya.


" Ha...us." Lirih Imran.


" Sebentar aku tanya Dokter dulu Mas udah boleh minum apa belum soalnya kamu habis oprasi Mas, aku takut kamu kenapa napa, Kamu tunggu sebentar ya" Ujar Mila. Imran menganggukkan kepalanya.


" Biar Mama saja sayang, kamu temenin Imran saja di sini." Ucap Mama Lina.


Mama Lina keluar ruangan menuju ruangan Dokter. Tak berapa lama Mama Lina kembali bersama Dokter yang menangani Imran.


" Tuan Imran anda sudah sadar, saya periksa dulu ya." Ucap Dokter.


Dokter mulai memeriksa alat vital Imran dengan teliti.


" Semuanya bagus Nonya, boleh minum tapi sedikit sedikit asalkan tidak muntah, jika muntah jangan di teruskan." Ujar Dokter.


" Baik Dok terima kasih." Sahut Mila.


" Kalau begitu saya permisi Nyonya." Ucap Dokter.


" Silahkan Dok." Sahut Mama Lina.


Mila mengambil segelas air putih lalu meminumkannya ke mulut Imran menggunakan sendok karna Imran belum bisa menggerakkan tubunya.


" Udah sayang." Ucap Imran.


Mila meletakkan gelas di atas nakas. Ia mengelus pelan tangan Imran.


" Maafkan aku Mas, gara gara aku jadi seperti ini." Ucap Mila sedih.


" Bukan salah kamu sayang, memang harus begini jalannya." Sahut Imran.

__ADS_1


" Kalau aku tidak ikut dengan mereka kamu tidak akan begini Mas." Ujar Mila.


" Mila.... Tidak usah membahas hal itu lagi ya, fokuslah pada kesembuhan Imran untuk saat ini, biarlah itu menjadi pelajaran buat kita semua untuk bertindak lebih baik agar tidak menyakiti orang lain." Ucap Mama.


" Iya Ma." Sahut Mila.


Tok tok


Pintu di ketuk dari luar. Mama Lina segera membukanya. Ia menatap dua orang yang sedang berdiri di depannya.


" Cari siapa ya?" Tanya Mama Lina yang merasa tidak mengenal kedua orang itu.


" Kenalkan Tante, saya Fisa teman sekaligus pengacara Mila, dan ini Mas Aroon calon suami saya." Ucap Fisa memperkenalkan diri.


" Ah teman Mila, saya mertuanya Mila, mari silahkan masuk." Ucap Mama Lina mempersilahkan tamunya masuk ke dalam.


Mila menoleh ke pintu dimana Fisa dan Aroon berjalan mendekatinya.


" Kak Fisa." Ucap Mila.


" Hai gimana kabarmu?" Tanya Fisa.


" Aku baik Kak." Sahut Mila.


" Gimana keadaannya Kak Des?" Tanya Fisa.


" Alhamdulillah udah baik." Sahut Imran.


" Baik darimana? Orang Mas Des masih sakit gini kok di bilang baik." Sahut Mila.


" Mas baik baik saja sayang.... Jangan khawatir." Ujar Imran.


" Makanya cepet sembuh biar aku bisa tenang." Ujar Mila.


" Oh ya Kak Fisa tahu darimana kalau kami ada di sini?" Tanya Mila.


" Aku tadi dari rumah kamu dan pembantu kamu bilang kalau kamu di sini menemani Kak Des." Sahut Fisa.


" Apa kamu baik baik saja Mila? Apa ada yang terluka?" Tanya Aroon menatap Mila dengan rasa cemas.


" Yang terluka itu hatiku Mas." Sahut Fisa memutar bola matanya malas. Ternyata Mila masih berpengaruh dalam kehidupan Aroon walaupun mereka hampir menikah.


" Maaf sayang, aku hanya memastikan saja." Ujar Aroon.


" Nggak perlu di tanya kamu udah lihat siapa yang terluka di sini Mas, jelas jelas Kak Desfian yang terluka masih aja kamu nanyain Mila, modus banget jadi orang." Cerocos Fisa berapi api.


" Duh ada yang cemburu nih jadi nggak enak akunya." Ujar Mila.


" Eh maaf maaf bukan maksudku cemburu padamu Mil, tapi Mas Aroon ini lhoh nyebelin dianya, katanya mau lupain kamu nyatanya kamu masih berpengaruh di hatinya." Ujar Fisa.


" Ya kan aku sudah minta maaf sayang." Ucap Aroon.


