
Mila mengerjapkan matanya. Ia menatap jam pada dinding yang menunjukkan jam tujuh pagi. Mila segera turun dari ranjang berlari masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai Ia dandan dengan tergesa gesa. Ia mengambil ponselnya menelepon Arnav.
" Halo." Sapa Arnav.
" Kamu dimana?" Tanya Mila.
" Aku dirumah Mil, Suamimu tidak mengijinkan kamu pergi katanya ada masalah yang harus di selesaikan hari ini juga, Kita bisa jalan lain waktu OK." Jelas Arnav.
Mila mematikan teleponnya. Ia begitu geram dengan sikap Imran yang seenaknya saja. Mila turun ke bawah, Matanya membulat melihat di ruang tamu Imran dan kedua orang tuanya sedang berkumpul bersama seorang wanita paruh baya yang Ia ingat sebagai Mamanya Vania.
" Sayang sini." Panggil Imran.
Mila menghampiri Imran dan duduk di sebelahnya.
" Sayang ini Tante Winda, Beliau mau menjelaskan tentang semua kesalah pahaman di antara kita." Ucap Imran.
" Kamu menyuapnya untuk membohongiku lagi?" Tanya Mila menatap Imran.
" Tidak Nak Mila, Maafkan Tante yang sudah memaksa Imran masuk ke dalam permasalahan anak Tante, Vania." Sahut Tante Winda.
" Kenapa minta maaf? Bukankah Tante senang kalau Imran dekat dengan Vania?" Sindir Mila.
" Sayang..
" Diam." Potong Mila.
" Bukankah Vania lebih baik dan lebih tepat dari pada aku untuk mendampingi Imran? Lalu masalah apa yang membuatmu menyeret Imran ke dalamnya?" Tanya Mila.
" Vania hamil." Ucap Tante Winda.
" Waw Vania hamil dan Tante mau meminta pertanggung jawaban Imran begitu?" Tanya Mila.
" Sayang....
" Aku bilang diam ya diam... Atau kau ingin aku yang diam di sini?" Mila menatap tajam ke arah Imran.
" Baiklah Mas akan diam, Keluarkan apa yang menjadi beban pikiranmu." Ujar Imran mengalah.
" Bagus." Sahut Mila.
Semuanya menatap ke arah Imran. Terlihat jelas di mata Imran betapa besar cintanya kepada Mila hingga membuat Imran selalu mengalah.
" Mila... Tante hanya meminta bantuan Imran untuk mengaku menjadi suami Vania Nak, Tante bingung harus berbuat apa, Vania tidak tahu dia hamil dengan siapa... Dia...." Lirih Tante Winda.
" Bagaimana bisa wanita terhormat seperti Vania tidak tahu siapa yang membuatnya hamil, Apa dia melakukannya dengan banyak pria?" Ucap Mila mengangkat kedua jarinya.
Semua orang memejamkan matanya mendengar ucapan pedas Mila.
" Dia mabuk Mila, Malam itu dia di perk**** oleh tiga orang pria... Hiks.... Hiks... Sejak saat itu dia sering histeris seperti orang gila, Saat Vania tahu kalau dia hamil dia mencoba untuk bunuh diri... Hiks.... Tante bingung harus bagaimana itu sebabnya...
" Itu sebabnya kau menggunakan kesempatan ini untuk membuat jarak di antara kami, Jika kami sampai berpisah bukankah itu peluang emas untukmu dan putrimu? Kau sengaja membuat Vania bergantung pada suamiku Tante... Aku bisa menebaknya." Ucap Mila memotong ucapan Tante Winda.
" Sialan dia pinter juga membaca tak tikku." Batin Tante Winda.
__ADS_1
" Kau bisa membodohi suamiku tapi kau tidak bisa membodohiku Tante, Kau menggunakan trik yang cukup hebat hingga membuat suamiku tidak menyadarinya." Ujar Mila.
Imran menatap Tante Winda dengan tajam Kenapa dia tidak berpikiran sampai ke sana? Benarkah dia sudah di perdaya dengan seseorang yang telah di tolongnya? Imran mengepalkan tangannya kuat.
" Kenapa Tante diam? Semua tebakanku benar bukan?" Tanya Mila.
" Ah tidak bukan seperti itu maksudku." Sahut Tante Winda.
" Lalu apa maksudmu? Jika Tante tidak bermaksud apa apa, Tante bisa mencari salah satu dari pria itu bukan? Aku rasa cctv hotel bisa membantumu Tante, Apakah benar Vania di paksa atau dia sendiri yang menyerahkan dirinya dengan tujuan lain." Sinis Mila.
" Apa maksudmu Mila? Kau menghina putriku." Bentak Tante Winda.
" Wihh... Slow Tante... Slow..." Ucap Mila.
Imran semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Apa maksud ucapan Mila sebenarnya.
" Apa perlu aku ungkap semuanya TANTE." Tekan Mila.
" A... Apa maksudmu Mila, Aku tidak mengerti." Gugup Tante Winda.
" Tidak perlu gugup begitu Tante, Di sini hanya aku yang tahu karna hanya aku yang menyadarinya." Ucap Mila.
" Ada apa sebenarnya sayang? Apa yang terjadi?" Tanya Imran menatap Mila.