" Selalu meminta maaf dan selalu mengulanginya lagi." Sahut Fisa.


Papa dan Mama hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah mereka.


" Apa aku dulu seperti itu kalau sedang cemburu Mas?" Tanya Mama Lina.


" Dulu kamu kalau cemburu nangis di kamar mandi." Sahut Papa Romi.


" Masa' sih? Perasaan enggak deh." Ujar Mama Lina.


" Ya di ingat ingat aja Ma, Papa rasa ingatan Mama masih tajam seperti mata Mama." Sahut Papa Romi.

__ADS_1


" Maksud Papa mata Mama tajam apa? Karna Mama masih suka ngawasin Papa gitu? Mama seperti itu biar Papa tidak melirik wanita lain,ingat umur Pa lagian buat jaga jaga biar Papa nggak ninggalin Mama gimana sih." Cerocos Mama Lina membuat empat orang yang tak jauh dari sana menatapnya.


" Ma jangan keras keras malu tahu di lihatin mereka." Ucap Papa melirik ke arah ranjang Imran.


" Biarin! Kenapa harus malu emang itu kenyataannya kok, Papa pikir Mama nggak tahu kalau sekretaris Papa suka deketin Papa pakai kopi buatannya? Kalau kopi itu di kasih sesuatu baru nyaho' kamu Pa." Ucap Mama Lina.


" Emang Mama tahu darimana?" Tanya Papa Romi.


" Cctv di ruangan Papa terhubung juga dengan ponsel Mama jika Papa lupa." Ketus Mama Lina.


" Jadi selama ini Mama mengawasi Papa nih ceritanya? Emang takut banget Papa tinggalin ya.... Sebesar apa sih cinta Mama sama Papa ini hmm?" Goda Papa Romi.


" Sebesar dunia sedalam jurang dan seindah syurga." Sahut Mama Lina.


" Duh istri siapa sih kok gemesin banget." Ucap Papa Romi mencubit pelan hidung Mama Lina.


" Istri Papa Romi donk." Sahut Mama Lina memeluk pinggang Papa Romi.


" Ehm ehm kalau mau mesra mesraan di rumah aja, bikin Imran iri aja Pa." Ucap Imran.


" Masss." Lirih Mila.


" Kenapa sayang? Kan bener Mas iri sama keharmonisan mereka, besok kalau kita sudah tua kaya' gitu nggak ya?" Tanya Imran.


" Insya Allah Mas." Sahut Mila.


Papa Romi dan Mama Lina berjalan bergandengan menuju pintu keluar.


" Pa Ma mau kemana?" Tanya Imran.


" Kata kamu kalau mau bermesraan di rumah aja, ya kami mau pulang lah lagian di sini kami nggak ngapa ngapain kan." Sahut Mama Lina.


" Yah tega ninggalin Mila sendiri jagain aku di sini." Ujar Imran.


" Nanti kalau kami udah bosan di kamar, Mama kesini lagi deh, cepet sembuh ya biar bisa bermesraan dengan Mila... Bye sayang." Ucap Mama Lina meninggalkan ruangan Imran.


" Dasar orang tua nggak ada....


" Masss." Ucap Mila memotong ucapan Imran.


" Ah iya sayang maaf.... Maafkan kedua orang tuaku ya Fis, Pak Aroon mereka suka begitu." Ucap Imran.


" Tidak masalah Pak Imran, saya malah suka melihat keharmonisan mereka jadi ingat orang tuaku juga." Sahut Aroon.


" Kapan aku bisa melihat keharmonisan orang tuaku? Mereka sama sama sibuk dengan urusan masing masing." Ucap Mila sedih.


" Jangan bersedih Mil, kamu akan melihatnya suatu hari nanti." Ucap Fisa mengelus pundak Mila.


" Mungkin jika salah satu dari mereka tiada, mereka akan menyadarinya." Sahut Mila.


" Sabar sayang semua akan indah pada waktunya.


Mereka berempat mengobrol hingga hari menjelang sore. Saat ini Imran sedang tertidur pulas mungkin karna efek obat tidur. Sedangkan Aroon dan Fisa pamit pulang. Tinggallah Mila seorang diri yang masih terjaga.


TBC.......


*Jangan lupa like dan komentnya....


Yang mau menuangkan idenya bisa tulis di kolom komentar ya nanti author pikirkan....


Terima kasih sudah mensuport author....


Miss U All*....

__ADS_1


__ADS_2