Plek....
Mila melempar ponselnya ke atas meja.
" Apa ini?" Tanya Imran.
Imran membuka rekaman suara yang di maksud oleh Mila. Terdengarlah percakapan dua gadis yang entah siapa. Tapi isinya membuat mereka tercengang termasuk dua orang yang sedang berdiri di belakang mereka.
Aku kasihan sekali dengan Vania Hen, Niatnya ingin menjebak Imran tapi justru dia sendiri yang terjebak
Lagian dia berani beraninya mengambil resiko besar seperti itu
Dia itu cuma mau di unboxing sama satu orang sebelum dia menjebak Imran, Kan nggak mungkin dia mengaku di lecehkan Imran tapi dianya masih perawan, Tapi naas dia justru di kerjai tiga pria sekaligus, Apalagi sekarang dia hamil lagi
Tapi kau tenang saja Tante Winda berhasil membawa Imran masuk ke dalam rencananya, Tante Winda yakin sebelum Vania melahirkan Imran sudah berpisah dengan istrinya dan tentunya Tante Winda akan membuat Imran menikahi Vania, Dengan begitu masalah selesai
Ha ha ha ha......
Plak....
Semua orang menoleh ke arah suara. Tamparan keras mendarat di pipi Tante Winda dari Mama Lina. Semua orang melongo tak percaya. Sejak kapan Mama Lina berada di sana.
" Aku tidak menyangka kau bisa menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan putraku Win, Kau benar benar wanita sampah yang tidak tahu malu dan harga diri." Bentak Mama Lina menunjuk wajah Tante Winda.
" Kau menamparku demi membela menantu urakanmu itu?" Ucap Tante Winda.
" Walaupun aku urakan setidaknya aku mampu menjaga harga diriku Tan." Sahut Mila.
" Diam kau." Ucap Tante Winda menunjuk Mila.
__ADS_1
" Kenapa aku harus diam? Bukankah yang seharusnya diam itu kamu? Ah tidak kau tidak boleh diam Tante, Kau harus menjelaskan apa alasanmu melakukan ini semuanya pada keluargaku." Ujar Mila.
" Kau ingin tahu alasanku? Apa kau ingin tahu alasanku Hah?" Bentak Tante Winda.
" Ya kami ingin tahu Tante." Sahut Imran.
" Ini semua gara gara kamu yang lebih memilih gadis urakan ini dan menolak putriku Imran, Vania sangat mencintaimu tapi kau tidak pernah mau menatapnya sedikit pun, Aku ingin membuat putriku bahagia dengan merebutmu dari gadis sialan ini." Ucap Tante Winda.
" Cukup Tante jangan hina istriku lagi." Bentak Imran.
" Ada alasan lain yang membuat Vania mencintai Imran bukan?" Ucap Mila.
Semua orang menatap ke arah Mila.
" Apa maksudmu sayang?" Tanya Mama Lina.
" Vania hanya ingin menguasai harta kalian saja, Sebenarnya dia sudah mempunyai pacar dan yang menghamilinya adalah pacarnya sendiri, Tapi pacarnya tidak mau bertanggung jawab padanya karna dia tidak berhasil menguasai harta kalian dan itulah yang membuatnya seperti orang tidak waras." Jelas Mila.
" Apa maksudmu Mila? Vania di perk**** tiga pria." Ucap Tante Winda.
" Kau di perdaya oleh calon menantumu Tante, Dia memberikan obat yang membuat Vania berhalusinasi jika dia melakukannya dengan tiga pria. Sahut Mila.
" Maksudmu Vania hanya melakukannya dengan pacarnya saja? Darimana kamu tahu soal itu?" Selidik Mama Lina.
" CCTV hotel, Kemarin setelah mendengar obrolan dua teman Vania di cafe, Aku dan Arnav menuju hotel untuk melihat rekaman CCTV tiga bulan lalu, Dengan kekuasaan yang Arnav miliki kami mendapatkan buktinya." Terang Mila.
" Mana bukti itu?" Tanya Imran.
" Kenapa? Kau ingin melihat Vania telanj*ng begitu?" Tanya Mila.
" Ah tidak sayang, Serahkan bukti itu kepada Tante Winda saja kami tidak perlu melihatnya." Sahut Imran.
" Ini Tante, Kau bisa menjadikan bukti ini untuk meminta pertanggung jawaban pacar Vania tanpa harus mengusik suamiku lagi." Ucap Mila menyodorkan sebuah kaset cd kecil.
Tante Winda menerimanya, Tanpa pamit Ia berjalan keluar meninggalkan rumah orang tua Mila dengan rasa malu.
" Makasih sayang." Ucap Imran memeluk Mila.
" Lepas! Jangan pernah menyentuhku lagi, Aku muak sama kebohongan kamu." Ujar Mila.
Mila berjalan keluar meninggalkan keluarganya.
" Sayang kamu mau kemana?" Teriak Imran hendak mengejarnya.
" Biarkan Mila menenangkan dirinya dulu Ran." Ucap Mama Santi.
" Baiklah Ma." Sahut Imran lesu.
TBC.....
*Udah Clear ya...
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya....
__ADS_1
Makasih suportnya....
Miss U All*...